*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam
# Enam
Tidak memiliki tempat tinggal, kehilangan orang tua satu-satunya yang ia miliki. Dan yang paling tragis harus kehilangan kesucian dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat Hanum makin terpuruk. Seolah tak punya arah dan tujuan lagi, Hanum memeluk batu nisan sang ibu dengan hati penuh luka.
Cukup lama gadis itu menangis, hingga semua pelayat tak bersisa. Leon pun meminta sang Mama pulang bersama rombongan keluarga yang lain. Biar ia menemani Hanum, ada penyesalan besar pada diri Leon. Setelah apa yang ia lakukan pada Hanum.
Mama tak menolak, karena tubuhnya juga terasa tak enak. Tidak ingin ikut ambruk di pemakaman. Mama pun pulang, kini tinggal Hanum dan Leon. Jam terus berputar, sampai senja mulai menyapa. Leon membujuk Hanum untuk pulang bersamanya. Tapi gadis itu malah mendorong Leon dengan tenaga yang lemah.
Bukannya Leon yang jatuh, malah dirinya yang tersungkur di tepi pusaran sang ibu yang tanahnya masih terlihat basah.
“Pergi kamu!” Hanum terus saja mengusir Leon, pria keji yang merengut mahkotanya.
“Kamu boleh membenciku sampai mati, tapi aku mohon. Ikutlah denganku.” Pria itu tak pernah memohon pada wanita, tapi karena sebuah kesalahan fatal. Kini ia harus mengemis pada Hanum, meminta pengampunan atas dosa besar yang mungkin tak pernah bisa termaafkan.
“Aku mohon, hilang dari pandanganku!” Hanum menjerit histeris, ia tidak sudi menatap pria jahat itu.
Sadar bahwa Hanum sangat membenci dirinya, Leon pun berlutut. Memohon atas kesalahan yang sudah ia lakukan.
Muak, jijik dan benci karena Leon terus mendesak dirinya. Hanum pun berjalan meninggalkan pemakaman. Leon berkali-kali menghalangi langkahnya.
“Kamu mau ke mana? Ikutlah denganku.”
“Tolong jangan ikuti aku!” bentak Hanum.
“Tapi kamu mau ke mana, Hanum!”
“Bukan urusanmu.” Hanum terus saja berjalan, tidak peduli kondisi jalan. Ia tak menengok kanan dan kiri.
Sementara itu Leon yang terus mengamati Hanum dengan menjaga jarak, karena Hanum tak sudi dekat-dekat dengannya. Ia pun melihat dari jauh, sebuah motor melaju ke arah Hanum. Sadar bila hanum dalam bahaya, Leon berlari dan mendorong tubuh Hanum ke tepi.
Bruakkkk
Pengendara motor oleng dan menabrak tiang listrik, sementara Hanum semula sudah di dorong Leon terlempar ke rerumputan pinggir jalan. Sementara Leon, pria itu sedikit lecet karena tubuhnya terpental ke aspal.
Hanum yang shock langsung berlari ke arah Leon, dilihatnya kening Leon yang penuh darah. Terutama siku, celana Leon pun sampai sobek. Sejenak mungkin Hanum lupa akan amarah dan bencinya pada pria itu.
“Mas... Mas!” Hanum berteriak memanggil-manggil Leon karena pria tersebut pingsan.
“Tolong... tolong!” teriak Hanum meminta tolong pada orang yang lalu lalang. Akhirnya sebuah mobil sedan berhenti, membawa Leon ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Leon kini terbaring dengan perban di kepala dan siku. Mama sejak tadi mengomeli putranya, hal apalagi yang dilakukan putranya itu. Bisa-bisa ia mati tanpa bisa menimang cucu.
Sedangkan Hanum, ia hanya diam di sudut ruangan. Berkali-kali nyawanya sudah ditolong oleh pria yang tidur di atas ranjang tersebut. Ada banyak benci yang ia rasa pada Leon, namun juga ada rasa terima kasih.
“Tante, terima kasih atas bantuannya. Malam ini Hanum akan pergi dari rumah Tante.” Hanum mencoba pamit pada Tante saat Leon masih tidur.
“Tapi?”
“Tante, Tante pasti tahu apa yang terjadi pada Hanum. Semoga Tante mengerti keputusan Hanum, dan menghargainya.”
“Tante gak akan izinin kamu pergi, setelah apa yang Leon lakukan. Tante gak bisa lepas tangan begitu saja. Tolong maafkan putra Tante.”
“Ini cara Hanum memaafkan Mas Leon, Tante. Izinkan Hanum pergi.” Hanum memeluk Tante Yesy dengan perasaan tak menentu. Ketika Leon tak sadarkan diri di rumah sakit, Hanum memutuskan pergi meninggalkan kediaman Tante Yesy. Meninggalkan Leon dengan sejuta kenangan buruk yang tak mungkin bisa dihapus.
Keesokan harinya Leon bangun, ia menanyakan Hanum pada sang Mama.
“Ma, Hanum mana?”
Mama tak menjawab, ia malah mengusap pipinya.
“Ma... Hanum mana?” Kali ini nada bicara Leon meninggi, biasanya ia tak pernah membentak pada sang Mama.
“Dia pergi!”
“Mama tak mencegahnya?” Leon langsung mencabut selang infus yang terpasang di tangannya. Ia ingin mencari Hanum sekarang. Sebab ia tahu Hanum tak punya tempat dan tujuan.
“Mama sudah berusaha mencegahnya, tapi dia tetap memilih pergi. Dan dia berpesan, kamu jangan mencarinya.”
Mendengar perkataan Mama, hati Leon makin hancur. Pria itu merasa buruk sekali. Leon pun mengusap wajahnya dengan kasar. Menangis tanpa suara, pria itu menyesal akan perbuatannya. Sebuah penyesalan yang terlambat dan tak berguna
4 Tahun kemudian
Kediaman Leon. Pria itu kini tinggal sendiri, sejak kepergian Hanum dalam kehidupannya. Kini Leon memilih membeli rumah sendiri, pisah dengan sang Mama. Sang Mama juga kini tak menjodohkan dirinya lagi, sudah pasrah. Biar jadi bujang tua juga Mama sudah tak peduli. Kelewat kecewa pasca tragedi Hanum. Mama memilih menyibukkan diri dengan kegiatan bakti sosialnya.
Mengunjungi panti dan menyibukkan diri bertemu para geng arisan yang kadang membuatnya terhibur. Walau kadang sedikit menyayat hati, ketika semua membahas menantu, anak dan cucu.
Di tempat lain, seorang anak berkuncir dua berlari-lari di sebuah taman. Ia mengejar kupu-kupu yang terbang dari bunga satu ke bunga yang lainnya.
“Sena, jangan lari-lari!” Hanum mengejar anak usia tiga tahun tersebut.
“Kupu!” ucap Sena menunjuk kupu-kupu bersayap kuning yang terbang jauh.
“Sena suka kupu, ya?”
Gadis manis dengan pipi chubby itu lantas mengangguk dengan tersenyum.
“Biarin ku punya lepas ya, sayang. Jangan ditangkap.”
“Iya Mama!” Hanum pun menggendong putrinya menuju mobil.
“Ayo ikut Mama belanja, Mama bakal beliin ice cream buat Sena. Mau?” Hanum mengemudikan mobilnya melaju ke pusat perbelanjaan. Hari ini stok bulanan habis, kini saatnya belanja bulanan.
Sambil bersenandung bersama Sena, Hanum mengemudi dengan senyuman. Kini ia menjadi single mom, hidup mandiri tanpa suami. Jangankan suami, menikah saja tidak pernah.
Sena adalah anak di luar nikah, gadis kecil itu adalah hasil perbuatan Leon 4 tahun lalu. Kini ia hidup dengan sangat baik, meski hanya berdua saja dengan putri kecilnya itu.
Begitu tiba di pusat perbelanjaan, Hanum melepas sabuk pengaman sang putri. “Kita sudah sampai.”
“Hore!” Sena nampak riang karena akan dibelikan ice cream oleh Mamanya.
Di jalan, saat Leon sedang asik mengemudi. Mamanya telpon, tumben sang Mama menelpon, biasanya jarang sekali. “Iya, Ma?”
“Bisa belikan Mama di daftar list yang Mama kirim?”
“List apa?”
“Nanti buka pesan Mama, besok Mama mau ke panti. Kebetulan stok habis. Bik Surti lagi gak enak badan. Tolong belanjakan itu semua. Mama tunggu nanti antar ke rumah.”
Leon mendesis, namun akhirnya menyanggupi apa mau sang Mama, “Iya Ma!”
Leon pun melajukan mobil, melihat kanan kiri. Di mana pusat perbelanjaan yang terdekat. Setelah sampai di sebuah tempat yang dicari. Ia pun memarkir mobilnya tanpa sengaja tepat di sebelah mobil Hanum.
Leon dengan santi masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu, sambil membuka ponsel. Dibacanya, barang apa saja yang diminta sang Mama.
Rupanya daftar kebutuhan sehari-hari yang memang akan mamanya sumbangkan ke panti besok. Tidak ingin berlama-lama ia pun menuju ke tempat yang menyediakan barang yang ia cari.
Setelah mencari semua benda yang ada di dalam list, kini troli Leon sudah penuh. Hampir tak muat lagi, hingga salah satu barangnya jatuh dan menggelinding ke arah seorang wanita yang sedang berdiri di depan rak sarden.
Jantung Leon berdegup kencang, tidak peduli pada trolinya lagi. Leon meninggalkannya begitu saja. Ia berjalan mendekati sosok wanita yang selama ini ia cari.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️