Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah selesai menikmati dessert manis di kafe mal dan suasana hati Alena benar-benar kembali ceria, Baskara memiliki ide lain untuk semakin menenangkan pikiran istrinya.
Ia tahu, di saat-saat penuh kerentanan seperti ini, tidak ada yang lebih menenangkan bagi seorang calon ibu selain berada di dekat orang tua kandungnya sendiri.
Maka, alih-alih langsung pulang ke apartemen, mobil Baskara melaju menuju kediaman orang tua Alena.
Begitu mobil terparkir di halaman rumah yang asri, pasangan itu melangkah keluar dan mengetuk pintu utama.
Tidak butuh waktu lama hingga pintu terbuka lebar, menampakkan sosok kedua orang tua Alena yang seketika terperanjat kaget bercampur bahagia melihat kehadiran putri tunggal mereka bersama sang menantu di tengah hari.
"Alena? Baskara?" ucap sang mama dengan mata membelalak tak percaya, sebelum akhirnya langsung merengkuh tubuh putrinya ke dalam pelukan hangat penuh kerinduan.
"Ya ampun, Sayang. Tumben sekali kalian datang tidak bilang-bilang dulu. Masuk, ayo masuk!"
Papa Alena yang menyusul dari ruang tengah menyambut Baskara dengan jabatan tangan erat dan senyuman lebar.
Suasana rumah yang tenang seketika berubah menjadi hangat dan penuh gelak tawa.
Mengetahui putrinya tengah hamil lima bulan dan baru saja dari dokter, sang mama langsung bergegas sibuk di dapur.
Dengan penuh kasih sayang, wanita paruh baya itu meracik dan memasak hidangan rumahan kesukaan Alena semasa kecil—sayur sop hangat dengan aroma rempah yang menggugah selera dan ikan goreng kuah kuning.
Tak lama kemudian, hidangan sedap itu tersaji di meja makan.
Sambil menikmati makan siang buatan sang ibu yang rasanya selalu juara, Alena teringat kembali pada kekhawatirannya di rumah sakit tadi siang.
Ia menatap mamanya lekat-lekat, lalu melontarkan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Ma," panggil Alena pelan di sela suapannya.
"Mama dulu, saat mengandung Alena, apa kaki Mama juga sempat bengkak seperti ini?" tanya Alena sambil melirik pelan ke arah pergelangan kakinya sendiri.
Sang mama menghentikan aktivitas makannya sejenak, lalu tersenyum lembut penuh pengertian.
Ia menatap mata putrinya dengan pandangan menenangkan seorang ibu yang sangat memahami isi hati anaknya.
Mama menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Sayang. Dulu waktu hamil kamu, kaki Mama juga bengkak begitu memasuki trimester kedua. Rasanya pegal dan tidak nyaman, apalagi ditambah badan yang cepat lelah. Itu hal yang lumrah sekali dialami ibu hamil, kok."
Mendengar pengakuan langsung dari sang ibu, beban berat yang sejak tadi menggelayuti dada Alena seolah terangkat seketika. Baskara, yang duduk di sebelah istrinya, tersenyum lega sambil mengusap punggung Alena penuh kasih, merasa bersyukur karena kunjungan mendadak ini berhasil meredakan ketakutan terakhir di hati sang istri tercinta.
Mama tersenyum hangat, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut punggung tangan Alena di atas meja.
Sorot mata wanita paruh baya itu memancarkan ketenangan dan pengalaman hidup yang menentramkan.
"Dengerin kata Mama, ya, Sayang," ucap Mama dengan nada lembut namun penuh penekanan.
"Selama hamil itu, yang paling penting adalah hati dan pikiran ibu harus selalu senang. Jangan biarkan dirimu masuk ke dalam 'lubang hitam' alias pikiran-pikiran negatif yang tidak-tidak. Apa yang kamu rasakan dan pikirkan itu nyambung langsung ke bayi di dalam kandungan, lho."
Papa yang duduk di seberang meja ikut mengangguk menyetujui ucapan istrinya, sambil tersenyum bijak.
"Betul kata mamamu, Alena. Suamimu ini sudah siaga luar biasa mendampingi kamu. Jadi, tugas kamu sekarang cuma satu: nikmati masa kehamilan ini dengan bahagia, jaga kesehatan, dan serahkan sisanya pada doa."
Mendengar nasihat menyejukkan dari kedua orang tuanya, hati Alena terasa semakin lapang.
Sisa-sisa kecemasan yang sempat mencengkeram dadanya di rumah sakit tadi siang kini benar-benar sirna, bergantikan rasa syukur yang mendalam atas limpahan kasih sayang keluarga di sekitarnya.
Baskara, yang sejak tadi menyimak dengan seksama, merasa beban di pundaknya ikut terangkat.
Ia menoleh ke arah Alena dan mendapati senyuman tulus kini kembali menghiasi wajah cantik istrinya.
Baskara balas tersenyum, semakin mengeratkan genggaman tangannya di bawah meja, merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang selalu menjadi tempat bersandar paling hangat.
Hari beranjak sore, dan hangatnya suasana di rumah orang tua Alena membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
Setelah puas berbincang, bernostalgia, dan menghabiskan makan siang masakan sang ibu, Alena tampak jauh lebih rileks.
Beban pikiran dan ketakutan yang sempat membayanginya di rumah sakit kini benar-benar telah menguap, tergantikan oleh ketenangan batin.
Baskara yang melihat perubahan positif pada diri istrinya merasa amat bersyukur.
Keputusan mendadak untuk membawa Alena berkunjung ke rumah mertuanya terbukti menjadi langkah yang paling tepat.
Menjelang senja, setelah berpamitan dan memohon doa restu kepada kedua orang tua Alena untuk kesehatan sang jabang bayi, Baskara dan Alena akhirnya bersiap untuk kembali ke apartemen mereka.
Di dalam mobil yang melaju tenang membelah jalanan kota di penghujung sore, Alena menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Baskara.
Tangan suaminya terulur merangkul pundaknya erat-erat, sementara satu tangan lainnya tetap fokus memegang kemudi.
"Terima kasih ya, Bas," bisik Alena pelan, matanya terpejam menikmati rasa damai yang menjalar di dadanya.
"Hari ini, rasanya benar-benar menenangkan."
Baskara menoleh sekilas, mengecup lembut puncak kepala sang istri penuh kasih.
"Apapun untuk kamu dan jagoan kita, Sayang. Rumah kita yang sebenarnya adalah di mana pun kita bersama," balas Baskara lembut.
Setibanya mereka di apartemen, malam menyambut dengan keheningan yang menenangkan.
Tanpa beban pikiran yang mengganjal, malam itu Alena dapat beristirahat dengan pulas, dikelilingi oleh rasa aman dan cinta yang tak pernah surut dari suami tercinta.
Cahaya lampu tidur yang kekuningan memantul lembut di kamar utama, menciptakan suasana yang tenang dan hangat.
Di atas ranjang berukuran king size, Alena sudah terlelap dalam tidurnya yang pulas, napasnya terdengar teratur setelah melalui hari yang cukup panjang dan melelahkan secara emosional.
Baskara yang duduk bersandar di kepala ranjang belum berniat untuk segera memejamkan matanya.
Ia menunduk, memandangi wajah damai sang istri dengan tatapan penuh pemujaan dan rasa sayang yang begitu besar.
Di sela-sela keheningan itu, pandangannya beralih turun ke arah kaki Alena yang terbalut selimut tipis.
Mengingat pesan dokter dan kondisi pergelangan kaki sang istri yang masih sedikit bengkak, Baskara bergerak sangat pelan agar tidak membangunkan tidurnya.
Dengan hati-hati, ia menarik selimut tersebut dan mengambil dua buah bantal empuk dari sisi ranjang.
Satu per satu bantal itu ia susun rapi di bawah kaki Alena, mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari posisi tubuhnya guna memperlancar sirkulasi darah sekaligus mengurangi rasa pegal yang dirasakan istrinya.
Setelah memastikan posisi kaki Alena sudah nyaman dan aman, Baskara merapikan selimut itu kembali menutupi tubuh istrinya.
Ia lalu mengecup kening Alena dengan sangat lembut dan penuh kelembutan.
"Selamat tidur, ratuku. Mimpi indah," bisik Baskara seraya mematikan lampu utama dan menyusul memeluk sang istri ke dalam dekapannya, siap menjaga malam dan hari-hari mereka berikutnya dengan segenap jiwa raganya.
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭