Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 NAMA YANG DIPALSUKAN
Arsen terdiam di ujung telepon. Kaluna masih berdiri di ruang arsip gedung lama dengan daftar peserta pertemuan hotel di tangannya. Nama Arsen tercetak tepat di bawah nama Kaluna, lengkap dengan jabatan dan tanda tangan.
Di seberang telepon, hanya terdengar napas lelaki itu.
“Kirim dulu dokumennya,” kata Arsen akhirnya.
“Aku mau dengar dulu jawabannya.”
“Aku sudah jawab. Kaluna, kirim dulu dokumennya.”
Kaluna memotret daftar tersebut dan mengirimkannya. Beberapa detik kemudian, pesan telah terbaca. Naren dan Salindri menunggu tanpa ikut menyela. Petugas arsip berdiri agak jauh, tetapi sesekali melirik karena menyadari dokumen yang mereka temukan bukan dokumen biasa.
“Ini bukan tanda tanganku,” kata Arsen.
Kaluna melihat tanda tangan pada kertas. Bentuknya memang mirip. Tarikan awal pada huruf A, garis panjang di bagian akhir, dan dua lengkungan kecil di tengahnya tampak meyakinkan.
“Mirip sekali.”
“Karena yang bikin pasti pernah lihat tanda tanganku.”
“Atau karena kamu memang menandatanganinya.”
“Aku ada di Bandung.”
“Terus buktikan.”
Arsen kembali diam. Kaluna menunggu. Ia tidak ingin mendengar penjelasan yang berubah-ubah. Kalau Arsen benar-benar berada di Bandung, seharusnya ada jejak perjalanan, rapat, hotel, atau orang yang melihatnya.
“Datang ke rumah besok pagi,” kata Arsen. “Aku akan menunjukkan semua agendaku.”
“Kenapa tidak malam ini?”
“Elara baru tidur. Veyra juga sedang tidak tenang sejak kejadian di sekolah.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Veyra.”
“Semua yang terjadi sekarang ada hubungannya sama rumahku.”
Kaluna hampir membalas bahwa rumah itu dahulu juga miliknya. Ia menahannya.
“Besok jam sembilan.”
“Aku akan ada di rumah.”
Sambungan ditutup.
Kaluna menurunkan telepon lalu kembali membaca daftar peserta.
“Dia menyangkal?” tanya Salindri.
“Katanya sedang di Bandung.”
“Itu bisa diperiksa,” jawab Salindri. “Agenda resmi perusahaan seharusnya masih tersimpan.”
Naren mengulurkan tangan. “Boleh kulihat lagi?”
Kaluna menyerahkan dokumen tersebut.
Naren membandingkan tinta dan susunan tulisan pada setiap baris. Dua nama pertama terlihat dicetak pada waktu yang sama. Nama ketiga dan keempat ditulis dengan jenis huruf yang serupa, tetapi warna tintanya sedikit berbeda.
“Tanda tangan Arsen terlalu bersih,” katanya.
“Apa maksudnya?”
“Lihat tanda tanganmu.”
Kaluna mendekat.
Tanda tangannya tampak sedikit menekan kertas. Ada bagian tinta yang lebih tebal pada awal goresan dan tipis pada ujungnya. Tanda tangan Arsen tampak rata.
“Bisa jadi menggunakan pena berbeda,” kata Kaluna.
“Bisa. Atau tanda tangannya nggak dibuat langsung di lembar ini.”
Salindri membuka map dokumen lain. “Kita bawa salinannya untuk diperiksa. Dokumen asli tetap di sini.”
Petugas arsip terlihat lega mendengar itu.
Sebelum meninggalkan ruangan, Kaluna memeriksa kembali isi kotak. Ia berharap menemukan daftar awal atau salinan lain yang belum diubah. Tidak ada. Hanya tagihan hotel, daftar konsumsi empat orang, pemesanan ruang, dan satu formulir peminjaman perangkat.
Nama Revan tetap tercatat sebagai penerima telepon perusahaan. Kolom pengembaliannya kosong.
Kaluna menyimpan kode dokumen dan memotret susunan arsip sebelum petugas memasukkannya kembali ke kotak.
Malam itu, ia tidak dapat berhenti memikirkan Arsen. Jika Arsen berbohong, untuk apa? Apakah ia hadir dalam pertemuan tersebut lalu ikut menyembunyikan sesuatu? Atau seseorang sengaja mencantumkan namanya agar, jika Kaluna menemukan daftar itu, kecurigaan langsung beralih kepada suaminya sendiri?
Keduanya masih mungkin.
Keesokan paginya, Kaluna datang ke rumah Mahardika bersama Salindri. Naren tidak ikut masuk. Ia memilih menunggu di luar sambil menghubungi seseorang yang dapat memeriksa tanda tangan dalam daftar peserta.
Arsen sudah menunggu di ruang kerja. Di atas meja terdapat beberapa map, laptop, dan cetakan agenda perjalanan. Veyra tidak tampak. Begitu juga Elara.
“Aku tidak ingin Elara mendengar pembicaraan ini,” kata Arsen, seolah tahu apa yang dipikirkan Kaluna.
“Bagus.”
Arsen mengambil salah satu map.
“Dua hari sebelum kecelakaanmu, aku berangkat ke Bandung pagi-pagi. Ada pemeriksaan cabang dan pertemuan dengan pemasok alat medis.”
Ia menyerahkan jadwal perjalanan.
Kaluna membaca setiap baris. Arsen berangkat pukul enam pagi menggunakan mobil perusahaan. Ia tiba di cabang Bandung sekitar pukul sembilan. Pertemuan pertama berlangsung sampai menjelang siang. Ada foto pembukaan ruang penyimpanan baru, daftar hadir pegawai, serta tagihan makan siang.
“Pertemuan hotel dimulai pukul dua,” kata Kaluna.
“Aku masih di Bandung.”
“Bukti setelah makan siang?”
Arsen membuka dokumen lain.
“Ada rapat dengan kepala cabang pukul satu.”
Daftar peserta mencatat rapat berlangsung sampai pukul dua lewat lima belas menit. Tanda tangan Arsen ada di sana.
Kaluna membandingkannya dengan tanda tangan pada daftar hotel. Keduanya nyaris sama. Terlalu sama.
Ia menaruh dua lembar kertas berdampingan.
“Lihat ini.”
Arsen mendekat. Tanda tangan pada dokumen Bandung memiliki tarikan kecil yang naik di bagian akhir. Pada daftar hotel, bagian itu tampak sama persis, termasuk panjang dan sudutnya. Bukan sekadar mirip. Setiap lengkungannya hampir tidak memiliki perbedaan.
“Orang tidak bisa membuat dua tanda tangan yang benar-benar sama,” kata Salindri.
Arsen melihat kedua dokumen. “Mereka menyalinnya dari daftar ini?”
“Belum tentu dari dokumen ini,” jawab Salindri. “Tapi kemungkinan tanda tangan pada daftar hotel bukan tanda tangan langsung.”
Kaluna memperhatikan wajah Arsen. Lelaki itu tampak terkejut, tetapi Kaluna masih belum yakin.
“Apa yang terjadi setelah rapat pukul dua?” tanyanya.
“Aku kembali ke hotel tempat aku menginap.”
“Sendirian?”
“Dengan sopir.”
“Namanya?”
“Darto. Dia sudah pensiun, tapi aku bisa mencari kontaknya.”
“Lalu malamnya?”
“Aku kembali ke Jakarta.”
“Jam berapa?”
Arsen membuka catatan perjalanan. “Mobil keluar dari Bandung sekitar pukul lima lewat tiga puluh.”
“Kenapa ada jeda lebih dari tiga jam setelah rapat?”
Arsen terdiam di bagian itu.
Kaluna menunjuk waktu. “Rapat berakhir pukul dua lewat lima belas. Mobil baru tercatat meninggalkan Bandung pukul lima lewat tiga puluh.”
“Aku kembali ke hotel, mandi, lalu menerima panggilan dari kantor.”
“Panggilan siapa?”
Arsen menggeleng. “Aku tidak ingat.”
“Teleponmu tidak menyimpan riwayatnya?”
“Sudah tiga tahun. Aku tidak memakai telepon yang sama.”
“Catatan perusahaan?”
“Kalau panggilannya melalui jalur kantor, mungkin ada.”
Kaluna melihat Salindri. Pengacaranya mencatat waktu tersebut.
“Dalam tiga jam itu, apa kamu meninggalkan Bandung?”
“Tidak.”
“Pergi ke bandara?”
“Tidak.”
“Bertemu seseorang dari kantor pusat?”
Arsen memandangnya tajam. “Kamu mau pakai jeda tiga jam itu buat bilang aku bohong?”
“Aku cuma mau memastikan namamu dipalsukan.”
“Jadi menurutmu aku lagi nuduh kamu?”
“Aku cuma bertanya.”
Arsen mengembuskan napas dan berdiri dari kursinya.
“Aku bisa meminta kepala cabang memberi kesaksian.”
“Kepala cabang bekerja untuk perusahaan keluargamu.”
“Jadi sekarang semua orang Mahardika nggak bisa dipercaya?”
“Setelah semua yang kutemukan, kamu masih minta aku percaya begitu saja?”
Arsen memalingkan wajah ke jendela.
“Waktu kecelakaanmu,” katanya pelan, “aku tidak pernah berpikir ada orang di dalam perusahaan yang sengaja mengatur semuanya.”
“Itu masalahnya.”
“Aku menganggap laporan itu benar karena semuanya tampak masuk akal.”
“Dan sekarang?”
Arsen menoleh. “Sekarang terlalu banyak yang nggak masuk akal.”
Kaluna menahan pandangannya beberapa saat. Itu belum menyelesaikan kecurigaannya. Setidaknya, kali ini Arsen tidak lagi sekadar mengulang bahwa Kaluna sudah mati dan semua orang sudah bertindak berdasarkan laporan yang ada.
Pintu ruang kerja diketuk.
Veyra muncul di ambang pintu.
“Maaf mengganggu. Elara mencari Kaluna.”
Kaluna langsung menoleh.
“Kenapa?”
“Dia sedang mengerjakan tugas tentang keluarga.”
Arsen terlihat tidak senang percakapan mereka terpotong, tetapi tidak mencegah Kaluna keluar.
Elara duduk di ruang makan dengan selembar kertas besar. Di atasnya terdapat gambar pohon dengan beberapa kotak kosong.
“Ini pohon keluarga,” katanya begitu melihat Kaluna. “Bu Guru bilang aku harus menulis nama orang tua.”
Kaluna berhenti di samping kursi.
Di kotak bagian ayah, Elara sudah menulis nama Arsen. Di kotak ibu terdapat dua garis kosong.
“Kamu bingung?” tanya Kaluna.
Elara mengangguk. “Kalau ibu kandung sama Mama beda orang, aku tulis siapa?”
Kaluna duduk di sampingnya. Veyra berdiri tidak jauh dari meja. Wajahnya terlihat tenang, tetapi jemarinya saling menggenggam.
“Tulis dua-duanya saja,” kata Kaluna.
“Memang boleh?”
“Kalau gurumu bertanya, jelaskan saja bahwa kamu punya ibu kandung dan Mama yang merawatmu.”
Elara melihat Veyra.
“Mama tidak marah?”
Veyra tersenyum kecil. “Tidak.”
“Kalau aku tulis Kaluna, boleh?”
Kaluna menahan rasa haru yang tiba-tiba muncul.
“Boleh.”
Elara mulai menulis namanya perlahan. Huruf-hurufnya belum sepenuhnya rapi.
Kaluna Adiswara.
Nama itu berada di kotak yang sama dengan nama Veyra.
Kaluna tidak merasa menang. Anehnya, ia justru merasa sedih melihat Elara harus memahami hubungan yang bahkan orang dewasa di rumah itu belum mampu selesaikan.
“Sudah,” kata Elara.
“Bagus.”
Elara memandang Kaluna. “Kamu nanti datang lagi?”
“Aku datang lagi kalau kamu mau.”
“Aku mau.”
Veyra mengalihkan pandangan.
Kaluna tidak ingin memperpanjang keadaan. Ia menyentuh ujung kertas Elara, lalu berdiri.
Saat kembali ke ruang kerja, telepon Salindri berdering. Ia menjawab, mendengarkan beberapa saat, kemudian melihat Kaluna dan Arsen bergantian.
“Pemeriksa dokumen sudah menerima foto daftar hotel dan sampel tanda tangan Arsen.”
“Apa hasilnya?” tanya Kaluna.
“Baru pemeriksaan awal.”
Salindri mengaktifkan pengeras suara agar semua orang dapat mendengar.
Suara seorang lelaki terdengar dari telepon.
“Garis tanda tangan pada daftar hotel tidak menunjukkan tekanan alami. Ketebalannya terlalu merata, dan ada batas tipis berbentuk persegi di sekeliling gambar.”
Kaluna mengerutkan kening. “Batas persegi?”
“Kemungkinan tanda tangan dipindai dari dokumen lain, lalu ditempelkan ke daftar sebelum dicetak ulang.”
Arsen mendekati meja.
“Berarti itu bukan tanda tanganku?” tanyanya.
“Kami masih perlu memeriksa dokumen asli, tetapi kemungkinan besar bukan tanda tangan langsung.”
Kaluna melihat daftar hotel yang tergeletak di meja. Nama Arsen bukan sekadar ditambahkan. Seseorang mengambil tanda tangannya dari dokumen lain dan menempelkannya dengan sengaja agar tampak sah.
“Bisa tahu tanda tangan itu diambil dari dokumen mana?” tanya Salindri.
“Kalau ada sampel yang bentuknya sama, kita bisa bandingkan.”
Kaluna memandang daftar rapat cabang Bandung. Tarikan awal, dua lengkungan di tengah, dan garis kecil yang naik pada bagian akhir terlihat sama persis. Salindri meletakkan kedua dokumen berdampingan dan memotretnya.
Beberapa menit setelah itu, pemeriksa dokumen kembali berbicara.
“Kirim gambar beresolusi tinggi. Tapi dari bentuknya, sangat mungkin sumber tanda tangan pada daftar hotel berasal dari dokumen rapat Bandung ini.”
Arsen menatap kertas tersebut dengan wajah mengeras.
“Siapa yang punya akses ke laporan rapat cabang?”
“Sekretariat direksi, bagian administrasi perjalanan, dan kantor dewan,” jawabnya.
Kaluna menoleh.
“Kantor dewan lagi.”
Arsen tidak membantah.
Salindri menutup panggilan setelah mengatur pemeriksaan langsung terhadap dokumen asli.
Kaluna mengumpulkan seluruh bukti perjalanan Arsen. Namanya mungkin dipalsukan. Tanda tangannya kemungkinan diambil dari daftar rapat di Bandung. Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Kalau Arsen tidak berada dalam pertemuan hotel, siapa tiga orang yang benar-benar duduk bersama Kaluna?
Telepon Kaluna bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor Revan.
Tidak ada salam atau penjelasan. Hanya satu kalimat.
Jangan percaya daftar itu. Orang yang paling penting tidak pernah ditulis di sana.
Kaluna membaca pesan tersebut dua kali.
Arsen memperhatikan perubahan wajahnya.
“Apa?”
Kaluna menunjukkan layar kepada Salindri. Naren yang masih menunggu di luar langsung dihubungi.
Kaluna kembali membaca daftar pertemuan hotel. Empat orang tercatat sebagai peserta. Kalau nama Arsen memang ditempel untuk menggantikan orang lain, berarti ada satu nama yang sengaja disembunyikan.
Bukan sekadar daftar yang diubah.
Seseorang sengaja menambahkan nama palsu untuk menutupi orang yang sebenarnya hadir.