Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN DUA BACH DAN RAHASIA YANG TERBUKA
Di dalam aula pesta yang masih riuh, pintu masuk utama mendadak terbuka lebar. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa menarik perhatian beberapa tamu di dekat pintu.
Samuel Sebastian Bach berjalan masuk dengan setelan jas hitam formalnya yang sangat rapi. Wajah tampannya tetap kaku tanpa ekspresi, memancarkan aura sedingin es yang sangat kukenali.
Dia melangkah cepat menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berdiri di dekat meja prasmanan.
"Pah, Mah. Maaf Samuel datang terlambat. Tadi ada rapat darurat dengan tim audit dari pabrik pusat yang tidak bisa ditinggal," ujar Samuel dengan nada suara baritonnya yang berat, membungkuk hormat sekilas.
Sang Ibu langsung berkacak pinggang, menatap putra sulungnya dengan gelengan kepala penuh omelan.
"Aduh, Samuel. Kamu ini ya, selalu saja kerja, kerja, dan kerja! Ini hari ulang tahun adikmu satu-satunya, loh. Masa rapat diler lebih penting daripada tiup lilin Maikel?"
"Betul kata Mamahmu, Sam," timpal sang Ayah ikut menyahut dengan nada tegas namun tenang.
"Sesekali taruh dulu berkas kantormu itu. Hari ini fokus untuk adikmu. Oh iya, sekarang di mana Maikel? Tadi dia di sini."
Samuel membetulkan posisi jam tangan mewahnya sejenak.
"Samuel justru baru mau mencari Maikel, Pah. Tadi dia pergi ke arah mana?"
"Tadi sih Mamah lihat dia sedang bersama Vera dan... oh iya, sama guru les privatnya yang berjasa itu. Coba kamu cari ke area dalam atau taman belakang," sahut Ibu menunjuk ke arah koridor dalam.
"Guru les privat?" Samuel mengernyitkan dahi halus, sedikit heran.
"Baik, Pah, Mah. Samuel cari dia dulu."
Samuel melangkah lebar menyusuri koridor marmer menuju taman belakang. Namun, baru saja dia melewati belokan dekat pintu kaca, langkahnya terhenti saat melihat sesosok gadis bergaun merah mencolok sedang berdiri menyandarkan punggungnya di dinding dengan wajah ditekuk cemberut.
"Vera?" panggil Samuel datar.
"Kenapa kamu berdiri di sini sambil cemberut begitu? Mana Maikel?"
Vera yang mendengar suara abang Maikel langsung mendongak dengan bibir yang dikerucutkan penuh nada kesal.
"Ih, Kak Samuel. Tau tuh si Maikel! Menyebalkan banget! Dia malah pergi ke area balkon luar!"
Samuel menaikkan sebelah alisnya. "Ke balkon? Sendirian?"
"Enggak. Dia pergi entah sama wanita siapa! Kelihatan lebih tua tapi gayanya sok anggun banget pakai gaun biru dongker!" cerocos Vera berapi-api, menyilangkan tangan di dada dengan gusar.
"Maikel bahkan sampai tega ngebiarin kado dari gue jatuh demi ngebela cewek asing itu, Kak. Kesel banget gue!"
Mendengar kata “gaun biru dongker” dan “wanita yang lebih tua”, ada secercah rasa penasaran yang tiba-tiba menggelitik benak Samuel. Rasa ingin tahunya mendadak terusik. Tanpa membalas ucapan Vera lebih lanjut, Samuel langsung melangkah lebar menuju pintu balkon luar.
Sementara itu, di bawah temaram lampu balkon taman belakang, aku baru saja melepaskan pelukan hangat Maikel dengan jantung yang masih berdegup tidak karuan. Maikel masih memandangi jam tangan hitam pemberianku dengan senyum benderang seolah baru memenangkan trofi terbesar dalam hidupnya.
"Maikel."
Sebuah panggilan bariton yang sangat dingin tiba-tiba memotong kesunyian malam di balkon.
Aku dan Maikel sontak menoleh serempak ke arah sumber suara. Detik itu juga, mataku membelalak lebar dan seluruh tubuhku seketika membeku kaku bagai manekin. Samuel berdiri tegak di sana, menatap kami berdua dengan sepasang mata tajamnya.
P-Pak Samuel. Direktur Utama, ngapain bos besar kelistrikan ada di rumah ini?! Otakku mendadak blank total.
Namun, reaksi yang sangat kontras justru ditunjukkan oleh Maikel. Sifat posesifnya seketika mencair, berubah menjadi mode adik yang sangat manja.
Maikel langsung melangkah lebar dia menghampirinya dan menghambur memeluk bahu pak Samuel.
"Kak Sam. Telat banget sih lu datengnya, kue tart-nya udah dipotong tahu!" Maikel melepaskan pelukan, lalu menyodorkan telapak tangannya dengan cengiran jail yang khas.
"Mana kado buat gue? Jangan bilang lu cuma bawa badan doang ya!"
Aku yang menyaksikan pemandangan aneh luar biasa itu hanya bisa melongo dengan lidah yang mendadak kelu. Kak Sam? Akur banget?
"M-Maikel... kamu... kok panggil Pak Direktur dengan sebutan Kak?" tanyaku terbata-bata dengan suara bergetar karena panik yang luar biasa.
Maikel menoleh ke arahku dengan kening berkerut bingung.
"Loh? Kok lu manggil Kakak gue dengan sebutan Pak Direktur, Jem? Kenalin, ini Kak Samuel, Kakak gue yang super kaku kayak robot diler." Maikel beralih menatap Samuel penuh bangga.
"Kak Sam, kenalin, ini Jema. Guru les privat fisika gue yang super pinter yang sering diceritain Mamah."
Samuel menatapku lurus-lurus, wajah tampannya tetap kaku tanpa ekspresi, namun ada riak keterkejutan yang sempat melintas di matanya saat melihatku memakai gaun satin biru dongker yang anggun ini.
"Kami sudah saling kenal, Maikel," ujar Samuel dengan suara dalamnya yang tenang.
"Hah?! Sudah saling kenal?!" Mata Maikel langsung membelalak kaget. Mulutnya sampai sedikit menganga. Dia memandangku dan Samuel bergantian dengan raut bingung yang amat ketara.
"Kok bisa?! Kalian berdua ketemu di mana?! Jangan bercanda deh, Kak!"
Aku menelan ludah dengan susah payah, wajahku membara panas karena rasa canggung yang luar biasa mengingat kejadian refleks memeluk Samuel kemarin siang di lantai dua belas.
Aku menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri membuka suara.
"Maikel... maaf. Sebenarnya... Pak Samuel ini adalah Direktur Utama di tempat kerja baru aku. Aku bekerja sebagai Teknisi Sistem Kelistrikan Utama di PT Purna Jaya Otomotif Bach."
"Iya, Maikel," timpal Samuel datar, membetulkan letak lengan jasnya.
"Jema baru saja diangkat menjadi karyawan tetap di divisi bawah kemarin siang, karena memiliki kualifikasi performa terbaik di sistem."
Mendengar penjelasan rasional dari kami berdua, duniaku dan Maikel serasa berputar kacau. Dia memegangi kepalanya sejenak dengan wajah yang menahan syok luar biasa.
"Gila... jadi selama ini... lu kerja di perusahaan manufaktur milik keluarga gue sendiri, Jem?! Dan lu merahasiakannya dari gue?!"
"Aku... aku cuma takut kamu bakal nekat nyusul ke tempat kerja dan bikin kehebohan di depan Pak Yusuf, Kel. Tapi jujur, aku gak tau kalau perusahaan tempat gue bekerja itu, perusahaan keluarga mu" ujarku jujur dengan nada bersalah yang tertahan.
Maikel melongo, masih berusaha mencerna kenyataan bahwa Ibu Guru Galak, yang disukainya ternyata adalah anak buah dari Kakak kandungnya sendiri.
Samuel menatap interaksi kami berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. Dibalik wajah dinginnya yang sekeras es, ada rasa berbeda yang aneh yang mendadak merayap di dadanya saat melihat kedekatan intens di antara kami.
Samuel berdeham sangat keras untuk memutus atmosfer canggung malam itu.
"Ekhem. Urusan pekerjaan bisa dibahas hari Senin di workshop, Jema," ujar Samuel tegas, menatap Maikel lekat-lekat sebelum berbalik untuk meninggalkan kami kembali berdua.
Sebelum kakinya melangkah melewati pintu kaca, Samuel menjeda langkahnya sejenak, lalu melirik Maikel dari balik bahunya dengan senyuman yang sangat samar.
"Selamat ulang tahun, Maikel. Jadi anak yang baik dan jangan bikin susah gurumu."