Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta
Rafa mendekat, ikut merengkuh kedua orang tuanya dalam satu pelukan hangat. Tangis bahagia bercampur rasa syukur memenuhi ruangan kecil itu. Setelah badai paling mengerikan dalam hidup mereka menghancurkan segalanya, keluarga Sasmita akhirnya resmi kembali bersatu dalam keutuhan yang sejati. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan; yang ada hanyalah kekuatan cinta keluarga yang terbukti sanggup mengalahkan kelicikan dunia.
Di tengah kehangatan pelukan keluarga tersebut, suara ketukan pintu utama terdengar pelan namun tegas.
Tok... tok... tok...
Rafa menyeka air matanya, lalu berjalan pelan membuka pintu rumah. Begitu pintu terbuka, ia tertegun melihat siapa yang berdiri di teras rumahnya malam itu.
Sean Andrew Lee berdiri di bawah temaram lampu teras. Pria tampan asal Singapura itu mengenakan setelan jas kasual berwarna abu-abu gelap. Meskipun wajahnya masih menyisakan sedikit pucat pasca pemulihan dari kecelakaan, senyuman tulus dan hangat terukir di bibirnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuket bunga mawar putih segar yang tampak kontras dengan malam yang dingin.
"Sean...?" ucap Rafa lirih, terkejut dengan kehadiran pria itu di rumah sederhananya.
Sean melangkah masuk ke dalam rumah, membungkuk sedikit memberikan salam hormat kepada Pak Pamuji dan Bu Arma yang duduk di ruang tamu menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu dan rasa terima kasih yang mendalam karena Sean telah membantu membongkar kejahatan keluarga Wirya Negara.
Sean menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata Rafa dengan sorot penuh ketulusan yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka bertemu di tengah badai kehidupan. Ia tidak peduli pada status sosial, ia tidak peduli pada masa lalu, dan ia tidak peduli pada cibiran orang luar.
Di hadapan Pak Pamuji dan Bu Arma, Sean perlahan berlutut dengan satu kaki di atas lantai, lalu mengangkat pandangannya menatap Rafa sambil merogoh saku jasnya. Sebuah kotak cincin kecil berlapis velg hitam terbuka, memancarkan kilauan berlian sederhana namun elegan di bawah lampu ruangan.
"Rafa Sasmita," suara Sean tenang, namun bergetar karena besarnya rasa cinta dan kelegaan yang ia rasakan malam ini. "Kamu telah melalui badai terberat dalam hidupmu seorang diri dengan kepala tegak. Kamu berjuang untuk kebenaran, untuk keluargamu, dan untuk keadilan."
Rafa menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru kembali menetes di pipinya.
"Izinkan aku masuk ke dalam sisa hidupmu," lanjut Sean dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. "Bukan sebagai pelindung, bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai pendamping hidupmu. Rafa... maukah kamu menikah denganku, menjadi istriku, dan membangun kebahagiaan baru bersama-sama?"
****
Suasana di dalam rumah itu mendadak sunyi senyap. Pak Pamuji dan Bu Arma saling berpandangan, lalu tersenyum hangat, menyerahkan seluruh keputusan bahagia itu kepada putri tercinta mereka yang telah berjuang begitu hebat.
Rafa menatap cincin di tangan Sean, lalu menatap wajah pria yang telah mempertaruhkan nyawa dan masa depannya demi membbelanya dari cengkeraman keluarga Wirya Negara. Tanpa ragu sedikit pun, Rafa mengangguk pelan.
"Ya, Sean... aku mau," bisik Rafa dengan senyuman terindah yang menghiasi wajahnya setelah bertahun-tahun hidup dalam penderitaan.
Sean menyematkan cincin itu di jari manis Rafa, lalu berdiri dan memeluk wanita itu dengan penuh kelembutan di hadapan kedua orang tua Rafa. Di luar sana, angin malam berhembus lembut, seolah ikut merestui awal lembaran baru bagi dua jiwa yang telah menemukan rumah di dalam pelukan satu sama lain.
****
Kemewahan kantor pusat Lee Corporation di Singapura mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Tuan Waisen Lee. Di balik dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap kota modern yang berkilauan, pria paruh baya itu berdiri dengan tangan mengepal di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati pilihan. Di hadapannya, Nyonya Margaret mondar-mandir dengan gelisah, sapu tangan sutra di tangannya sudah basah oleh air mata kekecewaan.
Berita pertunangan Sean Andrew Lee dengan Rafa Sasmita telah menyebar luas ke kalangan pebisnis internasional, dan bagi keluarga Lee, hal itu adalah sebuah pukulan telak terhadap martabat keluarga mereka yang telah dijaga selama puluhan tahun.
Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Sean melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan setelan jas bisnis rapi, wajahnya tampak segar dan jauh lebih sehat dibandingkan saat ia dirawat di rumah sakit Jakarta beberapa waktu lalu. Meskipun sorot matanya menyiratkan rasa hormat kepada orang tuanya, tidak ada secuil pun keraguan di dalam langkah kakinya.
"Ayah, Ibu," sapa Sean dengan suara datar namun tegas.
Margaret langsung menghentikan langkahnya, menatap putranya dengan tatapan penuh kemarahan yang bercampur kepedihan. "Sean! Apakah kamu sudah kehilangan sisa kewarasanmu?! Berita tentang pertunanganmu dengan wanita itu sudah menjadi konsumsi publik di kalangan elit Singapura! Bagaimana bisa kamu mempermalukan keluarga kita seperti ini?!"
****
Tuan Waisen membalikkan badan, menatap Sean dengan pandangan dingin yang menghujam. "Putraku, kamu adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis ini. Kami telah merancang masa depanmu dengan wanita-wanita dari kalangan terpandang yang setara dengan status sosial kita. Tapi kamu justru memilih seorang janda, wanita mandul yang membawa segudang masalah hukum, dan hampir merenggut nyawamu sendiri!"
Sean menarik napas panjang. Ia sudah menduga reaksi keras ini akan datang, namun ia tidak akan pernah mundur dari pilihannya. Ia melangkah mendekati meja kerja ayahnya, lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan sorot mata penuh ketulusan.
"Ayah, Ibu... dengarkan aku," ucap Sean dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Kalian menilai Rafa berdasarkan masa lalunya yang kelam dan fitnah yang disebarkan oleh orang-orang licik seperti keluarga Wirya Negara. Kalian tidak melihat bagaimana dia berjuang mati-matian mempertahankan kebenaran di tengah hantaman badai yang luar biasa."
"Itu semua omong kosong!" sergah Margaret dengan suara tinggi. "Wanita itu pembawa sial, Sean! Dia tidak pantas bersanding denganmu!"
"Rafa bukan pembawa sial," balas Sean tegas. "Dia adalah wanita paling kuat, tulus, dan setia yang pernah kutemui. Aku tidak peduli dengan status sosial, aku tidak peduli dengan harta kekayaan keluarga Lee jika pada akhirnya aku harus hidup tanpa kebahagiaan sejati. Aku mencintainya, Ayah, Ibu. Dan aku mohon... berikan restu kalian untuk hubungan kami. Aku ingin membangun masa depan bersama Rafa."
Tuan Waisen mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya hampir meledak, namun saat ia melihat keteguhan baja di mata putranya—sorot mata yang sama persis seperti miliknya saat mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup—Tuan Waisen menyadari satu hal: ia tidak bisa memaksakan kehendak dengan cara kekerasan lagi. Sean bukanlah anak kecil yang bisa dikendalikan dengan ancaman.
Ruangan itu terdiam dalam ketegangan yang pekat selama beberapa menit, hanya menyisakan suara isak tangis tertahan dari Margaret.