Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.
Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.
Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.
Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grup Chat Rusuh 25.
Malam itu, kamar berukuran dua kali tiga meter milik Mona terasa sepadat ruang sidang.
Di atas kasur busa yang sprei bermotif beruangnya sudah memudar, Mona duduk meringkuk.
Kedua lututnya didekap erat ke dada.
Lampu kamar sengaja dimatikan, menyisakan satu-satunya sumber cahaya yang berasal dari layar ponsel di genggamannya.
Layar itu berkedip tanpa henti, memantulkan cahaya putih yang pucat ke wajah Mona yang suntuk.
Di pojok kamar, Affan, sedang duduk di depan meja belajar. Punggung Affan tegap, fokus menatap layar laptop yang menampilkan materi olimpiade fisika. Tidak ada suara di antara mereka selain ketukan jemari Affan pada keyboard dan helaan napas Mona yang gemetar.
Ponsel Mona bergetar panjang. Sebuah notifikasi masuk. Grup WhatsApp angkatan SMA Pancasila yang biasanya hanya berisi info tugas atau patungan pensiun, malam ini masih betah menjadi ruang neraka jahanam.
Seseorang telah mengunggah foto lembar kartu keluarga dan foto pernikahan akad nikah Mona dan Affan yang digelar super rahasia di balai nikah kecamatan.
Dalangnya jelas, Rendy. Murid baru yang datang ke sekolah hanya untuk mona, atau untuk rusuh?
Mona menyentuh layar, membuka ruang obrolan yang kini anggotanya menyentuh angka seratus dua puluh orang.
Jantungnya berpacu liar saat membaca baris demi baris teks yang bergerak naik begitu cepat.
Rendy_XII-A: Bongkar sekalian lah, lanjut!. Dia di kelas malas belajar dapat nilai selalu dibawah rata-rata, Ternyata belajarnya satu ranjang, Bro. Tiap malam dapet tutor privat plus-plus. Kurikulum ranjang emang beda wkwk.
Dika_ XII-C: Seriusan itu dapat privat? Si Mona yang mukanya polos gitu udah sah jadi ibu rumah tangga? Pantesan akhir-akhir ini sering bolos jam pertama, capek ya abis dinas malam?
Rian_Fis XII-E: Binal banget anjir, masih berseragam tapi udah tahu rasanya malam pertama. Pihak sekolah kenapa ga langsung ngeluarin mereka sih? Masa siswi berstatus 'istri' boleh dapet kuota SNBP? Turunin lah nilai rapornya, gak adil buat yang jomblo dan belajar jujur!
Mona tersenyum, walau dadanya sesak mendapati kata baru selain "binal", yaitu "dinas malam", dan "tutor privat plus-plus" disematkan pada namanya. Penghakiman massal itu masih berlanjut hingga malam ini.
Mona merasa telanjang di depan seluruh teman seangkatannya. Tangan kirinya mencengkeram dadanya sendiri, berusaha meredam isak tangis agar tidak mengganggu Affan.
Namun, sebelum Mona sempat mengunci ponselnya karena tidak sanggup lagi membaca, sebuah pesan baru masuk dengan huruf cetak tebal.
Andini_Putri XII-A: Kalian semua kalau punya mulut disekolahin dikit dong! Rendy, kamu kalau cinta Mona ya harusnya berani melepaskan biar dia bahagia! Datang ke sekolah jadi impostor! Pindah sekolah lagi saja kalau jadi perusuh disini,, Harusnya kamu belajar yang bener, noh liat ulangan matematika kamu hari ini dua puluh! Gak usah jadi pecundang yang nyebar privasi orang lewat siber begini. Kamu sadar gak ini masuk ranah UU ITE, hah?!
Itu Andin. Sahabat sebangkunya sejak kelas sepuluh. Mona menahan napas.
Rendy_XII-A: Waduh, pawangnya keluar. Santai dong, Ndin. Saya kan cuma ngomongin fakta. Haha, untuk apa belajar? Papa saya gak peduli lagi sama saya, untuk apa saya belajar demi keluarga toxic? Emang salah ya kalau saya bilang mereka satu ranjang? Kan udah nikah, atau jangan-jangan kamu juga sering join di kamar mereka?
Satu sekon kemudian, sebuah akun lain langsung menyambar.
Elin_Kusuma XII-A: Rendy bajingan, jaga ya mulut sampah kamu! Kamu dapet foto-foto pernikahan itu maksa orang tua Mona kan? Nyerang personal Mona pake narasi menjijikkan kayak gitu bikin kamu ngerasa keren? Kamu itu cuma sirik karena tuh muka gak sebanding sama Affan!, Mulai detik ini saya kasih tau— Mona gak peduli sama badai hujatan dari GC ini, dia sudah fokus belajar buat nilai yang sejajar dengan Affan di peringkat satu satu sekolah. Pakai otak dikit kalau mau sikut orang, percuma aja enggak akan ngefek untuk Mona
Andini_Putri: Saya tantang kamu sekarang, Rendy. Keluarin semua bukti otentik kamu yang bilang Mona malas belajar di kelas atau hasil 'tutor ranjang' kayak otak mesum kamu itu. Jangan bawa-bawa status pernikahan orang buat ngejatuhin mental cewek!
Mona menyaksikan pertempuran itu dari balik layar dengan tangan yang bergetar hebat. Andin dan Elin, dua sahabat yang baru tahu rahasia pernikahannya seminggu lalu, kini berdiri di garis paling depan. Mereka mengorbankan reputasi mereka sendiri di grup angkatan, menghadapi puluhan ketikan bernada melecehkan demi membelanya.
Rendy_XI-IPA2: Halah, belain aja terus. Intinya sekolah ini punya aturan. Siswi yang udah nikah gak layak dapet standar nilai yang sama dengan kita yang berjuang dari nol tanpa asisten pribadi di rumah. Harusnya Mona keluar dari sekolah, maka saya juga akan keluar dari sekolah ini.
Elin_Kusuma: Asisten pribadi dahi lo peyang! Affan sedang membimbing Mona untuk pinter, mereka saling berjuang untuk ujian akan datang, Kalau kamu mau nuntut nilai Mona diturunin, kamu harus buktiin dulu kalau otak lo bisa nembus skor UTBK mereka. Kalau otak kamu masih selevel udang yang cuma bisa mikir selangkangan, mending kamu keluar dari grup ini atau saya seret kamu ke ruang BK besok pagi dengan pasal pencemaran nama baik!
Elin memanfaatkan jabatan keanggotaan osis nya.
Andini_Putri: Inget ya semua yang ada di grup ini, siapa pun yang ikut-ikutan nge-share foto akad atau bikin stiker binal pake muka Mona, saya ama Elin gak akan segan-segan bawa ini ke komite sekolah dan kepolisian. Kita punya semua rincian screenshot chat kalian. Rendy, Stop cyberbullying sekarang atau kamu kelar besok pagi! Saya gak main-main
Suasana grup mendadak hening beberapa saat. Beberapa cowok yang tadinya ikut memprovokasi mulai menarik pesan mereka satu per satu. Ketegasan Andin dan ancaman hukum dari Elin rupanya berhasil membuat nyali para pengecut siber itu menciut.
Mona meletakkan ponselnya di atas kasur dengan posisi telungkup. Air matanya masih mengalir, namun kali ini bukan hanya karena rasa sakit, melainkan juga rasa syukur yang teramat dalam karena memiliki Andin dan Elin di hidupnya.
"Mona?"
Sebuah suara berat memecah keheningan kamar. Affan sudah berdiri di samping kasur. Laptopnya sudah tertutup. Cowok itu rupanya menyadari perubahan atmosfer di kamar mereka dan bahu Mona yang bergetar. Affan duduk di tepi kasur, menatap ponsel Mona yang masih bergetar sesekali, lalu beralih menatap wajah istrinya yang basah.
Tanpa berkata apa-apa, Affan mengulurkan tangannya, menarik kepala Mona dengan lembut untuk bersandar di dadanya. "Andin sama Elin bener," bisik Affan lirih, mengusap rambut Mona dengan ritme teratur. "Tutup hp kamu, jangan dengerin apa kata pemberontak itu. Besok, Kita mulai belajar bersama sampai kamu dapat nilai paling sempurna satu angkatan. Kita akan bungkam ketikan jahat mereka lewat prestasi"
Mona memejamkan mata di dalam dekapan Affan, merasakan debaran jantung suaminya yang tenang. "Baik mas, siap"
Satu hal, sebutan panggilan Mona untuk Affan mendadak berubah jadi Mas
Affan langsung tegak, terkejut dengar sebutan baru untuknya. "Mas?"
"Kenapa? kamu sudah menjadi kepala keluarga saya, sebagai istri saya harus hormat... Oh, Apa mau saya panggil mbak?"
"Oh itu gausah, mas aja.. Itu lebih baik"
......................
...****************...
To be continue,
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan