Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempatku Mencurahkan Luka

“Kamu siapa, hah?!” bentak Bu Riana.

Kansa melepaskan tangan wanita itu perlahan, lalu menjawab dengan suara tenang tetapi tegas.

“Atasannya Raya.”

Bu Riana mengusap pergelangan tangannya sambil mendengus kesal.

“Oh, kebetulan sekali.” Ia langsung menunjuk ke arah Raya. “Menantu saya ini sangat kurang ajar kepada mertuanya. Dia bahkan nggak mau mengirimkan saya uang!”

Raya menundukkan kepala. Merasa tidak nyaman ketika persoalan keluarganya dibicarakan di depan atasannya.

Namun, suara Kansa kembali terdengar.

“Kita bicarakan ini dengan pengacara,” katanya datar. “Biar semuanya jelas. Apakah seorang menantu memang wajib memberikan uang kepada mertuanya atau tidak.”

Ucapan Kansa mampu membuat ibu mertuanya langsung terdiam sesaat.

“Kamu—”

“Raya, masuk ke dalam duluan, saya akan menyusul,” sela Kansa sebelum wanita itu melanjutkan ucapannya.

“Tapi Pak—”

“Raya Kirana Adisty.”

Raya mengangguk saat nama panjangnya di sebut dalam nada yang menekan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Raya segera berjalan meninggalkan Kansa dan berjalan menuju pintu masuk gedung. Ia berusaha tidak menoleh meskipun suara ibu mertuanya masih terdengar dari belakang, terus-menerus melontarkan berbagai cacian kepadanya.

Raya mengepalkan jemarinya di sisi tubuh.

.

Kansa masih berdiri di tempatnya. Pandangannya mengikuti langkah Raya yang semakin menjauh hingga perempuan itu akhirnya masuk ke dalam gedung.

Barulah Kansa mengalihkan pandangannya.

Di hadapannya, wanita paruh baya itu masih berdiri angkuh dengan wajah penuh kemarahan. Berbagai ucapan terus dilontarkannya pada asistennya, Raya, seakan kehadiran orang-orang di sekitar tidak cukup untuk membuatnya berhenti.

Kansa mengembuskan napas pelan.

‘Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka, tetapi wanita ini sudah keterlaluan.’

Ia memasukkan satu tangan ke saku celananya, kemudian menatap wanita itu dengan wajah datar.

“Saya tidak berhak mencampuri masalah keluarga kalian,” ujar Kansa tenang. “Tapi ini area perusahaan milik saya. Jadi, sekarang pergi dari hadapan saya atau saya minta satpam untuk menyeret Anda keluar.”

Wanita itu justru mendengus kesal.

“Terus saja membela wanita itu! Anda nggak tahu bagaimana sikapnya kepada putra saya dan saya, ibu mertuanya!”

Kansa menatapnya tanpa menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi.

“Saya tidak peduli.”

Jawaban singkat itu membuat wanita tersebut kembali membuka mulut.

“Kamu—lihat saja! Kamu akan menyesal karena nggak mendengarkan ucapanku! Kamu meminta maaf seribu kali pun, aku nggak akan sudi memaafkan mu!”

Kansa tidak membalas.

Ia hanya mengalihkan pandangan ke arah dua satpam yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pos penjaga. Dengan satu anggukan kecil, ia memberikan isyarat kepada mereka.

“Usir wanita ini.”

Kedua satpam itu segera berjalan mendekat.

“Ayo, Bu. Silakan keluar dari area perusahaan,” ujar salah satu dari mereka.

“Lepas!” bentak wanita itu sambil berusaha menarik lengannya. “Kalian nggak tahu saya siapa?!”

Kedua satpam tetap membawa wanita itu menjauh.

“Anak saya supervisor di Unilever, dan suami saya pensiunan!” teriaknya keras. “Hei! Lepaskan saya!”

Suara wanita itu terus terdengar hingga semakin jauh dari posisi Kansa.

Kansa hanya berdiri sambil menatapnya dengan dingin sampai akhirnya wanita tersebut dibawa keluar dari area gedung.

‘Menyebalkan.’

Kansa kemudian membenahi jasnya sebelum berbalik.

Tanpa menghiraukan lagi keributan yang terjadi di belakangnya, ia melangkah masuk ke dalam gedung.

.

Sementara itu, setelah Raya memasuki ruangan kerja Kansa. Pintu tertutup di belakangnya, menyisakan suasana yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.

Raya duduk di salah satu kursi di depan meja kerja Kansa. Laptop di hadapannya sudah menyala, tetapi sejak tadi tidak ada satu pun pekerjaan yang benar-benar ia selesaikan.

Tatapannya memang tertuju pada layar, tetapi pikirannya masih tertinggal pada kejadian di luar tadi.

Ucapan ibu mertuanya kembali terngiang di kepalanya. Tuntutan demi tuntutan tentang uang yang selama ini selalu ia berikan, seolah penghasilannya adalah hak yang bisa diminta kapan saja.

Raya mengembuskan napas panjang.

‘Jadilah menantu yang kuat, lawan lah bila harga diri kita di injak, apalagi sampai kita nggak punya harga diri lagi di keluarga suami.’

Ia mengusap pelipisnya perlahan, berusaha mengembalikan konsentrasi pada pekerjaan.

Dan baru saja jarinya hendak menyentuh papan ketik, suara pintu terbuka membuatnya tersentak.

Raya mengangkat wajah.

Kansa masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu di belakangnya.

“Apa yang terjadi sehingga ibu mertuamu datang ke perusahaan?” tanyanya.

Raya menoleh sekilas sebelum kembali mengarahkan pandangan ke layar laptop.

“Tidak ada apa-apa, Pak,” jawabnya pelan. “Hanya saja, ibu mertua saya marah karena mulai hari ini saya tidak memberikan uang kepadanya.”

Kansa berhenti beberapa langkah dari meja.

“Bagus. Saya mendukung keputusanmu.”

Raya perlahan mengangkat wajah. Tatapannya tertuju kepada pria itu. Ada sedikit kelegaan yang muncul karena baru kali ini ada seseorang tidak menyalahkannya atas keputusan yang ia ambil.

Raya menundukkan pandangan. “Pak...”

“Hm?”

Raya menarik napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri menatap Kansa kembali.

“Apa saya boleh cerita, Pak?”

Kansa mengangguk. “Tentu saja.”

Raya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan.

“Saya cuma membutuhkan teman untuk curhat,” ujarnya lirih. “Saya yakin Anda mau mendengarkan cerita saya dan mungkin bisa memberikan saya solusi.”

“Silakan,” jawab Kansa. “Katakan saja.”

Raya kembali terdiam.

Ada keraguan yang sempat menahannya. Membicarakan masalah rumah tangganya kepada orang lain bukan sesuatu yang biasa ia lakukan.

Namun, kali ini rasanya ia sudah terlalu lelah untuk terus menyimpan semuanya sendirian. Jadi apa salahnya ia menceritakan semuanya.

Raya mengembuskan napas panjang.

“Sekitar dua hari yang lalu,” katanya akhirnya, “setelah kita pulang dari luar kota, saya mendapati suami saya menikah dengan adik saya.”

Kalimat itu terucap begitu saja. Raya menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan.

Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Kansa setelah mendengar pengakuannya.

Raya mulai menceritakan semua yang terjadi dua hari terakhir. Tidak ada satu pun yang ia sembunyikan.

Ia menceritakan bagaimana suaminya sendiri bertanggung jawab atas perbuatannya hingga Rara hamil.

Semakin banyak yang diceritakan, semakin sulit Raya menahan sesak di dadanya. Raya buru-buru mengusap pipinya dengan punggung tangan.

Namun, sebelum sempat menghapus seluruh air mata yang membasahi wajahnya, sebuah tangan terulur dan menyeka pipinya dengan lembut.

Raya terdiam sejenak sebelum akhirnya Ia perlahan mengadahkan kepalanya.

Tatapannya bertemu dengan Kansa.

Raya menelan ludah saat ia mendapati perhatian.

“Pak...” suaranya bergetar. “Saya harus bagaimana?”

Raya menundukkan wajahnya sejenak sebelum kembali menatap Kansa.

“Saya capek sekali, Pak. Tapi ... kenapa balasannya harus seperti ini?”

Ia menggeleng pelan. “Saya seperti memberi makan seekor ular.”

Tangannya mengepal di atas pangkuan.

Raya mengusap kembali air mata yang jatuh di pipinya.

“Saya tahu perjuangan kamu, Raya.”

Raya mengangkat wajah.

“Kalau kamu sudah tidak kuat menjalani pernikahan ini, lepaskan saja pria yang tidak bisa menjaga nafsunya, serta tak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab.”

Raya terdiam.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

‘Benar. Apalagi suami yang seharusnya melindungi istrinya ketika istrinya disudutkan oleh ibu mertua. Seharusnya ada suami yang berdiri di depan untuk melindungi istrinya.’

Raya menundukkan pandangan.

‘Namun, Mas Zevan? Dia sama sekali nggak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami yang melindungi istrinya dari kedzaliman mertua.’

Dadanya kembali terasa sesak, tetapi kali ini ia berusaha menahannya.

Raya mengangkat wajah, lalu mengangguk perlahan.

“Akan saya coba bertahan beberapa waktu,” ucapnya dengan suara lebih tenang. “Kalau ternyata saya sudah tidak sanggup lagi, saya akan menceraikan pria itu.”

Kansa kembali berkata dengan tenang, “Katakan saja kepada saya kalau kamu membutuhkan bantuan.”

Raya menatapnya beberapa saat.

Ada sedikit rasa lega yang muncul di dalam dirinya. Setidaknya, untuk kali ini, ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Raya mengangguk. “Siap, Pak.”

1
Tining Revi
makin seru thor.💪💪💪 lanjut
sunaryati jarum
Semoga Syla dapat pertolongan dan mukjizat maka sembuh.Rumah Raya langsung laku dan rencana mengusir suami,adik,ibu,dan ibu mertua berhasil dan lancar
sunaryati jarum
Emak sabar menunggu rumah Raya laku
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!