Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Lalu tangannya perlahan beralih menyentuh mangkok porselen kotor yang bernilai dua miliar rupiah tersebut dengan gerakan memutar.
Rasa dingin dan tekstur halus dari porselen kelas bangsawan asli langsung menjalar masuk ke ujung jari telunjuknya.
"Kalau mangkok bubur kusam dan kotor ini berapa Kek harganya pasnya?" tanya Akbar sambil mengangkat mangkok itu dengan gaya sangat santai seolah memegang sampah.
"Saya kebetulan lagi butuh mangkok kecil berbahan berat buat tempat pakan burung puyuh peliharaan saya di rumah."
Kakek tua itu melirik mangkok kotor di tangan Akbar sejenak lalu mendengus bosan tidak tertarik.
"Itu mangkok sisa dari zaman kakek buyut saya dulu, tidak ada sejarah aneh-anehnya cuma mangkok sayur dapur biasa."
"Kasih saya uang dua ratus ribu rupiah saja buat mangkok kotor itu Nak," sebut si kakek tua asal mematok harga tinggi untuk pembeli baru.
Dua ratus ribu rupiah untuk mangkuk porselen yang senilai dua miliar rupiah?
Itu adalah keuntungan puluhan ribu kali lipat yang sama sekali tidak masuk akal sehat manusia manapun.
Tapi Akbar harus tetap mempertahankan akting briliannya sebagai pembeli miskin yang pelit agar tidak dicurigai menyembunyikan sesuatu.
"Mahal sekali Kek masa mangkok kotor banyak lumpurnya begini harganya dua ratus ribu, lima puluh ribu saja ya sekalian sama buku resepnya," tawar Akbar sadis tanpa ekspresi berdosa.
"Wah ya jelas tidak bisa Nak kalau segitu, seratus lima puluh ribu deh pasnya biar kakek bisa makan enak, kakek belum sarapan dari pagi ini," tolak kakek itu mulai beralasan memelas.
"Seratus ribu pas Kek mentok, kalau kakek tidak mau lepas ya sudah saya cari ke tempat rongsokan lain saja," ancam Akbar pura-pura menaruh kembali mangkok itu ke meja dan membalikkan badan.
Melihat Akbar sungguhan hendak beranjak pergi, kakek itu langsung buru-buru menahan tangannya dengan panik.
"Eh iya iya jangan pergi dulu, ya sudah bawa saja mangkok sama bukunya seratus ribu buat penglaris kakek hari ini," pasrah si kakek tua sambil menyodorkan sebuah kantong kresek hitam tipis.
"Nah begitu dong Kek dari tadi, kita kan sama-sama rakyat kecil jadi harus saling bantu," senyum Akbar penuh kemenangan telak.
Akbar merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang merah seratus ribuan lalu menyerahkannya pada kakek malang itu.
Dia segera memasukkan mangkok porselen berharga dua miliar itu ke dalam kantong kresek hitam murahan tersebut dengan gerakan yang sangat berhati-hati.
Ting!
Suara mekanis sistem bergema halus nan merdu di dalam kepalanya merayakan transaksi gila barusan.
[Selamat! Tuan berhasil mendapatkan harta karun bernilai sangat fantastis pertama di hari ini.]
[Kacamata Penilai Harta Karun Level 1 berfungsi dengan sangat akurat dan terbukti sempurna seratus persen.]
"Terima kasih banyak sistem kesayanganku, berkatmu aku resmi menjadi pemuda miliarder dalam waktu kurang dari lima menit di pasar ini," batin Akbar bersorak gembira.
Akbar menenteng kantong kresek hitam itu dengan gaya santai dan mulai berjalan keluar dari area lorong kumuh tersebut menuju tempat parkir.
Namun baru sepuluh langkah dia berjalan menjauh, sebuah suara derap langkah kaki hak tinggi yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah belakangnya.
"Tunggu sebentar Mas! Tolong berhenti sebentar di situ!" teriak suara seorang wanita yang terdengar sangat merdu dan berkelas.
Akbar menghentikan langkah santainya dan membalikkan badannya perlahan.
Di depannya kini telah berdiri seorang gadis muda sangat cantik yang tampak berusia sekitar dua puluhan tahun.
Gadis itu memakai kemeja sutra putih yang sangat pas di badan, dipadukan celana kulot hitam elegan, dan sepasang sepatu hak tinggi mahal berwarna merah marun.
Rambut cokelat panjangnya diikat rapi ke belakang, dan dia memakai kacamata baca berbingkai tipis yang membuatnya terlihat sangat cerdas mempesona.
Aura kemewahan, uang, dan pendidikan tinggi langsung terpancar sangat jelas dari seluruh detail penampilan gadis kota ini.
"Ada urusan apa ya Mbak memanggil saya? Apa ada barang saya yang tidak sengaja jatuh?" tanya Akbar memasang wajah polos orang desa.
Gadis itu mengatur nafasnya sejenak sambil matanya terus menatap tajam dan curiga ke arah kantong kresek hitam di tangan kanan Akbar.
"Maaf kalau saya terkesan menghentikan Anda kurang sopan Mas, perkenalkan nama saya Clara," ucap gadis itu sambil tersenyum manis mengulurkan tangannya yang putih mulus.
Akbar menyambut uluran tangan itu dengan santai, telapak tangan Clara terasa sangat lembut, hangat, dan beraroma wangi parfum mahal.
"Saya Akbar Mbak, lalu ada yang bisa saya bantu untuk Mbak Clara pagi-pagi begini di pasar kumuh?"
"Saya adalah penilai ahli barang antik dari Balai Lelang Kharisma cabang Jakarta, saya sedang melakukan survei pasar rutin di tempat ini," jelas Clara memperkenalkan profesi bergengsinya dengan bangga.
Akbar langsung tersenyum tipis dan licik di dalam hatinya mendengar detail jabatan mentereng dari wanita di depannya ini.
"Sepertinya akan ada ikan besar berdompet tebal yang secara sukarela masuk ke dalam jaringku pagi ini," batin Akbar menahan tawa gembira.
"Saya tadi dari jarak sepuluh meter tidak sengaja melihat Mas Akbar membeli sebuah mangkok tua dari kakek penjual di belakang sana," lanjut Clara dengan nada suara yang mulai serius.
"Bolehkah saya meminta tolong untuk melihat mangkok kotor itu sebentar saja di tangan saya Mas?"
Akbar mengangkat bahunya pura-pura acuh tak acuh dan mengeluarkan mangkok kotor itu dari dalam kreseknya tanpa ragu.
"Oh mangkok ini maksudnya? Boleh saja dilihat Mbak, ini cuma mangkok kotor biasa yang baru saya beli buat tempat pakan burung puyuh peliharaan saya."
Mendengar buat tempat pakan burung puyuh, kelopak mata Clara mendadak berkedut kaget hebat namun dia berusaha keras menahannya agar tetap terlihat profesional.
Clara mengambil mangkok itu dengan kedua tangannya menggunakan gerakan yang sangat ekstra hati-hati layaknya sedang memegang bayi baru lahir.
Dia segera merogoh tas selempang kulit kecilnya dan mengeluarkan sebuah kaca pembesar khusus berlensa tebal berbingkai kuningan.
Clara mulai meneliti setiap jengkal permukaan mangkok itu dengan sangat detail, mulai dari ukiran garis pudar halusnya hingga ke bagian dasar bawah mangkok.
Wajah cantik Clara yang tadinya terlihat santai perlahan berubah menjadi sangat tegang, serius, dan dipenuhi butiran keringat dingin.
Nafas gadis elit itu mulai memburu tak beraturan melihat cap stempel merah pudar bertuliskan huruf kanji kuno yang ada di bagian bawah keramik porselen tersebut.
"Tidak mungkin, rasanya mustahil ada barang seindah ini di sini, tekstur glasir ini dan stempel biru di bawah sini..." gumam Clara berbicara pada dirinya sendiri tanpa sadar karena terlalu fokus.
"Ini jelas bukan sekadar barang tiruan abad sembilan belas yang banyak beredar, tingkat presisi lekukannya murni buatan dari era Kekaisaran Ming abad kelima belas!"
Akbar sengaja melipat kedua tangannya di depan dada membiarkan Clara menyelesaikan keterkejutannya sebelum dia menyela dengan nada suara datar.
"Sudah selesai lihatnya belum Mbak Clara? Saya mau pulang sekarang juga, burung saya di rumah belum makan dari pagi," ucap Akbar pura-pura dan buru-buru berniat menarik kembali mangkoknya dari tangan Clara.