"Saya tidak menyuruh kamu periksa kehamilan sekarang, Asya. Tapi kalau sampai 'pasukan' saya di dalam sana demo, jangan harap kamu bisa wisuda tanpa memakai nama belakang saya."
Asya, mahasiswi Arsitektur paling bar-bar. melihat di depan matanya sendiri, dimana Raka mengkhianatinya. Tanpa pikir panjang, Asyara minum terlalu banyak dan berakhir mabuk—sampai tanpa sengaja menarik seorang dan menciumnya hingga mereka menghabiskan malam bersama—Aksa, dosennya sendiri.
Asya berusaha lari, tapi Aksa bukan pria yang mudah melepaskan mangsanya. Dengan kekuasaan dan kecerdasannya, Aksa mengunci Asya dalam ribuan revisi skripsi hanya agar bisa memantau perkembangan "pasukan kecebongnya" di rahim Asya setiap hari.
Di tengah kejaran revisi, teror mantan pacar, dan kelakuan kompor Celine, Asya harus memilih: Lulus sebagai Sarjana atau menyerah menjadi Nyonya Profesor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbingan Berujung Pelukan
...Selamat Membaca...
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
Dua minggu sudah mereka menikah. Asyara memang masih suka galak. Apalagi gengsi cewek itu sudah mendarah daging. Namun untuk panggilannya pada Aksa, Asyara tampaknya sudah mulai terbiasa. Terlebih pula, Ayudia memberinya wejangan sebelum ia pindah ke kediaman Erlangga.
“Mas liat laptop aku nggak, Aku taruh di atas meja padahal,” tanya Asyara sambil sibuk mengelilingi kamar mencari laptop miliknya yang ntah kemana. “Lho, Mas Aksa mana? Jadi dari tadi gue ngomel sendirian?!”
“Makanya cari yang benar, Asyara.”
Asyara langsung menoleh mendapati Aksa yang membawakan segelas susu dan beberapa semangkuk buah melon. “Ngagetin! Kalau aku jantungan gimana?”
“Buktinya tidak kan?”
Asyara mendengus, “Ngeselin!”
“Sudahi mencarinya, minum susu dulu,” titah Aksa lembut sambil menuntun Asyara duduk di tepi kasur.
Cewek dengan piyama hitam polos itu menurut meski bibirnya tak berhenti mengomel. “Tapi laptop aku—”
“Minum dulu, nanti saya bantu cari,” potong Aksa sambil memberikan susu itu pada sang istri. Pada akhirnya Asyara mengambilnya sambil menggerutu pelan.
Aksa terkekeh pelan. Ia melipat tangannya di dada sambil menatap Asyara seolah mengawasi istri kecilnya itu menghabiskan susunya atau tidak. Ia sempat beberapa kali menciduk Asyara yang berhenti, lalu kembali lanjut minum akibat ia tatapan dengan serius.
“Puas?”
“Puas sekali. Saya lega, anak saya mendapatkan asupannya dari ibunya yang nakal ini,” gemas Aksa mencubit kecil pipi Asyara yang mulai tampak chubby. “Duduk di sini, dan makan buahnya.”
“Lap—”
“Saya ambilkan di ruang kerja saya. Kamu tunggu di sini,” kata Aksa lembut. “Jangan kemana-mana apalagi sampai berkeliling kamar seperti tadi. Dengar?”
“Kok nggak bilang laptop aku ada di ruang kerja mas?! Aku dari tadi cari-cari sampe pusing!” heboh Asyara, “Padahal aku udah mau nangis.”
“Kamu yang letak di sembarang tempat, Asyara,” balas Aksa sabar, “Jadi saya simpan agar skripsi kamu aman di dalam. Sudah, jangan mengomel terus. Si kecil bisa pusing dengar ibunya mengomel terus.”
“Mana ada!” bantah Asyara. “
“Iya, terserah kamu,” balas Aksa mengacak gemas rambut milik sang istri lalu pergi menuju ruang kerjanya.
Selagi Aksa pergi, tiba-tiba Celine masuk sambil menunjukkan berita heboh pada Asyara. Dimana sebuah foto berisikan Rayna dan Abian yang berada di sebuah toko baju di mall.
“Ma, lo liatkan?! Pasti dia ada hubungan apa-apa nih sama pak Abian! Kaya lo sama papa, ma!” heboh Celine, “Nggak bisa..nggak bisa masa gue kalah sama dia ma!”
“Ck… berapa kali gue bilang jangan panggil gue mama Celine! Cukup nama aja. Asyara!” tegas Asyara kesal. Ia mengunyah buah melonnya dengan cukup kasar membuat Celine lagi-lagi hanya bisa menyengir.
“Mama…gue kan udah bilang. Ini perintah dari bapak donatur. Suami lo tercinta ma!”
“Tercinta apaan?!” Asyara refleks menoleh sambil menatap Celine dengan galak. “Bibir lo mau gue lakban hah?!”
Celine tersenyum menggoda, “Alah ma, palingan ntar lo juga cinta banget sama papa gue. Lo nggak akan bisa tahan sama semua perlakuan papa gue yang super baik itu!”
“Dih! Orang gila!” desis Asyara.
“Ma–”
“Ngapain kamu gangguin istri papa Celine?”
Keduanya refleks menoleh mendapati Aksa yang berjalan menghampiri mereka sambil menenteng tas laptop berwarna pink pastel yang sudah pasti milik Asyara.
Bukannya langsung pergi, Celine semakin menggoda. Ia senyum-senyum sambil terus menatap Asyara dengan pandangan penuh arti. “Ciee… ‘Istri saya’ nggak tuh? Celine cuma lagi ngobrol sama mama doang kok pa. Iya kan ma?”
Asyara mendengus, “Bohong! lo ngusilin gue ya!”
Celine melotot. “Apaan? Nggak!”
“Celine, kembali ke kamar mu atau uang jajan kamu papa potong,” ancam Aksa dengan nada datar khas pria itu.
“Iya..iya! Yang paling sayang istri mah gitu, anaknya di lupain. So sad,” balas Celine memegangi dadanya dengan wajah sedih yang begitu dramatis. “Papa tega…papa tega sama princess Celine!”
“Celineee.”
Detik itu juga, Celine langsung melaju cepat menuju kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya di kamar itu.
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...
“Masa salah lagi sih mas?! Udah tiga kali lho ini!” Wajah Asyara semakin menekuk saking kesalnya karena sedari tadi, bahkan ia sudha merevisi sampai tiga kali tapi kata Aksa semuanya masih kurang paslah, salahlah, argumen kurang kuat, dan banyak alasan lainnya.
“Aku udah capek ah, nggak mau ngerjain lagi!” Asyara meletakkan laptopnya. Tanpa memperdulikan reaksi Aksa, ia memilih berbaring dan dengan santai memainkan hpnya.
Aksa?
Pria itu terkekeh pelan. Ia menggeleng melihat tingkah sang istri. Sebenarnya bukan Aksa sengaja. Melainkan apa yang dikerjakan Asyara masih banyak yang kurang. Makanya ia menyuruh istrinya memperbaikinya terus menerus.
“Jadi tidak mau mengerjakan lagi?”
Asyara menoleh, “Nggak, capek.”
“Ya sudah, matikan laptopnya. Lalu istirahat, nanti saya yang perbaiki,” ucap Aksa.
Asyara spontan duduk. Menatap Aksa terkejut namun juga senang. “Serius? Mas yang perbaiki?”
“Iya, Asyara. Tapi dengan syarat, kamu harus pelajari itu juga,” balas Aksa.
“Siap kapten,” balas Asyara girang. "*Ternyata Enak juga punya suami dospem sendiri*! "
Ia langsung mematikan laptopnya, dan berbaring dengan posisi yang nyaman. Matanya kembali fokus pada hpnya dengan tangan yang sibuk men scroll video tektok.
“Melonnya sudah dihabiskan?”
“Udah.”
“Hari ini sudah minum vitaminnya?”
“Udah mas.”
“Benar? Tidak bohong kan?”
“Iya mas Aksaaa,” balas Asyara sambil mencebik kesal, lalu kembali fokus pada hpnya.
“Apa yang kamu lihat sampai mengabaikan saya begitu?" tanya Aksa.
Sayangnya Asyara masih diam. Sepertinya cewek itu tidak dengar dengan pertanyaan suaminya. Dia sibuk terkikik sendiri, kadang senyum-senyum, bahkan terkadang mesem-mesem sendiri.
Aksa yang diabaikan tentu merasa tidak terima. Awalnya ia masih menunggu. Lima menit…sepuluh menit..sampai hampir dua puluh menit. Ia masih mencoba fokus pada tabletnya untuk memeriksa file mahasiswa. Namun setengah jam berlalu.
Dan Asyara masih sibuk dengan hpnya. Aksa melihat jam, yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Akibat sudah larut sekaligus kesal juga karena masih diabaikan, Aksa menutup tabletnya, ia melangkah pelan menuju ranjang, Masih dengan memperhatikan istrinya yang asik dengan dunianya sendiri.
Asyara yang tadinya fokus dengan hpnya seketika tersentak begitu merasakan ranjang di sebelahnya berderit cukup keras. Belum sempat ia berbalik, sebuah tangan kekar sudah melilit pinggangnya.
Ia membelalak.
Jujur saja Asyara masih belum terbiasa dengan Aksa yang seperti ini. Ia masih beradaptasi dengan semuanya dan perubahan status mereka dalam seminggu ini. “M-mas Aksa ngapain?!”
Tentu Asyara panik. Aksa memeluknya dengan cukup erat. Bahkan ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil di punggungnya.
“Hanya mau memastikan ibu dan anak saya ini segera tidur,” ucap Aksa pelan, “Ini sudah larut, tidak baik bagi ibu hamil tidur terlalu larut.
Jangan tanyakan bagaimana Asyara sekarang. Sebisa mungkin ia bersikap tenang agar Aksa tak mendengar detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. “I–iya ini tidur! Lepas dulu tangannya.”
Bukannya melepas, Aksa justru semakin mengeratkannya.
Asyara membelalak lagi, ia semakin panik. “M-mas! Lepasin,” cicitnya.
“Tidur, Asyara.”
Pada akhirnya, Asyara mencoba memejamkan matanya sendiri. Berusaha masuk ke alam mimpi. Dekapan lembut milik Aksa berhasil membuat Asyara masuk ke dalam mimpinya.
Detak jantung yang begitu keras, yang sempat Aksa dengar perlahan stabil dengan deru nafas yang mulai teratur pula. Tubuh Asyara yang tadinya menegang perlahan mulai rileks kembali.
“Terkadang saya masih tidak percaya, kalau kamu ada di sini, di pelukan saya Asyara,” gumam Aksa tersenyum tipis, “Selamat tidur, istri kecil saya yang galak.”
...♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡...