Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Aku, Kamu Dan Sebuah Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ijab Kabul dan Jalan Masing-Masing

Pagi di halaman pendopo bernuansa kayu di rumah keluarga Menik diselimuti kabut tipis dan aroma melati yang menyerbak lembut, serta dipenuhi hiasan bunga-bunga segar berwarna putih dan krem.

Hawa sejuk khas perdesaan terasa begitu tenang, diiringi sayup-sayup alunan gending Jawa yang dimainkan pelan dari pengeras suara di sudut halaman.

Di sebuah ruang tunggu kecil berdinding kayu jati di samping pendopo utama, Arga duduk termenung di depan cermin berukir.

Pria itu mengenakan beskap pengantin warna krem keemasan lengkap dengan kain jarik batik motif sidomukti dan blangkon yang terpasang rapi di kepalanya. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak bersih dan tenang, meski debar di dadanya berdegup dua kali lebih cepat dari ketukan drum paling rumit yang pernah ia mainkan.

Arga menatap pantulan dirinya di cermin. Memory masa lalu berputar kilat di benaknya—tentang dirinya bertahun-tahun lalu yang selalu ragu-ragu, tentang keputusannya yang tertahan untuk mengutarakan rasa, tentang malam-malam sepi saat ia menangisi kepergian Kiara, hingga saat ia harus mengubur syal abu-abu itu rapat-rapat.

Namun hari ini, mata Arga tidak lagi memancarkan rasa bersalah atau penderitaan. Yang ada kini hanyalah pendar kedewasaan dan ketetapan hati.

Pintu ruang tunggu ketukan pelan lalu terbuka, memperlihatkan lima sosok sahabat terbaiknya yang melangkah masuk: Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang. Mereka semua mengenakan kemeja batik seragam berwarna cokelat hangat.

"Wih, ganteng banget drummer utama kita hari ini!" seru Bagas memecah keheningan, melangkah maju dan menepuk pelan bahu Arga cukup keras hingga Arga tersenyum.

"Gak nyangka gue...dari yang dulunya paling melankolis dan tukang mengurung diri di studio, sekarang berdiri gagah mau ijab kabul....akhirnya nyusul Daffa juga!"

"Bagas, jangan bikin Arga makin tegang," tegur Dave sambil tertawa pelan.

Daffa melangkah mendekat. Pria itu menatap Arga dengan pandangan seorang sahabat sejati yang telah menyaksikan seluruh episode kehancuran dan kebangkitan Arga.

Daffa mengulurkan tangannya, lalu merangkul bahu Arga erat-erat.

"Gimana perasaannya, Ga?" tanya Daffa lembut.

Arga menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. "Jujur... deg-degan banget, Daf. Tapi anehnya, dada aku berasa lapang. Nggak ada ketakutan kayak dulu lagi."

Daffa tersenyum tulus, mengangguk-angguk bangga. "Kamu udah banyak berubah, Ga. Satu tahun ini kamu udah ngebuktiin kalau kamu bisa bangkit dari titik terendah kamu. Hari ini, kamu melangkah bukan karena terpaksa atau cuma pengin menyenangkan orang lain, tapi karena kamu udah siap jadi pelindung buat Menik."

Arga tersenyum --senyuman tulus yang memancarkan kedewasaan-- menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya. "Makasih ya, kalian semua... makasih udah gak pernah ninggalin aku, pas aku lagi hancur-hancurnya dulu. Kalau bukan karena kalian yang maksa aku latihan musik dan nemenin aku terus, mungkin aku gak bakal ada di posisi ini hari ini."

"Sama-sama, Bro," timpal Galang dan Bintang serempak.

"Inget.... pesan gue satu, Ga," bisik Daffa pelan namun penuh makna.

"Jangan ulangi kesalahan lama. Buka hati kamu seluas-luasnya buat Menik. Dia wanita baik. Nanti pas di depan wali Menik, tatap matanya. Ucapkan ijab kabul itu dengan tegas. Jangan ragu satu detik pun. Tunjukkan sama Menik dan keluarganya kalau kamu pria yang bisa diandalkan."

Arga mengangguk mantap. "Pasti, Daf. Aku gak akan ragu lagi."

----------- ***------------

Pukul delapan pagi tepat, Arga dibimbing keluar dari ruang tunggu menuju meja akad nikah di tengah pendopo.

Di meja kayu berlapis kain putih bersih itu, telah duduk Ayah Menik—seorang pria sepuh berwajah teduh—bersama dua orang saksi nikah dan petugas penghulu dari KUA.

Di barisan kursi terdepan tamu undangan, Ibu Arga duduk mengusap air mata harunya menggunakan sapu tangan sutra. Wanita tua itu tersenyum begitu bahagia melihat putra tunggalnya berdiri tegap.

Arga mendudukkan dirinya di kursi pengantin pria. Udara di dalam pendopo mendadak hening pekat. Ratusan pasang mata tamu undangan tertuju ke arah meja akad.

Petugas penghulu membuka prosesi dengan khotbah nikah yang menyejukkan jiwa, mengingatkan tentang hakikat pernikahan sebagai ibadah terpanjang dan janji suci di hadapan Sang Pencipta.

Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an selesai, Ayah Menik mengulurkan tangan kanannya ke atas meja. Arga menjangkau uluran tangan calon mertuanya itu. Genggaman tangan pria sepuh itu terasa hangat dan penuh ketegasan.

"Ananda Arga Bagaskara bin Subroto..." suara Ayah Menik terdengar berwibawa, memecah keheningan pendopo.

"Saya, Bapak," jawab Arga tegas, matanya menatap lurus tepat ke dalam manik mata Ayah Menik tanpa ada sedikit pun keraguan yang tersisa.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Menik Lestari binti Harun, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dan logam mulia sebesar lima belas gram, dibayar tunai."

Arga menarik napas dalam-dalam. Seluruh memori penyesalan masa lalunya menguap seketika, berganti dengan tekad bulat seorang laki-laki sejati. Dalam satu tarikan napas yang mantap, lantang, dan berwibawa, Arga mengucapkan:

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Menik Lestari binti Harun dengan mas kawin tersebut, dibayar TUNAI!"

"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya Penghulu dengan suara keras.

"SAH! ALHAMDULILLAH!"

Pekikan kata 'sah' bersahut-sahutan dari para saksi dan seluruh tamu undangan yang memenuhi pendopo. Doa-doa kebaikan dan keberkahan mengalun indah ke udara. Ibu Arga menangkupkan kedua tangannya di wajah, menangis haru meluapkan rasa syukur yang tak terhingga.

Di dalam ruangan khusus, pintu kayu berukir terbuka. Menik melangkah keluar diapit oleh ibunya. Wanita itu tampak begitu anggun dan bersahaja dalam balutan kebaya kain lace warna krem keemasan dengan riasan paes Jawa yang simpel.

Saat Menik berjalan mendekati meja akad dan mendudukkan diri di samping Arga untuk menandatangani buku nikah, Arga menatap istrinya. Ada rasa hormat, rasa syukur, dan benih kasih sayang yang baru dan bersih tumbuh mekar di dalam dada Arga.

Arga meraih jemari Menik, lalu menandatangani buku nikah bersama.

Ketika Menik mencium punggung tangan Arga sebagai bentuk bakti seorang istri, Arga meletakkan telapak tangan kerjanya di atas kepala Menik, membacakan doa kebaikan untuk rumah tangga mereka.

Lalu, Arga mengecup dahi Menik dengan lembut—sebuah kecupan pertama yang menandai dimulainya babak baru kehidupan Arga sebagai seorang suami yang bertanggung jawab.

Resepsi pernikahan berlangsung hangat di pelataran pendopo yang dihiasi dedaunan hijau dan bunga-bunga mawar putih segar. Tamu undangan bergantian naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat dan doa kelanggengan bagi Arga dan Menik.

Di sudut area tamu, geng band (Daffa, Bagas, Dave, Galang, dan Bintang) berdiri berkumpul bersama istri-istri mereka. Aina yang sedang hamil muda tampak bersandar riang di lengan Daffa.

"Eh, lihat deh... itu Kiara sama Mas Dimas udah dateng," bisik Aina pelan sambil menunjuk ke arah gerbang masuk pendopo.

Seluruh mata sahabat-sahabat mereka menoleh.

Dari arah lorong jalan, Kiara melangkah anggun mengenakan gaun simpel berwarna merah muda keunguan pastel yang dipadukan dengan jilbab senada. Ia berjalan berdampingan dengan Dimas yang tampak gagah mengenakan kemeja batik tulis warna gelap. Kiara tampak begitu berseri, memancarkan aura ketenangan dan kebahagiaan seorang wanita yang dicintai dengan sempurna oleh suaminya.

Mereka berdua menyapa geng band terlebih dahulu dengan pelukan hangat dan jabat tangan yang penuh kekeluargaan.

"Aina, selamat ya atas kehamilannya!" bisik Kiara tulus sambil memeluk sahabatnya itu.

"Makasih ya, Kiara... kamu sama Mas Dimas kapan nyusul?" goda Aina tertawa kecil.

Kiara tersenyum manis, melirik Dimas yang membalas senyumannya dengan penuh kasih. "Sedang ikhtiar, Doakan ya."

Setelah bertegur sapa dengan para sahabat, Dimas dan Kiara melangkah naik ke atas panggung pelaminan. Arga dan Menik yang sedang berdiri menyambut tamu langsung berpaling melihat kedatangan mereka.

Seketika, atmosfer di atas pelaminan terasa begitu sejuk dan syahdu.

Dimas melangkah maju terlebih dahulu. Pria dewasa itu mengulurkan tangannya, menyalami Arga dengan genggaman tangan yang hangat dan mantap.

"Selamat, Arga," ucap Dimas dengan suara yang sangat tulus.

"Semoga pernikahan ini menjadi awal dari keberkahan yang melimpah, menjadikan kamu dan Mbak Menik keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."

"Terima kasih banyak, Mas Dimas," sahut Arga ramah dan jujur.

"Terima kasih sudah berkenan hadir di hari bahagia kami."

Lalu, giliran Kiara yang melangkah mendekat ke arah Menik. Kiara mengulurkan kedua tangannya, memeluk Menik secara hangat.

"Selamat ya, Mbak Menik," tutur Kiara lembut saat melepaskan pelukannya, menatap mata Menik dengan binar ketulusan tanpa ada sedikit pun kepura-puraan.

"Arga ini orangnya sangat baik, tulus, dan bertanggung jawab. Saya doakan semoga Mbak Menik dan Arga selalu dilimpahi kebahagiaan sampai akhir hayat."

Menik tersenyum anggun, membalas genggaman tangan Kiara dengan santun.

"Terima kasih banyak, Mbak Kiara. Terima kasih atas doa dan kebaikannya."

Kini, giliran mata Kiara dan Arga yang saling berhadapan secara langsung.

Dua pasang mata yang dulu pernah menyimpan rahasia rasa selama belasan tahun...

Dua manusia yang dulu pernah saling melukai dalam ketidakpastian dan penyesalan...

Kini berdiri berhadapan sebagai dua pribadi yang telah berdamai sepenuhnya dengan takdir.

Tidak ada lagi rasa sesak di dada Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah di hati Kiara. Tidak ada lagi bayang-bayang syal abu-abu atau tangisan di malam hari. Yang tersisa hanyalah keikhlasan murni dari dua jiwa yang saling mendoakan.

"Selamat ya, Arga," tutur Kiara lembut, tersenyum begitu tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Arga menatap Kiara, lalu mengukir senyuman paling hangat dan paling lapang yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.

"Terima kasih ya, Ra," balas Arga serak, nadanya bergetar oleh rasa syukur.

"Terima kasih... buat semua pelajaran hidup dan kenangan masa lalu. Semoga kamu dan Mas Dimas selalu bahagia selamanya."

"Aamiin... kamu juga ya, Ga," angguk Kiara pelan.

Sebuah anggukan kecil di antara mereka menjadi penanda tak resmi bahwa seluruh babak kelam di masa lalu telah ditutup secara sempurna, terbayar tuntas oleh keikhlasan dan kedewasaan.

Sore hari perlahan menjelang. Acara resepsi telah usai dan para tamu undangan mulai berpamitan pulang. Angin sore berhembus pelan di pelataran pendopo, membawa aroma tanah yang tersiram gerimis tipis dari langit yang bergradasi jingga keunguan.

Arga dan Menik duduk berdua di kursi kayu teras samping pendopo. Arga melonggarkan kerah beskapnya, merenggangkan jemarinya yang lelah namun hatinya terasa sangat ringan.

Di sampingnya, Menik sedang menuangkan teh manis hangat dari teko poci tanah liat ke dalam cangkir untuk suaminya.

"Silakan diminum dulu tehnya, Mas Arga," tutur Menik lembut, menyodorkan cangkir itu.

Arga menerima cangkir tersebut, lalu menaruhnya di meja. Ia berpaling menatap wajah istrinya. Cahaya sore membiaskan ketenangan di paras Menik—sebuah ketenangan yang kini menjadi rumah baru bagi jiwa Arga.

Arga mengulurkan tangannya, meraih jemari Menik, lalu menggenggamnya dengan erat dan hangat.

"Dek..." panggil Arga pelan.

Menik mendongak, menatap mata Arga dengan lembut. "Iya, Mas?"

"Terima kasih ya... sudah mau menerima Mas dengan segala masa lalu Mas," bisik Arga tulus.

"Mas janji, Mas akan jadi suami yang terbaik buat kamu. Mas akan buka hati Mas sepenuhnya buat kamu dan anak-anak kita nanti."

Menik tersenyum manis, senyuman yang meruntuhkan sisa-sisa dingin di hati Arga. Menik menggenggam balik tangan Arga dengan kedua tangannya.

"Menik juga terima kasih, Mas. Kita belajar bareng-bareng ya, Mas."

Arga menatap langit sore yang kian meredup. Ia teringat pada ketukan drumnya yang dulu sumbang karena frustrasi, pada kotak kayu di atas lemarinya, dan pada cinta pertamanya yang pernah ia tangisi. Namun kini, Arga tahu bahwa Tuhan tidak pernah salah menuliskan jalan cerita.

Cinta tidak harus selalu berakhir dengan memiliki.

Kadang, bentuk cinta tertinggi adalah merelakan seseorang bahagia di jalan yang tepat, seraya memberanikan diri untuk membuka lembaran baru bersama takdir yang telah disiapkan-Nya.

Kiara telah menemukan pelabuhannya bersama Dimas.

Dan Arga... telah menemukan rumah bahagianya bersama Menik.

Rasa yang dulu pernah ada, kini telah tersimpan rapi sebagai kenangan indah yang tak lagi menyakiti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!