Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Bantai di Podium Kuliah

Selasa pagi menyelimuti Ruang 207 Fakultas Ekonomi Universitas Jagatara dengan cahaya keemasan yang menembus sela-sela kaca jendela, memantul di atas permukaan meja-meja kayu tempat puluhan mahasiswa semester akhir duduk dengan gelisah. Hari itu merupakan jadwal presentasi kelompok untuk mata kuliah Bisnis & Manajemen Strategis, moment yang paling ditakuti se-fakultas.

Di depan podium, Kaivan Ravello berdiri bersama dua teman kelompoknya. Kemeja putih yang dikenakannya disetrika rapi, lengan tergulung sempurna hingga siku dengan rambut tertata rapi. Ia beberapa kali melirik ke arah barisan mahasiswa, melemparkan senyum menawan dan kedipan mata tipis ke arah Liora sebelum kembali memeriksa slide presentasi yang terpampang di layar proyektor.

Ia tampak begitu percaya diri.

Atau setidaknya, begitulah yang ingin ia tunjukkan.

Sementra itu, di meja dosen, Ravian duduk dengan satu tangan menopang dagu. Kemeja putih katunnya digulung rapi hingga pertengahan lengan bawah, memperlihatkan urat samar yang sesekali menegang dan sebuah jam tangan kulit klasik. Kacamata berbingkai tipis bertengger indah di pangkal hidung bangirnya.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Sorot matanya di balik lensa tampak dingin dan tajam bagaikan mata pisau yang siap menguliti setiap argumen tanpa ampun.

Ravian memperhatikan interaksi kecil antara Kaivan dan Liora tadi. Jemarinya yang memegang pulpen porselen mengetuk permukaan meja sebanyak tiga kali. Suara tak, tak, tak yang pelan sanggup membuat seisi kelas menahan napas.

"Silakan dimulai kelompok empat. Waktu Anda sepuluh menit untuk memaparkan materi, efisiensi kata adalah nilai tambah," suara Ravian terdengar datar.

Kaivan mengambil alih mikrofon nirkabel dan memulai presentasi. ”Selamat pagi semuanya. Hari ini kelompok kami akan memaparkan strategi penetrasi pasar untuk produk teknologi terbarukan…”

Kaivan berbicara dengan lancar. Gestur tubuhnya luwes, intonasinya tertata meyakinkan, bahkan sesekali ia menyelipkan humor ringan yang membuat beberapa mahasiswa tersenyum. Ia memaparkan proyeksi pasar, segmentasi konsumen, hingga strategi ekspansi dengan penuh percaya diri.

Liora memperhatikan sambil mencatat poin-poin penting.

Tanpa disadari, sudut bibir Kaivan terangkat ketika melihat Liora memperhatikannya dengan fokus.

Dan entah kenapa, pemandangan kecil itu membuat ujung pulpen di tangan Ravian berhenti mengetuk meja.

Hening.

Ravian menatap Kaivan.

Lalu Liora.

Kemudian kembali kepada Kaivan.

Tatapannya menjadi sedikit lebih gelap.

"Demikian pemaparan dari kelompok kami. Terima kasih," tutur Kaivan percaya diri menutup presentasinya dengan senyum lebar.

Suasana kelas hening sejenak. Beberapa mahasiswa mulai bertepuk tangan, namun buru-buru terhenti saat Ravian perlahan berdiri dari kursinya.

Pria itu melangkah ke tengah ruang kelas. Tangannya memegang lembar penilaian. Langkahnya yang tenang dan terukur cukup untuk membuat Kaivan yang berdiri di depan podium kehilangan rasa percaya dirinya.

"Pemaparan yang cukup menarik secara visual," buka Ravian, ia berhenti beberapa langkah di depan Kaivan. "Namun, analisis variabel risiko Anda terlampau dangkal, saudara Kaivan."

Senyum Kaivan perlahan memudar sedikit demi sedikit. "Maaf, Pak Ravian. Di slide ketujuh kami sudah mencantumkan kalkulasi risiko operasional…"

"Kalkulasi risiko yang Anda buat menggunakan asumsi kondisi pasar stabil," Ravian memotongnya begitu saja. Nada suaranya tetap rendah. Namun setiap katanya terasa seperti bilah pisau. Ia melangkah satu tindak mendekati podium Kaivan. "Pertanyaan saya: bagaimana jika terjadi regulatory shift mendadak dari pemerintah terkait retribusi ekspor komponen?”

Kaivan terdiam.

Ravian menatapnya lurus.

“Berapa persentase burn rate modal yang sanggup ditahan perusahaan Anda sebelum bangkrut dalam enam bulan?"

Kelas mendadak sunyi.

Kaivan membeku. Ia mengedipkan matanya berkali-kali. Tangannya bergerak membuka catatan berusaha mencari jawaban. "Emm... mengenai hal itu, Pak... kami berasumsi bahwa regulasi pemerintah akan bersikap protektif terhadap…"

"Di dunia nyata, pasar tidak peduli pada asumsi naif Anda," kalimat itu jatuh begitu saja. Dingin. Tegas. Tanpa sedikit pun belas kasihan.

Ravian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Sebagai calon manajer strategis, berpikir optimis tanpa menyiapkan mitigasi untuk skenario krisis terburuk bukanlah keberanian."

Ravian berhenti sejenak.

“Itu ketidakkompetenan.”

Kaivan menelan ludah.

Di barisan dekat jendela, Liora tanpa sadar menahan napas. Matanya membelalak. Ravian benar-benar membantai Kaivan hidup-hidup.

Di sebelahnya, Rhea merapatkan tubuhnya berbisik dengan suara nyaris tak terdengar.

"Gila, Ra... Kaivan dibantai habis-habisan. Pak Ravian kesambet setan apa, sih? Tatapannya kayak mau nelen Kaivan hidup-hidup. Padahal kelompok lain tadi nggak sekejam ini ditanyanya.”

Liora tidak menjawab. Matanya justru terpaku pada sosok Ravian. Ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan hanya cara pria itu berbicara, bukan pula ketajaman tatapannya, melainkan nada dingin yang digunakannya. Ia pernah mendengar nada itu sebelumnya.

Kemarin.

Di kantor.

Saat seseorang bernama Pak Evander menegurnya hanya gara-gara satu cup kopi dari Kaivan.

‘Tunggu... apa Pak Ravian sengaja? Tapi buat apa?’ batin Liora bingung.

Di depan kelas, Kaivan mulai berpeluh dingin. Tangannya yang memegang pointer laser sedikit gemetar. "K-kami akan melakukan evaluasi ulang pada proyeksi keuangan kami, Pak."

Ravian menatapnya dingin selama beberapa detik. Tatapan itu seolah menimbang harga diri Kaivan, lalu memutuskan untuk tidak menghancurkannya lebih jauh.

Akhirnya ia menundukkan pandangan dan mencoretkan sesuatu pada lembar penilaiannya dengan gerakan tegas.

"Nilai presentasi kelompok Anda C+ untuk sesi ini. Silakan duduk," pungkas Ravian tanpa ekspresi, lalu berbalik menuju mejanya. "Pertemuan berikutnya, saya tidak ingin melihat analisis setengah matang seperti ini lagi di kelas saya."

Kaivan menunduk lesu, melangkah kembali ke bangkunya dengan wajah merah padam karena malu.

Ketika melewati barisan Liora, matanya sempat bertemu dengan mata perempuan itu. Ada tatapan memohon di sana. Seolah Kaivan berharap Liora memberikan sedikit saja penghiburan atas kehancuran harga dirinya pagi itu.

Liora hanya bisa meringis prihatin, memberikan anggukan menyemangati secara refleks dan mengangkat ibu jarinya kecil-kecil.

Namun gerakan sederhana itu ternyata tak luput dari perhatian seseorang.

Dari balik meja dosennya, Ravian melihat semuanya.

Tatapan Liora kepada Kaivan. Tatapan Kaivan kepada Liora. Gestur kecil yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Rasa puas karena berhasil menekan Kaivan mendadak menguap, digantikan oleh rasa tidak nyaman yang jauh lebih personal.

Cemburu.

Lagi.

Ravian menghela napas panjang, melepaskan kacamatanya, kemudian memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut.

Sungguh kekanak-kanakan.

Ia seorang dosen di depan kelas, bukan anak sekolah yang sedang berebut perhatian seseorang.

Lebih buruk lagi, ia adalah seorang CEO yang selama bertahun-tahun dikenal mampu mengendalikan emosi, mengambil keputusan di bawah tekanan, dan membaca situasi bisnis dengan kepala dingin.

Namun semua kemampuan itu seolah menguap setiap kali menyangkut satu perempuan bernama Liora.

Ia menyadari betapa tidak profesionalnya tindakannya barusan. Namun, setiap kali melihat Kaivan berada di sekitar Liora, logika dan kontrol diri sang CEO runtuh tanpa sisa.

Mungkin menjadi profesional memang jauh lebih mudah ketika tidak ada seorang pun yang membuatnya kehilangan kendali.

Dan Liora, tanpa sadar, adalah satu-satunya orang yang mampu melakukan hal itu kepadanya.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!