Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9 Hari pertama menjadi istri Leon
Luna terbangun di atas kasur king size yang sangat empuk di dalam kamar bernuansa abu-abu dan hitam yang dingin. Ia sempat kebingungan memikirkan keberadaannya sebelum menyadari buku nikah di atas meja nakas menegaskan realitas bahwa ia kini berstatus sebagai istri sah.
Luna menoleh ke sisi ranjang sebelahnya "kosong" Leon sudah tidak ada di sana dia sudah pergi meninggalkan kamar itu.
"Apa benar semalam Leon tidur di sini juga?" gumam Luna.
Pintu kamar terbuka pelan, dan Emily kecil masuk sambil memeluk boneka beruangnya. Wajah gembira sang putri kecil yang menyapa "Selamat pagi, Mami Luna!" seketika mencairkan suasana canggung dan memberikan rasa hangat di tengah asingnya kemegahan mansion tersebut.
"Emily sayang...," ucap Luna yang masih berada di atas tempat tidur mewah itu sambil membentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan putri tirinya itu.
Dengan segera Emily naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam pelukan Luna dengan manja membawa serta boneka beruangnya "Emily kok sudah bangun?" tanya Luna sambil mengusap lembut rambut keriting Emily.
"Iya, semalam Emily gak bisa tidur..." ucap Emily pada Luna.
"Kenapa sayang? Kok tidak panggil mami Luna buat nemenin Emily?" ucap Luna menatap Emily hangat.
"Emily takut sama papa, kan mami Luna baru menikah sama papa, kata Bibik Emily gak boleh ganggu dulu gitu katanya," ucap Emily kecil dengan polosnya dan dengan gaya manjanya.
Luna tersenyum hangat dan kembali mengusap dengan sayang kepala Emily "Tidak apa-apa sayang, lain kali kalau Emily tidak bisa tidur panggil mami Luna saja ya, biar nanti mami Luna yang akan temani Emily tidur ya?" Emily menganggukkan kepalanya sambil mengusap-usap kepala boneka beruang yang di bawanya itu.
"Eh, boneka beruangnya lucu sekali...," ucap Luna sambil mengusap boneka beruang yang masih ada di pangkuan Emily itu.
"Ini hadiah ulang tahun dari mamanya Emily dulu sewaktu masih hidup, mami Luna" raut wajah Emily tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Luna yang melihat perubahan wajah Emily dengan segera memeluknya dengan hangat "Maafkan mami Luna sayang, mami Luna tidak bermaksud membuat Emily sedih, maaf ya sayang," Luna mencium kepala Emily dengan sangat sayang menyesal tadi telah membuat Emily mengingat mamanya yang sudah tiada.
"Mami Luna gak salah, cuma Emily selalu jadi sedih kalau ingat sama mama, Emily kangen sama mama..." Emily menatap Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Hati Luna seperti teriris sembilu mendengar penuturan Emily barusan, dia bisa merasakan gadis kecil itu sudah bertahun-tahun menahan rasa rindunya pada mamanya yang sangat dia sayangi. Luna mempererat pelukannya pada Emily dan tak terasa ujung matanya meneteskan air mata yang sudah berusaha dia tahan dari tadi "nasib kita sama sayang, mami Luna juga kangen sama ibu kandung sendiri yang entah di mana keberadaannya" Luna bergumam pilu dalam hatinya sambil meletakkan kepalanya diatas kepala Emily kecil "Emily jangan sedih ya, mulai sekarang kan ada mami Luna yang akan selalu menemani dan menjaga Emily setiap hari meskipun mami Luna bukan mama kandungannya Emily, tapi mami Luna akan berusaha menyayangi Emily seperti mamanya Emily dulu."
Emily mendongakkan kepalanya menatap Luna dan dengan tangan mungilnya Emily mengusap pipi Luna yang masih basah oleh airmata nya tadi "Makasih mami Luna, Emily sayang sama mami Luna, jangan tinggalin Emily seperti mama yang ninggalin Emily dulu," Luna tersenyum hangat pada Emily sambil berkata padanya "Mami Luna tidak akan pernah tinggalin Emily," ucapnya dengan suara yang hampir tercekat di tenggorokan menahan rasa sedihnya melihat ketulusan Emily padanya itu.
Luna tidak mengetahui kalau di luar kamar saat Leon melintas di depan kamarnya diam-diam dia mendengarkan pembicaraan Luna dan Emily sejak tadi, hati Leon hancur mendengar penuturan polos putri kecilnya yang sangat merindukan sosok mama di sampingnya dan di satu sisi dia juga merasa lega karena Emily sudah menemukan orang yang cocok dengan dirinya dan itu adalah Luna.
Dengan langkah perlahan Leon meninggalkan kamar utama itu berjalan menuju ke ruang makan.
"Panggil nona kecil dan Luna untuk sarapan," perintah Leon pada Bibik senior.
"Baik Tuan," ucap Bibik senior sambil menganggukkan kepalanya sopan.
Kemudian Bibik senior itupun melangkah pergi meninggalkan ruang makan itu menuju ke lantai dua ke kamar utama, setelah tiba di depan kamar utama tersebut Bibik mengetuk pintu kamar utama itu dengan perlahan "Tok tok.."
"Iya bik masuk" sahut Luna dari dalam kamar yang masih duduk di atas kasur sambil memeluk Emily.
Bibik masuk ke dalam kamar dengan perlahan dan lebih mendekat ke arah tempat tidur Luna "Non Emily dan nyonya Luna sudah di tunggu Tuan untuk sarapan di ruang makan," ucap Bibik sopan pada Luna.
Luna tersenyum ramah pada Bibik sambil berkata "baik Bik" ucapnya.
Kemudian Bibik keluar dari kamar itu setelah menyampaikan pesan dari Leon pada Luna.
"Sayang, kita di tunggu papanya Emily untuk sarapan, ayok kita ke sana," ucap Luna pada Emily.
"Iya mami Luna," Emily melorot dari pelukan Luna.
Luna menggandeng tangan Emily keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga dari lantai dua menuju ke lantai satu.
Luna mendampingi Emily turun ke ruang makan yang megah. Di sana, Leon sudah duduk rapi membaca berkas sembari menikmati kopi hitamnya. Meski membiarkan Luna melayani sarapan Emily, Leon bersikap sangat formal, dingin, dan membatasi percakapan sebatas urusan kebutuhan Emily.
Emily sudah duduk di kursi meja makan sementara Luna juga duduk di sampingnya "Emily mau makan apa?" tanya Luna lembut pada Emily.
Emily melihat ke sekeliling meja makan yang penuh dengan aneka macam masakan Bibik mulai dari rendang daging kesukaan Leon sampai sop baso kesukaan Emily, Emily mengerutkan keningnya dan Luna melihat hal itu "Emily sayang...mau sarapan sama apa...?" tanya Luna halus karena Emily tidak segera menjawab pertanyaannya dari tadi.
"Mami Luna, Emily mau makan ayam krispi," ucap Emily lirih takut papanya mendengar permintaannya. Luna tersenyum mendengar permintaan Emily.
"Tidak usah minta yang tidak ada di atas meja makan Emily, makan saja apa yang sudah Bibik masakin ini," ucap Leon yang ternyata mendengar apa yang di bisikkan Emily pada Luna tadi.
Emily menundukkan kepalanya dalam takut pada Leon tapi Luna segera mencairkan hati Emily yang ketakutan itu dengan berkata pada Leon "Tidak apa-apa Tuan, saya akan buatkan Emily ayam krispi," ucap Luna.
"Tidak boleh di biasakan seperti itu nanti dia jadi manja," kata Leon menatap Luna lurus.
"Di dalam perjanjian nikah, di sana tertulis saya harus melayani Emily dengan baik, bukankah begitu Tuan?" Luna balik menatap Leon, Leon terdiam menipiskan bibirnya dan melunakkan tatapan matanya pada Luna.
"Sebentar ya sayang, mami Luna akan buatkan ayam krispi buat kamu," ucap Luna pada Emily.
"Aku ikut mami Luna," Emily langsung turun dari tempat duduknya dan menggandeng tangan Luna.
"Maaf Tuan, saya mau buatkan Emily ayam krispi dulu," pamit Luna pada Leon yang hanya menatapnya dingin.
Leon menatap Luna dan Emily yang berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam dapur "Sikapnya sama persis seperti Aleysa( mamanya Emily) selalu memanjakan Emily," gumam Leon.