Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan yang tertunda
Menyadari bahwa keberadaan Ali yang terus berlanjut di kehidupannya masih menjadi sumber ketidaknyamanan bagi hubungannya dengan Baska, Zia akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah tegas yang seharusnya sudah dia ambil sejak awal. Suatu sore, ketika Ali kembali datang untuk booking lapangan seperti biasa, Zia memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara secara terbuka mengenai batasan yang harus mereka jaga ke depannya.
"Ali, boleh aku ngomong sesuatu?" tanya Zia dengan nada yang lebih tegas dari biasanya, mengumpulkan keberanian yang telah lama dia persiapkan untuk momen penting tersebut.
"Boleh, Zia. Ada apa?" jawab Ali dengan sedikit heran, menangkap perubahan nada suara Zia yang terdengar lebih serius dari interaksi-interaksi mereka sebelumnya.
"Aku minta kamu berhenti dateng terus ke sini, Ali. Bukan karena aku benci kamu, tapi karena kehadiran kamu di sini terus-terusan bikin masalah buat hubungan aku sama Baska. Aku udah move on, dan aku pengen kamu juga bisa lanjutin hidup kamu tanpa harus terus deket-deket sama aku," ujar Zia dengan tegas namun tetap sopan, menyampaikan batasan yang telah lama seharusnya dia tetapkan sejak awal kemunculan kembali Ali tersebut.
Ali terdiam sejenak, mencerna kata-kata tersebut dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. "Zia, aku ngerti. Maaf kalau selama ini aku bikin kamu nggak nyaman. Aku sebenernya cuma pengen minta maaf dan liat kamu baik-baik aja, tapi aku sadar, caraku salah."
"Aku menghargai permintaan maaf kamu, Ali. Tapi sekarang, aku minta kamu bener-bener berhenti dateng ke sini, atau minimal jangan lagi coba ajak aku ngobrol personal. Anggep aja kita cuma kenal biasa aja," jawab Zia dengan penuh keyakinan, menetapkan batasan yang jelas demi menjaga keharmonisan hubungannya dengan Baska.
Ali mengangguk pelan, menerima permintaan tersebut dengan lapang dada, menyadari bahwa dia memang seharusnya menghormati keputusan Zia untuk melanjutkan hidupnya bersama orang lain. "Baik, Zia. Aku janji, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Semoga kamu bahagia sama Baska."
Percakapan tersebut, meski singkat, memberikan kelegaan besar bagi Zia, menyadari bahwa dia akhirnya berhasil menetapkan batasan yang seharusnya dia buat sejak awal kemunculan kembali Ali tersebut. Setelah Ali pergi hari itu, Zia segera menghubungi Baska untuk menceritakan keberanian yang baru saja dia tunjukkan tersebut.
"Mas, aku baru aja ngomong tegas ke Ali, minta dia berhenti dateng ke sini dan berhenti ganggu aku. Aku pengen kamu tau, aku beneran serius jaga hubungan kita," tulis Zia dengan penuh keyakinan, berharap tindakan konkret tersebut bisa memberikan bukti nyata mengenai komitmennya kepada Baska.
Membaca pesan tersebut, Baska merasakan kelegaan dan haru yang begitu mendalam, menyadari betapa besar usaha yang telah ditunjukkan Zia untuk menjaga hubungan mereka. "Makasih banyak, Zia. Ini artinya besar banget buat aku. Aku janji, aku juga bakal berusaha lebih percaya dan nggak gampang cemburu lagi ke depannya."
Balasan tersebut, yang menunjukkan perkembangan positif dari kedua belah pihak, menandai babak penting dalam perjalanan hubungan mereka, sebuah babak di mana mereka berdua mulai belajar untuk saling menguatkan kepercayaan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kata-kata semata, sebuah pelajaran berharga yang akan menjadi fondasi lebih kokoh bagi hubungan mereka ke depannya, meski proses penyembuhan sepenuhnya masih membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Malam itu, Zia menceritakan kejadian tersebut kepada Reta yang sejak awal selalu menjadi tempat curhatnya mengenai perkembangan hubungan dengan Baska tersebut. "Ret, akhirnya aku berani tegasin Ali. Lega banget rasanya, kayak beban berat yang akhirnya bisa aku lepasin."
"Bagus banget, Zi! Itu langkah yang seharusnya emang kamu ambil dari awal. Sekarang tinggal gimana caranya kamu sama Baska bener-bener pulihin kepercayaan yang sempet retak itu," ujar Reta dengan penuh semangat, memberikan apresiasi atas keberanian yang baru saja ditunjukkan sahabatnya tersebut.
"Iya, Ret. Tapi aku optimis kok, apalagi tadi Baska responnya positif banget denger aku udah tegasin Ali," jawab Zia dengan senyum yang mulai kembali menghiasi wajahnya, merasakan harapan baru mengenai masa depan hubungannya dengan Baska yang perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang begitu menggembirakan tersebut.
Reta memeluk sahabatnya tersebut dengan penuh kehangatan, ikut merasakan kebahagiaan atas perkembangan positif yang mulai terlihat dalam hubungan Zia dan Baska tersebut. "Aku seneng banget liat kamu udah nggak sesedih kemarin-kemarin lagi, Zi. Semoga kalian bisa bener-bener lewatin semua ini dan jadi lebih kuat lagi ke depannya."
"Aamiin, Ret. Makasih ya, selama ini selalu jadi tempat aku cerita dan dukung aku terus," ujar Zia dengan penuh rasa syukur, menyadari betapa berartinya persahabatan yang telah menemaninya melewati berbagai gejolak emosi selama beberapa minggu terakhir tersebut, sebuah dukungan yang menjadi salah satu kekuatan penting baginya untuk terus bertahan menghadapi berbagai ujian dalam perjalanan cintanya bersama Baska.