Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26. Malam Tanpa Kabar

Semua bermula dari sebuah pesan singkat yang masuk ke ponsel Naira tepat saat matahari baru saja terbit di ufuk timur.

Sayang, aku ada urusan mendesak di kota sebelah. Aku harus berangkat sekarang. Maaf aku tidak sempat menemuimu sebelum pergi. Aku akan menghubungimu sebisa mungkin. Jaga dirimu baik-baik untukku, ya. — Mikael

Naira tersenyum saat membaca pesan itu, jantungnya berdebar lembut karena perhatian kecil yang selalu diberikan, bahkan dalam keadaan terburu-buru sekalipun. Ia membalas dengan cepat, memintanya berhati-hati di jalan, berjanji menunggunya pulang.

Hati-hati, Mikael. Semoga urusannya lancar. Aku akan menunggumu. ❤️

Namun seiring berjalannya waktu, senyum itu perlahan memudar.

Pagi berganti siang, siang berubah sore. Ponsel Naira tetap diam di atas meja kerjanya, layarnya gelap dan sunyi. Tidak ada balasan dari Mikael. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan singkat yang berkata aku sudah sampai, atau sedang sibuk sebentar, atau sekadar merindumu.

Naira berusaha tetap tenang. Ia menyibukkan diri dengan sketsa-sketsa barunya, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa urusan mendesak memang bisa seperti itu, kadang tidak ada waktu untuk memegang ponsel, kadang sinyal di sana buruk, kadang baterai habis tanpa sempat diisi ulang.

Dia baik-baik saja, pikirnya berulang-ulang sambil menggambar garis lengkung di atas kertas. Dia hanya sibuk. Jangan berlebihan, Naira.

Tapi saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi ungu gelap, kecemasan itu tidak lagi bisa dibendung. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, ponsel digenggam erat seolah-olah itu adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkannya dengan dunia.

Setiap kali ada bunyi notifikasi, ia melompat dengan hati berpacu, lalu kecewa saat menyadari itu bukan dari Mikael.

Bukan curiga. Naira tidak pernah meragukan Mikael. Ia tahu hatinya miliknya sepenuhnya. Ia tahu pria itu tidak akan pernah sengaja membuatnya cemas.

Tapi rindu itu ternyata adalah perasaan yang paling menakutkan. Karena saat kamu merindukan seseorang dengan begitu dalam, keheningan darinya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan.

Setiap jam yang berlalu terasa seperti selamanya. Setiap menit tanpa kabar terasa seperti satu abad.

"Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja." bisiknya pada ruangan yang sepi, matanya berkaca-kaca. "Hanya itu. Aku tidak menuntut banyak. Hanya satu kalimat. Satu kata pun cukup."

Ia mencoba meneleponnya sekali di siang hari, nada sambung, tapi tidak diangkat. Dua kali di sore hari, sama, tidak diangkat.

 Sekarang, saat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam, ia menatap layar ponselnya dengan mata yang lelah dan hati yang sesak.

Ia tidak ingin menelepon lagi. Ia tidak ingin terlihat menuntut atau manja. Tapi hatinya sakit. Sakit karena rindu yang begitu besar, namun tidak ada tempat untuk menyalurkannya.

Di mana dia? Apakah dia sudah makan? Apakah dia istirahat? Apakah dia memikirkanku, seperti aku memikirkannya setiap detik?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya, membuatnya semakin gelisah.

Ia teringat wajah Mikael, senyumnya yang lembut, suaranya yang menenangkan, tangannya yang selalu menggenggam tangannya erat. Semua hal kecil yang biasanya ia miliki begitu dekat, hari ini terasa jauh sekali. Jauh dan tak tersentuh.

Tiba-tiba, ponsel di tangannya bergetar.

Naira tersentak, jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia hampir menjatuhkan benda itu. Nama di layar membuat napasnya tertahan — Mikael.

Detik itu juga, air mata yang ia tahan seharian itu tumpah begitu saja. Ia menatap nama itu selama beberapa detik, takut menjawab sekaligus takut membiarkannya berhenti berbunyi.

Lalu dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Halo..." suaranya terdengar pecah, lemah, dan penuh rindu yang tak tertahankan.

Di ujung telepon, ada keheningan sejenak. Lalu terdengar suara yang ia kenal dengan baik, suara Mikael, terdengar lelah, berat, dan sedikit serak, tapi begitu lembut hingga seketika menghancurkan seluruh tembok pertahanan yang ia bangun seharian.

"Naira... Sayang... Maafkan aku."

Satu kalimat itu sudah cukup. Naira duduk di tepi tempat tidurnya, menutup mulutnya dengan tangan agar isak tangisnya tidak terdengar. Semua kecemasan, semua rindu, semua ketakutan yang ia sembunyikan seharian, meledak sekaligus.

"Ke mana saja kamu?" tanyanya, tidak marah, hanya sungguh-sungguh rindu. "Seharian ini tidak ada kabar sama sekali. Aku... aku hanya khawatir, Mikael. Aku hanya rindu dan takut sesuatu terjadi padamu."

Mikael menghela napas panjang di ujung sana, terdengar sangat menyesal dan lelah.

"Aku tahu, Sayang... aku tahu dan aku minta maaf. Sejak tadi pagi aku berada di ruang rapat yang tidak ada sinyal sama sekali.

 Setelah itu langsung ke pertemuan lain, lalu perjalanan pulang yang macet parah karena jalan rusak.

Ponselku ternyata mati, dan baru saja aku sempat mengecasnya sebentar. Saat aku menyalakannya ada puluhan panggilan darimu. Dan aku merasa bersalah karena membuatmu menunggu begitu lama."

Ia berhenti sejenak, lalu suaranya melembut, penuh kasih sayang yang tulus.

"Aku tidak pernah sekalipun berhenti memikirkanmu, Naira. Di setiap detik yang berlalu, wajahmu yang terbayang di kepalaku.

 Aku terburu-buru pulang bukan hanya karena urusannya selesai, tapi karena aku tidak tahan lagi jauh darimu. Aku ingin pulang. Aku ingin melihatmu. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Naira menahan air matanya mengalir. Hatinya merasa lega yang meluap-luap. Ia menekan ponsel lebih erat ke telinganya, seolah-olah dengan begitu ia bisa merasakan kehadirannya di sana.

"Aku hanya rindu," ulangnya pelan, lebih tenang sekarang. "Aku hanya... tidak terbiasa tanpamu di sisiku. Hari ini terasa begitu panjang, Mikael. Sangat panjang."

Mikael tersenyum di ujung telepon, Naira bisa merasakannya meskipun tidak melihatnya.

"Aku juga, Naira. Aku juga merindukanmu. Lebih dari yang kamu tahu. Jauh lebih dari yang bisa kau bayangkan.

Setiap jam yang berlalu tanpamu terasa seperti setahun. Setiap kali aku melihat hal-hal lucu, aku berharap kamu ada di sana untuk tertawa bersamaku.

Setiap kali aku lelah, aku berharap bisa menoleh dan melihat wajahmu yang menenangkan. Kamu adalah hatiku, Naira."

Naira tersenyum di antara air matanya. Kata-katanya seperti pelukan hangat yang menembus jarak ratusan kilometer di antara mereka.

"Kamu belum sampai rumah, kan?" tanyanya pelan.

"Belum. Masih di perjalanan. Mungkin butuh dua jam lagi sampai di kota. Tapi begitu sampai di kota, hal pertama yang aku lakukan adalah datang ke rumahmu. Hanya untuk melihatmu, memastikan kamu baik-baik saja, dan menciummu selamat malam. Bahkan jika kamu sudah tidur. Aku akan datang."

"Jangan memaksakan diri, Mikael. Kamu pasti sangat lelah."

"Tidak ada yang bisa menghalangiku melihatmu malam ini. Tidak ada apa pun."

Mereka diam sejenak, menikmati suara napas satu sama lain di seberang sana. Keheningan yang hangat, penuh dengan rindu yang saling berkirim tanpa kata-kata.

"Naira..." panggil Mikael pelan.

"Ya?"

"Maaf sudah membuatmu cemas seharian ini. Lain kali apa pun yang terjadi, aku akan menemukan cara untuk mengirimkan satu pesan saja. Satu kata yang berkata 'aman'. Karena ketenanganmu adalah hal terpenting bagiku. Aku tidak akan pernah melupakannya lagi."

"Aku tahu kamu akan melakukannya. Dan aku akan selalu menunggumu, apa pun yang terjadi."

"Tidurlah sebentar, Sayang. Aku akan menelepon lagi saat aku sudah dekat dengan rumahmu. Kita akan bertemu sebentar lagi. Bertahanlah dua jam lagi untukku, ya?"

"Iya, Mikael. Hati-hati di jalan. Aku akan menunggumu. Selalu."

"Sampai bertemu, cintaku. Aku merindukanmu."

"Aku juga merindukanmu."

Saat panggilan terputus, Naira meletakkan ponsel di dadanya, tersenyum bahagia di antara sisa-sisa air matanya. Kecemasan seharian itu kini hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa.

Dia baik-baik saja. Dia memikirkannya. Dia sedang dalam perjalanan pulang. Dan dia akan datang menemuinya malam ini.

Naira berjalan ke jendela kamarnya, membuka tirai lebar-lebar, menatap ke arah jalanan yang gelap di bawah sana. Di suatu tempat di antara kegelapan malam itu, pria yang dicintainya sedang mengemudi dengan lelah namun tekad yang kuat, hanya untuk menemuinya.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!