Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sore itu, Keira berdiri menunggu kendaraan di halte depan sekolah. Biasanya pada jam seperti ini jalanan sudah sepi dan kendaraan pun jarang lewat, namun Keira tetap berdiri di sana, berharap semoga ada kendaraan yang melintas.
Setelah kejadian di dalam kelas tadi, Keira mendapat hukuman untuk membersihkan taman belakang sekolah yang luas itu sendirian.
Saat matanya menangkap sosok yang dikenalnya, ia pun memanggil pelan, “Kak Segar?”
Mengapa Kakaknya ada di sini? Seharusnya saat ini Kakaknya sedang berada di kampus, bukan di dekat sekolahnya.
Namun saat dipandang lebih saksama.. terlihat jelas bahwa Kakaknya baru saja menangis. Dan tak jauh dari sana, Kakaknya sedang berdebat dengan seorang pemuda.
Rasa takut sempat menyelimuti hatinya, namun rasa penasaran jauh lebih kuat. Ia pun melangkah mendekat.
Sebenarnya ia bisa saja berpura-pura tak melihat dan melanjutkan perjalanannya. Namun bagaimana mungkin ia berpura-pura tak tahu apa-apa, terutama saat melihat Kakaknya terlihat begitu lemah dan terluka? Sebagai adik, ia tak bisa berdiri diam saja.
“Kakak!” Seru Keira lantang. Namun Kakaknya tak menoleh sedikit pun ke arahnya.
Mendengar suara itu, Segar pun berhenti melangkah. Pemuda yang berjalan di sampingnya bernama Reza menarik tangan Segar dengan kasar.
“Siapa dia?” Tanya Reza dengan tatapan yang tak ramah.
“Bukan siapa-siapa. Mari kita pergi sekarang,” jawab Segar berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Siapa dulu? Aku ingin tahu,” desak Reza tak mau kalah.
Keira mendekat dan langsung bertanya, “Mengapa Kakak menangis?”
Segar menatapnya dingin, seolah tak mengenalnya. “Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku.”
Hati Keira terasa perih seketika. “Saya Adik Kakak!” Serunya dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin Kakaknya berpura-pura tak mengenalnya, padahal selama ini mereka begitu dekat?
Namun saat melihat butiran air mata kembali jatuh membasahi pipi Kakaknya, hati Keira ikut teriris. Kakaknya seharusnya hidup bahagia, bukan menangis seperti ini.
Reza kembali bersuara dengan nada yang penuh amarah, “Siapa laki-laki itu? Apakah dia kekasih rahasiamu yang tak kau ceritakan padaku? Setelah berpisah dari Putra, kau kini berpindah kepadanya? Sungguh tak kusangka kau bersikap demikian!”
Segar mencoba membela diri, “Apa yang kau ucapkan itu tidak benar! Aku tak mengenalnya. Hentikan tuduhan itu, dan ingatlah, Putra itu hanyalah seorang teman biasa bagiku!”
“Sungguh sulit dipercaya. Sepertinya bagimu memiliki satu orang saja tak cukup, bukan begitu?” Reza menatapnya dengan pandangan yang tak menyenangkan.
Suara tamparan keras memecah keheningan sebelum Reza sempat melanjutkan perkataannya.
Segar menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tak seburuk yang kau pikirkan itu.”
“Berani sekali kau melakukannya!” Reza melotot marah dan hendak membalas dengan kekerasan, namun Keira melangkah maju dan menghadangnya.
“Jangan berani-berani menyakiti Kakak saya!” Tegas Keira dengan nada yang dingin dan mengancam.
“Kau masih anak-anak, tak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Lebih baik kau pulang dan belajarlah dengan baik,” ucap Reza meremehkan.
Keira tak memedulikan ucapan itu. Dengan satu gerakan tangan, ia menghantam wajah Reza hingga pemida itu terhuyung mundur dan jatuh ke tanah. Sudut bibir Reza pun terlihat berdarah.
Reza kembali bangkit dan melangkah mendekat. Tanpa rasa takut sedikit pun, Reza membalas dengan pukulan yang mendarat tepat di wajah Keira. Darah pun mulai menetes dari sudut bibirnya yang terluka.
“Berhenti!!” Tegas Segar dengan suara meninggi.
“Di sini banyak orang yang melihat. Mari kita pergi, Za. Nanti aku akan menjelaskan semuanya. Dan kau… jangan pernah lagi ikut campur urusanku. Bukankah sejak awal aku sudah memintamu untuk tidak mengharapkan apa pun dariku?” Setelah berkata demikian, Segar menarik tangan Reza dan pergi begitu saja, tanpa sekalipun menoleh atau memedulikan wajah Keira yang terluka.
“Aku sebenarnya tak bermaksud ikut campur, Kak. Hanya saja.. ah.. Sudahlah.”
Dengan kasar Keira menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia melangkah perlahan menuju tepi jalan, berusaha mencari kendaraan untuk pulang.