Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catatan kriminal
Pagi hari yang cerah di IKN, Ibu Kota Kerajaan Nova Castra. Suasana di dalam aula sidang mendadak tegang saat tiga terdakwa utama dituntun masuk. Leo, Cheeta, dan Rheno berjalan ke depan meja hakim dengan tangan diborgol, dikawal ketat oleh pasukan keamanan kota beratribut lengkap.
"Apa-apaan ini?! Kami tidak melakukan kesalahan apa pun yang pantas disidang seperti ini!" protes Cheeta, wajahnya memerah menahan kesal.
"Benar! Petualangan kami bahkan baru saja dimulai!" gerutu Leo. Ia menyandarkan kepalanya lemas ke bahu Rheno, masih trauma karena adegan kerennya kemarin hancur berantakan dalam sekejap. Sementara itu, Rheno hanya diam dengan ekspresi lempeng seperti biasa.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan palu hakim menggema, membungkam protes mereka.
"Tenang! Kalian bersalah atau tidak, semuanya akan diputuskan setelah mendengar keterangan saksi," ucap hakim dengan wibawa penuh. Ia kemudian menoleh ke samping. "Jaksa Penuntut Umum, silakan dimulai."
"Terima kasih, Yang Mulia," ucap jaksa penuntut umum sembari berdiri tegak, memasang wajah sekaku papan.
Ia menatap tajam ke arah tiga pemuda di depannya. "Saudara Leo! Anda diduga telah melukai seorang anak berusia lima tahun secara mental, membuatnya menangis histeris, hingga kehilangan keceriaan, harapan, dan masa depannya!" ucap sang jaksa dengan nada yang dibuat setegang mungkin.
Seketika, riuh bisik-bisik langsung pecah di kursi penonton bagian belakang. "Hah? Anak kecil?" "Kejam sekali..." "Iblis!"
"Saya panggil saksi pertama," lanjut jaksa.
Pintu aula terbuka. Seorang wanita berjalan pelan menuntun anaknya yang berusia lima tahun menuju podium saksi.
"Silakan, Nyonya," ucap jaksa mempersilakan dengan sopan.
"Terima kasih," balas wanita itu, suaranya mulai bergetar. Ia menatap ke arah hakim. "Tuan Hakim yang terhormat..."
Wanita itu menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam. "Pagi itu... pagi yang sangat cerah di Kota Nova. Saya bersama anak saya... huhu... huuhuu..." Tangisnya mendadak pecah sebelum kalimatnya selesai.
"Saya sedang menikmati indahnya hari... di mana udara terasa segar, burung-burung berkicau merdu, dan angin bertiup begitu lembut... Seketika saya... huhuhu..." Wanita itu kembali menutup wajahnya, tak kuasa menahan tangis.
Melihat hal itu, sang jaksa langsung memotong penuh empati, "Anda baik-baik saja, Nyonya? Saya tahu ini sangat berat bagi Anda. Apakah Anda masih sanggup melanjutkan?"
Nyonya tersebut menarik napas panjang, berusaha keras menenangkan diri di depan podium. "Terima kasih, Jaksa... Demi keadilan, saya akan berusaha kuat!"
Ia menegakkan tubuhnya, bersiap memberikan kesaksian akhir. "Seketika... saya mendengar lengkingan tangis anak-anak yang begitu menyayat hati. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bahwa itu adalah... anak saya sendiri!" ucapnya dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Setelah saya menghampirinya, ternyata... ternyata... anak saya kehilangan permennya!" ungkap nyonya itu, yang sedetik kemudian berbalik dan menunjuk ke arah Leo dengan tatapan gusar penuh amarah. "Dialah orangnya! Dialah pencurinya! Dialah pelakunya! Gara-gara dia, anak saya kehilangan hari cerianya, dunianya, dan masa depannya! Huhuhu..." Tangis wanita itu akhirnya pecah sejadi-jadinya.
Seketika itu juga, kegaduhan dahsyat meledak dari bangku penonton. Teriakan-teriakan penuh amarah saling bersahutan mengutuk Leo. "Tega sekali kau!" teriak penonton dari belakang. "Mati saja kau, Monster!" sahut yang lain dari sisi kanan. "Biadab!" umpat penonton dari sebelah kiri.
Hingga akhirnya, terdengar satu lengkingan suara yang paling kuat dari sudut ruangan: "Kejahatanmu lebih keji daripada korupsi 271 miliaran koin emas!"
Mendengar lengkingan terakhir yang luar biasa absurd itu, Cheeta langsung meledak. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan diri menghadapi kegilaan di ruang sidang ini.
"Woy! Siapa itu?! Mulut siapa yang bicara begitu?! Korupsi jelas jauh lebih kejam, dasar bodoh!" amuk Cheeta dengan nada tinggi, balik meneriaki kerumunan penonton.
Tok! Tok! Tok!
Hakim kembali mengetuk palunya berkali-kali. "Tenang! Semua tenang!" ucap hakim, yang anehnya, kini ikut berlinang air mata karena terharu mendengarkan drama hilangnya sebutir permen.
"Baiklah, Yang Mulia. Boleh saya lanjutkan?" tanya jaksa penuntut umum setelah suasana sedikit tenang.
"Silakan, Jaksa... huhu..." jawab hakim, suaranya masih sengau.
Jaksa beralih menatap tajam ke arah terdakwa kedua. "Saudara Cheeta! Anda diduga telah menganiaya seorang warga kota yang dikenal baik hati, tidak sombong, bahkan dengan murah hati mengizinkan Anda yang berpenampilan lusuh saat itu untuk masuk ke tokonya. Korban bahkan memuji diri Anda dengan tulus!" ucap jaksa berapi-api.
"Saya panggil saksi kedua untuk masuk," jaksa mempersilakan dengan lambaian tangan formal.
Begitu pintu aula sidang terbuka, atmosfer ruangan seketika berubah hening. Muncul seorang pria paruh baya dengan tubuh yang dibalut perban di mana-mana. Kepala, lengan, hingga kakinya terbungkus kain kasa putih. Ia berjalan tertatih-tatih dengan sangat dramatis menuju podium saksi.
"Terima kasih, Jaksa," ucap si pemilik toko dengan suara lemas yang dibuat-buat.
Ia kemudian menatap ke arah meja hijau. "Tuan Hakim yang terhormat... Saya di kota ini selalu berusaha baik dan ramah kepada orang lain. Saya selalu tersenyum manis... terutama jika mereka membayar lebih. Saya juga sangat perhatian pada pelanggan. Terkadang, jika ada pembeli di toko saya yang uangnya kurang, saya dengan sangat memaklumi mengizinkan mereka menukarnya dengan benda-benda lain... ya, seperti perhiasan emas yang melingkar di leher atau yang menggantung di telinga mereka. Saya benar-benar penuh pengertian terhadap masalah keuangan orang lain!"
Mendengar definisi 'baik hati' yang sebenarnya adalah kedok lintah darat itu, Cheeta langsung memutar bola matanya malas.
Pria ber perban itu melanjutkan ceritanya, "Suatu hari, wanita itu menghampiri toko saya dan menanyakan apakah ada lowongan kerja. Saya melihat penampilannya yang telantar dan seketika merasa iba. Meskipun sebenarnya tidak ada lowongan, saya tetap memberikan rekomendasi terbaik untuknya. Karena saya tahu dia orang baru, saya menawarkan opsi pekerjaan alternatif... berupa pekerjaan seumur hidup untuk mendampingi saya..."
Tiba-tiba, nada bicaranya naik drastis. Aura memelas nya hilang, digantikan oleh amarah yang meledak-ledak. Tangannya yang terbungkus perban menunjuk lurus ke arah Cheeta.
"Tapi wanita itu justru memukuli saya dengan sangat kejam! Sungguh biadab dan tidak berperikemanusiaan! Apa salah saya, Yang Mulia?! Apa?!" pekiknya histeris, pura-pura meringis kesakitan memegangi pinggangnya.
Seketika itu juga, gemuruh caci maki dari bangku penonton kembali meledak riuh di dalam aula. "Dasar wanita gorila!" cemooh penonton dari barisan belakang. "Benar-benar tidak tahu terima kasih!" saut yang lain. "Wanita barbar!" timpal suara dari sudut kanan.
Mendengar sebutan itu, harga diri Cheeta langsung tersengat. Sontak ia berdiri dari kursinya dan berteriak lantang ke arah kerumunan, "Woy! Siapa yang kalian sebut barbar, dasar bodoh! Dia itu mau melecehkan ku!"
Tok! Tok! Tok!
Hakim dengan cepat mengetuk palu sidangnya berulang kali. "Jaga sikap Anda, Terdakwa Wanita!" tegur hakim, yang entah mengapa, matanya kembali berkaca-kaca dan menangis lagi karena terharu melihat nasib tragis si pemilik toko berperban.
Bersambung