**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33
Salah Paham yang Disengaja
Kotak obat darurat di pesawat Adrian kekurangan satu ampul.
Kayla menemukannya saat inspeksi acak di apron sore itu. Segel kotak tercatat utuh, tetapi daftar isi tidak cocok dengan jumlah fisik.
"Tahan pergantian kru sampai pencatatan selesai," katanya kepada Tiana.
Purser yang bertugas datang dari galley depan. Name tag di seragamnya bertuliskan Priscilla.
"Ampul itu dipakai pada penerbangan kemarin," katanya. "Saya sudah melapor kepada Kapten Adrian."
Adrian yang sedang memeriksa dokumen penerbangan mengangkat kepala. "Kamu melapor kepada bagian operasi, bukan kepada saya."
"Kapten juga tahu. Saya selalu memastikan kebutuhan penerbangan Kapten terpenuhi."
Priscilla tersenyum kepada Kayla. "Kami sudah lama terbang bersama. Saya hafal kopi, jadwal makan, bahkan obat sakit kepala yang cocok untuk Kapten."
Kayla menutup daftar inventaris. "Bagus. Sekarang saya perlu nomor laporan penggunaan ampul, bukan riwayat kopi suami saya."
Sean menunduk di balik tablet.
Priscilla memberikan nomor laporan, tetapi nomornya mengarah pada penerbangan lain. Ketika Tiana meminta penjelasan, perempuan itu menyentuh pelipis.
"Saya tiba-tiba pusing. Kapten Adrian, bisa antar saya ke ruang medis?"
"Tidak," jawab Adrian.
Priscilla tampak terpukul.
"Kalau kamu sakit, dr. Kayla akan memeriksa. Saya harus menyelesaikan persiapan pesawat."
"Tapi biasanya Kapten memperhatikan kondisi kru."
"Saya memperhatikan melalui prosedur."
Kayla merasakan sesuatu yang panas dan kecil di dada. Bukan karena percaya Adrian melakukan kesalahan, melainkan karena perempuan di depannya sengaja memamerkan kedekatan yang tidak pernah diminta.
"Silakan duduk," katanya. "Kalau pusing mengganggu tugas, status terbang perlu dievaluasi."
Priscilla buru-buru berkata, "Mungkin hanya kurang makan."
"Tetap diperiksa."
Di Pusat Aeromedis, tekanan darah, gula darah, dan pemeriksaan awal Priscilla normal. Ia tidak menunjukkan tanda gangguan akut.
"Saya sudah membaik," katanya. "Saya bisa kembali ke pesawat."
"Keluhan pusing baru muncul ketika diminta menjelaskan laporan obat," kata Tiana. "Kami perlu mencatat itu."
Priscilla menatap Kayla. "Dokter ingin menghukum saya karena dekat dengan suaminya?"
Pintu terbuka. Adrian masuk bersama Sean dan petugas operasi.
"Tidak ada kedekatan pribadi di antara kita," katanya. "Kita rekan kerja."
"Setelah bertahun-tahun, hanya itu?"
"Hanya itu sejak awal."
Priscilla menggigit bibir. "Saya lebih mengenal Kapten daripada perempuan yang baru dinikahi beberapa minggu."
Adrian berdiri di sisi Kayla. "Kamu mengenal jadwal kerja saya. Istri saya mengenal hidup yang saya pilih. Dan orang yang saya sukai hanya dia."
Ruang pemeriksaan sunyi.
Rasa panas di dada Kayla menghilang, diganti keinginan menendang sepatu Adrian karena memilih tempat kerja untuk membuat pengakuan sebesar itu.
Petugas operasi membuka catatan Priscilla. Ternyata ada tiga laporan sebelumnya: perubahan jadwal kru tanpa otorisasi, pesan pribadi berulang kepada kapten yang menolak, dan pertengkaran dengan awak lain karena penempatan penerbangan Adrian.
Dua awak kabin yang pernah melapor diminta memberi keterangan terpisah. Sistem penjadwalan menunjukkan Priscilla memakai akun supervisor untuk menukar penerbangan, lalu menghapus notifikasi sebelum awak pengganti membacanya.
Adrian menyerahkan tangkapan layar pesan lama yang selalu ia jawab dengan penolakan singkat atau tidak dijawab sama sekali. Tidak ada undangan, janji, atau percakapan yang dapat ditafsirkan sebagai hubungan pribadi.
"Saya tidak mau urusan ini disebut persaingan dua perempuan," kata Kayla kepada HR. "Periksa tindakan kerja dan bukti aksesnya. Perasaan bukan pelanggaran. Penyalahgunaan sistem adalah pelanggaran."
Petugas HR mencatat kalimat itu di berita acara.
"Laporan obat yang tidak cocok menambah masalah dokumentasi," katanya. "Untuk hari ini, Anda dibebastugaskan sambil menunggu pemeriksaan HR dan keselamatan."
Petugas operasi memanggil purser cadangan agar penerbangan tidak tertunda. Kotak medis ditukar dengan unit tersegel dari gudang, sedangkan kotak lama dibawa ke pusat untuk audit.
Tiana menemukan ampul yang dianggap hilang ternyata telah dikembalikan ke farmasi, tetapi laporan pengganti memakai nomor penerbangan salah dan ditandatangani Priscilla tanpa konfirmasi petugas medis. Tidak ada obat yang dicuri, namun pencatatan palsu dapat membuat kru mengira persediaan lengkap saat keadaan darurat.
dr. Rendra membuat laporan keselamatan terpisah agar pemeriksaan obat tidak tercampur dengan konflik pribadi. Kayla menyerahkan pemeriksaan klinis Priscilla kepada dr. Hana untuk menutup dugaan bahwa keputusan medis dipengaruhi rasa cemburu.
"Hasil fisiknya normal," kata dr. Hana. "Tapi karena dia mengaku pusing saat bertugas, keputusan kembali terbang tetap melalui evaluasi operasi."
"Kapten yang meminta ini?"
"Tidak," jawab Adrian. "Saya hanya menyerahkan pesan dan laporan yang diminta penyelidik. Keputusan dibuat operasi dan HR."
Priscilla menatap Kayla penuh kebencian. "Pernikahan tidak selalu bertahan."
"Benar," kata Kayla. "Tapi kontrak kerja juga tidak bertahan kalau aturan terus dilanggar."
Priscilla dibawa keluar untuk menyerahkan lencana akses. Dua hari kemudian, setelah pemeriksaan dokumen dan pengakuan bahwa ia mengubah penempatan kru demi terbang bersama Adrian, HR mengakhiri kontraknya sesuai klausul pelanggaran berulang.
Sebelum keluar dari gedung, ia mengirim satu pesan kepada nomor Adrian.
Saya bisa menunggu sampai kalian berpisah. Saya tidak keberatan menjadi rahasia.
Adrian memotret pesan untuk HR, memblokir nomor itu, lalu menunjukkan salinannya kepada Kayla.
"Kamu tidak perlu meminta izin untuk memblokir perempuan," kata Kayla.
"Aku menunjukkan agar tidak ada rahasia."
"Bagus. Tapi ada masalah lain."
"Apa?"
"Katanya dia tahu kopi favoritmu."
Adrian mengangkat alis. "Aku minum apa pun yang diberikan kru."
"Jawaban aman."
"Kopi favoritku yang kamu buat di rumah."
"Aku tidak pernah membuat kopi untukmu."
"Itulah masalahnya."
Kayla menahan tawa. "Jangan terlalu senang. Aku hanya sedikit cemburu."
"Sedikit sudah cukup."
Mereka keluar ke koridor yang lebih sepi. Adrian menggenggam tangan Kayla, tetapi tidak memaksanya berhenti berjalan.
"Kamu benar-benar cemburu?"
"Aku tidak suka cara dia berbicara seolah mengenalmu lebih baik."
"Dia tahu kopi dan jadwal."
"Aku tahu kamu diam saat marah dan merapikan jam tangan saat gugup."
Adrian menatap pergelangan tangannya sendiri. "Aku tidak gugup."
"Kamu baru saja merapikannya."
Laki-laki itu langsung menurunkan tangan. Kayla tertawa pelan, dan sisa rasa tidak nyaman di antara mereka akhirnya benar-benar lepas malam itu.
Ia menunduk hendak mencium kening Kayla, tetapi Tiana masuk membawa tiga kotak alat tes alkohol.
"Maaf mengganggu adegan rumah tangga. Ada hal lebih buruk."
Kayla langsung kembali serius.
"Sandi dijadwalkan besok pagi di penerbangan yang berangkat dekat jadwal Adrian. Saya melewati ruang ganti tadi dan mencium bau alkohol dari lokernya."
"Bisa dari cairan pembersih?" tanya Adrian.
"Bisa. Karena itu kita tidak memakai hidung sebagai bukti."
Kayla memeriksa segel alat. Satu perangkat baru belum pernah dibuka, dua lainnya baru dikalibrasi oleh vendor berbeda.
"Besok kita uji dengan ketiganya," katanya. "Panggil dr. Rendra dan saksi dari operasi sebelum Sandi datang."