Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.Panggilan baru
Rasa panas di pipi Aira tidak kunjung surut meski Arka telah menghilang di balik tangga menuju lantai dua. Gadis itu menyandarkan punggungnya ke sofa kulit yang empuk, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada.
Menyebut nama "Arka" begitu saja tanpa embel-embel kehormatan terasa sangat janggal di lidahnya.
Bagaimanapun, pria itu berusia dua puluh tahun lebih tua darinya, memiliki aura kepemimpinan yang intimidatif, dan kini menjadi penyelamat bagi nyawa ibunya. Memanggilnya langsung nama terasa tidak sopan dan terlalu lancang bagi tata krama yang diajarkan ibunya sejak kecil.
"Nyonya Aira?"
Suara lembut Bi Inah memecah lamunan Aira. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat sambil membawa sebuah nampan berisi segelas jus jeruk segar dan secangkir teh hangat.
"Eh, Bi Inah," Aira refleks berdiri, merasa tidak enak hati dilayani seperti itu.
"Tidak perlu repot-repot, Bi."
"Tidak repot sama sekali, Nyonya. Ini memang sudah tugas Bibi," Bi Inah meletakkan nampan di meja kaca. Matanya menatap Aira dengan pancaran kasih sayang seorang ibu.
"Bibi senang sekali akhirnya rumah ini ada penghuni barunya. Sudah lama sekali rumah sebesar ini terasa seperti kuburan. Sepi, kaku, dan dingin. Den Arka itu sebenarnya orang yang sangat baik, hanya saja sejak almarhumah istrinya meninggal empat tahun lalu saat melahirkan Mas Elano, beliau berubah jadi makin pendiam dan fokus bekerja."
Aira tertegun. Informasi baru itu berdesir pelan di hatinya. Jadi, ibu kandung Elano meninggal saat melahirkannya. Ada rasa kepedihan tak kasat mata yang kini bisa Aira pahami dari raut wajah dingin Arka dan sikap haus kasih sayang dari Elano.
"Mas Elano juga kasihan, Nyonya," lanjut Bi Inah pelan sambil melirik ke arah tangga.
"Dia anak yang sangat pintar, tapi kadang terlalu jujur dan jahil karena kesepian. Pengasuh-pengasuh sebelumnya tidak ada yang betah lebih dari seminggu karena Den Arka terlalu protektif dan Mas Elano sering jahil. Tapi tadi... Bibi kaget sekali melihat Mas Elano langsung menempel pada Nyonya."
"Elano anak yang sangat manis, Bi. Polos sekali," ujar Aira tulus, mengulas senyum tipis.
"Apalagi Nyonya tadi tertawa saat Mas Elano mengoceh," Bi Inah terkekeh pelan. "Sudah bertahun-tahun Bibi tidak mendengar suara tawa perempuan di ruangan ini. Muka Den Arka tadi memang kelihatan dingin, tapi percaya sama Bibi, beliau kaget sekaligus lega melihat Nyonya tidak canggung menghadapi Mas Elano."
Aira menunduk, mengaduk teh hangatnya dengan sendok kecil.
"Tapi Bi... saya bingung soal panggilan. Tadi beliau menyuruh saya memanggil 'Arka' saja. Tapi rasanya sangat tidak sopan. Beliau jauh lebih tua dari saya, dan saya sangat menghormatinya."
Bi Inah tersenyum bermakna. "Kalau Nyonya merasa memanggil nama terlalu lancang, kenapa tidak panggil 'Mas' saja? Di keluarga Jawa atau budaya kita, panggilan 'Mas' untuk suami itu terasa hangat dan sopan, berapa pun beda usianya. Panggilan itu menunjukkan rasa hormat tanpa memberi jarak yang terlalu jauh."
Aira bergumam pelan dalam hati. Mas Arka. Kata itu meluncur samar di benaknya. Terdengar jauh lebih natural dan sopan daripada memanggil nama langsung seperti teman sebaya.
Sore harinya, matahari mulai terbenam di ufuk barat, membiaskan warna jingga kemerahan melalui jendela-jendela kaca besar di rumah megah itu. Aira baru saja selesai merapikan pakaian-pakaian sederhananya di kamar baru lantai dua. Kamarnya sangat luas, dilengkapi kasur empuk berukuran king size, kamar mandi dalam yang mewah, serta balkon privat yang menghadap ke taman belakang.
Ada pintu penghubung di sisi kiri yang menyambungkannya langsung ke kamar Elano yang dipenuhi wallpaper bergambar antariksa dan ribuan mainan.
Tiba-tiba, pintu penghubung mengetuk pelan, lalu terbuka sedikit. Kepala kecil Elano menyembul dari balik pintu.
"Tante cantik... belum tidur?" bisik Elano ragu-ragu.
Aira berlutut dan merentangkan tangannya. "Belum, Elano. Ayo masuk."
Elano berlari kecil dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Aira. Bocah itu sudah wangi aroma minyak kayu putih dan sabun mandi anak-anak, mengenakan piyama bergambar dinosaurus.
"Papa bilang besok Tante mau diresmikan jadi Mama sambung Elano," kata bocah itu polos sambil mendongak, menatap Aira dengan mata bulatnya yang jernih.
"Mama sambung itu apa, Tante? Sama kaya Mama yang ada di foto kamar Papa?"
Dada Aira berdesir agak nyeri. Ia mengusap rambut lembut Elano dengan penuh kehangatan.
"Mama sambung itu... seseorang yang bakal nemenin Elano, nyiapin makan Elano, meluk Elano kalau Elano takut, dan main sama Elano setiap hari. Elano mau?"
Elano mengangguk semangat hingga poni rambutnya berayun. "Mau! Elano mau banget! Tapi Tante jangan pergi-pergi ya? Pengasuh yang dulu suka marah-marah kalau Elano numpahin susu, terus mereka pergi nggak balik lagi."
Aira meremas pelan bahu mungil itu, merasa hatinya luluh sepenuhnya. "Tante janji, Tante nggak akan pergi selama Elano butuh Tante."
"Ehem."
Suara dehaman berdeham berat dari pintu masuk utama kamar membuat Aira dan Elano kompak menoleh. Arka berdiri di sana, menyandarkan bahunya di bingkai pintu. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku dan celana panjang hitam. Ketampanan matangnya terpancar alami tanpa usaha berlebih, namun pandangannya tetap datar dan terkesan dingin.
"Elano, ini sudah jam tujuh malam. Waktunya kamu makan malam dan belajar membaca," ujar Arka tegas.
Elano merengut, mempererat pelukannya di pinggang Aira. "Mau makan sama Tante cantik! Papa makan sendiri aja di meja gede yang dingin itu!"
Aira mencoba menahan senyumnya, lalu memberanikan diri menatap mata Arka. Pria itu menghela napas pendek, tampak sedikit kewalahan menghadapi kepolosan putra tunggalnya.
"Baiklah, kita makan bersama di meja kecil ruang tengah," putus Arka akhirnya, mengalah pada keinginan sang anak.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga duduk di meja makan keluarga yang lebih kecil dan hangat di dekat dapur. Makanan yang disajikan Bi Inah sangat menggugah selera—sup ayam hangat, ayam goreng mentega, dan tumis sayuran.
Suasana makan malam berjalan cukup tenang, diselingi oleh celetukan-celetukan tanpa dosa dari Elano yang sibuk menceritakan koleksi mobil-mobilannya. Aira sesekali menyuapi Elano dengan sabar, mengusap sudut bibir bocah itu jika ada noda makanan yang tertempel.
Arka memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ada desir kehangatan asing yang menyelusup di hatinya saat melihat bagaimana Aira merawat Elano tanpa ada kepura-puraan. Gadis muda itu melakukannya dengan ketulusan yang sangat alami.
Setelah selesai makan dan Bi Inah merapikan meja, Arka menyesap teh hitamnya. Ia menatap Aira yang duduk di seberangnya.
"Mengenai pernikahan lusa, dokumen kesepakatan tambahan sudah disiapkan oleh Raymond. Kamu bisa membacanya besok pagi."
Aira meremas serbet kertas di pangkuannya. Ia memberanikan diri membuka suara yang sejak sore tadi mengganjal di pikirannya.
"Soal... soal panggilan, Arka," ujar Aira pelan namun mantap.
Arka menghentikan cangkir tehnya yang hendak menyentuh bibir. Ia mengangkat alis tebalnya.
"Kenapa? Kamu keberatan memanggil nama saya?"
"Iya," jawab Aira jujur, menatap lurus ke dalam iris mata hitam Arka.
"Bagi saya, tidak sopan memanggil nama Anda begitu saja. Perbedaan usia kita cukup jauh, dan posisi Anda adalah orang yang sudah sangat menolong hidup saya dan ibu saya. Saya ingin memanggil Anda... 'Mas'."
Ruangan itu mendadak hening seketika. Bi Inah yang sedang membilas piring di wastafel dapur mendadak menghentikan gerakannya sambil tersenyum tipis, sementara Arka mematung dengan cangkir teh masih menggantung di udara.
Pria berusia 39 tahun yang biasanya tak tersentuh dan selalu mengontrol segala situasi itu tampak tertegun selama beberapa detik.
Tatapannya menajam, meneliti kesungguhan di wajah gadis 19 tahun di hadapannya. Panggilan "Mas" dari bibir Aira terdengar sangat halus, jujur, dan memiliki getaran kehangatan yang sudah sangat lama tidak pernah Arka dengar.
"Mas?" ulang Arka dengan suara yang bertambah dalam dan serak, seolah ingin menguji bunyi kata itu di telinganya sendiri.
Aira mengangguk tegas, meski merona merah mulai menjalar kembali di lehernya.
"Iya. Panggilan itu terasa lebih sopan dan pas untuk saya. Kecuali kalau... Mas Arka keberatan?"
Arka perlahan meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas piring kecil. Ia menyandarkan punggungnya, bersedekah tangan di atas meja, lalu menatap Aira dengan intensitas yang sukar diartikan.
"Terserah kamu," jawab Arka akhirnya dengan nada datar yang berusaha ia pertahankan, meski ada sedikit kelembutan yang menyelinap di sudut matanya.
"Kalau itu membuatmu lebih nyaman, panggil saya 'Mas'."
"Papa! Elano juga mau dipanggil Mas!" celetuk Elano tiba-tiba sambil memukul pelan mejanya, memecah ketegangan manis di antara kedua orang dewasa itu.
"Masa Papa doang yang dipanggil Mas sama Tante cantik!"
Aira tak tahan lagi. Tawa renyahnya akhirnya pecah membahana di ruang makan itu, terdengar sangat indah dan merdu.
"Elano kan masih kecil, panggilannya Mas Elano dong! Kan ganteng kaya Mas Arka."
Arka memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain, berdeham pelan untuk menyembunyikan sudut bibirnya yang mendadak tertarik membentuk senyuman tipis—sebuah senyuman tulus pertama yang terukir di wajah sang duda dingin setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kesendirian.
Dan bi ina menyaksikan itu ikut tersenyum tersentuh hatinya.
_Bersambung