Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.
Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.
"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."
"Saya siap."
"Aku ingin kau menghamili istriku."
“….”
Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.
Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Malam Panas Penuh Kecanggungan
Ia juga menyadari sesuatu yang lain, kalau Dhana tidak menginginkan ini seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Barangkali pria itu sama terperangkap seperti dirinya. Jenara menarik napas panjang. Kalau ia menunjukkan ketakutan, Reval akan menikmatinya. Kalau ia menolak, Reval mungkin akan menggunakan cara lain. Maka Jenara memilih satu-satunya senjata yang masih tersisa padanya. Kendalikan keadaan sebisanya.
Ia lantas mengangkat wajahnya dan menatap Dhana. Kemudian, dengan keberanian yang nyaris dibuat-buat, ia mengambil inisiatif. Ia segera mengecup bibir Dhana, mengalungkan tangannya ke leher pria itu hingga Dhana terkejut bukan main.
Dhana hendak melepas ciuman itu, tetapi tangan Jenara yang mengalung dilehernya malah semakin menekan dan memperdalam ciuman mereka. Reval yang mengawasi dari sofa tampak puas. Itulah yang ingin dilihatnya. Bukan ketakutan, bukan penolakan melainkan kesan bahwa semuanya berjalan sesuai keinginannya. Walaupun ia masih tidak menyangka, Jenara memainkan peran itu dengan sempurna.
Kini tubuh Jenara sudah tidak terhalang sehelai benang pun. Tubuh yang begitu indah, kini terpampang jelas di mata Dhana. Sementara di mata Reval terhalang tirai tipis yang mengelilingi ranjang itu.
“Maafkan aku!” ucap Dhana lagi dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan.
“Lakukan saja agar malam ini cepat selesai,” balas Jenara yang kemudian kembali menarik Dhana untuk berciuman bersamaan menyatunya tubuh keduanya.
“Aaghh…”
Desahan Jenara mulai terdengar bersama hentakan yang Dhana lakukan seolah ia begitu menikmati kegiatan tersebut. Padahal setiap ekspresi yang ia tunjukkan merupakan kebohongan. Setiap gerakan yang ia lakukan adalah bagian dari sandiwara agar Reval tidak melihat kehancuran yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya.
Dhana memahami hal itu, apalagi mata mereka bertemu beberapa kali. Dan setiap kali itu pula, Jenara seolah mengatakan tanpa suara kepedihan dan kehancurannya malam itu. Malam yang berjalan dalam keheningan yang terasa panjang.
Tidak ada percakapan romantis. Tidak ada gairah seperti yang mungkin dibayangkan Reval. Yang ada hanyalah kecanggungan dua orang asing yang dipaksa memainkan peran sebagai pasangan demi ambisi dan tujuan Reval.
Dan akhirnya, setelah waktu yang terasa begitu lama, semuanya selesai. Dhana segera melepas penyatuan mereka, menutupi tubuh Jenara dengan selimut yang tersedia. Sedangkan dirinya segera mengenakan kembali pakaiannya sedikit tergesa-gesa.
Reval sendiri tampak bersandar di sofa dengan ekspresi puas. "Bagus."
Bukan hanya itu yang dikatakannya. “Aku sungguh tidak menyangka kau bisa memperlihatkan ekspresi seperti itu di atas ranjang dengan pria lain yang bukan suamimu, Jenara. Kau sungguh wanita yang cepat beradaptasi rupanya.”
Jenara hanya mampu memejamkan mata. Ia tidak menjawab atau lebih tepatnya tidak mampu lagi untuk membalas penghinaan yang Reval berikan padanya malam itu. Dhana pun diam, tapi tatapannya terus tertuju pada Jenara yang kini berbaring membelakanginya.
Beberapa saat kemudian, Reval berdiri dan merapikan pakaiannya. "Mulai besok malam, kalian akan mengulangi hal yang sama sampai aku yakin tujuanku tercapai."
Jenara membuka mata. Ada sesuatu yang dingin di dalam tatapannya. Namun Reval tidak menyadarinya. Ia terlalu puas dengan keberhasilan malam itu. Setelah Reval keluar dan pintu tertutup, kamar kembali sunyi.
Sedangkan di balik pintu kamar, langkah Reval semakin menjauh. Tanpa mengetahui bahwa dua orang yang baru saja ia paksa menjadi bagian dari rencananya perlahan mulai memiliki satu tujuan yang sama yaitu menghancurkannya.
Langkahnya terdengar menjauh di lorong mansion. Namun entah mengapa, semakin jauh ia berjalan, semakin berat perasaan yang mengganjal di dadanya. Reval berhenti sesaat di ujung koridor. Ia mengerutkan kening merasa ada sesuatu yang salah. Tetapi apa? Ia tidak bisa mengungkapkannya dengan jelas.
Tidak… bukannya ia tidak bisa mengungkapkan tetapi ia sedang berusaha menyangkalnya. Perasaan aneh itu jelas ada, dimana bayangan tentang kegiatan panas Dhana dan Jenara terus terlintas dipikirannya saat ini.
Bagaimana Jenara mendominasi kegiatan panas itu. Desahan yang penuh kenikmatan, lekuk tubuh yang menggoda walau ia hanya melihatnya dari balik tirai tipis. Semua itu terus berputar di kepala Reval saat ini.
“Ada apa denganku? Kenapa pikiranku terus tertuju pada wanita itu?” gumamnya frustasi.
Jenara seharusnya tidak lebih dari sekadar bagian dari perjanjian antara keluarga Elendria dan Arsenalio. Pernikahan mereka adalah aliansi. Jenara adalah bagian dari kesepakatan yang diperlukan untuk memperkuat posisinya.
Tidak lebih. Setidaknya, begitulah yang selalu diyakininya. Ia tidak menikahi Jenara karena cinta. Ia tidak membutuhkan cinta dari perempuan itu. Jenara hanyalah sebuah bidak dalam rencana yang jauh lebih besar.
Maka mengapa malam ini terasa berbeda? Reval mengembuskan napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya. Ia menolak memikirkan perasaan itu lebih jauh. Tidak hanya menolak, tetapi ia menyangkalnya sekeras mungkin.
...----------------...
Di dalam kamar, keheningan terasa jauh lebih menyakitkan. Jenara masih berbaring membelakangi Dhana. Ia tidak bergerak dan tidak mengatakan apa-apa. Dhana segera merapikan kembali pakaiannya dengan gerakan terburu-buru. Jemarinya beberapa kali gemetar ketika berusaha merapikan pakaian. Ia tidak berani menatap Jenara terlalu lama. Namun ketika matanya tanpa sengaja jatuh pada seprai, Dhana terdiam.
Sebuah tanda yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lihat. Jenara selama ini masih menjaga kehormatannya. Dan malam ini, kehormatan itu telah direnggut dalam keadaan yang bahkan tidak pernah ia pilih.
“Ternyata ini pertama kali untuknya dan juga… untukku!” ucapnya dalam hati.
Dhana menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Ia seorang prajurit, tidak ia bahkan seorang jenderal yang memimpin banyak pasukan. Ia telah menjalankan banyak perintah sepanjang hidupnya. Ia terbiasa mengangkat senjata, menghadapi kematian, bahkan mengorbankan dirinya sendiri demi tugas.
“Sial! Kenapa harus aku yang mendapatkan tugas gila ini? Dan kenapa disaat misiku sudah hampir mencapai titik terang.” Dhana hanya bisa mengumpat pada keadaan.
Tetapi malam ini terasa berbeda. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa telah menjadi bagian dari penderitaan seseorang yang tidak mampu melawan keadaan. Ia harus mengutamakan misi negaranya yang sudah hampir mencapai titik terang dengan mengorbankan kehormatan wanita itu.
“Apa yang harus aku lakukan padanya sekarang?”
Pria itu kebingungan sendiri. Ingin mendekat ia taku, ingin pergi begitu saja juga membuat hatinya menjadi tidak tenang. Namun, tak lama kemudian Jenara mulai bangun dan memposisikan dirinya duduk bersandar pada ranjang sembari menutupi tubuhnya dengan selimut yang Dhana sematkan sebelumnya.
Untuk beberapa saat, Jenara hanya duduk diam. Dhana berdiri tak jauh darinya. Tidak ada yang tahu harus mengatakan apa. Namun, dapat Jenara rasakan kalau Dhana terus menatapnya diam-diam dengan perasaan bersalah yang tak bisa ia ungkapkan hanya dengan sebuah kata-kata.
Akhirnya Jenara berbisik, "Jangan lihat aku seperti itu.”
“Tatapanmu itu semakin membuat harga diriku tak tersisa lagi." sambungnya.
Bersambung….