*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
# Dua puluh delapan
“Aku belum bisa memberi jawaban, Desi akan memeriksanya lebih lanjut. Kami sedang mencari anak itu untuk tes DNA.”
“Berarti kalian pernah melakukannya?” Hanum menatap nanar pada pria yang kini jadi suaminya. Memeng ia sudah memiliki bayangan seperti ini, namun ia tak menyangka. Bila kenyataan akan sesakit yang ia rasa kini.
Hanum tahu, memang Leon buka seorang pria suci. Namun, tetap saja ia sangat kecewa dengan kenyataan pahit ini. Bagaimana ada wanita yang mengaku melahirkan anak dari suaminya? Seakan melihat dirinya sendiri di masa lalu.
Kecewa campur mara, Hanum pun memilih untuk pergi saja. “Aku akan keluar dari rumah ini.”
“Siapa yang mengizinkan mu! Dan lagi sebelum hasil tes DNA keluar, kamu dan Sean tak boleh meninggalkan rumah ini!” titah Leon dengan tegas, namun hatinya penuh ketakutan. Bagaimana nanti bila Hanum benar-benar pergi meninggalkan dirinya? Sungguh ia tak bisa hidup tanpa wanita itu.
“Tapi Mas sudah tidur dengannya!” Hanum menatap tajam dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Oke! Aku akui aku salah, tapi itu bertahun-tahun lalu Hanum. Aku sudah berubah! Meskipun aku tahu, aku tak bisa mengubah masa lalu kelamku. Hanya saja, tolong beri aku kesempatan.”
“Kesempatan apa lagi? Mas mau aku menyuruh Mas bertanggung jawab padanya? Mau menikahinya?” Hanum yang kalut, tangisnya pun pecah tak terbendung. Pipinya sudah basah karena air asin yang turun tanpa diperintah itu.
“Aku tak akan menikahinya!”
“Bagaimana dengan nasib anaknya? Lihatlah Sean! Kenapa Mas tak berkaca dari satu kesalahan saja!” Hanum marah, ia berteriak pada suaminya karena merasa frustasi dan tertekan.
“Tapi aku tak akan menikahinya! Aku cuma mau kamu. Bila anak itu memang anakku, maka aku akan bertanggung jawab pada anaknya. Hanya itu!”
Hanum merosot, ia memposisikan wanita itu seperti dirinya. Bagaimana ini? Mengapa begitu mudah Leon membuat semua wanita di luar sana hamil dan memiliki anak di luar nikah.
Ingin menguatkan diri, Hanum berusaha tegar. Ia sudah mengambil keputusan, percuma ia bertahan. Hanya akan ada rasa sakit bila hidup bersama Leon yang penuh masa lalu gelapnya.
“Aku akan pergi!”
Leon juga terpancing amarahnya, “Pergilah setelah melangkahi mayatku!”
“Mas!” pekik Hanum yang tak bisa berkata-kata.
“Aku tak akan membiarkanmu pergi!”
Hanum menutup matanya, ia tak tahu harus bagaimana. Leon benar-benar sudah melukai hatinya.
Hari berikutnya, keluarga itu kini nampak dingin. Tak ada senyum yang menghiasi bibir pasutri tersebut. Bukan terjadi perang dingin, hanya saja Hanum kini engan bicara pada suaminya. Sesuai janji Leon. Ia akan menunggu hasil tes DNA keluar.
Tapi kapan? Sebab Leon sendiri masih meminta sekretarisnya mencari keberadaan anak Zura yang masih disembunyikan oleh ibunya. Zura masih sengaja menyembunyikan anak itu, ia bukan wanita Bodoh. Zura pasti sudah menduga bahwa Leon pasti akan melakukan tes DNA pada putranya.
Meskipun begitu, ia terus saja meminta uang pada Leon. Beralasan kekasihnya akan menyakiti sang putra bila tak mengirimi uang. Leon sendiri menurut saja. Bukan karena ia tak tahu niat buruk Zura, ia hanya ingin mencari jejak di mana anak yang di duga putranya tersebut.
Padahal ia sudah menyewa orang yang profesional di bidangnya, tapi Zura begitu pandai menyembunyikan jejak.
Hanum pun menjalani hari-hari dengan tak semangat, rasanya ingin selalu meninggalkan rumah itu. Bahkan mereka kini sudah pisah kamar, Hanum memilih tidur dengan putrinya, Sean.
Tiga hari kemudian, dari orangnya. Leon mendapati kabar bahwa terdapat jalan terang mengenai keberadaan anak yang diduga putranya. Maka ia pun pergi ke kota itu bersama orangnya.
Ketika makan bersama di pagi hari, Leon mengatakan niatnya untuk ke luar kota beberapa hari. Hanum sendiri tak curiga suaminya akan ke mana, sebab akhir-akhir ini hubungan keduanya sudah terasa dingin dan hambar.
Jadi Hanum sudah tak banyak peduli, ketika suaminya ada atau tidak baginya sama saja. Malam harinya, Leon sudah berada di sebuah kota di mana katanya anaknya berada. Besama orangnya ia mendatangi sebuah panti asuhan.
Namun sayang, ternyata ia kalah cepat. Sebab Zura dan kekasihnya sudah mengambil anak itu beberapa saat lalu.
Leon pun mendesis kesal, tak mungkin balik degan tangan kosong. Maka ia dan para timnya menginap di sana. Sambil menunggu besoknya melanjutkan pencarian mereka.
Di rumah Leon, Hanum tumben tak bisa tidur. Biasanya ia mudah sekali tidur apalagi kalau tubuhnya terasa lelah. Tapi, malam ini tak tahu mengapa ia kepikiran Leon yang ada di luar sana.
“Apa dia baik-baik saja?” Mendadak pikirannya jadi tak enak. Kemarin waktu ada mereka saling cuek, bahkan ia tak menoleh saat Leon memanggil namanya. Jangankan menoleh, menatap saja ia enggan. Masih marah dengan kasus Zura yang mengaku memiliki anak dengan suaminya.
Karena tak bisa tidur malam ini, Hanum pun pergi ke kamar suaminya. Ia berbaring di ranjang yang nampak kosong itu. Mengapa begitu hampa? Mau telpon dulu tapi gengsi. Hanum hanya menggenggam telpon di tangannya, sambil menatap nomor Leon yang tak mampu ia pencet.
Beberapa saat kemudian, wanita itu sudah tidur di kamar Leon sambil memeluk guling. Tidurnya nampak tak nyenyak, bulir keringat di pelipisnya sangat banyak sebesar biji jagung. Sepertinya ia sedang mengalami mimpi buruk.
“Tidak!” pekiknya saat membuka mata. Ia bermimpi suaminya tengelam di sebuah danau. Cemas dan tak peduli lagi dengan egonya, Hanum meraih ponsel. Pukul dua dini hari, tak peduli jam berapa itu, ia langsung menghubungi suaminya.
Di kamar hotel bintang lima di kota A. Leon sedang duduk bersandar di ranjang kamar hotel sambil memangku laptop. Rupanya ia juga belum tidur, ia sedang memeriksa latar belakang dan file-file mengenai Zura beberapa tahun ke belakang.
Ia curiga, bahwa itu bukan anaknya. Saat serius membaca dokumen di layar laptopnya, ponselnya berdering.
“Siapa malam-malam begini?” Ia bicara pada ponselnya yang menyala. Alisnya menyatu ketika membaca siapa yang telpon.
“Hanum?” ucapnya sebelum mengangkat telpon itu. “Mengapa ia telpon malam-malam begini?” lagi-lagi ia tak langsung mengangkat telpon, malah sibuk bermonolog sendiri.
“Hallo.”
Sunyi. Tak ada suara sama sekali, namun Leon bisa mendengar suara napas orang yang menelpon dirinya.
“Hanum, ada apa malam-malam begini?” tanyanya lagi karena Hanum tak mau bicara.
Tut tut tut
Hanum malah menutup ponselnya, asal sudah mendengar suara suaminya baik-baik sja ia sudah lega.
Leon mengerutkan dahi, apa-apaan ini Hanum. Dia yang telpon dia yang matikan, penasaran dan juga rindu. Leon balik menghubungi istrinya. Nanum bukan panggilan suara, tapi vidio call.
Hanum kaget, setelah mematikan ponsel malah Leon menghubungi balik. Karena terus berdering, ia pun mengangkat telpon itu.
“Belum tidur?” tanya Leon, bibirnya tersenyum ketika melihat background di balik layar. Hanum sedang ada di kamarnya.
“Syukurlah Mas baik-baik saja, aku akan tidur lagi.”
“Tunggu... kamu tidur di sana?”
Deg, Hanum lupa ia kini di kamar siapa. Malu ketahuan, ia pun mengalihkan perhatian. “Aku hanya datang memeriksa.” Wanita itu mencoba berkelit, apalagi dilihatnya Leon tersenyum, ia jadi merasa tersudut. Seperti maling ayam yang ketangkap basah oleh warga.
“Apanya yang kamu periksa, aku di sini.”
“Sudah, aku matikan ponselnya!” Tidak mau Leon terus membuatnya tersudut. Hanum mengancam akan mematikan ponselnya.
“Tunggu... jangan matikan.”
“Ada lagi yang ingin dibicarakan?”
“Tak ada, hanya saja... aku ingin melihat wajahmu lebih lama.”
Hanum diam, sesaat kemudian ia malah mengusap sudut matanya. Dan itu terlihat jelas di layar ponsel Leon.
“Kamu menangis Hanum?” Wanita itu terus menggeleng, menepis apa kata suaminya.
“Mau aku pulang malam ini?” tambahnya, dan Hanum malah semakin tak berani menatap ponsel. Takut wajah sendunya kembali terekam kamera. Jujur ia memang merindukan suaminya itu, hanya saja egonya tak mau mengalah.
“Tunggu aku di sana, aku pulang sekarang.” Leon mematikan ponselnya. Malam ini juga ia pulang ke rumah.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️