Indonesia
NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kursi kosong dimeja makan

Dua minggu setelah kejadian pengiriman dokumen ke Bekasi itu, PT Andalan Sejahtera kembali menghubungi pihak Wibisono Group untuk membahas tahap lanjutan kerja sama proyek properti yang mereka sepakati. Kali ini, pertemuan diadakan langsung di kantor Wibisono Group, mengundang perwakilan dari kedua perusahaan untuk rapat koordinasi.

"Laras, siapkan ruang rapat lantai dua puluh untuk jam sepuluh," instruksi Pak Bayu pagi itu. "Perwakilan dari Andalan Sejahtera akan datang langsung, termasuk direkturnya."

"Baik, Pak. Saya siapkan sekarang."

Laras sibuk mempersiapkan ruang rapat, memastikan semua dokumen presentasi sudah tersusun rapi, proyektor berfungsi dengan baik, dan minuman untuk para tamu sudah disiapkan. Ketika jam menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit, rombongan dari PT Andalan Sejahtera tiba, dipimpin oleh seorang pria yang tampak masih cukup muda untuk posisi direktur, mengenakan setelan kasual namun tetap terlihat profesional.

"Selamat pagi, saya Bagas Prawira, Direktur PT Andalan Sejahtera," katanya, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan kepada Laras yang menyambut di depan ruang rapat.

"Selamat pagi, Pak. Saya Larasati, staf divisi pemasaran. Silakan masuk, ruang rapatnya sudah siap."

Bagas mengamati Laras sejenak dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari basa-basi biasa, namun cepat kembali ke sikap profesionalnya. "Terima kasih. Kalau boleh tau, apakah Anda yang mengantarkan dokumen kerja sama beberapa waktu lalu ke kantor kami?"

Laras sedikit terkejut ditanya demikian. "Iya, Pak, benar saya."

"Saya ingat," Bagas tersenyum tipis. "Waktu itu Anda datang tepat waktu meski kelihatan terburu-buru sekali. Sekretaris saya sempat cerita, katanya Anda sampai lari-lari dari lobi."

Wajah Laras memerah sedikit mengingat kejadian memalukan itu. "Maaf soal itu, Pak. Waktu itu memang perjalanannya cukup menantang."

"Nggak masalah. Justru saya salut, di tengah kondisi buru-buru begitu, dokumennya tetap rapi dan lengkap." Bagas melangkah masuk ke ruang rapat, namun sebelum sepenuhnya masuk, ia menoleh sekali lagi. "Semoga hari ini rapatnya lancar, Larasati."

"Terima kasih, Pak. Semoga begitu."

Laras kembali ke mejanya dengan perasaan yang sedikit berbeda dari biasanya—bukan gejolak emosi yang menyakitkan seperti yang selalu ia rasakan setiap kali berhadapan dengan Raka, melainkan sesuatu yang lebih ringan, hampir seperti kehangatan kecil yang tidak terduga.

Rapat berlangsung hampir dua jam, dan sesuai protokol, Raka turut hadir sebagai perwakilan tertinggi dari pihak Wibisono Group. Sepanjang rapat, suasana berjalan formal dan profesional, membahas detail-detail teknis mengenai proyek properti yang akan mereka kerjakan bersama.

Setelah rapat usai, Bagas menyempatkan diri untuk berbicara sebentar dengan Raka di lobi sebelum benar-benar pergi.

"Pak Raka, staf Anda yang bernama Larasati itu, kerjanya rapi sekali ya," kata Bagas, nada suaranya terdengar seperti pujian tulus tanpa maksud tersembunyi. "Waktu itu dia sampai antar dokumen sendirian ke kantor kami, meski jaraknya cukup jauh dari sini."

Kalimat itu membuat rahang Raka mengeras tanpa sadar. "Dia memang salah satu staf yang cukup bertanggung jawab."

"Kalau boleh tau, dia udah lama kerja di sini?"

"Belum lama," jawab Raka singkat, nadanya mendadak lebih dingin dari biasanya. "Kenapa Anda tanya-tanya soal staf saya?"

Bagas sedikit terkejut dengan nada defensif itu, namun cepat tersenyum untuk mencairkan suasana. "Nggak ada maksud apa-apa, Pak Raka. Cuma penasaran aja, kelihatannya dia staf yang berpotensi."

Percakapan itu berakhir singkat, namun cukup untuk meninggalkan bekas yang tidak nyaman di benak Raka. Ia tidak bisa menjelaskan dengan tepat kenapa pertanyaan sederhana itu membuatnya merasa terganggu sedemikian rupa.

Sepanjang sisa hari itu, Raka bekerja dengan pikiran yang sedikit terpecah, sesekali teringat kembali pada nada suara Bagas yang penuh pujian ketika menyebut nama Laras. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang enggan ia akui sebagai kecemburuan, mengingat posisinya yang seharusnya sudah tidak lagi peduli dengan urusan pribadi Laras.

Malam harinya, di rumah besar keluarga Wibisono, suasana makan malam terasa lebih hening dari biasanya. Ibu Retno memperhatikan Raka yang tampak lebih pendiam dari hari-hari sebelumnya, sesekali menyisakan makanan di piringnya tanpa benar-benar menyantapnya.

"Kamu kenapa? Dari tadi diam terus," tanya Ibu Retno, mencoba mencairkan suasana.

"Nggak apa-apa, Ma. Cuma capek."

"Kudengar tadi ada rapat sama pihak Andalan Sejahtera. Gimana hasilnya?"

"Lancar. Proyeknya kemungkinan besar bakal jalan sesuai rencana."

Ibu Retno mengangguk puas, meski matanya masih memperhatikan putranya dengan seksama. Sejak beberapa minggu terakhir, ia menyadari perubahan kecil dalam sikap Raka—lebih sering melamun, lebih mudah tersinggung, meski tidak pernah mau menjelaskan alasannya.

"Ada kursi kosong di meja makan ini," kata Ibu Retno tiba-tiba, mengalihkan topik. "Ibu udah lama nggak lihat kamu bawa siapa pun ke rumah ini. Melati masih sering nanya kabar kamu, lho."

Raka menghela napas, tidak terlalu berminat membahas topik itu. "Ma, aku udah bilang berkali-kali, aku belum siap sama urusan kayak gitu."

"Sampai kapan, Raka? Umur kamu udah dua puluh sembilan. Ibu cuma pengen liat kamu bahagia, punya keluarga sendiri."

"Aku bahagia kok, Ma. Kerjaan aku lancar, perusahaan berkembang. Itu udah cukup buat sekarang."

Ibu Retno menatap putranya lama, ada kekhawatiran yang tersirat jelas di matanya. "Kebahagiaan itu bukan cuma soal kerjaan, Nak. Ibu takut kamu terlalu menutup diri, sampai lupa gimana caranya merasakan hal-hal lain dalam hidup."

Kalimat itu, meski diucapkan dengan nada penuh kasih sayang seorang ibu, justru menyentuh bagian yang paling sensitif dalam diri Raka—bagian yang selama lima tahun ia coba tutupi rapat-rapat, namun kini perlahan mulai terkuak kembali sejak kehadiran Laras di kehidupannya.

"Aku baik-baik aja, Ma," jawabnya singkat, memilih untuk mengakhiri percakapan itu sebelum semakin dalam menyentuh hal-hal yang tidak ingin ia bahas.

Ia menyelesaikan makan malamnya dalam diam, pikirannya melayang jauh, membandingkan antara kehangatan yang pernah ia rasakan bersama Laras di masa lalu dengan kekosongan yang kini mengisi hari-harinya, meski di kantor ia terus berusaha menunjukkan sikap dingin dan berkuasa penuh atas emosinya sendiri.

Malam itu, sebelum tidur, Raka kembali teringat pada percakapannya dengan Bagas siang tadi—pujian tulus yang diberikan pria itu untuk Laras, cara Bagas menyebut nama itu dengan nada yang begitu ringan dan penuh minat. Sebuah perasaan asing kembali muncul di dadanya, perasaan yang sulit ia definisikan namun terasa begitu tidak nyaman, seolah sesuatu yang berharga sedang berada dalam ancaman untuk direbut oleh orang lain—meski ia sendiri tidak pernah mau mengakui bahwa Laras masih memiliki tempat sepenting itu dalam hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!