“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamima terperanjat : 05
“Aku gak bohong! Bahkan suaranya sama persis seperti dalam mimpiku!” Guntur enggan mengalah, diam, dia memilih tetap menyuarakan, mengungkapkan apa yang barusan dialaminya sebelum pingsan.
Hamima bermaksud mengelus lengan yang memeluk bantal, tetapi dicegah oleh suaminya.
“Kamu cuma lagi mimpi, Guntur! Inget tidak, kalau dirimu memiliki kebiasaan tidur berjalan?” Galih tidak ingin memperparah rasa takut putranya. Kembali mengingatkan kebiasaan si sulung yang terkadang tidur sambil berjalan pada tengah malam.
Guntur menurunkan bantal, lalu duduk dengan memangku benda bersarung merah muda. Ia tatap tepat manik pria jauh lebih tua darinya. “Ayah, aku yakin kali ini gak mimpi, gak juga tidur berjalan. Tadi, tadi telapak tanganku berlumuran darah bau busuk.”
“Coba kamu perhatikan tangan yang katanya mandi darah itu! Apa ada bau busuk?!” tantang Galih dengan suara menekan.
Telapak tangan meremas bantal, dibalikkan — Guntur memicingkan mata. Tak ada warna merah pekat kehitaman, lengket, dan diangkatnya telapak tangan mendekati hidung.
‘Baunya gak amis, warnanya juga putih bersemu merah muda,’ monolognya dalam hati. Hal yang tadi sangat dipercayai, berangsur-angsur memudar.
“Mana darahnya?” Galih mencoba bersabar.
“Tadi itu —” suaranya menggantung, ia sedang mengingat kejadian telah berlalu. “Jendela kamarku dibuka paksa, terus ada angin masuk sama bayangan putih melesat cepat.”
“Ayo kita periksa, benar gak yang kamu katakan ini, atau cuma salah satu ingatan dalam mimpi!” Galih berdiri, tangannya terulur mengajak putranya.
“Gak mau. Aku takut.” Gelengan kepalanya sangat cepat, rona wajah mulai kembali kehilangan warna semu kemerahan.
Galih pun tidak memaksa, dia keluar sendirian demi memeriksa kamar sang putra.
“Bu, aku gak bohong,” gumamnya pelan.
Tatapan sang ibu seolah membenarkan asumsi ayahnya yang meyakini kalau dirinya mimpi atau tidur sambil jalan. Guntur merasa kecewa, ia pun berbalik badan memunggungi ibunya.
Hamima serba salah. Sifat suami dan putranya hampir sama — keras kepala. Tak jarang mereka berdebat karena beda pendapat.
Dia pun berbisik pelan, memberi pengertian, berusaha tidak menyinggung perasaan Guntur. “Nak, sebelum-sebelumnya kamu juga sering cerita kalau dikejar-kejar hantu dalam mimpimu, mungkin ini sama dengan —”
“Beda, Bu. Beda!” suaranya sedikit meninggi, dia tertekan, tapi tidak ada yang mau mengerti. Menurutnya.
“Turunkan nada bicaramu, Guntur! Jangan sekali-kali membentak wanita yang sudah melahirkanmu ke dunia ini!” hardik Galih, baru saja kembali dari kamar putranya.
“Maaf.” Guntur langsung menunduk.
“Disana tidak ada apa-apa. Jendela tertutup rapat, selimut masih di atas tilam,” beritahunya, mematahkan keyakinan sang putra tentang diteror hantu.
“Sebaiknya kita tidur lagi. Sekarang masih jam dua pagi,” Hamima menjadi penengah. Belum ada dua puluh empat jam dia disini, ketenangan hidupnya mulai terganggu.
“Nak, kamu tidur di sini saja sama Ibu dan Ayah,” ucapnya lembut.
“Aku mau ke kamarku saja.” Kakinya turun dari ranjang. Guntur berjalan dengan bahu sedikit membungkuk dan wajah tertunduk.
Galih berkacak pinggang. Perasaan bersalah merayap ke hati, tidak seharusnya tadi tersulut emosi berakhir membentak putranya yang sedikit sulit beradaptasi dengan tempat baru.
Disisi lain, Guntur masuk lagi ke dalam kamar. Ditutupnya pintu, lalu grendel digeser mengunci.
“Aku gak bohong, tadi itu beneran,” Tubuhnya luruh bersandar pada pintu, dia duduk sambil memeluk lutut.
Diperhatikan seksama kamar yang dalam ingatannya, sangat berantakan, tapi berbanding terbalik dari apa yang terlihat sekarang — tempat tidur bisa dibilang rapi meski selimut tersingkap.
Tidak ada apa-apa di atas lemari, jendela tertutup rapat, lantai bersih. Masih belum puas, Guntur berjongkok guna mengintip kolong tempat tidur.
“Perasaanku tadi bawah kolong gelap banget, kenapa sekarang bisa melihat sampai ke tembok?” dia jadi bingung, mulai meragukan kejadian beberapa waktu lalu.
Ketika memicingkan mata, keningnya terasa sakit. Dirabanya dengan jemari.
“Ini benjol. Tadi aku ketakutan terus lari malah nabrak pintu, berarti bukan mimpi?” Guntur berbicara seorang diri, mencoba menerka.
“Nak, kalau kamu gak berani tidur sendirian, ke kamar Ayah saja!” Galih mengetuk pintu, berbicara dengan suara pelan.
Guntur enggan menyahuti, dia berdiri lalu merebahkan badan di atas tilam. Menarik selimut sampai menutupi muka.
“Tidak semestinya aku terlalu keras ke dia,” gumamnya sesal, lalu tidak lagi mengetuk pintu sang putra yang enggan merespon.
Sisa malam itu tidak ada lagi keributan atau gangguan yang Guntur yakini adalah, hal nyata bukan mimpi maupun halusinasi.
***
“Mas, Pujiara demam.” Mima meletakkan punggung jemari di kening putrinya yang terasa panas.
“Sebaiknya kita bawa ke Puskesmas, biar kalian mas perkenalkan dengan staf kecamatan.” Galih baru saja selesai mandi wajib, masih memakai handuk melilit pinggang.
“Gak usah buat sarapan. Kebetulan kantor kecamatan dekat dengan pasar tradisional, dan bersebelahan sama puskesmas.” Ia menerangkan seraya membuka pintu lemari pakaian.
“Nanti sekalian daftarin Guntur ke sekolah dasar tempat Mas mengajar. Bangunan sekolah berseberangan dengan kantor kecamatan.” Diambilnya pakaian santai dan celana dalam.
“Aku siap-siap dulu, tolong jagain Ara, Mas.” Hamima pun terburu-buru mau mandi, dia keluar dari dalam kamar.
Saat melewati kamar putranya, kembali melangkah mundur.
Tok!
Tok!
“Guntur, bangun, Nak! Sekarang sudah jam 7 pagi!” Hamima terus mengetuk sampai pintu dibuka dari dalam.
“Kening kamu kenapa? Kok benjol besar?” baru dia sadari, sebab semalam tertutup poni. Kini rambut Guntur kusut dikarenakan baru bangun tidur.
Rambut Guntur sangat lembut, dan dia menyukai gaya potongan rambut yang berponi di atas alis, bagian belakang cepak.
“Terantuk lemari, Bu,” ia memilih berbohong. Masih segar dalam ingatan, suara bentakan ayahnya, dan tatapan tidak percaya sang ibu.
“Apa masih sakit? Ibu ambilkan salep, ya?” hatinya mencelos, Guntur menghindari sentuhan dengan cara mundur.
“Udah gak sakit,” jawabnya singkat.
“Dek Ara lagi demam. Ayah mau membawa kita ke puskesmas, sekalian daftarin sekolah kamu. Sekarang siap-siap ya, Nak?” Hamima maju, dan kembali mendapatkan penolakan halus.
“Iya.” Guntur mengangguk, enggan menatap ibunya.
“Nanti kita bicara, sekarang harus bergegas biar dek Ara cepat diperiksa pihak medis.” Ia berbalik seraya menelan rasa kecewa.
‘Baru sehari, tapi aku merasa jauh dari Guntur.’ Hamima sejenak memejamkan mata, kemudian melangkah ke kamar mandi.
***
Hampir satu jam kemudian, keluarga kecil Galih sudah meninggalkan hunian baru mereka, berkendara menuju puskesmas yang tidak jauh, cuma membutuhkan jarak tempuh kurang lebih dua puluh menit saja naik motor.
Setibanya di puskesmas, Galih mengambil nomor antrian, lalu pergi ke pasar guna membeli sarapan pagi.
Hamima menggendong Ara yang sedikit gelisah, cengeng. Dia duduk di kursi tunggu ditemani Guntur.
Dari arah samping, seorang wanita berpenampilan kusut, rambut panjang terurai, tidak memakai sandal, berlari kencang dan langsung memeluk remaja yang menjerit ketakutan.
“IBU!!”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu