"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 20
"Bismillah."
Rhea berada di depan ruangannya Nayaka. Dia berdiri sejenak di sana sebelum mengetuk pintu tersebut.
Hari dimana Rhea akan bekerja di kantor LT pun tiba. Jika sebelumnya yang dihadapi Rhea adalah rekan bisnis, kini ia akan menghadapi rekan kerja.
Rhea berangkat lebih awal, di saat gedung kantor itu masih sepi. Ia sudah berdiri di depan ruangan Nayaka. Dirinya belum tahu harus berada di mana untuk bekerja, sehingga memutuskan datang lebih awal dan bertanya.
Semalam sebenarnya Rhea sudah menanyakan hal tersebut kepada Anita dan Tono, namun jawaban mereka sangat kompak, yakni menunggu instruksi dari bos besar.
"Mbak Rhea, udah dateng?"
Tono baru saja keluar lift. Ia berjalan cepat menghampiri Rhea.
"Iya, mau tanya sama Pak Nayaka. Saya harus bertempat dimana."
Aaah
Tono langsung paham, dia juga ingat bahwa semalam Rhea bertanya soal itu dan dirinya belum memberi jawaban.
"Masuk aja dulu yuk, duduk dulu sambil nunggu. Pak Bos belum datang masih di jalan," jawab Ton. Ia membuka pintu ruangan milik Nayaka dan mempersilakan Rhea untuk masuk. Ton juga mempersilakan Rhea duduk lebih dulu. Sedangkan Tono, ia tampak mempersiapkan sesuatu.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak Tono?" tawar Rhea.
"Oh boleh Mbak, tolong kumpulkan kertas-kertas ini karena akan mau dibagikan nanti dalam rapat."
Rhea bangkit dari duduknya, dia lantas menghampiri Tono untuk membantu.
Beberapa saat kemudian, Nayaka datang. Pria itu mengerutkan alisnya melihat Tono dan Rhea yang sudah ada di ruangan miliknya.
"Eh Bos, apa langsung aja nih?" tanya Tono saat melihat Nayaka.
"Selamat Pagi, Pak," sapa Rhea sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm ya pagi, boleh. Langsung ke ruang rapat utama," jawab Nayaka.
Tono mengangguk paham, dia lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.
Sedangkan Rhea, matanya mengikuti arah Tono pergi, tapi tubuhnya terpaku di sana. Gadis itu berdiri sambil menggenggam tangannya.
"Anu Pak, saya nanti tempatnya dimana ya?"
Setelah diam untuk beberapa saat, akhirnya Rhea membuka suara. Ia menanyakan tentang tempat untuk dirinya bekerja.
"Maksudnya?" Nayaka bertanya kembali, dia mengerutkan alisnya menatap lurus ke arah Rhea.
Seketika Rhea menundukkan wajahnya. Menurut nya tatapan Nayaka sangat tajam, dan itu sedikit menakutkan.
"Semalam saya tanya sama Bu Anita dan Pak Tono, setelah kembali dari tugas luar negeri, saya akan berkerja dimana? Tapi beliau berdua menjawab, menunggu instruksi Bapak."
Nayaka menghela nafasnya panjang, dia sebenarnya juga lupa soal hal itu. Tapi bukan berarti Rhea tak memiliki posisi. Posisi Rhea sangatlah kuat malahan di sini.
"Ruangan mu nanti akan jadi satu sama Tono," jawab Nayaka.
"Oh begitu, syukurlah," jawab Rhea sambil tersenyum. Ia bernafas lega, karena jika itu Tono maka semuanya akan jadi mudah. Rhea merasa tak perlu untuk adaptasi lagi karena sudah cukup baik mengenal Tono.
"Bos, ready," ucap Tono yang suara langkah kakinya terdengar dan sosoknya berdiri di depan pintu ruangan.
"Yap, Rhea kamu ikut."
Rhea mengangguk. Dia tidak terkejut. Yang namanya rapat, pasti dirinya juga harus ikut karena bagian dari karyawan perusahaan. Tapi Rhea salah, karena rapat ini tidak dihadiri oleh semua karyawan melainkan hanya kepala-kepala bagian saja.
Pintu ruang rapat terbuka, Nayaka berjalan di depan sedangkan Tono dan Rhea mengikuti di belakang. Mereka berdua jalan sejajar.
Saat Nayaka duduk, Tono mempersilakan Rhea duduk di sisi kiri Nayaka, sedangkan Tono sendiri duduk di sisi kanan. Dengan posisi tersebut, sudah cukup membuat semua orang tahu kapasitas mereka berdua.
Mesti tidak bertanya melalui mulut, tapi tatapan para kepala kabag itu jelas mengandung pertanyaan tentang sosok Rhea, kecuali Anita. Wanita tersebut tersenyum melihat Rhea, dan saat mata mereka bertemu, Rhea pun membalas senyuman tersebut.
Saat memasuki ruangan rapat tadi, dada Rhea berdegup kencang namun sekarang sudah lebih tenang.
Awalnya Rhea hanya melihat ke arah meja, tapi sekarang dia melihat ke seluruh peserta rapat. Rhea menatap satu persatu dari kepala bagian itu, lalu mata dia terkunci pada satu orang meski tidak lama.
Rhea tetap tenang, dia tidak tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya kepada peserta rapat yang lain.
"Rhea?"
Namun berbeda dengan Oza, matanya membelalak, nafasnya tertahan sejenak, dan tubuhnya kaku. Dalam hati dia menyebutkan nama Rhea.
"Baiklah, rapat kita mulai sekarang. Tapi sebelumnya ada hal yang akan disampaikan terlebih dulu terkait wajah baru yang tadi Anda semua lihat. Pak, silakan," ucap Tono. Dia melakukan pembukaan dan menyerahkan selanjutnya kepada Nayaka.
"Rhea, berdiri, perkenalkan dirimu."
"Baik Pak Nayaka."
Rhea berdiri sesuai instruksi Nayaka. Dia menggenggam kedua tangannya di depan tubuh lalu membungkukkan tubuhnya sejenak.
"Perkenalkan nama saya Rhea Liharika. Mohon bantuan Anda semua untuk kedepannya," ucap Rhea. Hanya itu saja yang perlu dikatakan sehingga Rhea kembali duduk.
"Rhea adalah karyawan yang langsung aku pilih dalam penangan tugas internasional. Semua yang berkaitan tentang hubungan internasional, akan melewati Rhea. Dan Rhea bekerja dibawah ku langsung."
Degh!
Tak ada yang berani bertanya. Kalimat, bekerja dibawah ku langsung sudah memilik arti yang begitu besar.
Jika yang lain berpikir demikian, berbeda dengan apa yang dipikirkan Oza saat ini. Hanya satu pertanyaan dalam kepala pria itu, "Kenapa dia bisa ada di sini?"
Oza sedari tadi melihat ke arah Rhea. Bahkan sama sekali tidak berkedip. Di bawah meja, kedua tangan pria itu mengepal dengan erat.
Tatapan tajam Oza ternyata ditangkap oleh Rhea. Rhea hanya diam, nafasnya sangat teratur, dan bahkan dia melemparkan senyum tipis ke arah Oza.
Seketika dada Oza bergemuruh denga pikiran yang berkecamuk. Sampai-sampai Oza sama sekali tidak mendengarkan apa yang Ton katakan. Dia baru kembali fokus ketika seseorang membagikan map dan mereka diminta untuk membacanya.
"Kerjasama berhasil antara LT dan perusahaan Raphael. Semua itu berkat usaha keras Rhea yang mampu menjadi jembatan dalam perundingan. Terimakasih Rhea," ucap Nayaka tegas.
"Terimakasih Pak, sudah jadi tugas saya," jawab Rhea. Ia meletakkan tangannya di dada lalu membungkuk sejenak.
"Sekarang Anda semua pelajari isinya, lalu mulai dengan pengerjaan," sambung Tono.
Semua mengangguk paham, apa yang tertulis di dalam sudah sangat jelas. Bahkan garansi yang selama ini jadi permasalahan utama, tertulis dengan gamblang.
Satu jam berlalu, rapat pun usia. Tono dan Rhea melakukan hi-five sedangkan Nayaka memilih untuk melenggang kembali ke ruangannya.
"Pak Tono, saya ternyata akan bekerja di ruangan Bapak. Apa Pak Tono tidak masalah?" tanya Rhea saat mereka berjalan bersaman menuju ke ruangan kerja.
"Woaah nggak dong, aku malah seneng akhirnya ada pemandangan lain selain memandang wajah Pak Bos, hahaha. Jadi partner, ayo bekerja dengan baik," ucap Tono sambil mengulurkan tangannya.
Jawaban Tono membuat Rhea lega. Dia tersenyum lebar lalu meraih tangan Tono, keduanya saling berjabat tangan.
Rhea langkahnya begitu ringan, tangannya mengepal karena sebuah semangat. Berbeda dengan Oza yang berada di belakang Rhea. Pria itu ternyata berdiri di depan lift. Ia melayangkan tatapannya tajam ke arah Rhea yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Kenapa, kenapa kamu ada di sini? Apa tujuanmu datang ke sini?"
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭