Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Tatapan yang Tak Sembunyi
Kantin sekolah siang itu selalu paling ramai. Suara tawa, piring beradu, dan obrolan riuh memenuhi ruangan yang berasap harum gorengan itu. Aisyah sedang duduk bersama Rara di meja pojok, baru saja mengambil nasi dan lauk. Belum sempat mereka mulai makan, Dimas muncul dari arah antrian minum, berjalan lurus ke arah meja mereka — tepat ke arah Aisyah.
Semua mata di kantin seketika ikut bergerak mengikuti langkah Dimas. Suasana yang tadinya riuh perlahan meredup, seolah ada yang menekan tombol pelan. Beberapa siswi berhenti mengunyah, saling berbisik sambil menunjuk pelan ke arah Dimas.
Dimas berhenti tepat di samping kursi Aisyah. Dengan lembut ia meletakkan dua botol minuman dingin di meja — satu di depan Aisyah, satu lagi di depan Rara.
"Ini buat kamu, Syah. Sama kamu juga, Ra," ucapnya pelan tapi jelas, matanya menatap Aisyah lebih lama dari biasanya, ada senyum hangat yang tak bisa disembunyikan. "Tadi kebetulan beli lebih, sekalian buat kalian. Jangan lupa diminum ya, biar nggak dehidrasi."
Aisyah tertegun, tangannya yang memegang sendok berhenti di udara. Pipinya perlahan merona merah. "Eh... makasih ya, Dim. Tapi kamu nggak perlu kayak gini kok..."
"Nggak apa-apa, cuma minuman doang," jawab Dimas lembut, lalu menatap Aisyah sekali lagi sebelum melangkah pergi ke meja Arga dan Bima di sudut lain.
Sepeninggal Dimas, kantin kembali riuh — tapi kali ini penuh bisik-bisik kagum dan tak percaya.
"Eh itu Dimas ya? Sengaja banget kasih minum ke Aisyah!"
"Kelihatan banget lah dia suka sama Aisyah!"
"Wah, Aisyah beruntung banget ya... Dimas perhatiannya bukan main!"
Rara menatap punggung Dimas yang menjauh, lalu berbalik cepat menatap Aisyah dengan mata membelalak penuh selidik. Ia langsung mencondongkan badan ke depan, suaranya berbisik penuh tanya.
"Kamu... kamu sama Dimas ada apa sih?" tanyanya cepat, matanya menyipit menatap wajah Aisyah yang masih memerah. "Jangan bilang aku nggak lihat tadi ya. Dia beda banget tatapannya ke kamu! Sama aku cuma sekilas, tapi ke kamu... duh, kamu sendiri pasti rasain kan?"
Aisyah buru-buru menunduk, tangannya meremas ujung seragam di atas pangkuan. Ia gelisah, takut kalau Rara salah paham, apalagi tadi banyak orang yang melihat.
"Ra... jangan ngomong sembarangan ya," jawab Aisyah pelan, suaranya terdengar cemas. "Kita nggak ada apa-apa beneran. Dia cuma baik aja, kasih minum juga ke kamu kan? Jangan sampai orang lain denger, nanti malah salah paham. Aku takut banget kalau sampai dibicarakan orang..."
"Dih, nggak mungkin cuma baik doang!" Rara tidak mau kalah, malah makin penasaran. "Aku kan kenal Dimas dari dulu. Dia nggak pernah kayak gitu sama cewek lain lho! Kalau cuma teman biasa, nggak bakal tatapannya selembut itu. Kamu jujur deh... ada yang terjadi kan? Cerita dong sama aku, aku kan teman baik kamu."
Aisyah menghela napas panjang, wajahnya makin cemas. "Ra, aku serius. Benar-benar nggak ada apa-apa. Kemarin dia cuma antar aku pulang karena hujan, terus kebetulan makan bakso bareng sebentar. Itu doang kok! Kita cuma ngobrol biasa, dia juga bilang kita fokus belajar dulu. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya, nanti kalau Dimas denger dia bakal malu. Apalagi kalau Laras tahu, pasti dia sakit hati..."
"Tapi tetap aja kelihatan beda banget!" Rara menunjuk botol minum di meja. "Lihat deh, dia kasih yang kamu suka lho — teh botol yang tanpa gula! Itu kebetulan juga? Dia tahu itu kesukaan kamu, Syah! Itu namanya perhatian lho, bukan sekadar baik!"
Aisyah terdiam, menatap botol minum itu. Ia sendiri juga heran Dimas bisa tahu minuman kesukaannya. Tapi ia tetap berusaha tenang. "Mungkin dia kebetulan tahu aja. Ra, tolong ya... jangan dibahas terus. Aku takut orang-orang di sini makin banyak yang salah paham. Kita kan masih sekolah, belum waktunya buat hal-hal kayak gitu. Biarkan aja dulu, ya?"
Rara melihat ketulusan dan kekhawatiran di wajah sahabatnya itu, perlahan ia mengangguk walau masih ada rasa penasaran yang belum hilang. "Yaudah deh... tapi aku tetap nggak percaya cuma kebetulan doang. Kalau nanti ada apa-apa, kamu harus cerita sama aku ya, aku kan teman kamu. Jangan sembunyi-sembunyi."
"Iya, nanti aku cerita kok kalau memang ada apa-apa," jawab Aisyah lega, tersenyum tipis. "Sekarang kita makan ya, nanti bel bunyi."
Namun di sudut kantin yang lain, Dimas yang sedang duduk bersama Arga dan Bima justru tak bisa berhenti melirik ke arah Aisyah sesekali. Arga menyenggol lengannya sambil tersenyum jahil.
"Kelihatan banget lho Dim, matanya nggak bisa lepas dari Aisyah," bisik Arga. "Semua orang di sini pada tahu sekarang kalau kamu menaruh hati sama dia."
Dimas tidak menyangkal, hanya tersenyum tipis sambil meminum minumannya. "Biarkan aja mereka bilang apa. Yang penting aku jujur sama perasaanku sendiri. Dan aku nggak akan buru-buru, aku janji sama dia."
Sementara itu, di meja yang agak jauh, Laras yang kebetulan datang terlambat baru saja masuk ke kantin. Matanya langsung menangkap momen itu — Dimas yang menatap Aisyah, Aisyah yang tersipu malu, dan bisik-bisik teman-teman yang membicarakan mereka berdua. Hatinya sempat berdenyut perih, tapi kali ini ia tidak merasa cemburu buta seperti dulu. Ia hanya menunduk pelan, menarik napas, lalu berjalan ke meja lain.
"Mereka memang cocok," batinnya pelan, kali ini tanpa rasa benci. "Dan aku... aku harus fokus sama diriku sendiri. Bukan berarti aku kalah, tapi aku tahu, setiap orang punya waktunya masing-masing."
Suasana di kantin masih riuh dengan bisik-bisik yang tak kunjung reda. Aisyah baru saja hendak menyuap nasi, ketika bayangan seseorang jatuh di meja mereka. Laras berdiri di sana, tangannya menyilang di dada, tatapannya tajam beralih dari Aisyah ke Dimas yang masih duduk di meja seberang. Ia berjalan mendekat tanpa ragu, lalu berhenti tepat di samping meja Aisyah dan Rara, suaranya terdengar jelas hingga ke meja Dimas.
"Wah, manis banget ya," ucap Laras dengan nada yang penuh sindiran, senyum tipis di bibirnya sama sekali tak sampai ke mata. "Kasihan ya yang lain, ternyata cuma Aisyah yang spesial di mata Dimas. Cuma aku bingung nih..."
Laras menatap tepat ke arah Dimas, membiarkan semua mata di kantin tertuju pada mereka berdua. Ia melipat tangan di dada, lalu melontarkan pertanyaan yang langsung membuat suasana hening seketika.
"Dimas, boleh aku tanya sesuatu yang jujur aja nih?" tanyanya dengan nada tajam, tak memberi ruang untuk menolak. "Kamu ini benar-benar suka sama Aisyah karena sifatnya, atau cuma karena dia terlihat tenang dan gampang diatur? Atau jangan-jangan kamu cuma iseng buat menghibur diri, sementara di hati kamu sebenarnya belum benar-benar serius sama siapa pun? Kalau memang serius, kenapa harus sembunyi-sembunyi dan kasih harapan kayak gini tanpa pernah ngomong jujur? Apa kamu takut kalau nanti kamu berubah pikiran, Aisyah yang bakal terluka?"
Suasana mendadak hening total. Semua orang menahan napas, menunggu jawaban Dimas. Aisyah menunduk dalam, wajahnya pucat seketika, tak menyangka Laras akan bertanya sedemikian tajam dan langsung seperti itu. Rara melotot kaget, siap membela Aisyah kapan saja.
Dimas mengerutkan kening, wajahnya berubah serius. Ia tidak suka dengan cara Laras bertanya — seolah-olah ia sedang dipermalukan di depan umum, dan seolah perasaannya pada Aisyah itu tidak tulus. Ia berdiri perlahan, menatap Laras dengan tegas namun tetap tenang.
"Laras, pertanyaan kamu itu berlebihan," ucap Dimas tegas, suaranya terdengar mantap dan jelas. "Kamu nggak berhak menilai apa yang ada di hatiku, apalagi mempertanyakan ketulusan perasaanku pada Aisyah di depan orang banyak kayak gini. Itu bukan hal yang sopan dilakukan ke teman sendiri."
"Terus aku harus diam aja melihat?" balas Laras cepat, matanya menyala. "Aku cuma nggak mau ada orang yang dimainkan perasaannya, Dim! Kalau kamu serius, tunjukkan dengan jujur. Kalau nggak, jangan bikin orang berharap!"
"Justru karena aku serius, aku nggak mau buru-buru dan nggak mau pamer di depan umum," jawab Dimas semakin tegas, nada bicaranya mulai terdengar dingin — tanda ia benar-benar tidak suka dengan sikap Laras. "Perasaan itu bukan tontonan orang lain, Lar. Itu hal yang pribadi dan harus dijaga. Aku menghargai Aisyah, dan aku juga menghargai diriku sendiri. Jadi tolong, jangan bikin-bikin pertanyaan yang bisa menyakiti orang lain cuma karena kamu sendiri belum paham apa yang sebenarnya terjadi."
Laras terdiam, tertegun melihat ketegasan Dimas yang begitu jelas. Ia tak menyangka Dimas akan menjawab sedemikian lurus dan tegas, tanpa ragu sedikit pun. Namun pertanyaannya itu justru membuat Dimas semakin tidak nyaman dengan sikap Laras yang suka menekan dan memaksa.
Aisyah mengangkat wajah pelan, menatap Laras dengan mata berkaca-kaca namun tetap lembut. "Laras... aku tahu maksud kamu baik. Tapi tolong jangan bicara kayak gitu sama Dimas. Dia nggak pernah main-main sama aku. Kita sepakat untuk fokus belajar dulu, dan itu keputusan kita berdua. Bukan karena takut, tapi karena kita mau jalani dengan benar."
Laras menghela napas kasar, menyadari ia kalah argumen di sini. Ia menatap Dimas sekali lagi, lalu berucap pelan namun masih terdengar sinis. "Oke, aku harap kamu beneran serius, Dim. Kalau sampai Aisyah terluka, aku nggak akan diam aja."
Dimas menggeleng pelan, wajahnya terlihat kecewa. "Laras, kalau kamu memang mau jadi teman yang baik, dukunglah kebahagiaan orang lain dengan tulus, bukan dengan pertanyaan yang menyudutkan kayak gitu. Itu justru bikin orang lain merasa nggak nyaman sama kamu."
Kata-kata itu menohok tepat ke hati Laras. Ia terdiam, tak bisa membalas lagi. Semua orang di kantin menatapnya, dan untuk pertama kalinya Laras merasa malu — bukan karena kalah, tapi karena ia sadar, pertanyaannya tadi memang tidak pantas.
Dimas kembali duduk, tapi tatapannya ke arah Laras sudah tidak sehangat dulu. Sementara Rara langsung merangkul bahu Aisyah pelan, berbisik pelan di telinganya. "Kamu kuat ya, kamu beneran nggak salah kok. Dimas juga bener, perasaan kalian itu bukan urusan mereka."
Aisyah mengangguk pelan, menatap Dimas sekilas dari kejauhan — dan Dimas membalasnya dengan tatapan yang tenang, seolah berkata: Jangan takut, aku nggak akan pergi.
Laras berbalik perlahan, berjalan meninggalkan kantin tanpa menoleh ke belakang. Hatinya perih, bukan karena Dimas memilih Aisyah, tapi karena ia baru saja menyadari — pertanyaan bengis yang ia lontarkan tadi justru membuat Dimas makin menjauh darinya. Dan itu adalah hal yang paling ia sesali.