Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27: Rapat via Zoom Bersama Kayla
Dengan nafas memburu, Azka melangkah cepat, nyaris setengah berlari menuruni tangga hotel. Suara langkah sepatu bergema di lorong marmer, seiring detak jantungnya yang berdentam kencang.
Begitu keluar dari pintu utama, angin pagi menyambut hingga mengibas rambutnya. Tanpa menunda, mata langsung menangkap mobil taksi online yang sudah datang di tepi lobi. Supir melirik lewat kaca mobil terbuka, seakan telah menduga kehadirannya.
“Atas nama Mas Azka?” memastikan.
Azka membenarkan lalu membuka pintu belakang dan segera masuk, menutupnya pakai satu gerakan cepat. Suasana kabin sejuk menyelimuti tubuh, kontras dengan hawa panas lobi hotel.
Ia bersandar sejenak, coba menenangkan diri, sementara mobil perlahan mulai melaju meninggalkan hotel dan segala pikirannya mulai terbang menyusun sejumlah rencana.
“Agak cepat ya Pak, saya sedang ditunggu orang,” ucap Azka kepada sopir.
“Baik, Mas.”
Setelah duduk, Ia mengambil handphone, menelepon Noval. Ia mempertanyakan tentang jadwal rapat yang hari ini akan dilakukan. Noval memberitahu kalau rapat dimulai satu jam lagi.
“Oke, makasih,” ucap Azka mengakhiri panggilan.
Ia masih melihat handphone, membuka aplikasi map yang memperlihatkan waktu tempuh ke rumah sakit membutuhkan 20 menit.
Azka menghela nafas, merasa lega karena menurutnya masih cukup untuk mengikuti rapat via zoom disana. Ia mempersiapkan beberapa alasan kepada Kayla saat rapat nanti.
Namun hal lucu terjadi saat melihat bagian kaki. Ia ternyata masih mengenakan sandal hotel. Ia pun tertawa melihat tingkah konyolnya sendiri.
***
Begitu tiba di rumah sakit, Azka segera melangkah masuk melewati pintu yang telah terbuka. Bau khas rumah sakit persis seperti aroma antiseptik langsung menyergap indra penciuman terasa bersih tapi asing.
Dengan handphone masih tergenggam di tangan, ia membuka kembali pesan dari Kayla di aplikasi whatsapp. Beberapa petunjuk singkat memberi arahan ke sebuah ruangan terbuka. Matanya membaca cepat, kemudian bergerak mengikuti instruksi dengan langkah lebar.
Ia menyusuri lorong-lorong panjang, melewati bangsal dan ruang perawatan, sembari sesekali melirik papan penunjuk arah. Suasana rumah sakit terasa tenang, hanya terdengar suara perawat berbicara pelan, sesekali derap sepatu bergema di lantai keramik.
“Pak!” panggil Kayla yang sedang duduk menunggu di barisan dekat loket farmasi.
Beberapa orang disekitarnya memandang sinis karena teriakan itu. Azka segera menghampiri, merasa sangat terkejut saat melihat penampilan Kayla yang nampak tidak seperti biasa. Ia hanya mengenakan kaos putih, celana pendek, mengenakan sandal jepit berwarna biru dongker.
Mengawali pertemuan, Kayla mengucapkan permohonan maafnya karena kembali merepotkan Azka.
“Pak Azka jangan kapok ya sama aku. Aku memang begini anaknya, tidak enakan, tapi kadang suka merepotkan orang, hehe,” ucapnya manja.
“Iya, tidak apa-apa. Kebetulan memang aku juga bosan kalau hanya tiduran di kamar hotel.”
“Kamu sudah sarapan?” tanya Azka lagi.
Menggelengkan kepala, Kayla mengaku belum sempat sarapan karena buru-buru pergi ke rumah sakit.
Sebuah kesempatan bagi Azka untuk memberikan perhatian kepada Kayla. Ia mengambil sebungkus roti yang ia beli dalam perjalanan.
“Nih, kamu makan dulu. Tadi aku sengaja belikan kamu roti keju. Entah kenapa, aku yakin kalau kamu pasti belum sarapan. Ternyata firasatku benar,” kata Azka sambil meletakkan roti ke telapak tangan Kayla.
Ia sengaja memilih roti keju karena saat berada di Dess Cake, Kayla mengungkapkan kalau salah satu makanan favoritnya adalah roti keju.
“Makasih ya, Pak,” ucap Kayla sambil membuka bungkus roti lalu melahapnya.
Fokus dari Azka kini beralih pada waktu yang tersisa dua puluh menit lagi sebelum rapat bersama Noval. “Biasanya nunggu obat gini berapa lama?”
Kayla kemudian memperlihatkan nomor antrian, “Aku nomor ke 76, sekarang baru 24.”
Sontak saja Azka terkejut karena tidak mengira antriannya sebanyak itu. Pantas saja Kayla minta ditemani olehnya, kalau menunggu sendirian, pasti akan sangat membosankan.
Setelah waktu tiba untuk rapat, Azka beralasan Noval membutuhkan bantuan.
“Noval ini memang belum bisa ditinggal sendiri, selalu saja minta bantuan aku,” keluh Azka berpura-pura menyalahkan asistennya.
Kayla memukul pelan paha Azka.
“Ih, kamu jangan begitu sama dia. Walau memang kadang suka salah, tapi dia baik kok,” bela Kayla.
“Ya sudah kamu rapat saja dulu, cari tempat sepi, di pojok sana sepertinya tidak terlalu ramai,” lanjut Kayla sambil menunjuk ke salah satu sudut rumah sakit.
Tapi rupanya, Azka minta Kayla menemanin. Ia mengatakan rapat itu tidak akan lama.
“Antriannya masih panjang. Kita selesai rapat, pasti masih sempat,” ajak Azka.
Menganggap apa yang dikatakan Azka masuk akal, Kayla menuruti keinginan atasannya. Tapi ia menegaskan tidak ingin tampil di layar zoom karena sedang berpakaian kurang pantas. Azka menyetujui, ia minta Kayla berada di sebelahnya saja.
Mereka kemudian pindah ke tempat lebih sepi, duduk di satu kursi panjang yang letaknya depan kamar mayat.
“Sepi sih sepi, tapi aku baru sadar kalau di sini dekat ruang mayat,” keluh Kayla menyesal.
Azka menenangkan Kayla yang terlihat takut. Ia mengatakan kalau rapat tidak akan lama. Untungnya meskipun terkesan sepi, masih ada orang-orang lalu lalang, walau tidak terlalu banyak.
Tak lama kemudian, Azka memulai rapat. Ia mengenakan earpod sehingga suara di dalam tidak terdengar keluar.
Ia melakukan sambutan dengan Kayla di sebelahnya. Kayla sesekali melihat layar handphone memperlihatkan sejumlah pegawai di kantor, mayoritas berasal dari divisi manajemen.
Kayla juga melihat Noval yang wajahnya terlihat sangat tegang. Sepertinya ia sedang dalam kondisi mood tidak begitu baik.
Selang beberapa menit rapat berlangsung, Azka mulai mematikan mikrofon di zoom. Ia kemudian memiringkan kepala, berbicara kepada Kayla.
“Tunggu sebentar ya. Kamu jangan bosan,” ucap Azka.
“Iya, kamu fokus saja,” jawab Kayla.
Semenjak itu, Azka lebih sering mematikan mikrofon untuk berbincang dengan Kayla. Ia beralasan kalau rapat sudah dikendalikan oleh Noval.
Tapi yang sebenarnya terjadi, Noval dan peserta rapat lainnya merasa heran karena Azka kelihatan tidak fokus saat sedang rapat bersama mereka.
Hanya saja mereka tidak berani mengutarakan lantaran masih menghargai Azka sebagai pimpinan.
“Baiklah saya rasa sudah cukup untuk sementara ini. Selanjutnya, kita akan rapat kembali lusa, jam yang sama dengan hari ini. Harap semua hadir tepat waktu. Terima kasih Pak Azka sudah berkenan menyempatkan diri,” ucap Noval mengakhiri rapat.
Sedang sibuk berbincang dengan wanita di sebelahnya, Azka tidak mendengarkan ucapan Noval tersebut.
“Pak Azka?” sahut Noval memanggil.
Suasana rapat jadi hening. Dari layar, Azka masih terlihat sibuk berbicara sendiri, bercanda bahkan tertawa.
“Pak Azka, apakah masih tersambung?” ucap Noval lagi.
Azka terkejut karena menyadari Noval memanggil, “Iya Noval, bagaimana?”
Menyadari Azka tidak mendengar apa yang diucapkan barusan, Noval mengulangi perkataannya.
“Rapat sudah selesai, kita akan adakan rapat lagi sesuai jadwal, jam sepuluh pagi,” ujarnya sambil memberi penekanan nada sedikit kesal.
“Oh, oke kalau begitu, terima kasih ya semua,” jawab Azka yang langsung menutup aplikasi zoom.
Azka menoleh ke arah Kayla, “Selesai! Ayo kita kembali ke antrian.”
Tangan Kayla ditarik oleh Azka untuk segera berdiri. Meski sedikit terkejut mendapat respon cepat itu, tapi Kayla mengikuti langkah Azka tanpa penolakan.