Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Evelyn duduk perlahan di kursinya. Namun bukannya langsung membuka dokumen, gadis itu malah terus melirik Kael dari ujung mata. Sekali.
Dua kali. Tiga kali.
Sampai akhirnya Kael mengangkat alis. "Kalau mau lihat, lihat saja."
Evelyn langsung batuk kecil. "Aku nggak lihat."
"Hm."
"Aku cuma memastikan."
"Memastikan apa?"
"Kamu beneran Kael."
"..."
Kael menatapnya datar.
Sedangkan Evelyn mengangguk sendiri. "Iya sih. Masih muka tembok yang sama.
Berarti memang Kael."
Sudut bibir Kael bergerak tipis. Entah karena geli atau ingin melempar sesuatu. Evelyn kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kamu kerja di Aurelius?"
Kael mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
"Kamu magang?"
Pertanyaan itu keluar begitu polos.
Kael terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk.
"Hm."
"Wah."
Evelyn benar-benar tampak kagum. "Hebat juga. Masuk Aurelius loh. Katanya banyak lulusan luar negeri aja susah masuk sana."
Kael hanya mengangkat cangkir kopinya. Sementara Evelyn sudah mulai berkhayal ke mana-mana.
"Kalau dipikir-pikir masuk akal sih."
"Hm?"
"Kamu pinter. Menang olimpiade. Nilai bagus. Terus muka juga lumayan."
Kael hampir tersedak kopinya. Sedangkan Evelyn melanjutkan dengan santai.
"Tapi, kalau nanti bosan magang
di sini, pindah aja ke Danesha."
Kael menatapnya. "Pindah?"
"Iya. Aku kasih jalur VIP."
"..."
"Langsung masuk."
"..."
"Tanpa interview."
"..."
Kael akhirnya terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya malam itu. Melihat ekspresi itu, Evelyn langsung menunjuknya.
"Nah! Itu! Itu baru manusia!"
Kael menggeleng pelan.
Sementara Evelyn akhirnya teringat tujuan kedatangannya.
"Oke. Kita serius." Ia membuka dokumen di depannya. Membaca beberapa halaman. Lalu membaca lagi.
Kemudian menghela napas panjang. Sangat panjang. Kael memperhatikannya.
"Masalah?"
"Banyak."
"Hm."
"Jujur aja." Evelyn meletakkan dokumen yang terbuka itu. "Aku merasa dijebak."
Kael menyandarkan tubuhnya. "Kenapa?"
"Karena semuanya terlalu kebetulan." Evelyn mulai menghitung dengan jari. "Pertama. Masalah proyek muncul mendadak. Kedua.
Rapat darurat. Ketiga. Ancaman denda puluhan miliar. Keempat. Harus ketemu malam ini."
Ia menatap Kael serius.
"Kalau ini drama televisi, aku udah curiga ada dalangnya."
Kael menahan senyum. "Dalang?"
"Iya. Dan aku yakin bos Aurelius itu tersangka utama."
"..."
Kael diam.
Sedangkan Evelyn semakin semangat. "Serius. Aku belum pernah ketemu orangnya. Tapi feeling aku kuat."
"Hm."
"Dia pasti licik."
"..."
"Pasti suka bikin orang stres."
"..."
"Pasti hobinya rapat dadakan."
"..."
"Pasti kalau jalan kaki ada musik villain di belakangnya."
Kael menunduk. Bahunya sedikit bergerak. Seolah sedang menahan sesuatu. Evelyn menunjuknya.
"Nah kan. Kamu juga setuju kan?"
Kael berdeham. "Tidak juga."
"Tidak?"
"Belum tentu."
Evelyn mendecih. "Percaya deh. Orang kaya gitu biasanya serem." Ia mencondongkan tubuh ke depan. Berbisik seperti agen rahasia. "Jangan-jangan dia psikopat."
"..."
Kael memejamkan mata sesaat. Mungkin sedang melatih kesabaran. Sementara Evelyn masih lanjut.
"Atau mungkin dia nggak punya teman."
"..."
"Atau masa kecilnya kurang bahagia."
"..."
"Atau-"
"Evelyn."
"Hm?"
"Kau terlalu jauh."
Evelyn langsung berhenti.
"Oh. Maaf"
Beberapa detik hening. Lalu ia kembali berbisik. "Tapi tetep ya. Aku nggak suka cara dia."
Kael mengusap pelipisnya.
Entah kenapa pertemuan bisnis ini terasa lebih melelahkan daripada rapat direksi selama enam jam, padahal dia sendiri yang menginginkan bertemu Evelyn.
Evelyn tiba-tiba membeku.
Matanya membesar.
"Tunggu."
"Apa?"
"Kamu kerja di Aurelius kan."
"Iya."
"Dan aku baru menghina bosmu hampir lima menit."
"..."
Evelyn langsung panik.
"Anjir. Keceplosan"
Kael mengangkat alis.
"Apa?"
dia." "Tolong jangan bilang ke
"..."
"Tolong banget."
"..."
"Kalau perlu anggap aja aku nggak pernah ngomong."
Kael memandangnya beberapa saat. Lalu mengangguk pelan.
"Baik."
Evelyn langsung menghela napas lega. "Nah. Kamu memang teman yang baik."
Kael tersenyum tipis. Sangat tipis. Kalau saja Evelyn tahu.
Orang yang sedang ia minta untuk menyimpan rahasia itu...
Adalah orang yang sama dengan yang ia hina sejak tadi.
Dan yang paling parah? Kael ternyata menikmati setiap detiknya.
--------
Evelyn menatap lembar dokumen di hadapannya untuk kesekian kalinya. Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman. Tetap saja hasilnya sama.
Ia tidak menemukan celah yang cukup kuat untuk membantah argumen yang baru saja disampaikan Kael.
Rasanya seperti sedang mengerjakan soal ujian yang jawabannya sudah salah sejak awal. Perlahan gadis itu menyandarkan punggungnya ke kursi.
Mengusap wajahnya. Lelah. Sangat lelah. "Hidup gue kenapa berubah jadi simulasi hard CEO begini sih..."
gumamnya pelan. Di seberangnya, Kael memperhatikan dengan tenang.
Sudut bibirnya sedikit terangkat. Melihat Evelyn yang biasanya cerewet kini benar-benar kehabisan kata ternyata cukup menghibur.
Terutama saat gadis itu mulai mengacak rambutnya sendiri karena frustrasi. "Kalau rambutku rontok gara-gara ini, Aurelius harus tanggung jawab."
Kael hampir tertawa. "Hm."
"Hm apanya?"
"Kau lucu."
"..."
Evelyn langsung melotot."Aku sedang di ambang kebangkrutan secara mental."
Namun sebelum ia melanjutkan keluhannya, Kael tiba-tiba membuka sebuah berkas lain. Tatapannya turun sebentar.
Lalu kembali kepada Evelyn.
"Ngomong-ngomong."
"Hm?" Evelyn.
"Kudengar Danesha baru menandatangani nota kesepahaman dengan Loren Holdings."
Tubuh Evelyn langsung menegang. "Hah?"
Matanya membesar.
"Darimana kamu tahu?"
Kael terlihat santai. Seolah pertanyaan itu sangat biasa.
"Aurelius memantau sebagian besar pergerakan mitra bisnisnya. Terutama yang berkaitan dengan proyek strategis."
Ia mengetuk meja pelan.
"Kerja sama sebesar itu tidak mungkin luput dari perhatian."
Evelyn terdiam. Masuk akal.
Tapi tetap saja membuatnya sedikit merinding. 'Sistem intelijen perusahaan apa ini...?'
Kemudian Kael kembali berbicara. Nada suaranya tetap datar. Tetap tenang. Namun kali ini terasa jauh lebih serius. "Jika Danesha ingin melanjutkan proyek dengan Aurelius."
Ia berhenti sejenak. "Maka kerja sama dengan Loren Holdings harus dibatalkan."
Hening. Dunia Evelyn seperti berhenti selama beberapa detik.
"Bentar."
"Ya."
"Bentar."
"Silakan."
Evelyn mengangkat tangan.
Meminta waktu kepada otaknya untuk mengejar percakapan. Lalu beberapa detik kemudian-
"HAH?!"
Untung ruangan itu kedap suara. Kalau tidak, mungkin seluruh restoran sudah mendengarnya. Evelyn menatap Kael seolah baru saja mendengar ramalan kiamat.
"Apa maksudnya harus dibatalkan? Itu kerja sama yang baru ditandatangani beberapa jam lalu!"
Kael tetap tenang. "Benar."
"Terus?"
" "Itu syaratnya."
"..."
"TERUS?"
"Itu syaratnya."
Evelyn ingin melempar dokumen. Atau dirinya sendiri. Belum tahu yang mana. Ia memejamkan mata beberapa detik. Mencoba menenangkan diri. Gagal.
"Kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar.
Pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya. "Kenapa harus Loren? Kenapa bukan perusahaan lain?"
Kael menyilangkan tangan.
"Loren Holdings dan Aurelius sudah lama berada dalam posisi kompetitif."
"Kompetitif?"
"Bisa dibilang begitu."
Evelyn menyipitkan mata.
"Itu bahasa bisnis untuk musuhan ya?"
Kael terdiam sesaat.
"Lumayan dekat."
"Nah kan!"
Evelyn langsung menunjuknya. "Tuh! Aku jadi korban perang dingin korporat!"
Kael mengabaikan protes itu. "Kedua perusahaan memiliki banyak proyek yang saling bersinggungan. Data. Distribusi. Teknologi. Investasi. Jika satu mitra memiliki akses ke dua pihak sekaligus, akan muncul risiko konflik kepentingan."
Kali ini Evelyn tidak langsung membantah. Karena secara bisnis... Ia tahu alasan itu memang masuk akal. Terutama untuk perusahaan sebesar Aurelius. Masalahnya... Ia baru menyadarinya sekarang.
"Sial..." gumamnya pelan.
Harusnya ia memikirkan hal ini sejak awal. Harusnya ia meminta tim hukum melakukan analisis lebih dalam. Harusnya ia mengecek hubungan antara kedua perusahaan sebelum menerima tawaran Loren.
Tapi saat itu ia terlalu fokus pada peluang kerja sama. Dan sekarang akibatnya datang menghantam wajahnya.
Kael memperhatikan perubahan ekspresinya. Melihat gadis itu akhirnya memahami posisi yang sedang dihadapinya.
"Jika aku membatalkan Aurelius..." gumam Evelyn. "Kerugian Danesha sangat
besar."
Kael mengangguk. "Benar."
"Kalau aku membatalkan Loren..." Evelyn kembali membuka dokumen. "Reputasi perusahaan juga bisa terdampak."
"Benar."
"Dan kemungkinan mereka akan kecewa."
"Benar."
"Dan mungkin tidak mau bekerja sama lagi."
"Mungkin."
Evelyn memukul dahinya sendiri. Pelan. "Sumpah. Aku pengen kembali jadi mahasiswa biasa. Tugas kuliah ternyata lebih baik."
Kael tersenyum tipis.
Sementara Evelyn menatap dua map dokumen di hadapannya.
Yang satu bertuliskan Aurelius.
Yang satu lagi Loren Holdings.
Dua peluang besar.bDua arah berbeda. Dan ia dipaksa memilih salah satunya. Untuk pertama kalinya sejak mengambil alih Danesha, Evelyn benar-benar merasakan beratnya posisi seorang pemimpin.
Apa pun yang ia pilih...
Akan ada konsekuensinya. Ruangan kembali sunyi. Beberapa menit berlalu. Sampai akhirnya Evelyn menghela napas panjang.
Panjang sekali. Lalu menatap Kael. Dengan ragu.
Dengan berat hati.
"Baiklah." Kael mengangkat pandangan. "Aku akan mencoba membatalkan kerja sama dengan Loren Holdings."
Kalimat itu terasa pahit keluar dari mulutnya. Karena ia tahu keputusan tersebut bisa menimbulkan masalah baru.
Namun jika dibandingkan dengan proyek strategis yang sedang berjalan bersama Aurelius... Risikonya masih lebih kecil. Setidaknya menurut informasi yang ia miliki saat ini.
Kael menatapnya beberapa saat. Lalu perlahan mengangguk. "Keputusan yang masuk akal."
Namun ada sesuatu yang tidak disadari Evelyn. Saat gadis itu sibuk memikirkan risiko bisnis dan masa depan Danesha...
Sudut bibir Kael terangkat sedikit.Senyum kemenangan yang nyaris tak terlihat. Karena langkah pertama dalam rencananya... Baru saja berhasil.
curang tauuu😒😒