Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 BERAPA GAJI ADAM?

Semua mata di ruang tamu tertuju pada sumber suara. Di sana berdiri Adam... sedang menggandeng mesra jemari seorang wanita muda berpakaian modis.

"Adam?! Kamu... kamu benar-benar sudah ada di Indonesia?!" seru Mirna terperanjat. Ia bergegas bangkit, memeluk anak kesayangannya itu dengan haru.

Sonia, Lusi, Ridwan, dan Mila ikut mendekat dengan wajah berbinar, berebut menyalami dan menyapa Adam.

"Kapan kamu pulang, Dam?" tanya Ridwan menepuk bahu adiknya.

"Maaf... sebenarnya aku sudah pulang sejak seminggu yang lalu," aku Adam gugup.

Dari seluruh orang di ruangan itu, hanya Amira yang tetap duduk tenang di sofa tunggalnya. Ia bahkan tak sedikit pun bangkit untuk menyambut kepulangan sang suami.

"Amira! Suamimu baru pulang, kenapa kamu tidak ada sopan-sopannya menyambut?!" bentak Sonia kesal.

"Aku sudah tahu dia pulang. Buat apa disambut?" sahut Amira dingin tanpa mengalihkan pandangan.

"Lihat tuh, Dam! Istrimu benar-benar tidak punya tata krama!" adu Mila berapi-api.

Adam mengeratkan genggaman tangannya pada Alya, lalu membimbing wanita itu untuk duduk berdampingan di sofa tepat di hadapan Amira. Mirna dan saudara-saudaranya ikut duduk mengelilingi. Posisi Amira kini persis seperti seorang terdakwa yang siap diadili oleh persidangan keluarga.

"Ada apa ini, Amira?" tanya Adam dengan nada suara dibuat sedingin mungkin.

Amira menyunggingkan senyum tipis. "Tidak ada apa-apa. Cuma keluargamu saja yang mendadak heboh."

"Adam!" panggil Mirna dengan suara dibuat serak menahan tangis. "Amira ini benar-benar kurang ajar! Dia sudah menggelapkan uangmu! Lihatlah Ibu... Ibu sampai menderita dan jatuh sakit, sementara dia malah tampil penuh perhiasan mewah dan kemarin habis foya-foya di Bali pakai uang kamu!"

Adam menatap Amira tajam. "Amira, apa yang dikatakan Ibu itu benar?"

Amira menatap balik mata Adam. "Benar atau tidak... bukankah kamu sendiri yang paling tahu?"

"Apa maksudmu, Amira?!" bentak Mila tak sabar. "Kamu ditransfer 30 juta oleh Adam setiap bulan! Sementara pengeluaran rumah ini tidak seberapa! Kamu pakai uang kiriman Adam buat hidup foya-foya, kan?!"

Amira memiringkan kepalanya. "30 juta?" gumamnya perlahan. "Atas dasar apa kamu menyimpulkan kalau aku ditransfer 30 juta setiap bulan oleh Mas Adam?"

Mila bersedekap dengan gaya angkuh. "Jangan kira kami bodoh, ya! Aku sudah bertanya langsung ke agensi yang memberangkatkan Adam! Gaji pokok Adam itu 25 juta rupiah, belum termasuk tunjangan kesejahteraan dan bonus. Totalnya kurang lebih 35 juta per bulan! Apalagi kalau Adam ambil lembur, gajinya bisa tembus 40 juta!"

"Informasi palsu itu," potong Amira santai.

Adam hendak membuka suara untuk menyela, tetapi Mila keburu mengangkat tangannya.

"Kamu pikir kami bisa dibodohi, hah?! Sekarang katakan... di mana sisa uang gaji Adam yang puluhan juta itu?!" tuduh Mila melotot.

Di sudut lain, Lusi membatin kesal. Selama dua tahun ini ia hanya berhasil memeras beberapa juta rupiah dari uang dapur rumah. Mengetahui gaji Adam yang sebenarnya mencapai puluhan juta membuat hatinya terbakar cemburu.

"Wow... 40 juta per bulan," gumam Amira dengan wajah pura-pura terkejut. "Aku malah baru tahu kalau gaji suamiku sebesar itu."

"Jangan berpura-pura polos, Amira!" sergah Mila murka. "Lihat Adam! Dia kerja banting tulang jauh-jauh di negeri orang sampai tidak sanggup membeli kendaraan! Motor butut pun dia tidak punya!"

"Sekarang kembalikan sisa uang Adam! Kami keluarga kandungnya juga butuh uang itu!" tambah Ridwan tak mau kalah.

Amira menggeleng-gelengkan kepala. "Kalian ini berisik sekali, menuduh orang tanpa bukti yang jelas."

Mata Amira bergeser menatap wanita di samping Adam. Alya tampak terus menempel ketat pada lengan Adam dengan wajah sok polos. Amira mendecih pelan.

"Mas Adam... gaji kamu ternyata besar sekali ya? Kok aku baru tahu?" sindir Amira menatap suaminya.

Wajah Adam mulai memucat dan berkeringat dingin.

"Jangan malah bersandiwara, Amira! Kamu ini pintar sekali berkelit!" potong Lusi dengan semangat membara. "Kembalikan uang Adam sekarang! Dan kamu Adam, kamu harus tegas sama istri tak berguna ini! Dia sudah keluyuran meninggalkan rumah lebih dari tiga hari!"

Amira mengabaikan Lusi, matanya terkunci pada Adam. "Mas Adam... apa aku perlu memperlihatkan bukti rincian transferan kamu tiap bulan padaku? Aku masih menyimpan rapi seluruh riwayat mutasi rekening dari dua tahun lalu."

Adam menelan ludah. Ia mencoba mengontrol kepanikannya. "Amira... seharusnya uang yang aku berikan padamu itu lebih dari cukup! Kakak-kakakku hidupnya sudah mapan, Sonia punya penghasilan sampingan. Jadi dengan uang segitu, harusnya cukup untuk kebutuhan rumah dan masih ada sisanya!" kata Adam berdalih, berusaha menutupi kebohongan besarnya bahwa ia sebenarnya hanya menstransfer 10 juta rupiah per bulan pada Amira.

Amira hampir tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Adam. Sungguh, saudara-saudara Adam sangat cocok menjadi bintang iklan—begitu mahir mempromosikan diri sendiri seolah-olah hidup mandiri dan mapan.

"Baiklah, kalau begitu mari kita buka semuanya di sini," ucap Amira dengan nada tegas. "Uang 5 juta diambil Ibu tiap bulan... Cicilan mobil Sonia 3 juta... Biaya kuliah Sonia 3 juta..."

"Stop, Amira! Jangan membual!" potong Adam panik. "Mana ada Ibu mengambil uang 5 juta darimu tiap bulan?! Dan sejak kapan aku mencicilkan mobil untuk Sonia?!"

Suasana ruang tamu mendadak gempar.

"Hah?! Ibu dapat 5 juta tiap bulan dari Adam?!" cetus Ridwan kaget dan menyipitkan mata pada ibunya.

"Sonia! Kamu bilang ke Mbak, mobil itu hasil dari jualan live TikTok kamu, kan?!" cececar Mila menunjuk adiknya.

Mirna dan Sonia saling lempar pandangan dengan wajah pucat.

"Adam..." panggil Mirna dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. "Kenapa kamu harus marah hanya karena Ibu minta uang 5 juta ke Amira? Toh Amira masih pegang banyak sisanya! Setetes darah yang Ibu keluarkan saat melahirkan kamu... tidak ada harganya dibanding uang 5 juta per bulan!" ratap Mirna terisak-isak dramatis.

Adam menghela napas panjang. Dadanya terasa sangat sesak. Selama ini Amira memang sering meminta uang tambahan darinya, tetapi Adam tidak pernah menggubrisnya karena merasa perhitungan uang 10 juta per bulan sudah sangat pas untuk biaya hidup Ibu dan kuliah Sonia. Namun, soal uang jatah 5 juta untuk ibunya dan cicilan mobil Sonia... Adam benar-benar tidak tahu-menahu!

"Maafkan Adam, Bu..." gumam Adam serba salah. Lalu ia menoleh tajam pada Amira. "Amira! Kenapa kamu berani menyetujui cicilan mobil tanpa sepengetahuan dan izin dariku?!"

"Tanya saja sama adik kesayanganmu itu," sahut Amira menunjuk Sonia dengan dagunya. "Siapa yang waktu itu memegang pisau dapur sambil menangis histeris, mengancam akan memotong urat nadinya sendiri kalau tidak dibelikan mobil?"

"Aku yang menyetujuinya, Adam!" teriak Mirna membela Sonia, air matanya mengalir deras. "Kenapa kamu mempermasalahkan hal ini?! Kamu mau nyawa adikmu melayang hanya gara-gara sebuah mobil?! Asal kamu tahu, Sonia itu bintang di kampusnya! Pergaulannya dengan anak-orang kaya! Bagaimana mungkin dia ke kampus cuma naik sepeda motor atau naik angkutan umum?!"

Lagi-lagi Adam terdiam tak sanggup membalas.

Sementara itu, hati Ridwan dan Mila terbakar emosi mendengarnya.

Bangsat! Aku bersumpah tidak akan mau bantu bayar cicilan utang bank! Enak saja si Sonia, sudah dibayarin kuliah, dibayarin mobil juga! umpat Mila dalam hati.

 Aku harus cepat-cepat dapatkan sertifikat rumah ini! Akan kugadaikan dan biarkan Adam yang bayar! Enak saja Sonia dapat fasilitas terbanyak! batin Ridwan licik.

Lusi yang merasa hitungannya belum pas, kembali berteriak nyaring. "Oke! Itu baru 11 juta! Lalu sisa 19 juta lagi kamu kemanakan, Amira?!"

Amira tidak menjawab Lusi. Ia menyandarkan punggungnya santai, menatap lurus ke mata Adam dan Alya.

"Mas Adam..." ucap Amira lirih namun sarat akan tekanan. "Apakah kamu tidak mau menjelaskan sendiri pada keluarga kebanggaanmu ini... ke mana sebenarnya sisa uang gajimu mengalir selama dua tahun terakhir?"

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!