Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat
"Mama ikut kami main ayunan ma" panggil Hannah ketika Husna membuka pintu depan rumah Karta.
Ketiga anak mereka ada di sana dan sedang bermain ayunan juga perosotan, mata Husna langsung melotot dan dia melirik tangga ke lantai dua di mana kamar kedua anaknya berada dengan keringat dingin yang sudah memenuhi pelipis nya.
"Jika anak anak di sini, siapa yang ada di kamar Hannan dan Hisyam" gumam Husna kembali menatap anak anaknya yang sedang bermain.
"Mama..." panggil seorang anak yang berdiri di dekat tangga.
Bibir anak itu tersenyum tapi senyumnya begitu menakutkan, matanya berdarah dan tubuhnya begitu kotor dan pakaiannya compang camping. jantung Husna langsung berdetak kencang karena apa yang dia lihat pasti bukan manusia.
"Mama..."
"Aakhhh! mas Hatta!" pekik Husna sebelum dia pingsan dan membuat anak anaknya panik.
Hatta langsung berlari ke arah depan setelah mendengar teriakan Husna, dia khawatir istrinya terjatuh tapi saat tiba di depan, dia melihat Husna pingsan di kelilingi anak anaknya yang menangis karena khawatir.
"Papa, mama pa..." ucap Hannan
"Bawa ke kamar Hatta, mungkin Husna kelelahan" ucap Karta
"Husna bukan kelelahan nak, dia pasti melihat sesuatu di rumah ini" ucap Urfa
"Pak, bisa tolong telepon kak Dimas atau Dirga" ucap Hatta
"Bapak akan minta Karyo menjemput dia ke sini, Dirga mungkin masih di sekolah karena dia sedang mempersiapkan untuk menyambut murid baru di hari pertama sekolah beberapa hari lagi" jawab Karta
Hatta menggendong Husna ke kamar mereka, Hannah melihat ke arah tangga karena tadi sebelum pingsan ibunya itu melihat ke arah atas dan mungkin saja ibunya itu melihat sesuatu, tapi Hannah tidak menemukan apapun di sana.
"Abang, mama lihat apa ya?" tanya Hannah
"Abang juga tidak tahu, mungkin melihat hantu" jawab Hisyam merangkul Hannah dan meminta Hannan untuk ke kamar mereka.
Sekitar setengah jam kemudian Dimas sudah datang ke rumah Karta, dia memeluk Hatta karena dia terkejut melihat Hatta ada di rumah Karta bersama Husna juga anak ketiga mereka. Dimas juga langsung melihat kondisi Husna, lebih tepatnya hanya melalui kata batinnya saja karena dia tidak mungkin menyentuh Husna.
"Kira kira kenapa ya kak?" tanya Hatta khawatir
"Husna melihat sesuatu di rumah ini, mungkin itu membuatnya terkejut dan shok, yang aku tangkap adalah tiga anak kecil" jawab Dimas masih memejamkan matanya.
"Tapi di rumah ini tidak pernah ada hantu" ucap Karta
"Bukan hantu Om, tapi jin, sepertinya dua cucu Om tahu tentang mereka" jawab Dimas dan kedua anak Hatta menunduk.
"Kenapa menunduk? kalian tahu sesuatu?" tanya Hatta
"Itu...."
"Katakan saja Hannan tidak usah ragu"
"Sebenarnya...."
Flashback On.
"Hannan jangan jauh jauh mainnya, aku takut telsesat" panggil Hisyam saat keduanya sedang mencari capung untuk mereka tangkap dan beberapa ekor jangkrik.
Usia mereka masih empat tahun saat itu dan mereka sering diam diam keluar rumah untuk menangkap hewan hewan yang sering mereka temui di sekitar rumah Karta.
"Kamu jangan khawatil, aku tahu semua jalan di tempat ini" jawab Hannan
Hisyam tidak mengeluh lagi, dia memilih untuk percaya saja pada saudara kembarnya itu karena dia juga tidak mungkin kembali pulang sendirian meninggalkan saudaranya yang masih fokus mencari capung dan jangkrik.
"Ini sudah siang, kakek pasti khawatil, ayo kita pulang" ajak Hisyam
"Tunggu, aku belum menemukan jangklik nya" jawab Hannan masih terus mencari di semak semak.
Mereka terus saja berjalan tanpa mereka tahu kalau mereka sudah berada jauh dari kawasan perkebunan milik Karta, dan mereka baru sadar ketika mereka sampai di sebuah sungai, Hannan yang tidak pernah tahu ada sungai di sekitar rumah Karta langsung panik karena dia baru sadar kalau mereka benar benar tersesat.
"Hisyam, bagaimana ini? kita telsesat, aku tidak tahu tempat ini, ayo kita pelgi" ucap Hannan kembali ke jalan yang tadi dia lalui.
"Aku kan sudah bilang sejak tadi kenapa kamu tidak pelcaya, kamu bilang kamu tahu jalan pulang" keluh Hisyam
"Iya maaf, aku tadi tidak melihat kita ada di mana, aku pikil kita masih di kebun kakek" jawab Hannan menuntun Hisyam mencari jalan pulang.
Mereka terus berusaha mencari jalan pulang, tapi lagi lagi mereka malah tiba di tempat yang sama yaitu sungai tempat terakhir mereka sadar kalau mereka tersesat.
"Aku yakin tadi aku lewat sini, dan setelah itu pilih jalan lain kalena kita telus tiba di sungai ini, tapi kenapa sekalang kita kembali lagi ke sini" heran Hannan
"Tempat ini juga aneh, aku tidak lihat hewan apapun di sini" keluh Hisyam
"Kita jangan panik, ingat kat pak gulu Dilga, kalau kita panik nanti malah semakin banyak masalahnya" ucap Hannan
"Aku takut, ayo kita cali olang di sini supaya antal kita pulang" rengek Hisyam
"Ayo"
Keduanya akhirnya menyerah, mereka memilih menyusuri sungai itu untuk mencari seseorang yang mungkin bisa mereka mintai tolong dan mereka melihat seorang nenek tua sedang membersihkan ikan di pinggir sungai itu.
"Nenek.. pelmisi nenek" sapa Hannan
"Iya cu.... ada apa?" tanya nenek itu mendongak.
Hisyam ketakutan saat melihat wajah nenek itu, wajahnya begitu pucat dan ada bekas luka di pelipis nenek itu bahkan kulitnya begitu keriput dan memiliki bau anyir yang begitu menyengat.
"Maaf nek, boleh kami minta tolong? kami telsesat, kami ingin pulang ke lumah kakek Kalta" ucap Hannan sama sekali tidak takut dan nenek itu tersenyum, senyum yang lagi lagi membuat Hisyam ketakutan karena semua giginya menghitam.
"Kalian tinggal di mana?" tanya nenek itu
"Kami tinggal di lumah Kakek Kalta, di pelkebunan kelualga Wihaldja" jawab Hannan
"Keluarga Wihardja..." gumam nenek itu lalu berhenti membersihkan ikan dan berdiri.
"Ayo ikut nenek, kalian tidak aman di sini" ajak nenek itu segera merangkul Hannan juga Hisyam meninggalkan ikan yang masih dia bersihkan.
"Hhrrrrrr"
"Jangan melihat ke belakang nak, tetap melihat ke depan" ucap nenek itu saat Hisyam ingin melihat ke belakang setelah mendengar suara geraman.
"Nek, kita mau ke mana?" tanya Hannan
"Ke tempat yang pastinya jauh dari nyonya meneer" jawabnya yang sekarang berjalan semakin cepat.
"Nenek kaki kami sakit" ucap Hisyam
"Tahan, waktu kita tidak banyak" jawab nenek itu begitu terburu buru bahkan setengah menyeret tubuh Hannan dan Hisyam.
"Ratriiiiiiiii!" teriak suara yang sekarang membuat nenek itu berhenti.
"Ada apa nek?" tanya Hannan
"Kalian terus berlari ke arah depan, jangan melihat ke belakang, di sana ada tiga cucuku kalian harus bawa mereka pulang ke perkebunan Wihardja" jawab nenek itu mendorong Hannan juga Hisyam untuk segera pergi.
"Pergi!" bentak nenek itu dan keduanya berlari sambil menangis karena mereka melihat sosok besar berlari ke arah mereka dan di hadang oleh nenek itu.
"Hiks... Hannan"
"Telus bellali Hisyam, kita tidak boleh melanggal pelintah nenek itu"
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭