Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG-BAYANG WARNA BARU
Langkah kakiku terasa berat menyusuri lorong antar gedung fakultas pagi itu. Udara dingin sisa hujan semalam masih tersisa di sudut-sudut kampus, membasahi daun-daun maple yang berguguran di sepanjang jalan setapak. Namun, dinginnya udara luar tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hampa yang membeku di dalam dadaku.
Bayangan berkas pendaftaran pertukaran mahasiswa di meja belajar Kaito terus berputar di kepala. Tiga tahun. Waktu yang terlalu lama untuk dibayangkan tanpa kehadiran sosoknya.
Aku bermaksud mendatangi gedung fakultas hukum. Aku ingin bicara lagi padanya. Aku ingin memastikan bahwa ucapan Kaito kemarin hanyalah gertakan atau kekhawatiran sesaat. Aku ingin mendengar bahwa ia tidak akan pernah benar-benar meninggalkanku.
Namun, baru saja aku berbelok menuju area koridor luar dekat taman gedung seni, sebuah suara melangkah cepat mendekat di belakangku. Seseorang memanggil namaku, disusul tepukan pelan di bahuku.
Aku berbalik dan menemukan Haruto berdiri di sana.
Pria itu tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. Ia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang hangat, dengan selendang kain melingkar santai di lehernya. Di tangan kanannya, ia memegang dua cangkir kopi karton yang masih mengepulkan uap tipis.
"Hana! Kebetulan banget ketemu di sini," ucap Haruto dengan gerak bibir yang sengaja ia buat sangat jelas dan perlahan agar aku bisa membaca ucapannya. Ia menyodorkan salah satu cangkir kopi hangat itu padaku. "Ini buat kamu. Matcha latte hangat. Kemarin kamu kebasahan, kan? Aku merasa bersalah banget nggak bisa mengantarmu sampai stasiun."
Aku menerima cangkir itu dengan ragu. Karena Haruto belum paham bahasa isyarat, aku buru-buru merogoh ponselku dari saku mantel, mengetikkan pesan singkat di layarnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Haruto:
"Terima kasih, Haruto. Tapi kamu tidak perlu merasa bersalah. Kemarin Kaito menyusulku, jadi aku baik-baik saja."
Membaca pesan di layar ponselku, alis Haruto terangkat sedikit. Senyumannya tidak pudar, tetapi ada perubahan tipis pada binar matanya sebuah riak emosi yang sulit kubaca.
"Ah, Kaito ya? Sahabat kecilmu itu?" Haruto berbicara lagi, gerak bibirnya melambat secara konstan. "Dia memang perhatian banget ya sama kamu. Agak overprotektif, tapi aku paham kok. Kamu kan orangnya teledor."
Aku hanya memberikan anggukan tipis dan senyum canggung. Kata 'overprotektif' yang diucapkan Haruto terasa sedikit mengganjal di hatiku. Kaito bukannya overprotektif; ia hanya peduli.
"Oya, Hana, lihat ini," lanjut Haruto tanpa memberi jeda pada kecanggunganku. Ia membuka tas sketsa besar yang selalu dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah buku gambar berukuran A3.
Ia membalik halamannya dan memperlihatkannya padaku.
Di atas kertas tebal itu, tergores lukisan pensil yang sangat indah. Itu adalah potret diriku. Lukisan itu menangkap gambaran diriku yang sedang duduk di tepi jendela perpustakaan, dengan pendar cahaya matahari sore yang menerpa wajahku. Garis-garis pensilnya begitu halus, memancarkan keindahan yang bahkan tidak pernah kusadari ada pada diriku sendiri.
Aku tertegun. Mataku berbinar menatap karya seni itu.
Haruto menatap reaksimu dengan puas. "Aku menghabiskan waktu semalaman buat menyelesaikan ini. Spesial buat kamu, Hana. Menurutku, kamu punya aura yang beda dari perempuan lain. Sunyi, tapi justru itu yang bikin kamu kelihatan paling bersinar."
Pujian itu meluncur begitu mudah dari bibir Haruto. Rasanya manis, menyenangkan, dan sanggup membuat dada anak muda mana pun berdebar kencang. Untuk sejenak, bayangan kecemasan soal Kaito menguap dari pikiranku, tertutup oleh rasa terpesona pada sosok Haruto yang begitu hangat dan penuh warna.
Namun, di tengah momen itu, suasana di koridor mendadak terasa berubah.
Suhu udara seolah merosot tajam. Dari arah ujung lorong, langkah kaki yang familiar berjalan mendekat.
Aku menoleh, dan jantungku serasa berhenti berdetak.
Kaito berdiri di sana, beberapa meter dari tempat kami berdiri.
Ia mengenakan jaket tebal berwarna gelap dengan ransel hitam tersampir di bahunya. Tangannya menggenggam erat tali ransel itu. Di balik kacamata tipisnya, sepasang mata Kaito menatap lurus ke arahku lalu beralih menatap buku sketsa di tangan Haruto, dan berakhir pada cangkir kopi hangat yang ku pegang.
Rasa panik mendadak menyerangku. Tanpa sadar, aku menarik tanganku yang tadinya memegang ujung buku sketsa Haruto.
"Eh, Kaito!" Haruto mendahuluiku. Dengan nada suara yang sangat ramah dan tanpa beban, Haruto melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Kaito.
Kaito menghentikan langkahnya. Wajahnya tetap datar, rapat mengunci emosinya sendiri di balik kesunyian yang biasa.
Haruto melangkah mendekati Kaito dengan santai, sementara aku mengekor di belakangnya dengan perasaan tidak karuan.
"Terima kasih ya buat kemarin," ujar Haruto sambil tersenyum hangat pada Kaito, menggunakan gerakan bibir yang sengaja ia buat agak lebar. "Hana cerita kamu yang jemput dia di tengah hujan lebat. Maaf ya, kemarin aku ada urusan mendadak sama dosen, jadi nggak sempat jaga Hana sampai kereta datang. Untung ada kamu yang selalu bisa diandalkan."
Ucapan Haruto terdengar seperti ucapan terima kasih yang tulus. Namun, di balik itu, ada kesan implisit bahwa Haruto sedang memosisikan Kaito hanya sebagai 'orang belakang' sosok penolong yang dipanggil saat situasi darurat.
Aku menatap Kaito dengan cemas. Tanganku mulai terangkat hendak membentuk gerakan isyarat untuk menjelaskan situasi padanya.
Namun, Kaito menyela gerakanku sebelum sempat kubentuk.
Ia mengangkat sebelah tangannya. Gerakan bahasa isyaratnya sangat tenang, rapi, dan formal gerakan yang ditujukan hanya kepadaku karena Haruto tidak mengerti kode jemari itu.
[Tidak perlu menjelaskan apa-apa, Hana,] jemari Kaito menari di udara dengan ritme yang teratur dan dingin. [Menjaga Hana sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Tapi sekarang, Hana sudah dewasa. Kamu punya pilihanmu sendiri untuk menentukan siapa yang ingin kamu temani.]
Setelah membentuk isyarat itu, Kaito mengalihkan pandangannya pada Haruto. Ia menganggukkan kepalanya pelan, memberikan gestur hormat yang sangat sopan namun berjarak.
Lalu, Kaito menatap mataku untuk terakhir kalinya pagi itu. Tidak ada amarah. Tidak ada cemburu. Yang ada hanyalah kedalaman tatapan yang memancarkan kepasrahan total.
[Aku harus ke perpustakaan untuk menyerahkan berkas,] jemari Kaito bergerak singkat. [Permisi.]
Kaito berbalik. Ia melanjutkan langkah kakinya menyusuri koridor, berjalan makin jauh menembus kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang. Punggungnya tampak tegap, namun di mataku, sosoknya terlihat begitu kesepian.
Haruto yang memperhatikan ekspresi Kaito hanya menggaruk tengkuknya bingung, sama sekali tidak mengerti pesan isyarat yang baru saja disampaikan Kaito padaku.
"Dia bilang apa barusan, Hana?" tanya Haruto sambil menunjuk layarku, siap membacanya jika aku mengetiknya di ponsel. "Kalian pakai bahasa isyarat cepat banget, aku sama sekali nggak paham."
Aku memegang ponselku dengan jemari yang tremor. Aku tidak mengetikkan apa yang sebenarnya dikatakan Kaito. Aku hanya mengetik balasan singkat: ‘Dia bilang ada urusan di perpustakaan.’
"Ooh, begitu," gumam Haruto pelan di sampingku sambil merapikan kembali buku sketsanya. "Dia memang tipikal orang yang agak dingin ya? Tapi nggak apa-apa, yang penting dia nggak marah."
Aku tidak membalas lagi. Mataku terus menatap punggung Kaito yang perlahan menghilang di belokan lorong gedung.
Di tempatku berdiri, di antara pujian manis Haruto dan kehangatan lukisan yang baru saja kuterima, dadaku justru terasa sangat sesak. Ada sebuah tembok tak kasatmata yang baru saja terbangun semakin tinggi dan kokoh di antara aku dan Kaito. Dan yang membuatku paling takut adalah... Kaito sendiri yang meletakkan batu bata terakhir pada tembok itu.