Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Angin sore berhembus membawa debu kotor di kawasan industri yang tampak terbengkalai itu.
Bayu menarik ujung kerah jaketnya ke atas untuk menutupi hidung dari bau karat dan oli bekas yang sangat menyengat penciuman.
Tap tap tap.
Langkah kaki mereka berdua terdengar sangat pelan menyusuri dinding luar gudang besar bernomor tujuh.
"Bangunan ini terlihat seperti sudah ditinggalkan belasan tahun lamanya," bisik Anya sambil mengintip dari balik tumpukan drum kosong.
"Apakah kamu yakin nota alamat usang itu mengarah ke tempat rongsokan seperti ini?"
Bayu mengangguk pelan sambil terus mengawasi celah pintu besi yang sedikit terbuka di depan mereka.
"Justru tempat kumuh seperti inilah yang paling cocok untuk dijadikan markas rahasia para kriminal," jawab Bayu membalas bisikan gadis itu.
"Mereka pasti sengaja membiarkan bagian luarnya terlihat hancur agar tidak dicurigai oleh patroli polisi setempat."
Srek.
Bayu menggeser pintu besi berkarat itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi decit yang keras.
Kondisi di dalam gudang ternyata jauh dari kata terbengkalai seperti penampakan luarnya.
Lampu-lampu gantung yang terang benderang menerangi puluhan tumpukan kardus barang selundupan dan beberapa mobil mewah tanpa plat nomor.
"Tebakanku benar, tempat ini adalah pusat operasional ilegal milik PT Kobra Mandiri," kata Bayu melihat sekeliling dengan waspada.
"Kita harus mencari ruangan kantor atau ruang arsip di sekitar sini secepatnya sebelum ada yang melihat." Anya menunjuk ke arah struktur ruangan berdinding kaca di lantai dua yang menghadap langsung ke area utama gudang.
"Di sana, itu pasti ruangan manajer atau bos yang mengawasi seluruh kegiatan bongkar muat di tempat ini," tunjuk Anya dengan yakin.
"Tangga naiknya ada di sebelah kiri, tapi ada dua orang penjaga yang sedang bermain kartu di bawahnya."
Bayu menyipitkan matanya melihat dua preman bertubuh besar yang sedang duduk santai sambil merokok.
"Energi waktuku masih tiga poin, aku tidak bisa membuangnya hanya untuk mengurus kroco seperti mereka," batin Bayu berhitung cepat.
"Kita harus mencari cara untuk mengalihkan perhatian mereka berdua tanpa harus bertarung langsung." Anya merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah kelereng kaca yang lumayan besar.
"Aku punya ide bagus, kamu perhatikan saja bagaimana hukum pantulan bunyi bekerja di ruangan tertutup," bisik gadis itu sambil tersenyum bangga.
Trak. Trak. Trak.
Anya melempar kelereng itu sekuat tenaga ke arah tumpukan seng bekas di sudut kanan gudang yang berlawanan dengan posisi tangga.
Suara benturan nyaring itu langsung bergema keras ke seluruh penjuru ruangan yang tadinya sunyi.
Kedua preman penjaga itu langsung melompat berdiri dari kursi mereka dan mencabut golok panjang dari pinggang masing-masing.
"Suara apa itu dari pojok sana?" teriak salah satu preman dengan wajah tegang mencari sumber suara.
"Ayo kita periksa, jangan sampai ada tikus polisi yang berani menyusup ke sarang kita," sahut temannya sambil berlari menjauh.
Bayu menatap Anya dengan pandangan tidak percaya melihat taktik sederhana yang terbukti sangat efektif itu.
"Terkadang kejeniusan memang berawal dari hal-hal sepele yang tidak terduga," puji Bayu sambil menarik tangan gadis itu.
"Ayo cepat lari ke tangga sebelum mereka sadar kalau itu cuma jebakan suara."
Tap tap tap.
Mereka berdua berlari mengendap-endap menaiki tangga besi menuju ruangan kaca di lantai dua.
Cklek.
Pintu ruangan itu ternyata tidak dikunci, memudahkan Bayu dan Anya untuk langsung menerobos masuk tanpa hambatan.
Kondisi ruangan kantor itu sangat rapi dengan sebuah meja kerja besar dari kayu jati di tengahnya.
Di belakang meja, terdapat deretan lemari kabinet besi yang penuh dengan tumpukan map berbagai warna.
"Ini dia harta karun yang kita cari dari tadi," ucap Anya bersemangat sambil berlari mendekati lemari kabinet tersebut.
"Bantu aku mencari map yang memiliki label tahun yang sama dengan kecelakaan orang tuamu, Bayu."
Srek srek srek.
Mereka berdua mulai membongkar tumpukan kertas dan map dengan gerakan cepat yang diburu waktu.
Bayu membuka laci meja kerja dan menemukan sebuah buku catatan tebal berwarna hitam bersampul kulit.
"Buku ini berisi catatan aliran dana pinjaman fiktif yang dilakukan oleh perusahaan palsu ini," kata Bayu membaca halaman pertamanya.
"Nama ayahku ada di daftar target perampasan aset di halaman dua puluh empat." Anya juga menemukan sebuah map merah berdebu dari tumpukan terbawah di dalam laci lemari kabinet.
"Bayu, lihat ini, aku menemukan salinan kontrak hutang ayahmu yang asli di sini," seru Anya menunjukkan kertas usang itu.
"Nilai pinjamannya hanya sepuluh juta rupiah untuk modal usaha bengkel, bukan lima ratus juta seperti surat yang dikirim semalam."
Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi yang kembali meluap panas di dadanya.
"Brengsek, mereka benar-benar sengaja menjebak keluargaku demi merampas tanah kakek yang harganya milyaran itu," maki Bayu dengan gigi gemeretak.
"Aku akan membawa buku catatan dan map ini ke kantor polisi sebagai bukti konspirasi kotor mereka." Anya mengangguk setuju dan segera memasukkan map merah beserta buku hitam itu ke dalam tas selempangnya.
"Kita harus segera keluar dari tempat ini sekarang juga sebelum preman-preman penjaga itu kembali," ajak Anya memperingatkan.
Wusss.
Tiba-tiba udara di dalam ruangan kaca itu terasa sangat dingin dan menjadi berat hanya dalam hitungan detik.
Bayu merasakan bulu kuduknya meremang persis seperti saat pisau belati menancap di dinding rumahnya tadi siang.
[Peringatan Darurat: Fluktuasi energi spasial tingkat tinggi terdeteksi di dalam ruangan.]
[Jarak ancaman: Nol meter.]
Trang.
Suara kaca pecah yang sangat keras terdengar menyusul sebilah pedang perak yang tiba-tiba muncul dari udara kosong tepat di atas kepala Bayu.
"Awas." teriak Anya secara refleks melempar sebuah tempat pensil ke arah udara kosong itu.
Bayu langsung berguling ke samping lantai dengan susah payah menghindari tebasan mematikan dari pedang tak terlihat tersebut.
Brak.
Meja kayu jati yang tebal itu terbelah menjadi dua bagian dengan potongan yang sangat rapi seolah diiris oleh mesin laser.
Sesosok pria berpakaian serba hitam dan memakai topeng kain muncul perlahan dari sebuah pusaran udara yang melengkung aneh.
"Refleks yang sangat bagus untuk ukuran anak kampung yang lamban," ejek pria bertopeng itu dengan suara berat yang bergema.
"Pantas saja Leo dan anak buahnya yang tidak berguna itu sampai menangis ketakutan lari darimu."
Bayu segera berdiri tegak dan menarik Anya ke belakang punggungnya sebagai bentuk perlindungan naluriah.
"Jadi kamu yang melempar pisau surat ancaman itu ke rumahku tadi siang?" tanya Bayu dengan nada menantang menutupi rasa gugupnya.
"Sebutkan namamu sebelum kamu menyesal berurusan denganku hari ini."
Pria itu tertawa meremehkan sambil menyarungkan kembali pedang peraknya dengan gaya santai ke pinggang.
"Namaku adalah hal terakhir yang akan didengar oleh mangsaku sebelum kepalanya terpisah dari leher," jawab pria itu dengan angkuh.
"Tapi karena kau berhasil menghindari serangan pertamaku, panggil saja aku Sang Penghapus Jejak." Bayu melirik sisa energi di layar biru yang melayang transparan di sudut pandangannya.
[Energi Waktu: 3/10]
"Aku tidak punya cukup energi untuk melawan orang yang bisa berpindah tempat sesuka hati ini," batin Bayu menganalisis situasi dengan cepat.
"Prioritas utama sekarang adalah kabur dari sini membawa bukti-bukti itu dan memastikan Anya selamat sampai luar."
Sang Penghapus Jejak kembali mengangkat tangannya dan udara di sekitarnya mulai beriak seperti air yang dilempar batu.
"Mari kita lihat seberapa lama kau bisa menari menghindari tebasanku, anak muda," tantang sang pembunuh bayaran.