Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Aku Suka Kau Tidur di Sampingku
Keira terbangun di sofa NARA dengan rambut sudah terselip rapi di belakang telinga.
Nathan duduk di meja, berbicara melalui headset tanpa suara. Begitu melihat Keira membuka mata, ia mematikan mikrofon.
"Tidurmu dua puluh tiga menit."
"Kau menghitung?"
"Aku suka melihatmu tidur di sampingku."
Kalimat itu disampaikan seperti laporan cuaca. Keira duduk, melipat selimut agar Nathan tidak melihat wajahnya memanas.
"Kerjakan rapatmu."
"Sudah selesai."
"Mikrofonmu masih menyala."
Dari headset terdengar suara Tim, "Kami mendengar semuanya, Pak."
Nathan mencabut kabel. Keira tertawa sepanjang jalan kembali ke Nebula.
Malamnya, Apartemen Verde berubah ramai. Bi Surti memasak ayam kecap, tumis sayur, sup jagung, dan puding. Nathan sudah memintanya mengurangi garam serta menambah sedikit rasa manis untuk Lucas dan Emma. Ivan mengirim bunga meja, kartu nama tamu, serta enam jenis minuman sampai Keira menyuruhnya berhenti.
"Ini makan malam, bukan konferensi," katanya melalui telepon.
"Pak Nathan meminta tamu merasa nyaman."
"Tamu merasa tidak nyaman kalau nama mereka diletakkan di kursi rumah. Kirim kartunya kembali."
Nathan mengambil ponsel. "Ivan, dengarkan Keira. Bunga boleh tinggal."
Pukul tujuh, Tim datang bersama Lucas dan Emma. Mereka membawa cokelat dari Amerika serta tanaman kecil untuk dapur. Bi Surti pulang setelah semua hidangan siap, meninggalkan lima orang dewasa mengatur piring sendiri.
Sebelum pergi, Bi Surti menarik Keira ke dapur dan berbisik bahwa Nathan sudah tiga kali mengubah menu agar semua tamu mendapat makanan yang cocok. Ia bahkan mengirim tabel alergi.
"Pak Nathan sangat teliti," katanya.
"Terlalu teliti."
"Tapi sekarang beliau makan tepat waktu. Mama Vivian pasti senang."
Keira baru sadar Bi Surti biasa memberi kabar kepada keluarga Halim. "Bibi boleh bilang kami sehat. Jangan laporkan hal pribadi dari kamar atau percakapan kami."
Bi Surti segera mengangguk. "Tentu, Mbak Keira. Saya hanya memberi kabar soal makanan dan rumah."
Keira menerima penjelasan itu, tetapi tetap meminta agar batas tersebut disampaikan juga kepada Vivian. Rumah mereka harus menjadi rumah, bukan cabang laporan keluarga.
"Jadi ini rumah yang membuat Nathan memindahkan satu perusahaan lintas benua," kata Lucas.
"Perusahaan dipindahkan karena efisiensi," bantah Nathan.
Tim menaruh nasi di piring. "Benar. Efisiensi jarak ke istri."
Keira duduk di samping Emma. "Apa dia selalu seperti ini di Cambridge?"
"Lebih buruk saat menunggu balasan pesan," jawab Emma. "Tapi di kantor dia menakutkan."
Nathan menunjuk makanan. "Kalian datang untuk makan, bukan membocorkan rahasia CEO."
Percakapan mengalir dari proses pindah hingga masa kuliah. Tim bercerita Nathan pernah meretas halaman universitas dan mengganti tampilan depan dengan potongan animasi karena sistem keamanan mereka terlalu buruk.
"Aku sudah melapor tiga kali," kata Nathan. "Mereka mengabaikan. Setelah halaman berubah, mereka memperbaikinya dalam enam jam."
"Kau dihukum?" tanya Keira.
"Diminta membantu audit."
Lucas menambahkan bahwa Nathan dulu sering melewatkan makan sampai pingsan karena gula darah turun. Setelah kejadian itu, ia mulai berolahraga dan menyimpan camilan di setiap ruangan.
Keira menoleh. "Kau tidak pernah bilang."
"Sudah lama."
"Besok kotak camilan Ivan tetap tinggal."
Nathan tersenyum. "Baik, Ci."
Setelah makan, Emma mengeluarkan tablet untuk menunjukkan portofolio desain interaksi. Ia sedang mempertimbangkan tawaran masuk NARA. Keira memberi pendapat tentang warna dan ekspresi avatar.
Emma ingin memastikan pekerjaannya tidak hanya mempercantik mesin yang sudah dibuat para insinyur. Nathan menjelaskan bahwa ia akan memimpin pengalaman pengguna dan punya hak menolak fitur yang membingungkan atau manipulatif.
"Bagaimana kalau sistem terlalu meyakinkan pengguna untuk memberi data?" tanya Emma.
"Kita ubah," jawab Nathan. "Persetujuan yang didapat dengan membuat orang lelah membaca bukan persetujuan."
Keira memandangnya. Kalimat itu berlaku untuk teknologi, tetapi juga terdengar seperti ringkasan pernikahan mereka.
Emma meminta waktu untuk meninjau kontrak. Nathan tidak mendesak. Ia menyerahkan tablet dan menyuruhnya mencoret klausul yang tidak adil. Sikap itulah yang akhirnya membuat Emma berkata ia akan bergabung, asalkan tim desain mendapat suara setara dalam rapat produk.
"Setuju," kata Nathan. "Tapi semua keputusan tetap punya data."
"Dan semua data harus punya konteks," balas Emma.
Mereka berjabat tangan. Keira melihat tim NARA bukan sekadar pegawai yang mengikuti seorang jenius. Mereka berani membantahnya, dan Nathan cukup aman untuk membiarkan itu terjadi.
Tim menemukan akun publik lama Keira melalui tanda tangan pada gambar. Di layar muncul ilustrasi kesatria berzirah terbuka.
"Ini karya Anda? Detail anatominya hebat."
Keira menutup layar dengan tenang. "Proyek lama untuk gim perempuan dewasa."
Lucas menatap langit-langit. Emma menyikutnya agar tidak tertawa. Nathan justru melihat gambar itu satu detik terlalu lama.
"Zirahnya tidak melindungi bagian penting," komentarnya.
"Itu sebabnya kau bukan direktur seni."
Keira mengalihkan percakapan pada tawaran Emma. Setelah membahas jam kerja dan otoritas desain, Emma akhirnya menerima posisi di NARA. Mereka bersulang dengan jus karena semua masih harus bekerja esok hari.
Pukul setengah sepuluh, para tamu pamit. Tim tertinggal beberapa menit di ruang kerja bersama Nathan. Ia membuka laporan transaksi jalur Paris.
"Pemilik perangkat menerima dua ratus ribu dolar dari seorang perantara Indonesia di Paris," katanya. "Perantara itu menerima lima ratus ribu dari rekening Cayman. Aku sedang memastikan pemilik manfaatnya."
"Waktunya?"
"Transfer pertama sebelum penguntit muncul. Ada upaya menutup jejak setelah kita mengambil surel."
"Kirim salinan terenkripsi. Jangan gunakan server umum NARA."
Di kamar, Keira memindahkan laptop ketika Nathan masuk. Sketsa laki-laki berpakaian setengah selesai sempat terlihat sebelum layar berganti.
"Karakter baru?"
"Pekerjaan."
Nathan tidak mendekati laptop. Ia justru mengeluarkan kotak kayu tipis dari laci dan menaruhnya di meja samping ranjang.
Keira membuka sedikit. Di dalamnya tersusun kapas khusus, alat kecil dengan lampu, sikat lembut, bulu sintetis, serta garpu tala.
"Kau benar-benar membelinya."
"Semuanya baru dan sudah disterilkan. Aku belajar dari tenaga profesional sore tadi."
"Kau pergi ke klinik telinga hanya untuk ini?"
"Aku tidak akan memasukkan alat ke bagian dalam. Hanya bagian luar dan suara."
Nathan duduk di tepi ranjang. "Ci, malam ini coba satu kali. Kalau tidak suka, aku berhenti."
Keira menatap semangat yang berusaha ia sembunyikan. "Satu jam lagi. Aku selesaikan gambar dulu."
"Setuju."
Nathan kembali ke ruang kerja. Kotak kayu itu tetap di meja samping ranjang, menunggu seperti janji aneh.
Di layar komputernya, pesan Tim masuk bersama bagan transaksi. Garis dari Paris menuju Cayman terus terbuka, satu lapis demi satu lapis.
Nama di ujungnya belum tampil, tetapi Nathan sudah tahu siapa yang mungkin menunggu di sana.
Ia memandang pintu kamar tempat Keira bekerja, lalu mengunci berkas dengan kata sandi baru. Malam ini ia akan memberinya rasa aman. Besok, jika bukti itu selesai, ia akan menghadapi sumber ancaman tanpa membiarkan Keira kehilangan pilihan.