Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Misi Kemanusiaan dan Pembuktian Mayang
BAB 17: Misi Kemanusiaan dan Pembuktian Mayang
Sorak-sorai serta gelak tawa puluhan prajurit Batalyon menggema riuh di area Lapangan Tembak dan Medan Latihan Taktis saat termos-termos es sirup merah manis dingin buatan Mayang dibagikan secara merata oleh Kapten Yoga.
Di tengah terik matahari siang yang seolah membakar kulit dan mengeringkan tenggorokan, suguhan es segar dan bekal perhatian dari Mayang menjadi penawar dahaga paling nikmat yang disambut sorak kebahagiaan oleh seluruh pasukan.
Dokter Siska berdiri kaku di bawah naungan Pos Kesehatan Utama dengan kedua tangan terlipat rapat di dada baju medis putih bersihnya.
Matanya yang tajam dan dingin menatap tak senang ke arah Mayang yang sedang dikelilingi oleh para prajurit muda dengan tawa cerianya yang lepas tanpa beban.
Rasa gengsi, cemburu, dan amarah membakar dada Dokter Siska.
Bagi pandangan akademis dan profesionalnya, tindakan Mayang tidak lebih dari sekadar aksi cari perhatian murah yang merusak wibawa, disiplin, dan hierarki militer Batalyon.
"Kapten Yoga," panggil Dokter Siska dengan suara dingin berjarak saat Kapten Yoga melintas di dekat pos medis seraya membawa gelas plastik kosong.
"Apakah Komandan Batalyon selalu membiarkan tindakan un-prosedural dan heboh yang melanggar batasan seperti ini terjadi di tengah latihan militer resmi?"
Kapten Yoga menghentikan langkahnya, menepuk-nepuk debu di seragamnya, lalu menyunggingkan senyum ramah yang santai.
"Dokter Siska yang terhormat, dalam dunia militer dan medan pertempuran nyata, ketahanan fisik itu memang krusial, tapi moril dan mental pasukan adalah kunci utama kemenangan. Mbak Mayang bukan cuma membawa es sirup dingin, tapi dia membawa senyum, kehangatan, dan semangat yang bikin anggota tidak merasa tertekan di bawah kepemimpinan Mayor Aris yang super kaku. Mayor Aris paham betul soal itu."
Dokter Siska mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Moril dan kehangatan kekanak-kanakan tidak akan pernah bisa menyembuhkan pendarahan luka tembak atau menyelamatkan nyawa prajurit di lapangan, Kapten!"
Namun, belum sempat Kapten Yoga membalas argumen tajam tersebut, sebuah suara sirine darurat yang sangat nyaring tiba-tiba mengudara dari arah gedung pos komando utama Batalyon!
Ngiiiing! Ngiiiing! Ngiiiing!
Suara sirine bahaya yang bergema berulang kali itu seketika memotong seluruh gelak tawa prajurit. Dalam hitungan detik, atmosfer di lapangan latihan berubah seratus delapan puluh derajat dari santai menjadi sangat siaga.
Seorang prajurit perhubungan berlari tergesa-gesa menyusuri tanah berlumpur menuju tempat Mayor Aris dan Mayang berdiri. Prajurit itu berhenti tegak, mengambil sikap hormat sempurna dengan napas memburu.
"Lapor, Komandan! Diterima radio darurat dari pos dinas luar dan badan penanggulangan bencana daerah! Terjadi bencana tanah longsor skala besar di Desa Mekar Bakti, lereng perbukitan timur yang berjarak lima kilometer dari Mako Batalyon! Beberapa rumah warga dilaporkan tertimbun material lumpur dan tebing runtuh! Ada korban jiwa dan warga sipil yang terjebak di dalam reruntuhan!"
Aura santai di wajah Mayor Aris seketika musnah total. Raut mukanya mendadak berubah sangat garang, tegas, dan dipenuhi insting komando militer yang tajam.
"Yoga!" teriak Mayor Aris dengan suara menggelegar penuh wibawa yang membuat seluruh prajurit langsung berdiri tegak dalam posisi siap.
"Kumpulkan Tim Reaksi Cepat Batalyon sekarang juga! Siapkan dua truk komando, peralatan pengerukan evakuasi, dan perlengkapan SAR!"
"Siap, laksanakan Mayor!" seru Kapten Yoga lantang, langsung berbalik dan memberikan instruksi dengan cekatan kepada para prajurit.
Aris kemudian menoleh ke arah pos medis dengan pandangan lurus.
"Dokter Siska! Siapkan seluruh Tim Medis Lapangan, obat-obatan darurat, dan siagakan dua unit ambulans Batalyon menuju lokasi bencana sekarang!"
"Siap, laksanakan Komandan!" sahut Dokter Siska sigap.
Ia langsung memerintahkan para perawat dan staf medisnya untuk mengemas peralatan bedah darurat dan kantong darah ke dalam armada medis.
Mayor Aris berbalik hendak melangkah cepat menuju jeep komando utama.
Namun, baru dua langkah bergerak, ia merasakan jemari tangan mungil menahan pelan ujung kain seragam PDL hijau zaitunnya. Aris menoleh dan mendapati Mayang menatapnya lurus.
Wajah gadis berkacamata tebal itu tampak cemas, namun memancarkan kilat ketegasan dan keberanian yang amat kuat.
"Mas Mayor..." ujar Mayang mantap,
"Mayang ikut ke lokasi bencana! Mayang punya sertifikasi keterampilan pertolongan pertama dasar, dan Mayang bisa bantu membawakan perlengkapan logistik, meracik makanan darurat, atau menenangkan warga yang syok di lokasi!"
Dokter Siska yang melintas seraya menjinjing tas medis tebal langsung menghentikan langkahnya. Ia memotong ucapan Mayang dengan nada suara keras dan meremehkan.
"Jangan konyol dan mengacau, Mayang! Ini lokasi bencana alam nyata yang penuh bahaya, lumpur, dan risiko susulan, bukan tempat untuk bermain-main, berpura-pura jadi pahlawan, atau mencari simpati Mas Aris! Kamu itu hanya warga sipil biasa yang tidak terlatih dan hanya akan menjadi beban berat bagi tim evakuasi di lapangan!"
Mayang memutar tubuhnya, menatap Dokter Siska lurus-lurus tanpa rasa gentar atau minder sedikit pun di balik kacamata tebalnya.
"Dokter Siska," jawab Mayang dengan nada suara tenang namun tegas menohok,
"Mayang memang bukan dokter spesialis atau perwira medis berpendidikan tinggi seperti Anda.Tapi Mayang adalah anggota aktif relawan Pramuka dan Palang Merah sejak SMA! Mayang tahu cara membalut luka, tahu cara menangani serangan panik, dan Mayang tidak akan pernah bisa diam memangku tangan di saat tahu ada sesama manusia yang membutuhkan pertolongan!"
Mayor Aris menatap Mayang dalam-dalam. Di mata gadis yang biasanya jenaka dan konyol itu, Aris melihat pancaran ketulusan, keberanian, dan jiwa kemanusiaan yang sangat murni.
Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa memedulikan tatapan tidak setuju dari Dokter Siska, Aris mengangguk tegas.
"Sertu Bambang! Ambilkan helm pelindung lapangan dan rompi keselamatan untuk Mayang! Dia ikut di jeep komando bersama saya!" komando Mayor Aris mutlak.
"Siap, Mayor!" sahut Sertu Bambang cekatan.
Dokter Siska terperangah tak percaya mendengar keputusan sang Mayor, namun situasi darurat yang mendesak memaksanya harus segera naik ke ambulans tanpa sempat memprotes lagi.
Tiga puluh menit kemudian, raungan sirine armada Batalyon membelah hujan lokal yang mulai turun membasahi kawasan lereng Desa Mekar Bakti.
Suasana di lokasi bencana sangat memprihatinkan dan kacau balau. Tebing tanah setinggi lima belas meter telah runtuh, menimbun pemukiman warga di bawahnya dengan tanah lumpur tebal yang pekat.
Histeris tangis warga dan jeritan meminta pertolongan saling bersahutan di antara rintik hujan.
Mayor Aris melompat turun dari jeep komando, langsung memimpin gerakan taktis pengerukan dan pencarian korban bersama puluhan prajurit Batalyon yang membawa sekop dan cangkul.
Sementara itu, Dokter Siska segera mendirikan tenda Posko Kesehatan Darurat di area datar yang agak jauh dan mulai menangani korban luka-luka ringan bersama timnya secara teratur.
Mayang, dengan rompi keselamatan dan helm pelindung yang agak kegedean di kepalanya, bergerak lincah dan tanpa jijik sedikit pun menyusuri area lumpur.
Dengan sigap, Mayang membagikan selimut kering, membagikan air minum hangat, serta menenangkan ibu-ibu warga desa yang menangis ketakutan.
Namun, situasi mendadak berubah kritis dan menegangkan! Dari arah tebing bawah yang dekat dengan aliran sungai kecil, seorang ibu warga desa berlari histeris sambil memukuli dadanya sendiri.
"Tolong! Tolong anak saya! Ardi masih terjebak di dalam saung bawah tebing! Tolong!" jerit ibu tersebut histeris sebelum akhirnya pingsan karena syok berat.
Mayor Aris dan Kapten Yoga segera berlari menuju tepi tebing tempat saung kayu yang sudah ringsek tertimbun separuh tanah.
Struktur tanah di atasnya sangat labil dan terus merosot perlahan karena gerusan air hujan.
"Mayor, celah masuknya sangat sempit!" panggil Kapten Yoga dengan raut wajah tegang.
"Prajurit bertubuh tegap dan besar tidak akan bisa masuk tanpa memicu reruntuhan tanah susulan! Kita butuh ekskavator atau harus menggali dari samping yang memakan waktu satu jam!"
"Satu jam terlalu lama! Anak di dalam bisa kehabisan oksigen!" tegas Aris seraya mengepalkan tangannya gusar.
Tiba-tiba, sosok Mayang menerobos kerumunan prajurit. Bertubuh mungil dan ramping, Mayang mengamati celah kecil di antara tiang kayu saung yang patah.
"Mas Mayor! Biar Mayang yang masuk! Badan Mayang kecil, Mayang bisa merayap lewat celah bawah itu!" seru Mayang cepat.
"Tidak, Mayang! Terlalu berbahaya! Tebing di atasnya bisa runtuh kapan saja!" potong Aris cepat, raut wajahnya menyiratkan kepanikan luar biasa atas keselamatan gadis yang dicintainya itu.
"Mas Aris, percaya sama Mayang!" tegas Mayang seraya menggenggam erat jemari Aris. Tatapan mata Mayang begitu yakin dan tidak tergoyahkan.
"Mayang janji akan keluar bersama anak itu dengan selamat!"
Sebelum Aris sempat menahan, Mayang sudah mengambil sarung tangan pelindung dan lampu senter kepala.
Dengan kelincahan luar biasa, gadis itu merayap di atas lumpur basah, menyusup masuk ke dalam celah sempit berukuran setengah meter di bawah impitan kayu saung yang rapuh.
"Mayang! Hati-hati!" teriak Aris dari luar, berdiri siaga di depan celah dengan jantung yang berdegup kencang hampir meledak karena rasa cemas yang tak tertahankan.
Di dalam celah saung yang gelap, pengap, dan berbau tanah basah, Mayang merayap perlahan seraya menahan beratnya puing kayu.
Di sudut ruangan yang terhimpit, ia menemukan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun sedang menangis ketakutan dengan kaki kanan terhimpit papan kayu tebal.
"Adek... adek sayang, tenang ya. Ini Mbak Mayang, Mbak datang buat bantu kamu," bisik Mayang dengan suara sangat lembut dan menenangkan, mengusap air mata dan lumpur di wajah anak itu.
Mayang dengan cepat memeriksa kondisi kaki anak tersebut. Beruntung, tidak ada patah tulang terbuka.
Dengan sisa tenaga di tangannya, Mayang mengungkit papan kayu yang menghimpit kaki sang anak menggunakan batang kayu lain sebagai pengungkit.
Khreeek!
Papan berhasil terangkat! Mayang segera membungkus luka lecet di kaki anak itu menggunakan kain kassa steril dari tas kecilnya.
"Pegang leher Mbak Mayang erat-erat ya, Sayang. Kita keluar sama-sama sekarang!"
Anak kecil itu memeluk leher Mayang erat-erat. Mayang membalikkan tubuhnya, merayap mundur menyusuri lumpur seraya menggendong anak itu di atas dadanya.
Namun, saat Mayang berada satu meter di dekat pintu keluar, suara derit kayu patah dan gemuruh tanah terdengar di atas tebing!
Crrraakkk! Boom!
"MAYANG!" teriak Mayor Aris histeris. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Aris langsung menubrukkan tubuh tegapnya ke dalam celah, menjangkau dan menarik tubuh Mayang serta anak tersebut keluar dengan sekuat tenaga tepat satu detik sebelum tebing kayu di belakang mereka roboh total tertimbun tanah!
Brak!
Tanah meruntuhkan saung tersebut sepenuhnya. Aris berguling di atas lumpur seraya memeluk erat tubuh Mayang dan anak kecil itu dalam perlindungannya.
Suasana mendadak hening sejenak sebelum sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh hebat dari puluhan prajurit Batalyon dan ratusan warga desa yang menyaksikan penyelamatan dramatis tersebut!
"Selamat! Anak itu selamat! Mbak Mayang berhasil!" teriak para warga penuh haru.
Aris melepaskan pelukannya perlahan, melepaskan helm pelindung Mayang dengan tangan bergetar hebat.
Wajah tampan sang Komandan tampak sangat pucat karena ketakutan kehilangan, namun matanya memancarkan rasa lega yang amat mendalam.
"Kamu gila... kamu benar-benar nekat, Mayang," bisik Aris dengan suara bergetar, mengusap noda lumpur dan debu di pipi Mayang yang kotor.
Mayang terbatuk pelan, membetulkan kacamatanya yang miring dan penuh percikan lumpur, lalu tersenyum sangat lebar dan cerah.
"Kan Mayang sudah bilang... Mayang ini calon istri Komandan Batalyon yang paling tangguh dan tidak bermental tempe!"
Aris tak sanggup lagi menahan rasa haru dan bangganya.
Di hadapan seluruh prajurit dan warga desa, Aris menarik Mayang ke dalam dekapan hangatnya, mengecup puncak kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Tak jauh dari sana, Dokter Siska berdiri terpaku di depan pos medis. Tas obat di tangannya perlahan meluncur jatuh.
Kesombongan, gengsi, dan prasangka buruk yang selama ini ia bangun runtuh seketika tanpa sisa.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana gadis sipil berkacamata tebal yang selalu ia anggap sepele itu memiliki keberanian, ketulusan, serta jiwa kemanusiaan sejati yang membuktikan secara mutlak bahwa Mayang adalah satu-satunya wanita yang paling pantas berdiri tegap di samping Mayor Aris!