Indonesia
NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Rencana

Pagi hari di rumah Aluna, gadis itu mengerjapkan matanya yang masih terasa berat sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Ia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri pagi itu.

Setelah selesai, Aluna bergegas turun untuk sarapan. Baru saat menuruni tangga, ia teringat kalau siang nanti dirinya sudah berjanji untuk menemani Lila pergi ke suatu tempat.

“Sarapan, Aluna,” ajak Mamanya yang masih duduk di meja makan.

“Iya, Ma.”

Aluna segera menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Ia lalu memperhatikan suasana rumah yang tampak cukup sepi. Meski begitu, beberapa piring bekas makanan masih terlihat berada di atas meja.

“Yang lain ke mana, Ma?” tanyanya sambil meraih sepotong roti dan mengoleskan selai cokelat di atasnya.

“Sudah berangkat ke kantor semua. Katanya ada klien penting hari ini, jadi pada buru-buru.”

Mamanya menjawab sambil asyik memainkan ponselnya. Sesekali, wanita itu menggigit roti yang ada di tangan kanannya.

Aluna hanya mengangguk pelan. Pikirannya mulai membayangkan bagaimana jika dirinya juga memiliki kesibukan seperti Papa dan kedua kakaknya.

Tanpa sadar, pandangannya beralih pada Mamanya yang tampak begitu santai pagi itu.

“Ma...” panggil Aluna.

“Kenapa, Sayang?”

Mamanya langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap putri semata wayangnya itu.

Tatapan Mamanya justru membuat Aluna sedikit ragu untuk menyampaikan apa yang sejak tadi ada di pikirannya. Namun, keinginannya sudah terlalu kuat. Akhirnya, ia pun memberanikan diri.

“Aluna mau kerja juga. Aku bosan cuma tinggal di rumah.”

Alis Mamanya langsung bertaut.

“Kan nggak harus di rumah terus, Aluna. Kamu bisa keluar shopping, ke kafe, atau ketemu teman-teman kamu. Pak Supir juga siap dua puluh empat jam buat antar kamu ke mana pun.”

Jawaban klasik.

Jawaban yang sudah terlalu sering Aluna dengar setiap kali membicarakan keinginannya untuk bekerja atau melakukan sesuatu sendiri.

Mamanya seolah tidak habis pikir dengan keinginan anak bungsunya itu. Sudah diberikan kehidupan yang nyaman, tetapi justru ingin mencoba dunia di luar sana.

“Aluna bosan, Ma. Aluna juga risih harus selalu diantar ke mana-mana.”

“Kita cuma khawatir sama kamu. Lihat saja kemarin, kamu sampai nabrak teman Kak Abra.”

“Nggak sengaja, Ma.”

“Apapun itu, nggak ada lagi izin nyetir sendiri, ya. Papa sudah bekerja keras buat masa depan kalian. Papa nggak akan tega lihat tuan putri kesayangannya harus kerja keras.”

“Kak Abra sama Kak Andrew juga kerja, kok.”

“Beda, Aluna. Mereka nanti akan jadi kepala keluarga, tentu saja harus bekerja.”

“Terus kalau Aluna?”

Mamanya tersenyum lembut.

“Kamu nanti akan jadi istri seseorang. Papa dan Mama juga nggak mungkin melepas kamu ke orang yang tidak tepat. Kami selalu mengusahakan yang terbaik buat kamu. Belum lagi warisan dari Kakek dan Nenek yang sudah diberikan untuk kamu. Semuanya sudah dipersiapkan untuk masa depan kamu.”

“Tapi, Ma...”

“Sudah, lanjutkan sarapannya.”

Aluna menghela napas panjang.

Bukan sekali atau dua kali ia membicarakan keinginannya untuk melakukan sesuatu sendiri. Namun, hasilnya selalu sama.

Semua orang di rumah ini menganggap Aluna sebagai gadis yang harus terus dilindungi.

Padahal, jauh di dalam hatinya, Aluna hanya ingin memiliki kesempatan untuk menjaga dirinya sendiri. Ia ingin melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri dan menghasilkan sesuatu yang benar-benar berasal dari usahanya.

Ia jadi teringat pada keinginannya beberapa waktu lalu untuk pindah dan belajar hidup sendiri di sebuah apartemen.

Hari itu, Papa dan Mamanya bahkan hampir saja menampar Andrew karena kakak keduanya itulah yang membuat Aluna ingin pergi dari rumah.

Namun, meski sudah mendapat teguran dari orangtuanya, sifat Andrew pada Aluna tetap tidak berubah.

Bahkan, kehadiran kakaknya itu justru semakin sering membuat Aluna merasa sesak jika harus bertemu dengannya setiap hari.

***

Siang hari di sebuah kafe.

Saat jam istirahat kantor, Aluna langsung menyeruput minumannya melalui sedotan hingga isinya tinggal setengah gelas. Ia melakukannya seperti orang yang baru saja berjalan di tengah padang pasir.

“Haus banget, Al?” tanya Lila yang duduk di hadapannya.

Aluna hanya mengangguk sebelum kembali menyeruput minumannya.

“Kalem, dong. Lo dari mana sampai kehausan begitu?”

Aluna tidak langsung menjawab. Ia malah kembali mengangkat tangan dan memanggil waitress yang kebetulan sedang lewat.

“Kak, saya pesan minuman yang sama satu lagi ya.”

“Baik, Kak.”

Setelah waitress itu pergi, Lila kembali menatap sahabatnya dengan tatapan penuh tanya.

“Lo kenapa, sih?”

Aluna akhirnya meletakkan gelasnya.

“Gue gerah, Lila. Muak tau, gini terus.”

Lila langsung sedikit memajukan tubuhnya. Ia sudah cukup mengenal Aluna dan tahu kalau sahabatnya itu sedang membutuhkan tempat untuk meluapkan sesuatu.

“Kenapa lagi? Andrew berulah lagi? Masih berani juga dia.”

Lila memang cukup tahu tentang masalah Aluna dengan kakak keduanya itu. Selama ini, dialah salah satu orang yang paling nyaman dijadikan tempat Aluna bercerita.

Namun, kali ini Aluna justru menggelengkan kepalanya.

“Bukan. Mama nolak lagi waktu gue bilang mau coba kerja. Gue jenuh di fase ini terus, Lila.”

Lila terdiam beberapa detik.

Kemudian, ia justru menatap Aluna dengan ekspresi tidak percaya.

“Ada, ya, orang jenuh jadi princess? Gue aja pengen banget hidup kayak lo.”

Aluna langsung berdecak kesal.

“Gue malah pengen kayak lo. Bebas dan bisa nentuin hidup lo sendiri.”

Lila terdiam sejenak, membiarkan Aluna menikmati rasa jenuhnya.

Ia meraih gelas minumannya yang masih hampir penuh dan menyeruput sedikit isinya.

“Capek tau, Al, banting tulang buat biayai diri sendiri.”

“Mending jadi princess kayak lo. Nggak perlu kerja, pegangan ada, warisan ada, semuanya udah ada.”

Nada suara Lila terdengar setengah bercanda, tetapi Aluna tahu kalau sahabatnya itu juga sedang menyampaikan kenyataan.

“Dih, keluarga lo juga kaya, kok,” cibir Aluna.

“Tapi nggak sekaya lo, Al. Keluarga gue walaupun berada, tetap aja gue harus bisa hidupin diri sendiri. Saudara gue juga banyak.”

Aluna memang sudah tahu keadaan keluarga Lila.

Tidak seperti dirinya yang merupakan satu-satunya anak perempuan dan mendapat perlakuan istimewa dari seluruh keluarga, Lila harus belajar berjuang berdiri di atas kakinya sendiri.

Aluna mulai memainkan sedotan di dalam gelas kosong yang ada di hadapannya.

“Pusing gue, Lila.”

Lila bisa mendengar rasa frustasi dari suara sahabatnya itu.

“Kenapa nggak lamar kerja diam-diam aja, Al?”

Aluna langsung menatapnya datar.

“Gue sih udah mikirin. Tapi taulah, Mama pasti nyariin kalau misalnya gue kerja terus dapat lembur.”

Saran Lila sebenarnya sudah beberapa kali terlintas di pikiran Aluna.

Namun, ia yakin keluarganya akan segera mengetahui apa yang ia lakukan.

Bukan cepat atau lambat.

Tapi secepat mungkin.

Lila tiba-tiba tersenyum seperti baru mendapatkan sebuah ide.

“Bisa diakali itu, Al. Sekarang kan udah ada Rafa.”

Aluna mengerutkan keningnya.

“Maksud lo?”

“Lo bisa minta bantuan dia buat bilang sama Mama lo kalau lo lagi keluar sama dia. Kan Mama lo percaya banget sama Rafa.”

Aluna terdiam.

Tatapannya berubah seolah baru saja menemukan jawaban dari masalah yang selama ini membuatnya pusing.

“Iya juga, ya.”

Lila tersenyum lebar melihat ekspresi Aluna.

“Gue nggak kepikiran.”

“Makanya jangan terlalu banyak mikir.”

“Gue yakin kalau nama Rafa yang gue jual, pasti laku di orangtua gue.”

Kali ini Aluna ikut tersenyum lebar.

Entah bagaimana, membayangkan dirinya bisa sedikit lebih bebas dengan bantuan Rafa sudah cukup membuatnya merasa bersemangat.

“Satu masalah udah ketemu solusinya,” ujar Lila. “Sekarang masalah kedua. Lo mau kerja di mana?”

Ekspresi Aluna langsung berubah.

“Bagusnya di mana, ya, La?”

Lila tertawa kecil.

“Ya ampun, gue kira lo udah punya rencana.”

“Belum.”

“Kita kan lulusan Manajemen Pemasaran. Coba deh lamar posisi manajemen pemasaran di perusahaan mana aja.”

Aluna terdiam sejenak.

“Gue bisa nggak, ya? Gue nggak punya pengalaman kerja.”

Untuk pertama kalinya, rasa percaya dirinya sedikit goyah.

Sejak lulus kuliah, Aluna memang belum pernah benar-benar bekerja.

“Chill aja. Lo pinter ini.”

Lila sama sekali tidak meragukan kemampuan sahabatnya itu. Ia sudah mengenal Aluna sejak lama dan tahu betul bagaimana cerdasnya gadis itu sejak SMA.

Kata-kata tersebut sedikit demi sedikit membuat Aluna kembali percaya pada dirinya sendiri.

“Gue jadi nggak sabar.”

“Nanti gue hubungi Rafa deh buat minta tolong soal yang kita omongin tadi.”

“Ohiya!” Lila tiba-tiba teringat sesuatu. “Rafa kan wakil direktur sekarang. Kenapa lo nggak minta kerja di perusahaannya aja?”

“Nggak mungkin, La.”

“Kenapa?”

“Perusahaan Papanya Rafa sama perusahaan Papa gue itu mitra bisnis. Kalau gue kerja di sana, yang ada gue ketahuan sama Papa atau kakak-kakak gue.”

Lila langsung mengangguk mengerti.

“Iya juga, ya.”

“Makanya nggak bisa.”

“Ya udah, lo buat CV dulu. Masalah kantornya, biar gue bantu cari lowongan juga.”

Wajah Aluna langsung berbinar.

“Asik! Thanks, ya, La.”

Ia menepuk-nepuk punggung tangan Lila yang berada di atas meja dengan antusias.

“Iya, iya. Anak CEO yang mau menyamar.”

“Bisa aja lo.”

Aluna tersenyum begitu lebar hingga Lila akhirnya ikut tersenyum melihat antusiasme sahabatnya itu.

“Lo yang bisa aja. Hidup udah seenak itu malah mau nyobain dunia yang keras ini.”

Lila menggelengkan kepalanya pelan.

“Kayak di drama china aja.”

“Ya biarin. Gue penasaran.”

“Gue tunggu aja nanti berapa lama lo kuat.”

“Jahat banget lo.”

“Bukan jahat, realistis.”

Keduanya akhirnya tertawa bersama.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aluna merasa memiliki sesuatu yang bisa dinantikan.

Mungkin jalan menuju kebebasan yang ia inginkan masih panjang.

Mungkin keluarganya juga tidak akan pernah benar-benar setuju dengan keinginannya.

Tapi kali ini, Aluna ingin mencoba.

Setidaknya sekali dalam hidupnya, ia ingin mengetahui bagaimana rasanya berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan untuk mewujudkan itu, sepertinya ia harus mulai menyusun rencana dari sekarang.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!