Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02 - Aku Saja Yang Menikah

Arga sudah menduga keluarga Santoso akan berubah sikap begitu melihat mobil yang ia pakai.

Tetap saja, melihatnya langsung terasa menarik.

Bu Ratna yang tadi menyambut dengan senyum lebar kini duduk dengan punggung terlalu tegak. Pak Bambang lebih banyak diam. Rania, perempuan yang seharusnya menjadi calon istrinya, menatap ponsel setiap beberapa menit, seperti sedang menunggu alasan untuk pergi dari ruang tamu.

Bima menahan diri agar tidak tertawa.

Arga tahu sahabatnya itu ingin sekali berbisik, "Kan, benar kata gue."

Tapi Bima cukup tahu diri. Di depan keluarga orang, ia masih bisa menjaga mulut.

"Jadi, Mas Arga tinggal di Jakarta?" tanya Ratna.

"Iya, Bu. Tapi beberapa bulan ini saya bolak-balik Bandung."

"Tinggal di mana kalau di Bandung?"

"Kadang di mess proyek. Kadang di penginapan."

Rania mengangkat wajah. "Belum punya rumah di Bandung?"

"Belum."

Jawaban itu pendek.

Rania tersenyum sopan, tetapi matanya kehilangan minat.

Arga menaruh cangkirnya. Ia tidak tersinggung. Justru rasa lega pelan-pelan muncul di dadanya. Kalau keluarga ini mundur, ia tidak perlu melawan wasiat Kakek Surya secara terang-terangan.

Kakeknya, sebelum meninggal, memegang tangan Arga dan berkata dengan napas tersengal, "Hadi Santoso pernah menyelamatkan hidup Kakek. Kalau keluarganya membutuhkan kita, jangan palingkan muka. Kalau cucu perempuannya baik, nikahi dia. Jangan biarkan janji Kakek mati begitu saja."

Arga mencintai kakeknya.

Tapi ia tidak suka dipaksa menikah dengan perempuan yang bahkan tidak ia kenal.

Karena itu ia datang dengan mobil tua milik salah satu staf lapangan, memakai kemeja paling sederhana, dan meminta Bima tidak memanggilnya `Pak Arga` di depan orang-orang ini.

Rencananya mudah.

Biarkan keluarga Santoso menolak.

Ia tetap bisa berkata kepada almarhum kakeknya bahwa ia sudah datang.

Hanya saja, rencana itu mulai terganggu saat perempuan pembawa teh tadi masuk.

Safira.

Ia bukan Rania. Dari cara Bu Ratna memanggilnya, Arga tahu posisinya di rumah itu berbeda. Bukan tamu utama. Bukan anak yang sedang dipamerkan. Lebih seperti seseorang yang hanya muncul ketika dibutuhkan, lalu disuruh menghilang.

Namun perempuan itu punya mata yang jernih.

Tidak ada rasa ingin menilai pakaiannya.

Tidak ada rasa ingin tahu tentang mobilnya.

Saat menuang teh, tangannya cekatan dan tenang. Di balik wajah manisnya, ada kelelahan yang terlalu rapi disembunyikan.

Arga tahu bentuk kelelahan seperti itu.

Kelelahan orang yang sudah terlalu lama diminta mengerti.

"Mas Arga," suara Rania membuyarkan pikirannya. "Saya boleh bicara terus terang?"

"Silakan."

Rania menarik napas, menoleh kepada Ratna sebentar, lalu kembali menatap Arga.

"Saya menghormati hubungan Kakek Hadi dan keluarga Kusuma. Tapi pernikahan itu bukan cuma soal janji orang tua, kan? Kita yang menjalani."

"Benar."

"Saya... tidak merasa kita cocok."

Bambang menggeser duduknya. Ratna menatap Rania, memberi isyarat agar ia tidak terlalu kasar.

Rania melanjutkan, "Saya punya rencana sendiri. Karier, kehidupan, semuanya. Saya tidak bisa menikah hanya karena pesan almarhum. Apalagi kalau Mas Arga sendiri juga belum mapan."

Bima menunduk, pura-pura melihat ponsel.

Arga hampir tersenyum.

Belum mapan.

Kalau para direktur Kusuma Group mendengar kalimat itu, mungkin ruang rapat besok akan penuh orang tersedak kopi.

"Saya mengerti," kata Arga.

Ratna cepat menyela, "Rania tidak bermaksud merendahkan. Anak perempuan zaman sekarang memang punya pertimbangan. Kami sebagai orang tua juga harus memastikan masa depannya."

"Tentu, Bu."

"Lagi pula, janji Kakek dulu kan tidak tertulis. Kita bisa tetap menjaga silaturahmi tanpa harus memaksakan pernikahan."

Kalimat itu keluar begitu halus, tetapi intinya jelas.

Mereka menolak.

Arga seharusnya lega.

Namun dari arah lorong, ia melihat Safira berdiri dengan piring buah di tangan. Perempuan itu jelas mendengar semuanya. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, tetapi matanya bergerak sedikit ke arah Rania, lalu ke arah Ratna.

Di sana, ada sesuatu yang tajam.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang melihat pintu terbuka.

"Kalau begitu," Arga mulai bicara, "saya tidak akan memaksa."

Rania menghela napas lega terlalu cepat.

Safira maju menaruh piring buah di meja. "Maaf, buahnya."

"Safa, sudah. Kamu ke belakang," kata Ratna.

Tapi Safira tidak langsung pergi.

Ia menatap ibunya.

"Ma, kalau Kak Rania tidak mau, aku saja."

Ruang tamu mendadak sunyi.

Bima mengangkat kepala.

Arga menatap Safira tanpa berkedip.

Ratna seperti tidak yakin dengan pendengarannya. "Apa?"

Safira berdiri tegak. Nampan kosong masih ia pegang di depan tubuhnya.

"Aku saja yang menikah dengan Mas Arga."

"Kamu gila?" Rania spontan berdiri. "Ini pembicaraan orang tua, Safa."

"Aku juga anak di rumah ini."

Ratna tertawa pendek, tajam. "Anak? Kamu tahu apa soal pernikahan? Jangan bicara sembarangan hanya karena ingin cari perhatian."

Safira menoleh kepada Arga. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menatap lelaki itu tanpa menunduk.

"Mas Arga datang karena pesan kakeknya. Kakek Hadi juga pasti ingin janji itu dihormati. Kalau Kak Rania tidak mau, dan keluarga Kusuma tidak keberatan, aku bersedia."

Bambang memukul lengan kursi. "Safa!"

"Pa," suara Safira tetap pelan, tetapi tidak gemetar. "Selama ini Mama bilang aku harus tahu diri. Aku tahu. Aku bukan anak yang dibanggakan. Aku bukan yang Mama pilih untuk tampil di depan tamu. Tapi kalau keluarga ini butuh seseorang untuk menjaga nama baik, biasanya aku yang disuruh maju, kan?"

Ratna wajahnya memerah. "Jaga mulut kamu."

"Aku sedang menjaganya, Ma. Aku tidak menyebut apa pun yang lebih buruk."

Rania menatapnya penuh amarah. "Kamu mau merebut calonku?"

Safira hampir tertawa. "Kakak baru saja menolak."

"Tetap saja ini memalukan!"

"Yang memalukan itu menilai orang dari mobilnya, Kak."

Bima batuk sekali. Kali ini ia benar-benar hampir gagal menahan tawa.

Ratna berdiri. "Kamu masuk kamar sekarang."

"Tidak sebelum Mas Arga menjawab."

Semua mata beralih kepada Arga.

Arga menatap perempuan di depannya. Safira tidak terlihat seperti perempuan yang sedang mengejar kesempatan menjadi menantu keluarga kaya. Ia bahkan belum tahu siapa dirinya. Yang ia lihat mungkin hanya lelaki biasa yang sedang ditolak karena dianggap tidak cukup.

Tapi justru itu yang membuat Arga tidak bisa langsung mengatakan tidak.

"Kamu yakin?" tanya Arga.

Ratna langsung menyela, "Mas Arga, jangan dengarkan dia. Safira ini kadang terlalu emosional."

"Saya bertanya kepada Safira, Bu."

Ratna terdiam, tersinggung.

Safira mengangguk. "Aku yakin."

"Kenapa?"

Safira menggenggam nampan lebih erat.

Karena aku ingin keluar dari rumah ini.

Karena aku lelah diminta mengalah untuk orang yang tidak pernah menganggapku.

Karena kalau aku tetap di sini, hidupku akan habis untuk membayar kesalahan dan ambisi orang lain.

Tapi semua itu tidak ia ucapkan.

Ia hanya berkata, "Karena aku menghormati Kakek Hadi. Dan karena Mas Arga tidak terlihat seperti orang jahat."

Bima menoleh cepat ke arah Arga, matanya melebar, seolah ingin berkata, "Gila, ada yang menilaimu sebaik itu cuma dari lima menit."

Arga tidak memedulikannya.

"Kalau saya tidak punya rumah di Bandung?"

"Aku bisa tinggal di kontrakan."

"Kalau penghasilan saya tidak sebesar harapan keluargamu?"

"Aku bekerja."

"Kalau hidup setelah menikah tidak nyaman?"

Safira menatapnya lebih tenang. "Hidupku sekarang juga tidak terlalu nyaman."

Kalimat itu membuat Arga diam.

Ada luka di sana, tetapi bukan luka yang meminta dikasihani. Safira hanya menyampaikan fakta.

Rania mencibir. "Bagus. Kalau begitu nikah saja. Jangan menyesal kalau hidup susah."

Ratna menatap Rania, lalu Safira, lalu Arga. Otaknya jelas bergerak cepat. Menolak Arga berarti mungkin menyinggung keluarga Kusuma. Membiarkan Rania menikah dengan lelaki yang tampaknya biasa saja membuatnya tidak rela. Tapi kalau Safira yang menikah, setidaknya janji keluarga tetap terselesaikan tanpa mengorbankan putri kesayangannya.

Perhitungan itu terlihat jelas di wajahnya.

Safira melihatnya.

Dan anehnya, ia tidak sakit lagi.

Mungkin karena ia sudah menduga.

Bambang berdeham. "Kalau... kalau keluarga Kusuma tidak keberatan, kita bisa bicarakan lagi."

Arga menatap Safira.

Perempuan itu masih berdiri dengan punggung tegak. Tidak ada kegembiraan di wajahnya. Tidak ada mimpi romantis. Hanya keputusan.

Entah kenapa, Arga ingin tahu sejauh apa keputusan itu bisa membawanya.

"Saya tidak keberatan," kata Arga.

Ratna terkejut. Rania juga.

Safira menarik napas pelan.

Arga berdiri, lalu mengulurkan tangan, bukan untuk bersalaman, tetapi seolah memberi ruang bagi Safira untuk memilih sekali lagi.

"Tapi pernikahan bukan tempat pelarian yang mudah. Kalau kamu memilih saya, kamu harus tahu, jalan setelah ini mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan."

Safira menatap tangan itu, lalu menatap wajah Arga.

"Aku tidak sedang mencari yang mudah."

"Lalu apa yang kamu cari?"

Safira menjawab tanpa ragu.

"Jalan keluar."

Arga menurunkan tangannya perlahan.

Di ruang tamu keluarga Santoso yang mendadak sesak oleh kepentingan, ia membuat keputusan yang bahkan tidak ada di rencananya pagi tadi.

"Baik," katanya. "Kalau begitu, kita menikah."

1
Heny
Dari awal baca gk ada romantis nya msh jln di tempat
Ivan Sumampouw
setelah mencoba bertahan 59 episode ternyata memang cerita JELEK !!!
Heny
Cerita nya datar arga dan safira gk ada romantis nya
Akbar Nasution
bagus
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 masalahnya cuma nama tokoh yg bolak-balik salah😬
Ivan Sumampouw
sdh 51 episode,,, jauh dari judul,,, kenapa bukan Safira yg rahasia 🤣
Hariyanti
kenapa jg ga pake baby sitter 🤔🤔🤔
Hariyanti
dulu sebenarnya hubungan Rayhan dan nara seperti apa sih 🤔🤔 kok kesannya Nara yg paling bersalah padahal waktu bikin berdua
Imas Karmasih
thor kurang fokus aturan Bambangan bukan dimas
Hariyanti
Jovan itu hasil hubungan tanpa status kah🤔🤔karena Rayhan dan nara seperti dua orang yang tidak pernah dekat
Hariyanti
ibunya Rayhan sebenarnya siapa sih🤔Sinta atau Laras.byk betul yg namanya laras🤔🤔pelanggan Safa, mertua Safa jg Laras
Ayu Puput
udh eps 62 padahal pusing bacanya gitu² aja ceritanya, terlalu bertelew. tapi penasaran endingnya
Ratih magani
mmsh bingung ini do bdg ato jkt sih setting tempatnya?
Imas Karmasih
setuju
Hariyanti
kalo Safira bayi yg ditukar🤔apa maksudnya ditukar🤔🤔🤔kalo bayinya sendiri meninggal tapi ternyata masih hidup🤔semoga hasil tes Maya bukan keluarga santoso
Hariyanti
bertele-tele 😏 padahal jujur aja ttg statusnya .... kalo Safira ga nyaman dgn status suaminya lebih baik bubar drpd gengsi dibantu suami yg kaya raya
Hariyanti
Dimas kan pacar Rania 🤔🤔 emang ada berapa Dimas 🤔
Imas Karmasih
cerita nya bagus engga ngebosenin
Anggraini “Beby” Lubis
bab ini lompat ya? dari jakarta terus ke bandung, terus ke jakarta lagi
Hariyanti
susah banget sih jelasin status 🤔🤔senang bikin rumit kehidupan 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!