"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengasuh
"Jaka, apa ayu sakit?" tanya Hamka karena ayu terlihat pucat
"Sejak semalam demam kak, Ayu juga tidak mau minum susu yang di buatkan Jaka" jawab Jaka
"Sini, biar Kak Hamka gendong, mungkin karena semalam dingin, ayu masuk angin" ucap Hamka mengambil ayu dari gendongan Jaka.
Gatra dan Kalia sedang pergi untuk mencari tanaman obat yang bisa menurunkan demam Ayu, tempat itu sudah di Pagari Kalia dan juga Gatra, bahkan Hamka bisa melihat pagar itu sangat kokoh dan tidak mungkin di tembus dengan mudah.
"Kalau ayu rewel, kamu gendong dia dengan posisi tengkurap, tempelkan di dada kamu agar dia merasa nyaman, mungkin perutnya kembung" ucap Hamka membaluri perut ayu menggunakan minyak kayu putih, Ayu yang memang terus menangis langsung merasa nyaman setelah Hamka memberikan minyak kayu putih di perut dan punggungnya, bahkan saat di gendong, ayu mengeluarkan bunyi kentut yang cukup besar, membuat Hamka dan Jaka tertawa.
"Sekarang Jaka tahu caranya, nanti Jaka akan praktekan kalau Ayu rewel lagi" ucap Jaka
"Jangan lupa selimutnya juga, kalau Ayu ngompol langsung di ganti popoknya, jangan di biarkan lama, nanti iritasi" ucap Hamka lagi dan Jaka mengangguk patuh.
"Kak Hamka sering mengasuh anak bayi ya?" tanya Jak
"Iya, bahkan melihat proses kelahirannya juga, tapi kak Hamka hanya bisa merawatnya sampai usia delapan bulan, setelah itu, ayahnya yang merawatnya" jawab Hamka masih mengingat bagaimana kecilnya tubuh Zeeshan yang dia gendong begitu Esmeralda melahirkan.
Saat itu dia ingin mengadzani Zeeshan, tapi dia ingat kalau itu bukan haknya dan memberikan hak itu pada Samuel Kakek dari Zeeshan.
"Mau lihat anak kak Hamka? Dia sekarang sudah berusia hampir lima tahun dan tiga tahun" ucap Hamka memperlihatkan foto Zeeshan, Eiliya dan Ethan di handphone miliknya.
"Sangat tampan, cantik dan putih, tapi kenapa matanya berbeda?" tanya Jaka karena Zeeshan memiliki mata sama dengan Zaki, abu abu
"Itu karena mereka adalah keturunan luar negeri, bukan orang Indonesia asli, jadi matanya ikut gen ayahnya, ibunya lebih bagus, matanya berwarna hijau" ungkap Hamka membuat Jaka terkejut.
"Benarkah?" tanya Jaka dan Hamka memperlihatkan foto Esmeralda yang sedang menggendong Zeeshan bersamanya di rumah sakit.
"Cantik sekali, seperti Dewi yang sering mandi di air terjun kampung Dara" ungkap Jaka
"Air terjun kampung Dara? Di mana itu?" tanya Hamka
"Tempatnya jauh, dulu Jaka dan bapak pernah ke sana untuk menjual minyak pala yang kami buat, terus karena haus kami mandi dan minum air di sana. Kami melihat Dewi itu ada di sana juga sedang mandi, mirip kakak ini matanya juga hijau" jawab Jaka membuat Hamka mengernyitkan alisnya.
"Semirip itu? Benar benar mirip?" tanya Hamka dan Jaka mengangguk.
"Sedang ngobrol apa sih serius sekali?" tanya Kalia yang sudah kembali
"Memberi tahu Jaka, kalau Ayu rewel lagi harus melakukan apa" jawab Hamka
"Kamu bisa masuk ke sini?" tanya Gatra
"Bisa, kenapa memangnya?" tanya Hamka
"Aku sengaja membuat pagar ini tidak bisa di masuki orang atau mahluk berenergi hitam dan jahat" jawab Gatra membuat Hamka menatapnya semakin datar.
"Energiku mungkin hitam, tapi aku bukan orang jahat, makanya aku bisa masuk" jawab Hamka sinis dan memberikan Ayu pada Kalia.
"Anak ibu sudah tidak rewel lagi, demamnya juga sudah turun" ucap Kalia
"Kak Hamka hebat Bu, bisa buat Ayu langsung diam" ungkap Jaka
"Terima kasih karena sudah menjaga mereka selama kami pergi" ungkap Gatra
"Sama sama, Hamka harus pulang, ini sudah hampir Maghrib" pamit Hamka
"Iya, hati-hati saat keluar dari sini, pagar ini berdempetan dengan pagar di hutan Sagara, mungkin akan menguras sedikit energi kamu" jawab Gatra
"Iya, itu ada berry hitam penyembuh dari Om Hala, gunakan untuk Om, Om terluka saat lari dari penduduk untuk menyelamatkan Jaka beberapa minggu lalu kan, itu akan menyembuhkannya, racun Dahlia butuh waktu lama untuk sembuh, dengan itu Om bisa sembuh dengan cepat" ucap Hamka
"Terima kasih, kang, cepat makan berry ini, ini benar benar buah hitam yang hanya ada di rawa congkrang" ucap Kalia segera memberikan itu pada Gatra yang langsung membuka mulutnya melihat tangis bahagia Kalia yang sejak dua minggu ini selalu khawatir dengan kondisi Gatra.
"Terima kasih" ungkap Gatra tulus
Hamka segera pergi dari sana dengan hati hati, setelah sampai di hutan Sagara, barulah dia bisa bernafas lega karena di sana dia akan aman.
"Dia anak yang baik meski kata katanya banyak membuat emosi orang" ungkap Gatra
"Iya, Kalia saja sering dia buat patah hati saat tinggal di sana" jawab Kalia keceplosan
"Apa kamu bilang? Patah hati? berarti kamu sempat berpaling padanya dan melupakan aku?" tanya Gatra dengan tatapan datar
"Eh.. Tidak kang, Kalia ini kan memang dasarnya penggoda, jadi kalau melihat laki laki galak itu sering tertantang, sama seperti kang Gatra" jawabnya manja agar Gatra tidak marah.
"Jangan merayuku, aku sedang kesal denganmu, Jaka, kamu dan Ayu malam ini tidur di kamar bapak, ibu kamu akan tidur di kamar kalian" ucap Gatra
"Tapi kang, nanti Kalia kedinginan" rengek Kalia
"Peluk saja Hamka, mungkin dia mau memelukmu yang genit dan haus belaian" balas Gatra
"Kang..." rengeknya lagi menghentakkan kakinya, dia kesal karena bisa keceplosan bicara seperti itu di depan Gatra.
######
Tak terasa sudah enam bulan lamanya mereka di hutan itu, Sagara masih tetap mengunjungi mereka satu bulan sekali, Hamka juga pulang ke jakarta satu bulan sekali, dan Kenanga sekarang sudah mulai pandai berbicara dengan Lintang yang semakin manja pada Laily begitupun sebaliknya.
Selama itu pula, pohon keramat sudah semakin kuat, sudah bisa memusnahkan mahluk lemah yang mendekati pagar gaib rumah itu. Bahkan ada satu kejadian di mana Karman tiba tiba pingsan setelah melewati rumah Sagara dan ingatannya juga hilang sampai sekarang
Hanya anak anaknya dan istrinya yang dia ingat, juga dirinya yang seorang tetua di kampung Mahoni, semua ilmu dan pusaka yang dia miliki tiba tiba saja hilang tanpa jejak.
"Hari ini Kita sarapan roti bakar karena masih ada sisa roti di kulkas" ucap Liam
"Lian, au otat"
"Liam, mau coklat, bicara yang jelas" ucap Liam
"Iya, itu" jawab Kenanga tidak mau ribet
"Bocil" ledek Hamka mencubit hidung Kenanga
"Besok anak anak akan akan di berikan buku paket baru untuk tugas menghitung dan juga akan ada ulangan, supaya kita tahu sejauh apa mereka sudah mengerti apa yang kita ajarkan" ucap Lintang
"Iya, orang tua Fatih kemarin menitipkan Fatih pada kita untuk di ajari tentang Islam, orang tuanya bilang dia mau Fatih belajar agama kita" ungkap Liam
"Tapi bagaimana dengan orang orang kampung ini? Mereka mungkin akan menjauhi keluarga Fatih nanti, masalah agama itu sangat sensitif di sini" tanya Hamka khawatir.