Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Bayang Keraguan di Balik Senyum
Kata-kata cinta Arga masih bergema di telingaku hingga berhari-hari setelahnya. Setiap kali ia menatapku lembut, menggenggam tangannya erat, atau mencium keningku dengan penuh kasih, jantungku berdegup kencang—namun tak jarang diiringi rasa bersalah yang menusuk pelan. Aku bukanlah Freya yang dulu ia benci, dan bukan pula Freya yang seharusnya ia cintai. Aku adalah jiwa asing yang tak tahu asal-usulnya, yang terperangkap dalam tubuh ini, berjuang mengubah takdir yang tragis.
Suatu pagi, saat kami sedang duduk berdampingan di ruang kerja Arga—ia sibuk menandatangani berkas-berkas penting, sementara aku membaca buku di dekat jendela—Arga tiba-tiba meletakkan pena, lalu menatapku lekat-lekat tanpa berkedip. Tatapannya begitu dalam, seakan berusaha menembus hingga ke dasar jiwaku.
"Freya..." panggilnya pelan.
Aku menoleh, menutup buku perlahan. "Ya? Ada apa?"
Arga berdiri, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapanku. Kedua tangannya meraih bahuku, menatapku dengan sorot mata yang bercampur baur—antara kasih sayang, keheranan, dan sedikit keraguan yang samar.
"Kau... sungguh berubah banyak," ucapnya pelan, jari telunjuknya menyentuh lembut pipiku. "Kadang aku merasa... seakan ada jiwa lain yang bersembunyi di balik matamu itu. Kau bukan lagi Freya yang kukenal dulu. Sifatmu, caramu berpikir, senyummu... semuanya terasa begitu berbeda."
Darahku seketika mendidih dan wajahku memucat. Napasku tercekat. Apakah ia mulai menyadari kebenarannya? Apakah ia mulai curiga bahwa aku bukanlah istrinya yang sesungguhnya?
Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan gemuruh di hatiku. "Bukankah... kau sendiri yang pernah berharap aku berubah? Dulu kau membenciku karena sifatku yang buruk. Kini aku berubah... justru kau yang bertanya-tanya." Aku berusaha tersenyum tipis, berharap jawabanku terdengar tenang dan meyakinkan.
Arga terdiam sejenak, lalu perlahan menarik napas dan tersenyum lembut—senyum yang menenangkan namun tetap menyisakan kegelisahan di hatiku. Ia menarikku ke dalam pelukan hangatnya, menempelkan pipinya di atas kepalaku.
"Benar juga. Aku memang berharap kau berubah... tapi perubahan ini begitu besar, begitu sempurna, hingga kadang aku takut. Takut suatu hari nanti... aku terbangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka. Bahwa Freya yang lembut dan penuh pengertian ini tak pernah benar-benar ada."
Hatiku terasa perih mendengarnya. Andai saja ia tahu... ketakutannya bukan tanpa alasan. Aku mendekap erat pinggangnya, menyembunyikan wajahku di dadanya agar ia tak melihat air mata yang mulai menggenang di mataku.
"Ini bukan mimpi, Arga..." bisikku pelan, suaranya sedikit bergetar. "Aku memang di sini. Dan... selama aku bernapas, aku akan tetap di sisimu."
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiga hari kemudian, kabar mengejutkan datang. Ayah Arga jatuh sakit parah dan meminta agar kami segera pulang ke kediaman keluarga besarnya. Di sanalah tempat semua kerabat berkumpul—tempat di mana dalam cerita aslinya, Freya selalu dijadikan bahan tertawaan dan dihina habis-habisan oleh keluarga Arga. Dan kini, aku harus menghadapi mereka semua.
Sesampainya di kediaman megah keluarga itu, suasana seketika berubah hening saat aku melangkah masuk beriringan dengan Arga. Puluhan pasang mata menatapku penuh selidik—campuran antara rasa heran, tak suka, dan penghinaan yang tak disembunyikan. Belum sempat aku melangkah lebih jauh, seorang wanita paruh baya—Bibi Ratih, kerabat jauh Arga yang dalam cerita aslinya paling kejam menghina Freya—langsung bersuara dengan nada merendahkan.
"Wah, lihat siapa yang datang? Nyonya sombong yang dulu tak pernah mau menengok keluarga suaminya, kini tiba-tiba datang dengan wajah suci. Aneh sekali..." gumamnya cukup keras agar semua orang mendengar, diiringi tawa sinis dari kerabat yang berdiri di sampingnya.
Wajah Arga seketika mengeras. Ia hendak melangkah maju dan membalas tajam, namun aku lebih dulu menahan lengannya. Aku menggeleng pelan padanya, lalu melangkah maju sendiri dengan senyum tenang yang terukir di bibir. Aku menatap Bibi Ratih lurus-lurus, tanpa rasa takut dan tanpa kemarahan yang meledak-ledak seperti yang biasa dilakukan Freya dulu.
"Benar, Bibi. Dulu aku memang banyak kekurangan dan keliru. Namun siapa pun pasti pernah melakukan kesalahan, bukan? Selama kita masih bernapas, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik. Bukankah begitu?" ucapku dengan lembut namun tegas, suaraku terdengar jernih dan tenang, mencapai telinga setiap orang yang hadir.
Bibi Ratih terdiam ternganga. Mulutnya sedikit terbuka, tak menyangka mendapat jawaban sedemikian tenang dan berwibawa, alih-alih ledakan amarah yang biasa ia harapkan. Seluruh ruangan pun seketika hening. Tak ada yang menyangka bahwa Freya yang kejam dan sombong itu kini mampu berbicara begitu bijaksana.
Arga berdiri di belakangku, menatap punggungku dengan tatapan tak terlukiskan—campuran antara rasa bangga yang membuncah dan kekaguman yang makin mendalam. Ia melangkah maju berdiri di sampingku, lalu menggenggam tanganku erat di hadapan semua orang.
"Istriku benar," ucap Arga lantang, suaranya penuh wibawa yang membuat siapa pun tak berani menyela. "Freya telah berubah menjadi wanita yang jauh lebih mulia daripada kita semua. Mulai hari ini, siapa pun yang berani menghinanya sekalipun dengan kata-kata halus, berarti sedang menghinaku. Aku tak akan segan-segan menindak tegas."
Ancaman itu begitu tegas dan berat, seketika membuat semua orang menunduk tak berani bersuara lagi. Bibi Ratih pun membuang muka dengan wajah merah padam menahan malu.
Namun saat kami berbalik berjalan menuju kamar ayahnya Arga, aku sempat melirik sekilas ke arah pintu samping. Dan detak jantungku seakan berhenti sejenak. Di balik tirai jendela, sepasang mata yang kukenal betul sedang menatapku tajam penuh kebencian.
Laras.
Wanita itu ternyata juga ada di sini. Tangan kanannya mengepal erat, kukunya hingga menancap ke telapak tangan. Di matanya, terpancar tekad yang mengerikan. Ia belum menyerah. Dan kehadirannya di sini... berarti rencana yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya sedang bersiap ia jalankan.
Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Pertempuran di depan keluarga Arga hanyalah permulaan. Yang sesungguhnya akan segera dimulai. Dan kali ini... aku harus siap bertaruh nyawa untuk melindungi hidupku, cintaku, dan masa depan yang kini mulai kian kusayangi.
Lanjut ke Bab 8? 😊
~Musuh rahasianya ternyata masih bersembunyi di dekat~