Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Senja Dalam Pelukan Naga
Setelah kekacauan kecil yang disebabkan oleh utusan *Syndicate Apex* berhasil diredam dengan ketegasan mutlak, area pembangunan *Pusat Riset & Pendidikan Naga Hitam* kembali tenang. Seluruh prosesi peletakan batu pertama berjalan lancar hingga tuntas, meninggalkan kesan mendalam bagi jutaan warga dan awak media yang menyaksikan dominasi sang Penguasa Naga Hitam.
Namun, di balik kegemilangan takhta dan perhatian dunia, Reno tetaplah seorang suami yang merindukan kedamaian bersama wanita tercintanya.
Sore harinya, Reno menginstruksikan Bagas untuk mengosongkan seluruh agenda malam ini. Pria yang memegang kendali atas ekonomi global itu memilih untuk melepas semua atribut kekuasaannya sejenak. Tanpa pengawalan ketat yang mencolok, Reno memboyong Alya ke sebuah vila pribadi tersembunyi yang terletak di puncak bukit karang, menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Vila itu dikelilingi oleh taman bunga yang asri, jauh dari kebisingan kota dan intrik dunia bisnis. Di sini, tidak ada layar monitor siber, tidak ada berkas rapat, dan tidak ada ancaman musuh. Hanya ada keheningan alam dan deru ombak yang menenangkan.
Malam pun jatuh dengan anggun. Langit di atas vila dihiasi oleh hamparan bintang yang berkilau terang.
Di balkon luar yang menghadap ke laut lepas, sebuah meja makan kecil bertabur kelopak bunga mawar telah disiapkan. Cahaya lilin yang temaram memantul lembut di atas meja marmer, menciptakan suasana yang sangat hangat dan romantis.
Alya keluar melangkah menuju balkon. Ia telah berganti pakaian, mengenakan gaun malam santai berbahan sutra berwarna merah muda lembut. Rambut hitamnya dibiarkan terurai bebas, berkibar pelan tertiup angin laut yang sejuk. Wajahnya yang tanpa *make-up* tebal memancarkan kecantikan murni yang selalu berhasil meluluhkan hati Reno.
Reno yang sudah menunggu di balkon berbalik. Ia mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang digulung hingga ke siku, terlihat sangat santai namun tetap memikat. Senyuman hangat yang jarang ia tunjukkan kepada dunia luar kini terukir indah di bibirnya.
"Kamu sangat mempesona malam ini, Alya," puji Reno lembut seraya melangkah mendekat.
Alya tersenyum merona, melangkah ke dalam dekapannya. "Terima kasih, Reno. Suasana di sini sungguh luar biasa. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita bisa menikmati malam setenang ini."
Reno menarik kursi untuk Alya dengan penuh kesopanan, lalu duduk di hadapannya. Mereka menikmati makan malam pribadi yang disiapkan khusus oleh koki terbaik. Berbeda dengan jamuan makan malam kerajaan yang kaku, kali ini mereka saling bertukar cerita santai, tertawa kecil, dan bertukar pandang penuh rasa cinta.
Setelah makan malam selesai, Reno meraih jemari Alya dan membimbingnya menuju ujung balkon yang berbatasan langsung dengan pemandangan laut. Suara deburan ombak di bawah sana mengalun bagaikan melodi malam yang indah.
Reno melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu. Alya menyandarkan punggungnya di dada bidang Reno, merasakan detak jantung suaminya yang stabil dan menenangkan.
"Semua ancaman besar sudah berlalu, Sayang," bisik Reno lembut di samping telinga Alya. "Klan Cendana, Ouroboros, hingga gertakan Apex tadi pagi... semuanya tidak akan pernah bisa mengusik kita lagi."
Alya mengelus jemari Reno yang melingkar di perutnya. Cincin emas putih mereka saling bersentuhan, memantulkan cahaya bulan.
"Aku tahu, Reno," jawab Alya pelan, suaranya sarat akan rasa syukur. "Kadang aku masih merasa seperti bermimpi. Dulu, saat kita masih berada di rumah keluargaku, hidup terasa begitu penuh tekanan dan penghinaan. Tapi kamu... kamu selalu ada di sana, melindungiku di balik bayang-bayang."
Reno mengecup bahu Alya dengan lembut. "Masa-masa sulit itu telah menempa kita, Alya. Penyamaranku selama tiga tahun tidak pernah membuatku menyesal, karena pada akhirnya, aku menemukan permata sejati yang tulus mencintaiku tanpa melihat harta dan kekuasaan."
Alya memutar tubuhnya di dalam pelukan Reno, menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat gelap yang dipenuhi kehangatan itu. Tangannya terangkat, mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kasih.
"Reno, kekuasaanmu sebagai Penguasa Naga Hitam mungkin ditakuti oleh seluruh dunia," ujar Alya tulus dengan mata berbinar. "Tapi bagiku, kamu tetaplah Reno-ku. Pria yang hangat, penyayang, dan cinta sejatiku."
Hati Reno berdesir hebat mendengar perkataan tulus dari istrinya. Di puncak takhta tertinggi dunia ini, tempat yang paling hangat dan aman baginya bukanlah Istana Naga Hitam yang megah, melainkan berada di dalam dekapan wanita ini.
Reno mendekatkan wajahnya, menangkup pipi Alya dengan jemarinya yang kuat namun lembut. Di bawah naungan cahaya bulan dan kesaksian ribuan bintang di langit malam, Reno mendaratkan ciuman yang dalam, hangat, dan penuh kelembutan di bibir Alya.
Alya membalas ciuman itu dengan penuh kepasrahan dan cinta murni, melingkarkan tangannya di leher Reno. Semua keletihan dari perjuangan panjang mereka seolah menguap tanpa sisa, tergantikan oleh rasa bahagia yang membuncah di dada.
Ketika tautan bibir mereka terlepas, Reno merangkul tubuh Alya erat-erat, mengangkatnya sedikit dan memutar tubuh mereka pelan di bawah pendar sinar bulan. Tawa bahagia Alya mengalun merdu, memecah keheningan malam.
"Aku mencintaimu, Alya. Selamanya," pukas Reno dengan suara rendah yang penuh kepastian mutlak.
"Aku juga sangat mencintaimu, Reno. Selamanya," jawab Alya mantap, menyandarkan kepalanya di dada Reno.
Malam itu, di puncak bukit yang sunyi, sang Naga Hitam yang paling ditakuti di jagat raya menemukan kedamaian hakikinya. Bukan di atas darah musuh atau tumpukan harta, melainkan di dalam pelukan hangat sang Permaisuri sejati. Masa depan mereka yang cerah dan abadi baru saja dimulai.