Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Hari-hari berikutnya, Cinta semakin memperhatikan Indri. Tidak ada yang terlalu berlebihan. Namun perhatian kecil itu justru membuat hati Indri semakin tersentuh.
Cinta memastikan Indri tidak terlambat makan. Ketika Indri merasa mual, Cinta segera membuatkan minuman hangat. Ketika suasana hati Indri mulai memburuk, Cinta mengajak Laura kecil bermain bersama mereka.
Bahkan ketika Indri menolak keluar kamar, Cinta tidak pernah memaksanya. Ia hanya duduk di dekat pintu dan berkata, “Kalau kamu ingin ditemani, Kakak ada di sini.”
Sederhana. Tetapi bagi Indri, kalimat itu terasa begitu besar. Karena ia tahu dirinya tidak pantas menerima kebaikan tersebut. Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan hatinya.
Suatu sore, Cinta membawa sepiring buah ke kamar. “Ayo makan.”
Indri tersenyum. “Kakak tidak bosan mengurusiku?”
“Tidak.”
“Aku merasa merepotkan.”
“Kalau kamu terus mengatakan itu, Kakak benar-benar akan marah.”
Indri tertawa kecil.
Cinta duduk di sampingnya. “Dulu ketika aku hamil Brian, banyak orang yang membantuku.”
Indri terdiam.
“Sekarang giliran aku yang membantu kamu.”
Kalimat itu membuat dada Indri sesak. Ia menatap wajah Cinta.
Wajah seorang kakak yang selama bertahun-tahun justru sering ia sakiti dengan kata-kata.
Dan mendadak masa lalu kembali berputar dalam ingatannya.
Dahulu, Indri tumbuh dengan keyakinan bahwa Haris adalah ayah tirinya. Ibunya selalu mengatakan bahwa ayah kandung Indri telah meninggal sebelum ia cukup besar untuk mengenalnya.
Indri mempercayai cerita itu. Sampai akhirnya kebenaran datang seperti pukulan.
Haris ternyata bukan sekadar pria yang kemudian menikahi ibunya. Ada sejarah kelam di antara mereka.
Jauh sebelum pernikahan resmi itu terjadi, ibu Indri menjalin hubungan dengan Haris ketika Haris masih menjadi suami ibunya Cinta.
Hubungan tersebut berlangsung diam-diam. Sampai akhirnya ibu Indri mengandung. Haris dan ibunya Indri kemudian melakukan pernikahan siri.
Namun semuanya disembunyikan. Bertahun-tahun kemudian, ibunya Cinta mengetahui perselingkuhan tersebut. Rumah tangga mereka hancur. Ibunya Cinta pergi dalam keadaan terluka, lalu mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tiga bulan setelah kejadian itu, Haris membawa ibunya Indri dan Indri ke dalam kehidupannya. Di depan keluarga dan orang-orang, mereka diperkenalkan sebagai calon ibu tiri dan saudara tiri Cinta. Sebuah kebohongan besar dibangun untuk menutupi kebenaran.
Haris kemudian menikahi ibu Indri secara resmi. Saat itu Indri masih terlalu kecil untuk memahami semuanya. Ia hanya tahu bahwa Haris adalah ayah tirinya. Sampai akhirnya ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Haris adalah ayah kandungnya. Dan dirinya adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang itu.
Dunia Indri seperti runtuh. Ia merasa seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.
Namun ada hal yang jauh lebih menyakitkan ketika ia mengingat masa lalu. Ia pernah menghina Cinta. Bahkan pernah menggunakan kata-kata yang sangat kejam. Ia pernah mengatakan bahwa Laura kecil adalah anak haram Cinta.
Kini Indri merasa malu setiap kali mengingatnya. Karena ternyata dirinya sendiri lahir dari hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Indri menundukkan kepala. “Kak...”
Cinta menoleh. “Kenapa?”
“Dulu aku sering menyakitimu.”
Cinta diam.
“Aku pernah mengatakan banyak hal buruk tentangmu.”
“Indri...”
“Aku pernah menghina Laura kecil.” Air mata Indri jatuh. “Aku bahkan pernah mengatakan dia anak haram.”
Cinta menarik napas panjang. “Aku sudah melupakan itu.”
“Tapi aku belum.” Indri menatap lantai. “Setelah tahu siapa diriku sebenarnya, setiap perkataan yang pernah aku ucapkan terasa seperti kembali menghantamku.”
Cinta tidak langsung menjawab. Ia kemudian menggenggam tangan Indri. “Kesalahanmu tetap kesalahan. Tapi kamu tidak harus menghukum dirimu seumur hidup.”
Indri menatapnya.
“Apalagi sekarang ada bayi yang harus kamu pikirkan.” Cinta mengusap punggung tangannya. “Jangan wariskan rasa bersalahmu kepada anak itu.”
Namun ada satu bagian masa lalu yang jauh lebih berat. Indri mengingat Laura. Sahabatnya Cinta. Perempuan yang akhirnya menjadi korban dari kesalahan besar yang pernah Indri lakukan.
Dahulu, Indri begitu terobsesi mendapatkan Vano. Ia menyusun rencana untuk menjebaknya.
Namun rencana itu berubah menjadi tragedi. Laura yang akhirnya menjadi korban.
Peristiwa tersebut menghancurkan kehidupan Laura.
Dan setelah melalui masa yang sangat berat, Laura melahirkan seorang bayi perempuan—Laura kecil—sebelum akhirnya meninggal akibat komplikasi persalinan.
Cinta, yang saat itu berada di luar kota karena tugas selama hampir setahun dan mengajak Laura bersamanya, pulang membawa bayi tersebut.
Ia mengaku kepada keluarga bahwa Laura kecil adalah anaknya. Sebuah kebohongan yang lahir bukan karena kejahatan, melainkan demi janji untuk melindungi seorang anak yang tidak bersalah.
Indri mengingat semua itu. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami betapa panjang rantai kesalahan yang telah dibuatnya.
Kesalahannya terhadap Laura. Kebohongan keluarganya. Kebencian Evan. Dan kini kehamilannya sendiri. Semuanya saling terhubung.
Indri menutup wajah. “Aku merasa hidupku penuh dosa.”
Cinta langsung memeluknya. “Jangan mengatakan itu.”
“Tapi semua yang terjadi—”
“Tidak semuanya adalah tanggung jawabmu.”
Indri menangis. “Aku pernah membuat Laura menderita. Aku pernah menghina Kakak. Aku juga membuat banyak keputusan yang salah.”
Cinta mengangguk pelan. “Tapi kamu masih punya kesempatan untuk berhenti membuat kesalahan baru.”
Indri terdiam. Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada nasihat apa pun. Kesempatan untuk berhenti membuat kesalahan baru. Mungkin itulah yang sedang diberikan Tuhan kepadanya. Seorang bayi yang tidak bersalah. Sebuah kesempatan untuk memulai hidup yang berbeda.
...
Malam itu, Indri kembali memikirkan Riko. Kini ia semakin yakin. Ia tidak boleh menerima tawaran Riko hanya karena takut menjadi ibu tunggal.
Riko berhak mendapatkan seseorang yang mampu mencintainya dengan utuh. Bukan perempuan yang masih terbelenggu oleh masa lalu.
Indri mengambil ponsel. Ia mengetik pesan.
Riko, terima kasih atas tawaranmu. Tapi aku belum bisa menjawabnya. Aku tidak ingin menerima kebaikanmu hanya karena aku sedang berada dalam keadaan sulit.
Indri membaca pesan tersebut beberapa kali. Namun sebelum dikirim, ia menghapusnya.
Belum. Ia ingin mengatakannya langsung. Ia tidak ingin menyelesaikan perkara sebesar itu melalui pesan singkat.
Di sisi lain, Riko duduk sendirian di dalam mobil setelah pulang bekerja. Ia memikirkan Indri yang belum juga memberikan jawaban.
Anehnya, ia tidak merasa kecewa. Ia justru semakin yakin bahwa Indri sedang menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia ketahui.
“Siapa sebenarnya lelaki itu?” gumamnya.
Riko tidak tahu bahwa jawabannya berkaitan dengan seorang pria yang menurut semua orang telah meninggal. Ia juga tidak tahu bahwa wanita yang ingin dibantunya sedang mengandung anak lelaki tersebut.
Jauh di negeri lain, Evan berdiri di depan jendela kamar tempat ia menjalani pemulihan.
Lukanya berangsur membaik. Tetapi hatinya belum. Ia memikirkan Indri. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami betapa mahal harga dendam yang pernah dipeliharanya.
Ia ingin membalas rasa sakit Laura. Tetapi tanpa sadar, ia menciptakan luka baru.
Ia ingin Indri merasakan penderitaan. Tetapi akhirnya dirinya sendiri tidak mampu menemukan kedamaian.
Evan memejamkan mata. “Kalau waktu bisa diulang...” Suaranya bergetar. “Aku akan memilih berhenti.”
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur. Dan kini ada seorang anak yang mungkin akan tumbuh tanpa pernah mengetahui bahwa ayahnya masih hidup.
Evan menatap langit malam dari balik jendela. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan bagaimana caranya membalas. Ia hanya memikirkan satu hal. Bagaimana caranya menebus semua kesalahan tanpa kembali menghancurkan kehidupan Indri.
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔