Indonesia
NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Kebenaran yang Menyakitkan

Tiga buah titik laser merah berkedip statis di kening, dada, dan leher gadis kecil yang tengah meringkuk di tengah reruntuhan. Hujan deras yang mengguyur Kota Khanh malam itu tidak mampu memadamkan kobaran api di sekeliling panti asuhan, seolah alam pun ikut menyaksikan momen paling krusial dalam hidup sang dewa perang.

Namun, di balik keputusasaan yang tergambar di wajahnya, otak taktis Arthur bekerja dengan cepat. Ia tahu ia hanya memiliki waktu kurang dari satu jam sebelum Formula Somatik menghancurkan jantung putrinya. Ia harus mengulur waktu.

Dengan sangat hati-hati, Arthur menurunkan kedua tangannya ke sisi paha. Ujung jari telunjuk kanannya mengetuk pelan sabuk taktisnya, mengirimkan sinyal morse melalui saluran komunikasi tersembunyi yang langsung terhubung ke markas logistik Mia dan Silas: L-O-C-A-T-E S-N-I-P-E-R-S.

Arthur menengadah, menatap ke arah drone kecil yang melayang di atasnya mata dan telinga Gideon.

"Kau pikir aku bodoh, Gideon?" teriak Arthur, suaranya terdengar serak, dengan sengaja memalsukan nada kepanikan agar musuh merasa di atas angin. "Seorang anak? Enam tahun yang lalu aku diusir, dibiarkan begitu saja berkeliaran di jalanan Kota Khanh dalam kondisi hancur, dan dibius oleh seseorang yang tidak aku kenal! Ingatanku tentang malam itu dihapus! Bagaimana aku bisa yakin ini adalah darah dagingku?!"

Terdengar tawa yang sangat nyaring dan merendahkan dari pengeras suara drone tersebut. Kesombongan Gideon telah menelan kewaspadaannya. Merasa kemenangan sudah berada di tangannya, pewaris palsu dari Utara itu tak bisa menahan hasratnya untuk memamerkan maha karyanya.

"Tentu saja kau tidak ingat, Kakak bodoh!" ejek Gideon. "Kau mengira Ayah kita yang merencanakan semua ini? Kau salah besar! Ini semua adalah mahakarya ibuku dan ayah kandungku!"

Mata Arthur sedikit menyipit, meskipun ia tetap mempertahankan ekspresi putus asa. Ayah kandung?

"Terkejut?" lanjut Gideon dengan nada kemenangan. "Ibu dan ayah kandungku telah menyusup ke Summer Manor selama puluhan tahun. Kami berencana mengambil alih keluarga Summers dan membuat ayahmu mati secara perlahan oleh racun tanpa jejak karena dendam ayah kandungku di masa lalu! Kau dan ibumu hanyalah batu sandungan yang harus disingkirkan!"

Jari Arthur terus mengetuk sabuknya, menunggu konfirmasi dari Silas.

"Ayah kandungkulah yang merancang skenario malam itu," bongkar Gideon tanpa ragu. "Dia yang memerintahkan agar kau dibius dengan neurotoksin khusus yang menghancurkan ingatan jangka pendekmu, sebelum kau dibuang seperti sampah ke jalanan. Tapi, hadiah terbesarnya bukan hanya itu."

Gideon terdiam sejenak, menikmati ketegangan yang ia ciptakan.

"Kau ingin tahu siapa wanita malang yang menjadi pelampiasanmu malam itu, Arthur?" bisik Gideon, suaranya berubah menjadi sangat berbisa. "Kau mungkin mengenalnya. Namanya... Mia Zimmer."

Deg.

Jantung Arthur seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar. Suara deru hujan dan kobaran api seakan senyap, digantikan oleh suara dengung yang memekakkan telinga di dalam kepalanya.

"Gadis muda yang naif itu sedang mabuk bersama temannya di sebuah kelab malam di Kota Khanh," Gideon tertawa terbahak-bahak. "Anak buahku membawanya, membiusnya dengan obat amnesia yang sama, dan melemparkannya ke ruangan bersamamu! Setelah malam itu, dia menghilang selama beberapa tahun untuk melahirkan anak haram ini dalam pengawasan rahasia kami, sebelum akhirnya kami membuang anak ini ke panti asuhan dan mengembalikan Mia ke keluarganya tanpa ingatan sedikit pun tentang apa yang terjadi!"

Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menghantam kepala Arthur. Ingatan buram yang selama enam tahun terkunci rapat, kini retak dan hancur.

Bayangan seorang gadis yang menangis di dalam kegelapan. Aroma parfum lily yang sangat khas. Siluet wajah yang selama ini menghantui mimpi-mimpinya... itu adalah Mia. Gadis di dalam memori masa lalunya, wanita yang kepadanya ia berjanji akan kembali untuk menikahinya... ternyata adalah Mia Zimmer!

Kebenaran ini terasa seperti kebohongan yang terlalu kejam, namun kepalsuan yang ia jalani selama ini mendadak terasa masuk akal. Mia tidak mengingatnya karena gadis itu adalah korban yang sama sepertinya. Pantas saja Arthur selalu merasakan insting untuk melindungi gadis itu sejak mereka bertemu.

"Lalu Elena?" Arthur bertanya dengan napas terengah-engah, kepalanya berdenyut hebat.

"Elena? Hahaha! Wanita serakah itu hanyalah pion rendahan yang sengaja kami bayar untuk mendekatimu setelah kau sadar dari amnesiamu," cibir Gideon. "Kami menjebakmu agar kau menikahinya, memastikan kau tetap menjadi pecundang buta yang teralihkan oleh cinta palsu, sementara kami mengekstrak sampel darah anak ini untuk menyempurnakan Formula Somatik!"

Dada Arthur naik turun dengan cepat. Realita baru saja menghantamnya dengan kekuatan meteor. Rasa bersalah, amarah, dan penderitaan melebur menjadi satu. Namun, di balik rasa sakit yang menyiksa kepalanya, sebuah kejernihan yang mematikan perlahan muncul.

Anak perempuan yang gemetar di hadapannya ini... adalah buah hatinya bersama Mia. Gadis yang ia cintai di masa lalu, dan wanita yang kini kembali ia cintai di masa sekarang.

Tiba-tiba, dari dalam earpiece tersembunyi di telinga Arthur, terdengar tiga kali ketukan pelan. Itu adalah kode dari Silas Mercer. Tiga penembak runduk musuh telah berhasil dikunci kordinatnya oleh satelit yang diretas Mia, dan tim bayangan Phantom Vanguard telah berada tepat di belakang leher para sniper tersebut.

Hanya menunggu satu komando.

Arthur menundukkan kepalanya. Rambutnya yang basah menutupi sorot matanya yang kini telah sepenuhnya berubah. Keputusasaan yang tadi tergambar di wajah sang dewa perang telah lenyap tanpa sisa.

"Gideon," panggil Arthur pelan.

"Apa kau sudah siap mematahkan kakimu, Kakak?"

"Kau tahu, Gideon... terkadang musuh terbesarmu bukanlah orang yang kau benci," bisik Arthur, perlahan bangkit berdiri dari atas lumpur. Tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura penindasan yang membuat udara di sekitar panti asuhan itu seolah membeku. "Melainkan keangkuhanmu sendiri yang membuatmu membuka seluruh rahasiamu."

Di ujung saluran komunikasi, senyum Gideon seketika memudar saat menyadari perubahan nada suara Arthur. "Apa maksudmu?! Sniper, bersiap tem—!"

"Eksekusi," desis Arthur ke dalam alat komunikasinya.

Di tiga titik buta berjarak seribu meter dari panti asuhan, tiga suara tembakan berperedam terdengar nyaris bersamaan. Tiga titik laser merah yang sedari tadi menempel di tubuh putri kecil Arthur lenyap seketika, bersamaan dengan putusnya komunikasi para sniper bayaran Gideon yang kepalanya baru saja ditembus peluru penembak elit Istana Regal.

Mata Arthur menatap lurus ke arah lensa kamera drone yang melayang di udara.

"Waktumu sudah habis, Gideon. Dan penawar itu... aku sendiri yang akan merobeknya dari tanganmu," ucap sang raja bawah tanah, melepaskan kekuatan tenaga dalamnya yang seketika menghancurkan drone tersebut berkeping-keping.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!