Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
Pagi itu, Zevanna melangkah menuju meja administrasi dengan perasaan gelisah gara-gara kepikiran kata-kata Andrew kemarin sore.
Orang yang kelihatan paling jujur.
"Apa maksud dia, ya?" Batin Zevanna.
Dari kejauhan, Zevanna merhatiin Fika yang kelihatan gelisah di mejanya sambil terus-terusan melirik ke arah lorong VIP.
Tisha menghampiri Zevanna. "Zev!”
Zevanna menengok dan menatap Tisha. "Apaan?"
"Katanya persiapan gladi bersih panggung utama harus dicek ulang pagi ini,” kata Tisha.
Zevanna mengerutkan keningnya. "Hah? Dicek lagi?"
Tisha mengangguk. "Iya, kemarin ada kesalahan. Jadi disuruh cek ulang,” jelasnya.
Zevanna mendengus kecil.
Tisha menatap muka temannya itu. "Lo kenapa, Zev? Kok kayak banyak pikiran gitu?!"
Zevanna menggeleng cepat. "Nggak papa, ayo katanya mau ke panggung utama."
Mereka berdua pun berjalan menuju koridor menuju panggung utama. Pas lagi jalan, Zevanna berpapasan sama Ravenzo yang didampingi Arvin.
Ravenzo melirik Zevanna, ia sadar raut muka gadis itu agak pucat.
"Tunggu,” kata Ravenzo mendadak.
Zevanna dan Tisha langsung berhenti.
Zevanna menatap Ravenzo ragu. "Ada apa, Pak?"
"Muka kamu kenapa pucat?" Tanya Ravenzo datar.
Zevanna mengangkat alisnya, memegang pipinya sendiri. "Nggak kok, Pak. Muka saya biasa aja.”
"Kamu kurang tidur?"
Zevanna terdiam sejenak.
"Zevanna." Panggil Ravenzo agak tinggi.
Zevanna tersentak lalu maksain senyum. "Iya, Pak. Saya cuma kecapean aja ini."
Ravenzo menatap manik mata Zevanna tajam. "Jangan terlalu banyak ikut campur urusan yang bukan tugas kamu."
Zevanna tersentak mendengar kalimat dari Ravenzo yang merasa menusuk.
Apa dia tahu soal penyelidikan gue?
Ravenzo langsung pergi begitu saja bersama Arvin, meninggalkan Zevanna yang mematung bingung.
"Kok dia ngomong gitu ya ke gue?" Gumam Zevanna heran.
"Ya mungkin pak CEO cuma kasih tau ke lo aja, biar jangan ikut campur sama urusan orang lain,” sahut Tisha.
"Tapi kan gue cuma cari tau soal kematian kakak gue di sini,” bisik Zevanna pelan.
"Makanya lo harus hati-hati! di sini bisa aja jadi tersangka, kalau lo ketahuan. Yang ada nanti orang-orang sini tau kalau lo kerja di sini cuma buat mata-matai orang, lo bisa kena masalah besar!” Kata Tisha mengingatkan.
Zevanna terdiam beberapa detik. Sebelum tangannya ditarik Tisha.
"Udah ayo, malah ngelamun lo." Kata Tisha.
"Eh, iya. Kebiasaan lo narik-narik tangan gue!" Gerutu Zevanna sambil kembali berjalan di samping Tisha.
"Ya lo malah ngelamun mulu tadi, awas nanti kalau kebanyakan ngelamun, bisa kerasukan sama penunggu sini baru tahu rasa, lo!" Ucap Tisha iseng menakuti Zevanna.
Zevanna mendecih kecil. "Dih, gue kerasukan? Mungkin lo yang kerasukan penunggu sini."
"Oh iya, ya. Lo kan nggak bisa kesurupan soalnya lo setannya. Hahaha!" Tisha tertawa membuat Zevanna berdecak.
"Sialan lo!"
Akhirnya mereka berdua sampai di panggung utama.
"Eh, Tis. Gue mau nemuin, Mbak Hesa dulu, ya." Kata Zevanna.
Tisha mengangguk. "Oke deh."
Zevanna berjalan menuju area panggung utama.
Dari kejauhan, ia melihat Hesa sedang berdiri di samping panggung bersama Meisya.
Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu dengan serius.
Hesa sesekali menunjuk ke arah panggung, sementara Meisya terlihat memegang beberapa lembar jadwal di tangannya.
Zevanna memperlambat langkahnya.
Mereka lagi ngomongin apa, ya?
Namun, sebelum Zevanna sempat mendengar percakapan mereka, Hesa tiba-tiba menoleh dan menyadari keberadaannya.
Tatapan Hesa dan Zevanna bertemu.
Hesa langsung menghentikan pembicaraannya. Meisya pun ikut menoleh.
Suasana yang tadinya terlihat serius mendadak terasa canggung.
Zevanna yang menyadari hal itu mengerutkan kening.
"Eh..." Zevanna menghampiri mereka. "Mbak Hesa."
Hesa berusaha memasang wajah biasa. "Oh, Zevanna. Sini."
Zevanna berjalan mendekat. "Tadi lagi ngomongin apa, Mbak?" tanyanya spontan.
Meisya dan Hesa saling melirik sebentar.
"Enggak ngomongin apa-apa," jawab Hesa cepat.
Zevanna semakin mengernyitkan kening.
Tadi kayaknya mereka serius banget.
Meisya kemudian menyerahkan lembaran jadwal yang ada di tangannya kepada Zevanna. "Nih. Jadwal gladi bersihnya."
Zevanna menerima lembaran itu.
"Nanti kamu cek lagi. Ada beberapa bagian yang harus disesuaikan." Nada bicara Meisya terdengar agak judes.
"Oh... iya, Mbak."
Meisya mengangguk singkat. "Kalau gitu gue tinggal dulu."
Meisya langsung berjalan meninggalkan mereka.
Zevanna memperhatikan kepergian Meisya beberapa detik. Kemudian ia menoleh kepada Hesa.
"Mbak..."
"Hm?"
"Tadi kalian beneran nggak ngomongin apa-apa?" Tanya Zevanna.
Hesa terdiam sejenak. "Iya. Cuma masalah persiapan acara."
Zevanna masih menatapnya dengan curiga, tetapi akhirnya mengangguk. "Oh. Oke." Dia berdehem kecil sebelum bertanya lagi. "Mbak Hesa dulu deket banget ya sama Mbak Zoyya?"
Deg!
Hesa tersentak hebat, raut wajahnya langsung berubah panik, jarinya gemeteran pas megang kabel audio.
"E-eh, aku... aku mau ke toilet dulu, kebelet!” Kata Hesa langsung pergi dari panggung, membuat Zevanna mengernyitkan kening.
Hesa langsung ngacir gitu aja, ninggalin Zevanna yang makin bingung.
Zevanna masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung Hesa yang semakin menjauh.
Kalau emang nggak ada apa-apa, kenapa dia langsung kabur?
Zevanna kembali mengingat ekspresi Hesa ketika nama Kak Zoyya disebut. Wajahnya langsung berubah panik, bahkan tangannya sampai gemetar.
Mbak Hesa tahu sesuatu, tapi kenapa dia se-takut itu?
Zevanna menghela napas pelan.
Gue harus cari tahu pelan-pelan.
Zevanna kemudian kembali melihat ke arah panggung, lalu ia pergi dari sana dan hendak kembali ke meja administrasi.
Dari celah loker, Zevanna melihat Fika mengeluarkan sebuah syal
Zevanna langsung terdiam.
Warna dan modelnya mengingatkannya pada syal yang dulu sering dipakai Kak Zoyya.
Eh? Syal itu kan...
Zevanna menghampiri Fika. "Mbak Fika." Panggilnya membuat Fika terkejut setengah mati lalu menoleh.
"Zevanna?" Fika refleks menyembunyikan syal itu ke dalam loker lalu menguncinya rapat-rapat.
"K-kamu ngapain disini? Bikin kaget aja , tau nggak!" Kata Fika dengan suara agak tinggi membuat Zevanna tersentak.
"Aku tadi cuma lewat, Mbak." Jawab Zevanna.
Fika menatap Zevanna sekilas, lalu berjalan cepat meninggalkan area loker kantor.
Zevanna menatap punggung Fika yang menjauh sambil mengerutkan keningnya.
"Tadi dia megang syal, terus pas gue panggil. Kaget, marah, dan pergi. Nggak jelas banget tuh orang." Gumam Zevanna melihat loker milik Fika.
***
Jam istirahat tiba, setelah Zevanna selesai mengerjakan tugasnya tadi.
Sekarang Zevanna dan Tisha sedang di pantry. Menikmati makanannya.
Zevanna mengaduk minumannya. "Tis!"
Tisha yang sedang fokus ke layar ponselnya langsung menoleh kearahnya. "Apa, Zev?"
"Gue curiga." Jawabnya singkat.
Tisha mengerutkan keningnya. "Curiga sama siapa?"
"Sama semua orang disini." Kata Zevanna. "Tadi gue nanya sama Mbak Hesa. Dia tiba-tiba kaget pas gue nanya soal kak Zoyya, terus gue juga liat Mbak Fika di area loker. Dia ngeluarin syal yang sama kayak punya kak Zoyya."
Tisha langsung menghentikan gerakan tangannya.
Tisha menghentikan gerakan tangannya. "Lo yakin syalnya sama?"
"Yakin banget! Gue masih inget warna sama modelnya."
Tisha menghela napas. "Tapi Zev... syal mirip kan belum tentu punya Kak Zoyya."
Zevanna mengernyit dahinya. "Terus kenapa Mbak Fika langsung panik pas gue panggil?"
"Bisa aja dia kaget gara-gara lo muncul mendadak." Tisha menaruh ponselnya di atas meja.
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan, "Tapi kalau Mbak Hesa ikut panik pas lo nyebut nama Kak Zoyya... itu emang agak aneh sih."
"Nah, kan! Bener kata gue!"
Tisha langsung menunjuk Zevanna. "Tapi inget, jangan langsung asal nuduh. Lo belum punya bukti kuat."
Zevanna menghela napas. "Iya juga sih..."
"Kalau nemu hal aneh, simpen dulu. Jangan langsung confront orangnya.”
Zevanna mengangguk pelan. "Oke."
Tisha kembali mengambil ponselnya. "Tapi gue penasaran juga..."
Zevanna menoleh. "Penasaran apaan?"
Tisha menatap Zevanna dengan ekspresi berpikir. "Kalau bener semua orang di sini kayaknya tahu sesuatu soal Kak Zoyya..."
Ia berhenti sejenak. "...kenapa nggak ada satu pun yang mau ngomong?"
Zevanna langsung terdiam. Pertanyaan Tisha membuat pikirannya kembali berputar.
Zevanna berdiri di dekat jendela pantry, menyandarkan tubuhnya sambil menatap halaman luar kantor.
Pikirannya kembali memutar semua kejadian yang terjadi hari ini.
Sikap Fika yang panik. Reaksi Hesa saat nama Kak Zoyya disebut. Pesan misterius yang pernah muncul di HP Meisya. Perkataan Andrew yang penuh teka-teki. Bahkan peringatan Ravenzo tadi pagi.
Semuanya terasa seperti potongan-potongan kecil yang belum berhasil ia susun menjadi satu.
Zevanna mengepalkan tangannya perlahan.
Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan dari gue?
Ia menghela napas pelan.
Untuk pertama kalinya, Zevanna merasa bahwa semakin ia mencoba mencari tahu tentang kematian Kak Zoyya, semakin banyak hal aneh yang justru muncul di hadapannya.
Dan ia belum tahu...
apakah semua kejanggalan itu memang saling berhubungan, atau hanya kebetulan yang membuatnya semakin curiga.
Gue harus cari tahu semuanya.
Bersambung…