Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CELAH YANG MAKIN MELEBAR

Pagi itu, suasana kelas seni lukis terasa begitu tenang. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca berukuran besar, membiaskan pendar keemasan di atas kanvas-kanvas yang tertata rapi. Namun, pikiranku sama sekali tidak berada di dalam ruangan itu.

Jemariku melamun, hanya menggoreskan kuas secara asal di atas kanvas kosong.

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di koridor. Tiga hari pula Kaito seolah menguap dari duniaku. Biasanya, setiap pagi pukul delapan tepat, sebuah pesan singkat dari Kaito akan mampir di layar ponselku: ‘Sudah sampai kelas? Jangan lupa sarapan.’

Namun, sejak hari itu, kotak masuk ponselku benar-benar hening dari namanya.

Aku menghentikan usapan kuas, lalu merogoh ponsel dari saku celana. Dengan ragu, aku membuka ruang obrolanku dengan Kaito. Pesan terakhir yang kukirim kemarin sore bahkan hanya dibalas dengan dua kata yang teramat singkat.

‘Kaito, nanti sore mau pulang bareng? Aku tunggu di gerbang ya.’

‘Maaf, Hana. Aku ada rapat organisasi hukum sampai malam. Kamu pulang duluan saja.’

Singkat. Padat. Dingin.

Tidak ada lagi pertanyaan apakah aku membawa payung, tidak ada lagi teguran agar aku tidak berjalan sendirian saat malam. Kaito benar-benar menarik dirinya kembali ke dalam cangkangnya, membiarkan celah di antara kami yang tadinya tipis kini membentang menjadi jurang yang sangat dalam.

"Hana? Kamu melamun?"

Sebuah tepukan lembut di bahu mengejutkanku. Aku menoleh dan menemukan Haruto sudah berdiri di samping kursiku. Pria itu menyunggingkan senyum hangat yang khas, mengenakan celemek lukis yang dipenuhi bercak cat warna-warni.

Aku buru-buru menggelengkan kepala, menyembunyikan layar ponselku ke bawah meja. Aku mengambil ponsel, lalu mengetik cepat: ‘Tidak, aku hanya bingung mau melukis apa hari ini.’

Haruto membaca tulisan di layarku, lalu tertawa kecil. Ia tidak langsung membalas dengan ucapan lisan seperti biasanya. Sebaliknya, Haruto meraih ponselnya sendiri dari saku celemek, mengetik sesuatu selama beberapa detik, lalu menyodorkannya padaku.

‘Kalau bingung, lihat aku saja. Siapa tahu wajahku bisa jadi inspirasi lukisan terbaikmu hari ini.’

Aku terkekeh pelan membaca pesan percaya dirinya itu. Rasa hangat mendadak mengalir di dadaku, sedikit mengikis rasa hampa yang membeku sejak pagi.

Haruto kemudian mengembalikan ponselnya ke saku. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke mataku dengan ekspresi yang sangat serius namun menggemaskan. Perlahan-lahan, ia mengangkat kedua tangannya ke udara.

Jemari Haruto bergerak canggung. Ia membentuk sebuah gerakan bahasa isyarat—sangat kaku dan lambat tetapi aku bisa mengenali bentuknya dengan jelas.

[Ter-i-ma ka-sih,] isyarat Haruto terbata-bata.

Setelah selesai membentuk gerakan itu, Haruto langsung menghela napas lega dan mengusap tengkuknya dengan wajah yang agak memerah.

"Aku... aku benar nggak peragakannya?" tanya Haruto dengan gerak bibir yang sangat perlahan dan diperjelas, memastikan aku bisa membacanya. "Aku belajar semalaman dari video tutorial di internet. Aku mau belajar bahasa isyarat biar kamu nggak perlu repot-repot ngetik terus kalau lagi sama aku."

Dadaku berdesir hebat. Pandanganku memaku pada Haruto yang masih tampak malu-malu.

Usahanya begitu nyata. Seorang Haruto pria populer di fakultas seni yang punya ribuan kesibukan rela menghabiskan waktu malamnya hanya untuk mempelajari bahasa isyarat kaku demi bisa berkomunikasi denganku secara langsung.

Aku tersenyum sangat lebar. Jemariku mengetik di ponsel dengan cepat: ‘Gerakanmu masih kaku sekali seperti robot, tapi... terima kasih banyak, Haruto. Itu manis sekali.’

Haruto membaca pesan itu dan tertawa lepas. "Nanti ajari aku lebih banyak ya? Nanti sore selesai kelas, kita ke kedai es krim dekat stasiun mau? Aku yang traktir, sekalian kamu jadi guruku!"

Aku menatap layar ponselku, lalu teringat pada Kaito yang sibuk dengan rapat hukumnya. Rasa ingin ditemani dan dihargai mendominasi pikiranku.

Aku mengangguk mantap, menyetujui ajakan Haruto.

Sore harinya, angin dingin bertiup cukup kencang menyapu area taman kampus. Aku dan Haruto berjalan berdampingan menuju luar gerbang. Haruto tidak henti-hentinya menunjukkan gerakan bahasa isyarat baru yang ia pelajari meskipun setengahnya masih salah dan membuatku terkekeh sepanjang jalan. Perhatian dan keceriaan Haruto seolah menjadi warna baru yang menyilaukan di dalam duniaku yang biasanya sunyi.

Namun, saat kami melewati gedung kafetaria utama, langkah kakiku mendadak melambat.

Melalui dinding kaca kafetaria yang transparan, mataku secara tidak sengaja menangkap sosok yang sangat familiar.

Kaito.

Dia sedang duduk di sudut ruangan bersama tiga orang mahasiswa lainnya dua pria dan seorang mahasiswi berambut panjang yang mengenakan almamater fakultas hukum. Di atas meja mereka, berserakan tumpukan buku tebal, dokumen riset, dan beberapa cangkir kopi.

Aku terpaku di tempatku berdiri.

Katanya Kaito ada rapat organisasi hukum sampai malam? Tapi di sana, ia justru sedang duduk santai dalam diskusi kelompok kecil.

Dan yang paling membuat dadaku berdenyut nyeri adalah ekspresi wajah Kaito. Pria itu sedang tersenyum. Bukan senyuman tipis dan sedih seperti saat bersamaku beberapa hari terakhir, melainkan senyuman tenang dan lepas saat mendengarkan penjelasan dari mahasiswi di sebelahnya. Mahasiswi itu tertawa, lalu menepuk pelan lengan Kaito dengan akrab, dan Kaito hanya mengangguk sopan tanpa menarik lengannya.

Mata Kaito tampak hidup. Dunianya yang biasanya hanya berputar di sekitarku kini tampak begitu luas, dipenuhi oleh orang-orang baru yang bisa bicara, berdiskusi, dan tertawa bersamanya tanpa hambatan bahasa isyarat.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari kenyataan yang mengerikan ini: Kaito sebenarnya bisa bahagia dan hidup dengan sangat baik tanpa kehadiran diriku.

Selama ini, ego kecilku selalu merasa bahwa Kaito membutuhkan aku, bahwa akulah pusat duniaku dan dunianya. Namun melihatnya di dalam sana, aku sadar betapa egoisnya aku. Akulah yang ketergantungan padanya, sementara Kaito... Kaito hanya sedang melapangkan jalannya untuk benar-benar pergi meninggalkan duniaku.

"Hana? Kenapa berhenti?"

Suara Haruto menyentakku kembali ke realitas. Haruto berdiri beberapa langkah di depanku, menatapku dengan raut wajah cemas. Ia mengikuti arah pandanganku ke dalam kafetaria, lalu melihat Kaito di sana.

Haruto tidak katakan apa-apa soal Kaito. Sebaliknya, ia merogoh saku jaketnya, mengulurkan tangannya, dan menggenggam jemariku yang mulai dingin oleh angin sore.

Genggaman tangan Haruto hangat dan erat.

"Ayo, Hana," ucap Haruto dengan gerak bibir yang lembut, mengalihkan perhatianku sepenuhnya dari kaca kafetaria. "Es krimnya nanti keburu meleleh kalau kita kelamaan berdiri di sini."

Aku menatap jemariku yang kini berada di dalam genggaman Haruto. Rasanya berbeda. Genggaman Kaito selalu membawa rasa aman yang familiar, sedangkan genggaman Haruto membawa debaran manis yang tak menentu.

Aku menoleh sekali lagi ke arah kafetaria, tetapi Kaito masih sibuk dengan dokumennya, sama sekali tidak menyadari keberadaanku yang berdiri di luar.

Dengan hembusan napas panjang, aku membalas genggaman tangan Haruto. Aku membiarkan diriku ditarik melangkah pergi, menyusuri jalanan kampus menuju kedai es krim, meninggalkan bayangan Kaito dan masa kecil kami jauh di belakang.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!