Indonesia
NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

 

📖 Bab 26: Reuni yang Menyakitkan

Langit sore itu tampak cerah, dihiasi gumpalan awan putih yang berarak perlahan di bawah semburat jingga keemasan. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma bunga melati yang tumbuh subur di sepanjang taman tempat kediaman keluarga Dika berada. Namun di dalam kamar yang luas dan elegan itu, Raina berdiri terpaku di depan cermin setinggi dinding, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan yang berkecamuk tak menentu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena rasa cemas yang menyusup perlahan ke dalam dadanya, mencekik napasnya pelan namun terasa begitu berat.

Di tangannya, selembar kartu undangan tergenggam erat. Tulisan di atasnya begitu jelas dan nyata — Reuni Akhir Tahun Angkatan. Acara yang seharusnya menjadi momen pertemuan yang menyenangkan bagi banyak orang, namun bagi Raina, dua kata itu terasa bagaikan duri tajam yang tertanam di hatinya. Membawa kembali ribuan kenangan lama yang berusaha ia kubur sedalam-dalamnya. Kenangan yang penuh dengan tawa sinis, tatapan merendahkan, dan kata-kata tajam yang pernah menghujam hatinya berkali-kali di masa lalu.

Raina menghela napas panjang, mencoba menenangkan kegelisahan yang melanda seluruh tubuhnya. Ia menatap pantulan dirinya lekat-lekat. Wajahnya yang cantik bersinar lembut, namun bayang-bayang ketidakpercayaan diri masih sempat terlihat di matanya. Tubuhnya kini jauh lebih sehat dan bugar dibandingkan masa-masa kelamnya dulu, namun bekas luka di hatinya seakan belum sepenuhnya hilang. Rasa takut kembali hadir — takut akan tatapan merendahkan, takut akan bisik-bisik yang menyakitkan, takut kembali menjadi bahan tertawaan orang-orang yang dulu pernah begitu kejam padanya.

"Raina?"

Suara lembut yang begitu ia kenal terdengar dari arah pintu. Raina tersentak sedikit, berbalik perlahan dan mendapati Dika berdiri di sana. Pria itu menatapnya dengan pandangan penuh kasih sayang sekaligus perhatian yang mendalam. Langkah kakinya terdengar tenang dan mantap saat mendekat, hingga akhirnya ia berdiri tepat di samping Raina, ikut menatap pantulan istrinya di cermin.

Dika merangkul bahu Raina dengan lembut, merasakan betapa tegangnya tubuh wanita itu. Ia menatap mata Raina melalui pantulan cermin, lalu berbicara dengan suara yang rendah namun menenangkan segenap jiwa:

"Kau ragu, Sayang?"

Raina menunduk perlahan, menggenggam tangan Dika yang berada di bahunya. Suaranya terdengar lirih dan penuh keraguan: "Aku... aku takut, Dika. Orang-orang yang dulu pernah meremehkanku semuanya akan ada di sana. Aku tak siap... aku takut mereka akan kembali menatapku dengan pandangan yang sama seperti dulu."

Dika membalikkan tubuh Raina perlahan, hingga kini mereka berhadapan. Ia menangkup kedua pipi istrinya dengan penuh kelembutan, memaksanya menatap lurus ke dalam matanya yang teduh namun penuh ketegasan.

"Dengarkan aku, Raina," ucap Dika pelan namun begitu tegas, setiap kata yang terucap seakan menembus langsung ke dalam sanubari. "Siapa pun mereka, dan apa pun yang pernah mereka katakan padamu dulu... itu tidak lagi penting. Kau adalah istriku. Wanita yang paling berharga di mataku. Dan hari ini... aku akan berdiri di sampingmu sepanjang waktu. Tidak ada satu pun yang boleh menyakiti hatimu selama aku ada di sana. Percayalah padaku."

Tatapan mata Dika begitu tulus, begitu dalam, seakan menjanjikan perlindungan yang tak akan pernah runtuh. Hati Raina yang semula terasa berat perlahan mulai terasa ringan. Ada kekuatan yang mengalir masuk melalui genggaman tangan suaminya. Ada kehangatan yang menyelimuti ketakutannya yang sempat meluap-luap. Raina menatap wajah pria di hadapannya — pria yang tak pernah meninggalkannya saat seluruh dunia seakan memunggungi punggungnya. Pria yang justru mencintainya lebih dalam saat semua orang memandangnya sebelah mata.

Dengan napas yang ia tarik dalam-dalam, Raina mengangguk perlahan. Air mata haru menetes di pelupuk matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata ketabahan yang lahir dari kasih sayang yang tulus.

"Aku percaya padamu, Dika," ucap Raina pelan namun mantap. "Baiklah... aku akan pergi."

 

Matahari mulai condong ke barat saat mereka tiba di lokasi acara. Sebuah gedung pertemuan yang megah berdiri kokoh di tengah taman yang asri, dihiasi lampu-lampu gantung yang memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Suara tawa dan percakapan terdengar riuh dari dalam, menyambut kedatangan para tamu yang berdatangan satu per satu.

Dika melangkah mendekat ke arah Raina, merangkul pinggang istrinya dengan lembut namun penuh keyakinan. Ia menatap Raina sekilas, seakan memberi kekuatan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Raina menarik napas panjang, menyusun kembali ketenangannya, lalu melangkah masuk berdampingan dengan suaminya.

Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas itu, seketika pandangan mata para hadirin seakan beralih serentak ke arah mereka. Raina merasakan ratusan pasang mata menatapnya lekat-lekat. Ada rasa gugup yang kembali menyeruak, membuat jantungnya berdetak kencang di dalam dada. Ia meremas jari-jarinya dengan cemas, namun seketika itu juga ia merasakan genggaman tangan Dika di pinggangnya mengerat sedikit — seakan memberi isyarat: Aku di sini. Jangan takut.

Raina melirik sekilas ke arah Dika. Wajah pria itu tenang, tegap, dan memancarkan wibawa yang begitu kuat. Tak ada sedikit pun keraguan atau rasa malu di wajahnya berdiri di samping Raina. Justru sebaliknya... Dika berdiri dengan kepala tegak, penuh kebanggaan seakan Raina adalah permata paling berharga yang pernah dimilikinya.

Langkah kaki mereka berhenti di sebuah sudut ruangan yang sepi sejenak. Dika menatap Raina dan tersenyum lembut, menyeka keringat halus di pelipis istrinya dengan punggung jari tangannya.

"Tetaplah tenang, Sayang. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Dika pelan tepat di samping telinga Raina.

Belum sempat Raina menjawab, suara tawa yang terdengar begitu menyusahkan dan asing tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka. Suara itu... suara yang begitu dikenang oleh ingatan Raina, suara yang pernah menghantuinya dalam mimpi buruk berkali-kali di masa lalu.

"Ya ampun... bukankah itu Raina?"

Raina menegang seketika. Tubuhnya kaku bagai patung. Perlahan ia berbalik dan mendapati tiga orang wanita berdiri tak jauh dari sana. Wanita yang berdiri di paling depan adalah Sari — wanita yang dulu paling sering mengejek, merendahkan, dan menyakiti hati Raina tanpa rasa bersalah sedikit pun. Di sampingnya berdiri dua orang teman yang selalu setuju dengan apa pun yang dikatakan Sari, seakan menjadi bayang-bayang yang ikut menyebarkan racun ke mana pun mereka pergi.

Sari melangkah mendekat, menatap Raina dari atas hingga bawah dengan tatapan yang tak berubah sama sekali — tatapan merendahkan, penuh penghinaan, dan senyum sinis yang mengukir rasa sakit di hati Raina.

"Wah, sungguh kejutan yang tak terduga," ucap Sari sambil menyilangkan tangan di dada, menatap Raina dengan senyum yang tak sampai ke mata. "Kupikir kau tak akan berani datang ke sini. Atau... kau sengaja datang agar bisa kembali dipermalukan seperti dulu?"

Dua orang teman di sampingnya ikut tertawa kecil, menatap Raina dengan pandangan yang sama persis seperti bertahun-tahun yang lalu. Hati Raina terasa perih kembali. Kata-kata itu... begitu tajam, begitu menyakitkan, seakan waktu berputar kembali ke masa-masa tergelap dalam hidupnya. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menunduk, tak berani menatap mata mereka, merasa seakan tubuhnya kembali mengecil di hadapan tatapan merendahkan itu.

Namun tepat saat Raina merasa ingin menghilang dari tempat itu seketika, sebuah tangan hangat dan kokoh melingkar erat di bahunya. Tangan Dika.

Dika melangkah maju selangkah, berdiri tegak di hadapan ketiga wanita itu. Aura keberanian dan wibawanya seketika membuat udara di sekitar mereka terasa berubah menjadi berat dan hening. Dika menatap Sari dengan pandangan yang begitu tajam, dingin, dan menakutkan. Tatapan yang seakan menembus ke dalam jiwa wanita itu dan membuatnya tak sadar mundur selangkah ke belakang.

"Maaf," suara Dika terdengar rendah namun begitu berat dan berwibawa, membuat seisi ruangan yang berada di dekat mereka ikut terdiam. "Siapa kalian yang berbicara demikian kepada istriku?"

Sari tampak sedikit terkejut melihat ketegasan Dika. Namun ia segera menata kembali senyum sinisnya, mencoba tetap bersikap angkuh.

"Oh, maaf ya," ucap Sari dengan nada yang masih terdengar meremehkan. "Kami hanya sekadar teringat masa lalu. Dulu Raina... ah, kau pasti tahu sendiri. Dia selalu berbeda dari yang lain. Jadi wajar saja kalau kami terkejut melihatnya berdiri di sini, apalagi..." Sari melirik sekilas ke arah Dika dengan tatapan penuh tanya seakan tak percaya, "...apalagi berdiri di samping pria sepertimu."

Dika tersenyum tipis, namun senyum itu justru terasa semakin mengerikan. Ia melangkah selangkah lebih dekat lagi ke arah Sari, membuat wanita itu tak sadar menelan ludah dengan gugup.

"Kalian berkata seakan kalian lebih berharga darinya," ucap Dika perlahan namun penuh penekanan, setiap katanya terdengar begitu jelas dan tegas. "Tahukah kalian apa yang membuat seseorang menjadi berharga? Bukan dari rupa yang kalian banggakan. Bukan dari penampilan yang kalian pamerkan. Melainkan dari hatinya. Dan Raina..." Dika berbalik menatap Raina yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan pandangan penuh kekaguman dan kasih sayang yang begitu dalam, "...Raina memiliki hati yang jauh lebih mulia, jauh lebih tulus, dan jauh lebih berharga daripada seluruh keangkuhan yang kalian miliki digabungkan menjadi satu."

Hening menyelimuti tempat itu. Semua orang yang melihat kejadian itu terpaku diam, tak berani bersuara sedikit pun. Dika kembali menatap ketiga wanita itu dengan pandangan yang tajam dan tegas.

"Kalian meremehkannya dulu saat ia tak memiliki siapa pun di sisinya. Namun ketahuilah... saat kalian sibuk menghakiminya, ia justru tumbuh menjadi wanita yang luar biasa. Dan hari ini... berdiri di hadapan kalian, ia adalah istriku. Wanita yang aku cintai, yang aku hormati, dan yang akan aku lindungi dengan nyawaku sendiri. Tidak ada seorang pun... bahkan kalian sekalipun, yang berani menyakiti hatinya di hadapanku."

Suara Dika bergetar penuh kekuatan, membuat Sari dan kedua temannya terdiam mematung. Wajah Sari seketika berubah pucat. Angkuhannya seakan runtuh seketika di hadapan ketegasan dan keberanian Dika. Ia tak menyangka bahwa pria yang berdiri di hadapannya justru begitu menghargai dan mencintai Raina dengan segenap jiwanya.

Dika tak mempedulikan lagi wajah-wajah terkejut mereka. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Raina. Tatapannya yang tadi tajam seketika berubah menjadi lembut dan hangat. Dika mengusap pipi Raina dengan penuh kasih sayang, lalu tersenyum lembut seakan tak ada siapa pun di ruangan itu selain mereka berdua.

"Jangan pernah merasa rendah diri hanya karena pandangan orang lain, Sayang," bisik Dika pelan, hanya untuk telinga Raina. "Mereka tidak melihat apa yang aku lihat. Mereka tidak tahu betapa berharganya hatimu. Dan bagiku... kau adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan ke dalam hidupku. Jangan pernah lupakan hal itu."

Air mata menetes perlahan di pipi Raina. Namun kali ini bukan air mata kesedihan atau rasa malu. Itu adalah air mata kebahagiaan yang meluap-luap dari hatinya yang merasa begitu dicintai, begitu dilindungi, dan begitu dihargai. Di hadapan semua orang... Dika telah membuktikan betapa berharganya dirinya. Di saat seluruh dunia memandangnya rendah, suaminya justru mengangkatnya setinggi langit.

Raina menatap mata Dika lekat-lekat. Di sana, di dalam tatapan pria itu, ia melihat ketulusan yang tak pernah ia temukan pada siapa pun. Ia melihat kebanggaan yang tulus. Ia melihat cinta yang tak bersyarat.

Raina menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan menyeka air matanya dengan senyum yang mulai terukir indah di bibirnya. Senyum yang penuh keyakinan, penuh kebanggaan, dan penuh rasa syukur. Ia berbalik menatap ketiga wanita yang tadi merendahkannya, lalu dengan tenang dan mantap berkata:

"Dulu aku mungkin merasa sakit mendengar kata-kata kalian. Tapi hari ini... aku bersyukur. Karena melalui semua itu, aku belajar bahwa kebahagiaanku tidak ditentukan oleh pandangan kalian. Dan aku telah menemukan seseorang yang mampu melihat keindahan di dalam diriku, bahkan saat aku sendiri meragukannya."

Raina merangkul lengan Dika dengan erat, menatap suaminya dengan cinta yang tak terlukiskan. "Dan bagiku... itu sudah lebih dari cukup."

Dika tersenyum bangga mendengar ucapan istrinya. Ia menggenggam tangan Raina erat, lalu melangkah pergi meninggalkan ketiga wanita yang masih terpaku diam mematung di tempatnya. Langkah kaki mereka berdua tegap, tenang, dan penuh kebanggaan. Seiring mereka melangkah pergi, seakan semua beban masa lalu yang membebani hati Raina ikut terangkat dan tertinggal jauh di belakang.

Malam itu, di hadapan banyak orang, Dika tidak hanya membela istrinya. Ia juga membuktikan satu hal yang paling indah — bahwa cinta sejati tidak pernah melihat rupa, tidak pernah memandang pandangan orang lain. Cinta sejati adalah ketika seseorang melihat keindahan hatimu yang tak terlihat oleh mata orang lain, dan dengan bangga memperkenalkanmu kepada dunia sebagai anugerah terindah yang pernah dimilikinya.

Dan di dalam pelukan hangat Dika, Raina akhirnya menyadari satu hal... selamanya ia tak perlu lagi merasa takut. Karena selama pria itu berdiri di sampingnya, ia akan selalu menjadi wanita paling berharga di seluruh dunia.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!