Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kebaya Putih dan Doa di Ujung Jalan

Aroma melati yang segar menyeruak di ruang rias lantai dua Masjid Besar. Pagi baru saja meneteskan embunnya di pelataran, namun hiruk-pikuk persiapan akad nikah sudah terasa sibuk.

Kiara duduk di depan cermin berhias lampu-lampu hangat. Ia mengenakan kebaya putih brokat dengan ekor kain yang menjuntai halus. Riasan di wajahnya tampak begitu pas—menonjolkan kecantikan alaminya yang lembut dan tenang. Matanya yang tampak bengkak karena tangisan semalam suntuk kini telah tersamarkan dengan sempurna oleh jemari lihai sang perias.

Di belakangnya, Tamara, Aina, dan Widya berdiri dengan mata berbinar-binar.

"Cantik banget kamu, Ra..." bisik Aina haru, merapikan lipatan kain jilbab putih Kiara.

"Aku sampai mau menangis liatnya."

"Jangan nangis dulu, Aina! Ntar maskara kamu luntur, Daffa ngira kamu ganti pasangan!" seloroh Tamara berusaha mencairkan suasana, walau matanya yang biasa galak itu ikut berkaca-kaca.

Widya melangkah mendekat. Sahabat kecilnya itu menggenggam lembut kedua tangan Kiara yang dingin.

"Kamu hebat, Ra. Kamu memilih jalan yang benar. Aku bangga banget sama kamu."

Kiara menatap pantulan dirinya dan ketiga sahabatnya di cermin. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang kini benar-benar bersih dari keraguan. Badai semalam telah menyapu bersih sisa-sisa penyesalannya.

Kiara siap....

Siap melangkah untuk membuka lembaran baru...

Sementara itu, di halaman luar Masjid Besar dekat jalan raya utama, suara deru lalu lintas bersahutan dengan lantunan Shalawat yang diputar halus dari pengeras suara Masjid.

Sebuah mobil MPV perak terparkir. Dari dalamnya, keluar lima orang pria berkemeja batik seragam: Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang. Disusul oleh seorang pria bertubuh jangkung berkemeja batik warna biru tua yang melangkah keluar paling akhir.

Arga.

Wajah Arga tampak agak tirus. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya memperlihatkan bahwa ia juga tidak benar-benar tidur nyenyak beberapa malam terakhir.

"Ga... kamu beneran kuat masuk ke dalam?" tanya Bagas pelan, menepuk bahu Arga dengan raut khawatir yang tidak bisa disembunyikan.

Arga menatap bangunan Masjid Besar di hadapannya. Tempat di mana ia dan Kiara dulu mengeja huruf hijaiyah saat SD, tempat mereka duduk bersama sewaktu remaja, dan tempat di mana Kiara memutuskan untuk berjalan menjauh beberapa bulan lalu.

Arga mengangguk pelan. Suaranya serak namun mantap. "Aku kuat. Kiara berhak dapat doa dari aku."

Daffa merangkul bahu Arga erat-erat. "Kita di samping kamu, Bro."

Mereka berenam melangkah masuk ke dalam aula utama masjid. Suasana di dalam sudah dipenuhi oleh keluarga besar Kiara dari Sukamaju dan keluarga Dimas.

Arga memilih berdiri di barisan paling belakang, bersandar pada pilar kayu berukir, agak tersembunyi dari pandangan utama.

Di meja akad utama, Dimas sudah duduk berhadapan dengan ayah Kiara dan saksi nikah. Pria itu tampak gagah mengenakan beskap putih lengkap dengan blangkon dan roncean bunga melati di dadanya. Wajahnya memancarkan aura kepemimpinan, ketenangan, dan kesiapan penuh.

Prosesi ijab kabul akan segera dimulai. Keheningan yang sakral mendadak melingkupi seluruh ruangan aula masjid.

Ayah Kiara menggenggam erat tangan kanan Dimas. Melalui pengeras suara, suara ayah Kiara bergetar penuh emosi saat membacakan kalimat ijab.

Dan dengan satu tarikan napas yang mantap, tegas, tanpa jeda sedikit pun, Dimas menjawab:

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kiara binti..."

"SAH!"

"SAH!"

Pekikan kata 'sah' dari para saksi dan wali bergema memenuhi seluruh penjuru aula Masjid Besar. Doa-doa kebaikan dilantunkan. Air mata bahagia menetes dari pelupuk mata keluarga dan para tamu.

Di balik pilar belakang, Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Satu tetes air mata dingin akhirnya lolos membasahi pipinya. Rasa sakit yang paling tak tertahankan dalam hidup Arga meledak detik itu juga. Kalimat yang dulu tak pernah sanggup diucapkan Arga, kini telah diucapkan oleh pria lain dengan begitu sempurna.

Setelah doa selesai dilantunkan, barulah pintu samping ruang rias terbuka.

Kiara berjalan perlahan keluar menuju meja akad, diapit oleh Aina dan Tamara untuk disandingkan dengan suaminya, Dimas.

Langkah kakinya begitu anggun, menunduk sopan menyapa para tamu yang memberikan ruang.

Arga membuka matanya, menatap dari balik pilar. Matanya tidak sanggup berpaling dari sosok wanita berkebaya putih yang kini resmi menjadi istri orang lain itu.

Wajah yang selama belasan tahun ini selalu ada di dalam doanya, kini melangkah duduk di samping Dimas untuk penandatanganan buku nikah dan penyerahan mahar.

Dada Arga rasanya terhantam begitu keras. Setiap hela napasnya terasa menyiksa.

Dialah gadis yang dulu menganyam syal untukku...

dialah gadis yang dulu memasakkanku makanan...

dan dialah gadis yang aku sia-siakan dalam keheninganku sendiri.

Seusai prosesi akad dan sungkeman, kedua pengantin berdiri di pelataran teras masjid untuk menyapa dan berfoto bersama para tamu yang hadir.

Geng band melangkah maju menuju pelataran. Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang bergantian menyalami Dimas dan Kiara dengan pelukan dan ucapan selamat yang riuh.

Lalu, giliran Arga melangkah maju.

Suasana di antara mereka mendadak berubah hening halus. Dimas menatap Arga dengan pandangan pria dewasa yang menghormati kehadiran tamu.

Arga mengulurkan tangannya, menyalami Dimas terlebih dahulu.

"Selamat ya, Mas Dimas. Tolong... tolong jaga Kiara dengan baik."

Dimas menyambut genggaman tangan Arga dengan hangat dan tegas.

"Terima kasih, Arga. Pasti. Saya akan jaga Kiara dengan seluruh hidup saya."

Arga lalu berbalik menatap Kiara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mata Arga dan mata Kiara saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Tidak ada lagi binar cinta sepihak dari Kiara, tidak ada lagi benteng ketakutan dari Arga. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang pernah saling mencintai dalam ketidakberanian, dan kini berdamai dengan takdir masing-masing.

Kiara menangkupkan kedua tangannya di dada, tersenyum begitu tulus dan anggun.

 "Terima kasih sudah datang ya, Ga."

Arga menatap senyuman itu—senyuman paling cantik yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Arga menganggukkan kepala pelan, mengukir senyum keikhlasan yang amat pahit namun murni dari lubuk hatinya.

"Selamat ya, Ra," bisik Arga serak.

"Semoga kamu bahagia... selalu bahagia."

Kiara mengangguk lembut. "Kamu juga, Ga. Bahagia selalu."

Arga berbalik melangkah pergi. Ia berjalan menyusuri teras samping Masjid Besar, menuruni tangga kayu, dan melangkah menuju halte jalan raya di luar masjid.

Gerimis tipis mulai turun membasahi bumi, persis seperti sore di mana Kiara memutuskan untuk berhenti mengejarnya beberapa bulan lalu.

Arga menatap jalan raya yang membentang luas di hadapannya. Ia meraba dadanya yang terasa hampa, namun kini terasa lebih lapang.

Cinta pertamanya telah menemukan pelabuhan yang tepat.

Dan Arga... harus mulai belajar berjalan menembus hujannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!