Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Dunia Ternyata Sempit
Sejak pertemuan di ruang rapat kemarin, Naira membuat satu keputusan penting. Ia harus menghindari Mikael Arsen. Mikael terlalu menyebalkan. Dan Naira tidak punya cukup kesabaran untuk berhadapan dengan orang seperti itu setiap hari.
Pagi-pagi sekali, Naira sudah tiba di butik. Ia meletakkan tas di meja kerjanya, kemudian membuka laptop. Dinda datang membawa beberapa berkas.
"Naira."
"Iya, Bu?"
"Besok kamu ikut saya ke Arsen Group."
Jari Naira yang sedang mengetik langsung berhenti. "Arsen Group?"
Dinda mengangguk. "Ada revisi desain. Mereka ingin membicarakannya langsung."
Naira menelan ludah. "Harus saya yang ikut, bu?"
"Justru iya, kan kamu yang membuat desainnya."
"Tapi..."
Dinda mengangkat alis. "Kenapa, Naira. Apakah ada masalah?"
Naira menggeleng cepat. "Tidak apa-apa." Ia tersenyum kaku. "Besok saya akan ikut."
Dinda pergi. Naira bersandar di kursinya. "Ya ampun..."
Ia baru saja berjanji pada dirinya sendiri untuk menghindari Mikael. Ternyata dunia justru memaksanya bertemu pria itu lagi.
Keesokan harinya, Naira tiba di Arsen Group bersama Dinda. Begitu memasuki lobi, ia langsung berharap tidak bertemu Mikael. Mereka naik lift menuju lantai atas. Pintu lift terbuka. Seorang sekretaris menyambut mereka.
"Selamat pagi, Bu Dinda. Nona Naira."
"Selamat pagi."
"Pak Mikael sudah menunggu di ruang rapat."
Naira tersenyum tipis. Tentu saja. Siapa lagi?
Ia masuk ke ruang rapat dengan wajah tenang. Namun begitu melihat Mikael duduk di ujung meja, langkahnya melambat. Mikael sedang membaca dokumen. Ia mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Selamat pagi, Nona Galak."
Naira langsung memasang wajah datar. "Selamat pagi, Pak Menyebalkan."
Dinda menoleh cepat. ''Naira. Tidak boleh begitu.''
Mikael justru tertawa. "Tidak apa bu Dinda. Justru itu bagus."
"Apanya yang bagus?" ujar Naira kesal.
"Kamu sudah mulai punya panggilan khusus untukku."
"Itu bukan panggilan khusus."
"Lalu?"
"Deskripsi."
Dinda menahan senyum. Mikael menutup dokumen. "Saya suka."
Naira memutar mata.
Mereka mulai membahas revisi desain. Awalnya semuanya berjalan profesional. Mikael memberikan beberapa masukan. Naira menjelaskan pertimbangannya. Dinda ikut berdiskusi. Sampai Mikael menunjuk salah satu bagian sketsa.
"Kalau bagian ini dibuat sedikit lebih sederhana?"
Naira mendekat untuk melihat. "Kalau disederhanakan, karakter desainnya hilang."
"Kalau tetap seperti ini, biaya produksinya terlalu tinggi."
Naira berpikir. "Kalau bahannya diganti?"
"Bisa juga."
"Potongannya tetap."
Mikael mengangguk. "Nah. Begitu."
Naira menulis catatan. Mikael memperhatikannya. "Kamu kalau sedang bekerja ternyata serius juga."
Naira berhenti menulis. "Memangnya selama ini saya seperti apa?"
"Galak."
Naira menghela napas. "Saya sedang bekerja, Pak Mikael."
"Aku tahu."
"Kalau begitu jangan menggangguku."
"Aku tidak mengganggumu, nona galak."
"Kamu sedang mengganggu."
Mikael tersenyum. "Baik."
Ia kembali melihat dokumen. Beberapa detik kemudian...
"Naira."
"Apa?"
"Kamu marah?"
Naira menatapnya. "Tidak."
"Yakin?"
"Iya."
"Kelihatannya marah."
"Saya memang begini."
Mikael tersenyum. "Itu yang lucu."
Naira menatapnya tidak percaya. "Apanya yang lucu?"
"Kamu."
Naira menggeleng. "Sudah, saya tidak mau bicara denganmu."
Mikael tertawa kecil. "Ok."
--------------
Setelah pertemuan selesai, Naira dan Dinda kembali ke butik. Namun masalahnya belum selesai. Sore itu Dinda menerima telepon.
"Naira, besok kamu harus kembali ke sana."
Naira yang sedang menyusun kain langsung menoleh. "Lagi bu?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Mereka ingin melihat beberapa alternatif desain."
Naira memejamkan mata. "Kenapa harus saya?"
Dinda tersenyum. "Karena desainmu bagus, Naira."
Naira tidak bisa membantah. "Baiklah bu."
Hari berikutnya. Dan hari berikutnya lagi. Naira mulai menyadari sesuatu. Arsen Group ternyata bukan sekadar klien. Perusahaan itu seolah menjadi bagian baru dari rutinitas hidupnya.
Dan hampir setiap kali ia datang, Mikael selalu ada. Kadang di ruang rapat. Kadang di lorong. Kadang bahkan muncul saat Naira sedang mengambil kopi. Seolah pria itu sengaja mencarinya.
Suatu siang, Naira sedang berdiri di depan mesin kopi. Ia memasukkan uang. Mesin tidak bekerja. Naira menekan tombol lagi. Tetap tidak bekerja.
"Kenapa sih?"
"Mesinnya rusak."
Naira terkejut. Ia menoleh. Mikael berdiri di belakangnya.
"Rusak lagi?"
"Iya."
Mikael mendekat. Ia menekan tombol yang sama. Mesin tiba-tiba menyala. Naira menatapnya.
"Bagaimana kamu bisa?"
"Teknik."
"Teknik apa?"
"Teknik tidak mudah marah."
Naira memelototinya. Mikael tertawa.
"Aku bercanda, Naira."
"Kamu memang menyebalkan."
"Ya. Aku tahu." jawab Mikael tersenyum jail.
Naira mengambil kopinya, kemudian berjalan pergi. Mikael mengikutinya.
"Kenapa pergi?"
"Karena saya mau kerja."
"Aku juga."
"Jangan ikuti saya."
"Kita menuju arah yang sama."
Naira berhenti. Mikael juga berhenti. Mereka saling menatap. Naira akhirnya menghela napas. "Baik."
Mereka berjalan berdampingan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Kemudian Mikael bertanya:
"Kamu menyukai Ravian?"
Langkah Naira berhenti. Mikael ikut berhenti. Wajah Naira berubah.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Aku hanya penasaran."
"Itu bukan urusanmu, Pak Mikael."
Mikael mengangguk. "Benar."
Ia tidak memaksa. Naira berjalan lagi. Namun pertanyaan itu terus terngiang di kepalanya.
------------
Sore hari, Naira sedang membereskan beberapa berkas ketika Ravian datang ke butik.
"Naira."
Naira menoleh. "Eh..Ravian?"
Ravian tersenyum. "Aku kebetulan lewat sini."
Naira mengangguk. "Oo..Ada apa, Ravian?"
"Aku mau melihat kabarmu."
Naira tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, Ravian."
Ravian memandangnya. "Kamu benar-benar baik?"
"Iya." Naira tersenyum.
Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara seseorang terdengar dari belakang.
"Naira."
Naira langsung menoleh. Mikael berdiri di pintu butik. Ravian melihatnya, kemudian tersenyum.
"Kalian ternyata sering bertemu ya."
Naira menghela napas. "Yah.. Karena pekerjaan."
Mikael berjalan mendekat. "Aku justru mau bilang hal yang sama, Rav."
Ravian tertawa. "Dunia memang sempit ya."
Mikael menatap Naira. "Atau mungkin memang sengaja."
Naira mengernyit. "Apa maksudmu?"
Mikael tersenyum. "Tidak ada kok."
Ravian memperhatikan keduanya. Entah kenapa, ada sesuatu dalam cara Mikael memandang Naira yang membuatnya sedikit penasaran. Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
-------------
Malamnya, Naira berbaring di tempat tidur. Hari ini terlalu banyak hal terjadi. Ravian datang. Mikael datang. Dan yang paling mengganggu, Mikael terus muncul di mana-mana. Naira menutup wajah dengan bantal.
"Kenapa dia sih?" Ia menurunkan bantal. "Kenapa harus selalu ada?"
Namun beberapa detik kemudian, ia tersenyum kecil ketika mengingat perkataan Mikael di lorong tadi.
Naira segera menggeleng. "Jangan." Ia menarik selimut. "Jangan mulai memikirkan dia."
Sementara itu, di apartemennya, Mikael sedang duduk di sofa sambil membuka laptop. Namun pikirannya justru melayang pada Naira. Perempuan itu mudah sekali marah. Mudah tersinggung. Dan terlalu jujur dalam menunjukkan ekspresi. Anehnya... Mikael menyukai semua itu.
Ponselnya berbunyi. Pesan dari Ravian.
"Kamu sering bertemu Naira akhir-akhir ini ya."
Mikael membaca pesan itu. Ia tersenyum. Kemudian membalas.
"Ya, aku sengaja, karena dia memang menarik untuk digoda."
Ravian membalas.
"Jangan macam-macam."
Mikael tertawa kecil. "Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Mikael meletakkan ponselnya. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya, Apa sebenarnya hubungan Naira dan Ravian? Dan kenapa setiap kali nama Ravian disebut, ekspresi Naira selalu berubah?
mudah2an cocok 💪