Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Terbakar

“Phantom?!”

Nama itu terlepas dari bibirku sebelum sempat kupikirkan.

Aku baru saja melihat sosok itu.

Sosok yang selama ini hanya hadir dalam bisikan, mawar merah, dan ketakutan yang menyelimuti seluruh gedung opera.

Kini, ia menunjukkan dirinya di hadapan kami.

Atau setidaknya, aku yakin bahwa sosok yang kulihat adalah dirinya.

Jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya dapat didengar oleh semua orang di dalam ballroom.

“Apa yang dia inginkan?” pikirku. “Mengapa dia menunjukkan dirinya sekarang?”

Aku tidak sadar bahwa beberapa orang di dekatku telah mendengar teriakanku.

Namun, hanya dalam hitungan detik, bisikan itu menyebar seperti api yang menjalar di atas jerami kering.

“Phantom!”

“Phantom ada di sini!”

“Dia datang!”

Kepanikan seketika pecah di seluruh ruangan.

Meg memucat.

“Phantom!” serunya. “Dia datang untuk menghabisi kita semua!”

“Ya Tuhan, kasihanilah kami!” Carlotta menjerit sambil menutupi mulutnya.

Para tamu mulai berdesakan menuju pintu keluar.

Musik berhenti.

Tawa menghilang.

Pesta yang beberapa saat sebelumnya dipenuhi cahaya, tarian, dan kemewahan berubah menjadi lautan manusia yang panik.

Aku mencoba mundur, tetapi seseorang menabrakku dari belakang.

Tubuhku kehilangan keseimbangan.

“Ah!”

Aku hampir jatuh ketika sepasang tangan menangkap tubuhku.

“Hati-hati!”

Suara itu membuatku tersentak.

Raoul.

Ia menahanku dengan erat sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Christine, kau tidak apa-apa?”

Aku mengangguk cepat.

Namun, bulu kudukku kembali berdiri.

Ada sesuatu yang membuatku merasa sedang diawasi.

Aku perlahan melepaskan diri dari genggaman Raoul dan mengangkat wajah.

Di seberang ballroom, di antara kerumunan yang kacau, sosok itu masih berdiri.

Jubah gelapnya bergerak perlahan tertiup udara.

Topeng putih menutupi sebagian wajahnya.

Dan di dadanya…

Mawar merah.

Matanya tertuju kepadaku.

Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tetapi entah bagaimana aku tahu bahwa ia sedang menatapku.

Kemudian pandangannya bergeser.

Dari diriku…

kepada Raoul.

Ada sesuatu dalam tatapan itu.

Kebencian.

Kemurkaan.

Seolah-olah keberadaan Raoul di sisiku merupakan sesuatu yang tidak dapat ditoleransi olehnya.

Raoul mengikuti arah pandanganku.

“Christine…”

Ia mengerutkan kening, “Apakah kau yakin itu Phantom?”

Aku tidak mampu mengalihkan pandangan.

“Ya.” Suaraku bergetar.

“Aku yakin.”

“Itu dia.”

Belum sempat Raoul menjawab, sebuah teriakan terdengar dari sisi lain ballroom.

“Api!”

Semua orang menoleh.

“Phantom membakar gedung!”

Asap hitam mulai membumbung ke udara.

Dalam kekacauan itu, seseorang menjatuhkan sebuah lilin.

Api menyambar tirai beludru yang tergantung di sisi ruangan.

Dalam sekejap, kain itu terbakar.

Nyala api menjalar dengan cepat.

“Api!”

“Keluar!”

“Selamatkan diri kalian!”

Panas mulai terasa di wajahku.

Api menjilat ke atas, merambat menuju langit-langit, lalu melahap segala sesuatu yang berada di jalurnya.

Raoul segera berdiri di depanku.

“Christine, mundur!”

Ia melindungiku dengan tubuhnya.

Aku merasakan lengannya menarikku menjauh dari kobaran api.

Di sekeliling kami, para tamu berlarian tanpa arah.

Gelas-gelas pecah.

Kursi-kursi terbalik.

Kain-kain pesta terseret di lantai.

Sementara itu, manajer berteriak dengan suara yang hampir tenggelam oleh kepanikan.

“Apa yang kalian tunggu?! Padamkan apinya!”

Para pekerja segera berusaha mengambil ember dan peralatan pemadam.

Namun, di tengah kekacauan itu, aku kehilangan sosok berjubah hitam tadi.

Ia telah menghilang.

Raoul menatap ke arah tempat Phantom berdiri beberapa saat sebelumnya.

“Aku tahu ke mana dia pergi.”

“Apa?”

“Aku akan mengejarnya.”

Ia berbalik.

“Raoul, tunggu!”

Namun, ia sudah melangkah pergi.

“Christine, cari tempat yang aman. Tunggu aku.”

“Raoul!”

Ia tidak berhenti.

Aku hanya bisa melihat punggungnya semakin jauh sebelum akhirnya tertelan oleh kerumunan.

Aku menggigit bibir.

Tidak.

Aku yakin Phantom sengaja menunjukkan dirinya.

Dan aku semakin yakin bahwa tatapan tadi bukanlah kebetulan.

Ia mengincar Raoul.

Aku tidak mungkin hanya berdiri diam sementara Raoul mempertaruhkan nyawanya seorang diri.

Aku segera keluar dari ballroom.

Lorong gedung opera jauh lebih sunyi dibandingkan ballroom yang masih dipenuhi kepanikan.

Aku menoleh ke kiri dan kanan.

Tidak ada Raoul.

Tidak ada Phantom.

“Panggung ada di sebelah kiri…”

Aku mencoba mengingat tata letak gedung.

“Di belakang panggung terdapat tangga menuju area penyimpanan.”

Aku berjalan lebih cepat.

“Ke mana mereka pergi?”

Pikiranku berputar.

Gedung opera memiliki begitu banyak ruang tersembunyi.

Tempat penyimpanan properti, lorong-lorong sempit, ruang teknis, tangga, dan berbagai bagian bangunan yang jarang didatangi orang biasa.

Mungkin Phantom bersembunyi di belakang panggung.

Aku mempercepat langkah.

Ketika akhirnya sampai di area belakang panggung, aku melihat seseorang berdiri di antara tumpukan properti.

Raoul.

Ia sedang mengamati sekeliling dengan waspada.

“Raoul!”

Ia segera berbalik.

Wajahnya yang semula tegang berubah ketika melihatku.

“Christine?”

Ia menghampiriku.

“Kenapa kau di sini?”

“Kau pergi mengejar Phantom seorang diri.”

Aku mencoba mengatur napas.

“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu.”

Raoul menghela napas.

“Maaf.”

Ia mengusap dahinya.

“Itu memang ide yang buruk.”

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Tapi setidaknya kekhawatiranmu tidak berakhir sia-sia. Aku kehilangan jejaknya di sini.”

“Kau melihatnya masuk ke sini?”

“Tidak.”

Raoul menggeleng.

“Aku tidak melihat tanda-tanda siapa pun ketika tiba.”

Aku melihat ke sekeliling.

“Kalau begitu, mungkin dia masih bersembunyi.”

“Aku juga berpikir begitu.”

Raoul memandang ruangan yang berantakan.

“Dan tempat ini jauh lebih kacau daripada biasanya.”

Aku berjalan mendekati sebuah rak.

Beberapa benda telah dipindahkan dari tempatnya.

Alat-alat peraga kayu berserakan di lantai. Beberapa peti terbuka, sementara kain-kain tua tergeletak begitu saja.

“Lihat ini.”

Aku menunjuk rak di sampingku.

“Sepertinya seseorang baru saja mencari sesuatu.”

Raoul mendekat.

“Mungkin Phantom.”

“Mari kita berpencar.”

Aku menatapnya.

“Kalau kita terus mencari bersama, kita mungkin akan kehilangan waktu.”

Raoul tampak tidak setuju.

“Christine…”

“Aku tahu kau mengkhawatirkanku.”

Aku tersenyum kecil.

“Tetapi aku berjanji akan berhati-hati.”

Aku mengambil lampu kecil yang berada di atas meja.

“Kita harus bertindak cepat sebelum dia melarikan diri.”

Raoul menatapku beberapa saat.

Akhirnya ia menghela napas.

“Baiklah.”

Ia menyerahkan sebuah benda kecil kepadaku.

“Jika kau menemukan sesuatu yang tidak biasa, segera panggil aku.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Kami kemudian berpisah.

Aku berjalan perlahan melewati tumpukan properti.

Tempat itu begitu sunyi.

Suara langkah kakiku sendiri terdengar terlalu keras di telingaku.

Setiap kali sebuah benda bergeser karena tersenggol ujung rokku, jantungku berdegup lebih cepat.

Aku menyingkirkan sebuah peti kayu.

Tidak ada apa-apa.

Aku memeriksa balik tirai.

Kosong.

Aku melihat ke bawah meja.

Tidak ada siapa-siapa.

Mungkin Phantom sudah pergi.

Aku mulai merasa sedikit lega.

Namun, tepat ketika aku hendak berbalik…

Aku mendengar sesuatu.

Samar.

Sangat samar.

Suara napas.

Aku membeku.

Kemudian ujung rambutku bergerak pelan.

Seolah-olah ada angin yang baru saja melewati belakang leherku.

Padahal tidak ada jendela terbuka.

Aku merasakan dingin menjalar dari tengkuk hingga punggung.

“Siapa di sana?”

Tidak ada jawaban.

Aku perlahan berbalik.

Di balik sebuah rak besar, sesuatu bergerak.

Sebuah bayangan.

Aku menahan napas.

“Raoul!”

Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.

“Christine!”

Raoul segera menyingkirkan beberapa properti yang menghalangi jalannya dan bergegas menghampiriku.

Ketika ia sampai, ia langsung menghunus pedangnya.

“Di mana?”

Aku menunjuk ke arah rak.

“Ada seseorang di sana.”

Raoul berdiri di depanku.

“Kalau kau di sana, tunjukkan dirimu!”

Suaranya menggema di ruangan kosong.

“Berhentilah menyelinap seperti seorang pengecut!”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Raoul bergerak perlahan.

Ia mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi.

“Aku tidak akan mengulanginya.”

Tetap tidak ada jawaban.

Ia akhirnya menoleh kepadaku.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku menarik napas.

“Aku mendengar seseorang bernapas.”

Raoul diam.

“Kemudian rambutku bergerak. Aku berbalik dan melihat bayangan di balik rak.”

Ia mengamati tempat yang kutunjuk.

“Apakah kau melihat wajahnya?”

Aku menggeleng.

“Tidak. Hanya bayangannya.”

Raoul mengernyitkan dahi.

“Dan kau yakin itu bukan ilusi?”

“Aku tidak tahu.”

Aku menatap rak tersebut.

“Tapi aku yakin ada seseorang di sini.”

Raoul terdiam beberapa saat.

Kemudian ia berkata pelan, “Dia sengaja memprovokasi kita.”

“Maksudmu?”

“Dia ingin kita takut.”

Raoul menurunkan pedangnya sedikit.

“Dia tahu bahwa kita mengejarnya.”

Aku memandangnya.

“Jadi, semua ini hanya permainan?”

“Mungkin.”

Raoul berjalan mengitari ruangan.

“Tetapi aku tidak ingin mengambil risiko.”

Kami kembali mencari.

Satu sudut demi satu sudut.

Rak demi rak.

Peti demi peti.

Namun, tidak ada apa pun.

Tidak ada jejak kaki.

Tidak ada pakaian.

Tidak ada senjata.

Tidak ada satu pun petunjuk mengenai ke mana sosok itu pergi.

Pada akhirnya, kami hanya bisa berhenti.

Aku menghela napas panjang.

“Kita tidak menemukan apa-apa.”

Raoul mengangguk.

“Tidak kali ini.”

Aku menatap lorong gelap di hadapan kami.

Entah mengapa, perasaanku mengatakan bahwa ini bukan akhir.

Phantom telah menunjukkan dirinya di hadapan seluruh gedung opera.

Ia telah membuat api.

Ia telah memancing Raoul untuk mengejarnya.

Dan sekarang…

Ia menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Seolah-olah semua yang terjadi malam itu hanyalah sebuah permainan.

Aku menggenggam ujung gaunku.

Apa sebenarnya yang kau inginkan, Phantom?

Dan aku mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Mungkin sejak awal…

bukan kami yang sedang mencari Phantom.

Mungkin justru Phantom-lah yang sedang menuntun kami menuju sesuatu yang ingin ia tunjukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!