"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eksekusi
Setelah vessel raksasa itu berhasil terangkat dan terlepas sepenuhnya dari dudukan, Salman berdiri berkacak pinggang di samping sasis. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah Jono dan Agus yang masih bersiap di posisinya masing-masing.
"Ada dua opsi buat ngerjain barang ini," kata Salman, suaranya harus sedikit ditinggikan agar terdengar di antara deru mesin bengkel.
"Pertama, kita kerjain sekarang di posisi ini, tapi wajib ada tiang penyangga tambahan buat safety. Kedua... kita majukan unitnya sedikit ke depan biar areanya lebih bebas dan lapang."
Jono yang berdiri paling dekat dengan hidrolik langsung menyahut tanpa berpikir panjang. "Opsi kedua aja, Man. Biar aman dan pergerakan kita juga lebih leluasa."
"Oke, opsi kedua," Salman mengangguk setuju. Ia menoleh ke arah Agus yang sudah bersiap di kabin kemudi. "Gus! Maju pelan-pelan!"
Agus mengacungkan jempolnya. Detik berikutnya, mesin diesel unit besar itu meraung kuat. Roda-roda besarnya bergerak perlahan memajukan sasis utama truk. Salman terus mengawasi jarak aman dengan cermat.
"Terus... dikit lagi... ya, stop!" seru Salman sambil memberikan isyarat tangan melintang.
"Segini cukup. Jon, bisa tolong lepasin kabel-kabelnya dulu? Kita perlu area yang benar-benar bersih sebelum mulai eksekusi."
"Oke, tunggu sebentar," sahut Jono seraya langsung merosot ke bawah kolong sasis dengan tangkas, membawa tang potong dan beberapa peralatan pendukung.
Sementara itu, Agus mematikan mesin truk dan kembali ke unit awal di sudut lain workshop untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi pagi.
Setelah semua jalur perkabelan dan selang hidrolik terlepas sempurna, area kerusakan kini terekspos sepenuhnya. Salman membungkuk, menyorotkan lampu kerja ke bagian tengah badan truk. Di sana, sebuah retakan menganga membelah material baja padat. Sasis itu benar-benar patah tepat di tengah akibat hantaman beban yang melampaui kapasitasnya.
"Jon, kasih ganjal dulu buat bagian belakang sasis. Biar posisinya gak turun waktu bagian depannya kita utak-atik," perintah Salman.
Jono menjadi orang paling sibuk saat itu. Dengan napas yang mulai memburu, ia menyeret beberapa balok kayu keras dan dongkrak botol berkapasitas besar, lalu memasang ganjal mekanis di titik-titik krusial sasis belakang.
Melihat Jono yang mulai kelelahan, Salman menepuk pundaknya. "Kamu istirahat dulu, Jon. Biar aku yang lepasin join kopling dan roda-rodanya."
Jono duduk bersandar di sebuah ban bekas sambil memperhatikan pergerakan Salman. "Man, truk ini mau kamu bikin telanjang?"
"Ya apa boleh buat, Jon. Soalnya kerusakannya lumayan parah. Hanya dengan cara trondol begini kita bisa dapat penetrasi las yang maksimal dan pengerjaannya jadi rapi," jawab Salman tenang tanpa menghentikan gerakannya.
Jono hanya mengangguk kagum, mengakui kebenaran logika berpikir rekan barunya itu.
Salman mulai bekerja keras. Ia menarik selang udara tebal dan mengambil impact wrench pneumatik berukuran besar yang sudah tersambung langsung dengan kompresor utama bengkel. Suara jedug-jedug-jedug berfrekuensi tinggi langsung menggema di ruangan saat Salman mulai menghajar baut-baut baja pengikat roda. Tubuh Salman tampak menegang, otot-otot lengannya mengeras menahan getaran hebat dari alat bertenaga angin tersebut.
Setelah seluruh komponen roda dan sambungan tengah terlepas, Jono kembali mendekat. Salman mengambil sebatang kapur putih dari kantong wearpack-nya, lalu membuat beberapa garis tegas di atas permukaan besi sasis yang patah.
"Nah, dari batas kapur ini, kamu gerinda dulu sampai bersih. Setelah itu buat bevel (kemiringan sudut potongan) di sepanjang retakan. Kasih renggang sedikit, kira-kira seukuran diameter elektroda las yang mau kita pakai," urai Salman sambil menunjuk detail garisnya.
Jono menyimak dengan saksama seperti seorang murid yang mendengarkan gurunya.
"Setelah kamu tack weld (las titik) buat ngunci posisinya, jangan lupa pakai waterpas biar sasisnya benar-benar sejajar tegak lurus. Ujungnya kamu tack lagi, baru lakukan pengelasan posisi 3G (vertikal). Cukup main di jalur root (akar las) sama capping (penutup atas) aja," lanjut Salman dengan instruksi yang sangat spesifik. "Nanti setelah jalurnya matang, kamu ambil satu plat tebal 5 milimeter buat lapisan penguat di bagian dalam sasis."
"Ada dua opsi buat ngunci plat penguat itu," Salman menegakkan dua jarinya. "Kamu bisa pakai baut baja buat pengunci tambahan, atau kita seka penuh pakai las.
"Jono menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perbaikan sasis truk emang seribet ini ya, Man, kalau mau awet?"
Salman tersenyum tipis, mengeluarkan pemantik dan menyalakan sebatang rokok untuk melepas penat sejenak. "Kalo gak dilapis plat dalam kayak gitu, paling sebentar lagi truk ini bakal balik lagi ke bengkel dengan kerusakan yang sama.
Bisa-bisa bengkel kita kena komplain besar dari juragan pemilik truk.
"Di dalam ruang kantor yang sejuk, Anita masih belum beranjak dari depan layar monitor CCTV. Pandangannya tidak lepas dari sosok Salman yang sedang memberikan instruksi teknis dengan begitu matang dan percaya diri.
Anita menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Sebuah senyuman tipis penuh kepuasan kembali mengembang di wajahnya. Ia tahu, keputusan instannya untuk menerima pemuda desa sebatang kara ini bekerja di bengkelnya adalah sebuah keuntungan besar yang tidak disengaja.