Indonesia
NovelToon NovelToon
Trauma Ranjang

Trauma Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berita Baik Untuk Sang CEO

Dalam hitungan jam, kolom komentar di berbagai platform media sosial dibanjiri oleh ribuan hujatan pedas, sumpah serapah, dan caci maki dari netizen yang termakan oleh kebohongan tersebut.

​Di sebuah kafe mewah tempat ia memantau situasi, Viola Sanustika tertawa histeris lepas. Suara tawanya melengking tinggi, memecah keheningan meja sudut tempat ia duduk bersandar sambil menikmati segelas sampanye.

​"Ha-ha-ha-ha! Lihatlah itu, Xander! Lihat bagaimana para netizen tolol itu mencaci maki wanita suci kesayanganmu!" seru Viola dengan mata melotot penuh kepuasan psikopat, menunjukkan layar ponselnya yang dipenuhi komentar jahat kepada Xander yang duduk di depannya. "Dia sudah hancur! Kariernya tamat, reputasinya rata dengan tanah, dan tidak akan ada satu pun instansi di negeri ini yang mau menerima dosen pezina sepertinya!"

Xander yang duduk menyilangkan kaki meneguk whisky-nya perlahan, menyunggingkan senyuman dingin yang penuh rasa puas diri. Ia merasa dirinya adalah pria paling hebat di dunia yang berhasil menghukum wanita yang dianggap telah berani menentangnya.

​Namun, badai fitnah keji di dunia maya itu pada akhirnya menembus dinding pertahanan keluarga kecil Evita di unit apartemen mereka.

Pagi itu, Bu Yekti yang hendak menyiapkan sarapan untuk suaminya tidak sengaja menyalakan televisi ruang tengah yang menayangkan berita gosip pagi. Layar kaca besar tersebut dengan vulgar menampilkan foto-foto rekayasa Evita berdampingan dengan narasi jahat tentang skandal perselingkuhan dan perzinahan berbayar. Di bagian bawah layar, berjalan teks berita yang mencatut nama lengkap Evita Desniati sebagai dosen pembuat skandal amoral.

Tak lama kemudian, notifikasi dari grup WhatsApp keluarga besar dan kerabat berdering tanpa henti, mengirimkan tautan berita fitnah tersebut disertai cemoohan dan pertanyaan bernada menghakimi.

​Bu Yekti tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Penglihatannya mendadak kabur, dan rongga dadanya terasa dihantam oleh palu godam yang sangat berat. Sebagai seorang ibu yang tahu persis bagaimana perjuangan, integritas, dan keluhuran budi pekerti putri tunggalnya sejak kecil, fitnah keji yang disiarkan secara nasional itu adalah sebuah siksaan batin yang melampaui batas kewarasan manusia.

****

"Ya Tuhan... Ya Allah... Evita anakku..." rintih Bu Yekti dengan suara parau bergetar, memegang dadanya yang mendadak sesak luar biasa.

​Bruk!

​Tubuh paruh baya itu ambruk seketika ke lantai marmer ruang tamu, tak sadarkan diri dengan napas yang tersengal-sengal lemah.

​"Ibu!" jerit Evita histeris dari arah kamar mandi. Evita berlari kencang menerobos ruang tengah, mendapati ibunya sudah terkapar tak berdaya di lantai dengan wajah pucat pasi.

Pak Santoso yang keluar dari kamar tidur langsung berteriak panik melihat istrinya pingsan. Dengan bantuan ayahnya yang sudah renta, Evita mengangkat tubuh Bu Yekti dengan sekuat tenaga, berteriak meminta pertolongan pada tetangga sekitar untuk melarikan ibunya kembali ke IGD rumah sakit terdekat.

​Dunia Evita benar-benar hancur lebur dalam satu pagi. Kariernya sebagai dosen dihancurkan secara sadis oleh suaminya sendiri, namanya difitnah sebagai wanita tuna susila oleh wanita iblis bernama Viola, dan kini nyawa ibunya terancam akibat syok berat menerima hantaman fitnah tersebut. Di tengah tangisnya yang pecah di koridor rumah sakit, Evita merasa dirinya berada di jurang keputusasaan yang paling gelap, tanpa ada lagi tempat untuk mengadu selain meratapi nasib malang keluarganya.

****

Jauh dari hiruk-pikuk dunia luar yang kejam dan penuh dusta, di lantai paling atas Rumah Sakit Internasional St. Carolus, suasana di dalam ruangan VVIP khusus tampak jauh lebih tenang, namun penuh dengan ketegangan biologis yang menentukan garis hidup dan mati.

​Di atas ranjang pesakitan berseprai putih bersih, Ma Yong Hua perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya.

​Cahaya lampu ruangan yang lembut menyapa retinanya. Tenggorokannya terasa kering, dan otot-otot tubuhnya masih lemas akibat dosis obat penenang serta efek dari kardiomiopati akut yang hampir merenggut nyawanya malam tadi.

Namun, tidak seperti malam sebelumnya di mana ia tersengal-sengal sekarat, kali ini tarikan napas Ma Yong Hua terasa jauh lebih teratur, meski masih dibantu oleh selang oksigen tipis di hidungnya.

Di samping ranjang, berdiri sosok Feng Zhi. Sekretaris setia berjas rapi itu tidak beranjak barang sedetik pun sejak semalam menjaga majikannya. Begitu melihat mata sang CEO terbuka, wajah Feng Zhi yang biasanya kaku seketika memancarkan binar kelegaan yang luar biasa besar.

​"Tuan Ma... Anda sudah sadar? Syukurlah..." ucap Feng Zhi dengan suara bergetar tertahan, segera membungkuk hormat lalu menuangkan segelas air hangat dengan sedotan untuk sang majikan.

Ma Yong Hua meneguk air itu perlahan. Suaranya terdengar serak saat ia pertama kali berbicara setelah melewati masa kritisnya. "Feng Zhi... Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

​"Hampir empat belas jam, Tuan," jawab Feng Zhi cepat, meletakkan kembali gelas kaca tersebut ke nakas. "Tim dokter spesialis jantung sudah melakukan serangkaian tindakan stabilisasi darurat sepanjang malam. Dan... ada kabar berita yang sangat penting, sebuah keajaiban yang sudah lama kita nantikan."

****

Ma Yong Hua menolehkan kepalanya pelan ke arah sekretaris setianya, menaikkan sedikit keningnya meminta penjelasan.

​Feng Zhi menarik napas panjang, tersenyum lebar untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Suaranya bergetar penuh rasa syukur saat ia menyampaikan kalimat yang mengubah segalanya.

​"Tuan Ma... Tim medis pusat transplantasi nasional baru saja menghubungi kita subuh tadi. Mereka menemukan seorang pendonor jantung yang mengalami kecelakaan fatal di kota luar, dan setelah melalui serangkaian tes laboratorium yang sangat ketat, jaringan darah serta profil DNA donor tersebut dinyatakan kompatibel seratus persen dengan tubuh Anda!"

Mendengar berita luar biasa itu, sepasang mata sipit Ma Yong Hua sedikit membelalak. Ada kilatan cahaya kehidupan yang kembali terpancar kuat di dalam sorot matanya yang tajam. Jantung yang selama ini menjadi bom waktu dalam tubuhnya, yang nyaris berhenti berdetak karena provokasi keji Viola malam tadi, kini mendapatkan kesempatan kedua untuk berdetak kembali secara normal.

​"Kompatibel seratus persen...?" ulang Ma Yong Hua memastikan dengan suara baritonnya yang mulai bertenaga.

​"Ya, Tuan!" jawab Feng Zhi mantap. "Tim dokter bedah toraks terbaik sudah bersiap di ruang operasi steril. Operasi transplantasi jantung bisa segera dijadwalkan hari ini juga begitu kondisi fisik Anda dinyatakan siap oleh kepala tim medis!"

****

​Ma Yong Hua memejamkan matanya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan detak organ di dalam dadanya yang masih berjuang keras. Namun di balik kelegaan itu, bayangan wajah seorang wanita langsung melintas terang di dalam benaknya—Evita Desniati, wanita tegar berhati tulus yang air matanya ia saksikan sebelum ia kehilangan kesadaran di apartemen wanita itu.

​Ma Yong Hua membuka kembali matanya, menatap lurus ke arah Feng Zhi dengan sorot mata yang kembali memancarkan wibawa absolut seorang penguasa naga bisnis ibu kota.

​"Feng Zhi," panggil Ma Yong Hua dengan suara dingin, tegas, dan mutlak.

​"Saya, Tuan Ma. Apa perintah Anda?" jawab Feng Zhi sigap membungkuk.

​"Bagaimana keadaan Nona Evita saat ini?" tanya Ma Yong Hua tajam. "Laporan apa yang masuk ke meja kerjamu mengenai situasi kampus dan keluarganya pagi ini setelah insiden semalam?"

Wajah Feng Zhi mendadak berubah serius dan kelam. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah gawai tablet lalu menyerahkannya kepada sang majikan dengan ekspresi berat.

​"Tuan... Berita buruk baru saja terjadi pagi ini," lapor Feng Zhi dengan nada tertahan. "Xander Wiryawan menggunakan seluruh koneksi bisnisnya untuk memecat Nona Evita secara tidak hormat dari universitas. Tidak hanya itu, mereka menyebarkan fitnah keji di seluruh media sosial yang menuduh Nona Evita sebagai wanita tuna susila yang berzina dengan Anda. Tekanan mental yang luar biasa besar itu membuat ibu kandung Nona Evita... Bu Yekti, ambruk dan pingsan karena serangan syok mendadak, dan kini sedang berjuang di IGD rumah sakit ini."

1
Ma Em
Evita balas perbuatan Xander dan jalang nya buat mereka menyesal karena sdh berani bawa selingkuhan ke rumah tempat Evita tinggal .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!