Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retreat

Nama-nama yang tercantum di email undangan retreat kerja itu cuma tujuh, dan Gwen membaca daftarnya dua kali untuk memastikan namanya benar-benar ada di sana.

Retreat Strategi Kuartal 2 — Bandung, 3 hari 2 malam. Peserta: Madoc Kane, Reza Hutomo, Gwen Aditya, Baskoro Nugraha, [empat nama lain dari divisi berbeda].

Dia belum pernah ikut retreat kerja seperti ini sebelumnya—kalau di perusahaan lamanya, acara semacam ini biasanya cuma jatah manajer senior ke atas, bukan untuk orang yang baru tiga bulan menjabat. Tapi di sini, namanya tercantum jelas, sejajar dengan nama-nama yang sudah bertahun-tahun di Kane Group.

"Bas," katanya, memutar layar laptopnya ke arah rekan sebelah kubikel, "lo liat email retreat gak?"

Bas mengintip sebentar, lalu bersiul pelan. "Wih, nama lo ada. Selamat, ya."

"Emang biasanya siapa aja yang ikut?"

"Biasanya cuma manajer senior sama level direksi. Tim lain paling banter kirim satu perwakilan doang, itu juga biasanya yang udah lama." Bas menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Gwen dengan ekspresi setengah kagum setengah menggoda. "Lo baru tiga bulan udah langsung diajak. Keren juga."

Gwen membaca ulang emailnya, mencari alasan resmi di baliknya. Tertulis di sana: peserta dipilih berdasarkan keterlibatan langsung di proyek strategis kuartal ini. Masuk akal, pikirnya. Dia memang jadi PIC Meridian, jadi wajar kalau dia diikutsertakan dalam diskusi strategi lanjutan.

"Excited?" tanya Bas.

"Excited banget," jawabnya, jujur. "Belum pernah ikut retreat kerja beneran. Biasanya kalau ada acara gituan di kantor lama, gue cuma jadi orang yang nyiapin logistiknya doang, gak pernah jadi peserta."

"Sekarang jadi peserta utama malah."

"Ya kali utama," Gwen tertawa kecil. "Gue kan cuma manajer operasional. Reza yang lebih senior."

"Tapi liat aja nanti," kata Bas, nadanya setengah bercanda, "kayaknya lo bakal jadi sorotan lagi kayak biasa."

Gwen tidak terlalu menanggapi komentar itu, terlalu sibuk membuka kalender kerja untuk mulai menyusun rencana persiapan materi yang mungkin akan dia perlukan selama retreat.

---

Yang tidak diketahui Gwen adalah bahwa daftar peserta itu sendiri sudah melalui satu revisi kecil, tiga hari sebelum email resmi dikirim, dan revisi itu datang langsung dari Madoc.

Awalnya, daftar dari HR cuma berisi enam nama—Reza, Bas, dan empat perwakilan divisi lain sesuai kebiasaan tahun-tahun sebelumnya. Nama Gwen tidak ada di draf pertama, karena secara struktural, retreat semacam ini biasanya memang dikhususkan untuk level manajer senior yang sudah cukup lama menjabat.

"Tambahin Gwen Aditya," kata Madoc, waktu Elias menyodorkan draf itu untuk persetujuan akhir.

Elias membaca ulang draf itu. "Dia belum masuk kategori senior, Pak. Biasanya retreat ini emang khusus buat—"

"Dia PIC Meridian," potong Madoc, nadanya datar, seolah keputusan itu sudah final sebelum diskusi dimulai. "Proyek terbesar kuartal ini bakal dibahas di retreat. Gak masuk akal kalau PIC-nya sendiri gak ikut."

Alasan itu logis, cukup logis sampai Elias tidak punya celah untuk membantahnya. Tapi dia juga cukup paham polanya sekarang—setiap kali nama Gwen muncul dalam konteks apapun yang berhubungan dengan Madoc, ada logika resmi yang selalu tersedia, rapi dan masuk akal, seolah sudah disiapkan sebelumnya untuk mengantisipasi pertanyaan seperti ini.

"Baik, Pak," katanya, menambahkan nama itu ke daftar, tidak membantah lebih jauh.

---

Susunan sesi kerja selama retreat juga melalui proses yang serupa.

Biasanya, agenda tiga hari itu dibagi berdasarkan divisi—sesi pagi untuk strategi umum bersama seluruh peserta, sesi siang untuk diskusi per divisi dengan kepala masing-masing, sesi sore untuk review bersama. Tapi ketika jadwal final keluar, ada satu perubahan kecil yang tidak banyak diperhatikan orang lain: sesi khusus membahas Meridian, yang seharusnya dipimpin Reza sebagai kepala divisi, dijadwalkan langsung sebagai sesi satu-satu antara Madoc dan Gwen.

"Kenapa saya gak ikut sesi Meridian?" tanya Reza, waktu melihat jadwal itu.

"Karena kamu udah pegang tiga sesi lain," jawab Madoc, cepat, alasan yang sudah dia siapkan sebelum pertanyaan itu muncul. "Biar lebih efisien, saya langsung yang handle detail teknis Meridian sama PIC-nya. Kamu fokus ke strategi divisi yang lain aja."

Reza mengangguk, tidak mempertanyakan lebih jauh, karena secara logistik memang masuk akal—dia memang punya beban sesi lain yang cukup padat selama retreat.

Yang tidak terpikirkan olehnya, dan juga oleh Gwen sendiri ketika dia membaca jadwal itu nanti, adalah betapa sesi satu-satu itu sebenarnya tidak perlu ada sama sekali. Update Meridian bisa disampaikan dalam sesi umum yang sudah ada, atau digabung ke sesi divisi operasional yang sudah dijadwalkan bersama Reza. Tapi sekarang, ada satu blok waktu khusus, dua jam penuh, hanya untuk berdua—sesuatu yang di atas kertas terlihat seperti prioritas kerja yang wajar, tapi sebenarnya hasil dari keputusan yang diambil dengan alasan yang jauh lebih personal dari yang mau diakui siapa pun.

---

Gwen membaca jadwal itu malam sebelum keberangkatan, duduk di sofa apartemennya sambil menyiapkan koper kecil untuk tiga hari ke depan.

Hari 2, 10.00–12.00: Sesi Meridian — Madoc Kane & Gwen Aditya.

Dia tidak menganggap itu aneh. Justru dia merasa itu kesempatan bagus—dua jam penuh untuk membahas detail proyek yang sedang dia pegang, langsung dengan CEO, tanpa gangguan agenda lain. Kalau ada masukan strategis yang bisa dia dapatkan langsung dari orang di posisi tertinggi perusahaan, itu jelas lebih efisien daripada harus menunggu rapat progress mingguan biasa.

Dia membuka laptop, mulai menyusun poin-poin yang mau dia bahas—perkembangan tiga lokasi, proyeksi timeline sisa proyek, kemungkinan risiko yang mungkin muncul di kuartal berikutnya. Dia mau memaksimalkan waktu itu, mengubahnya jadi sesi yang produktif, bukan sekadar formalitas kerja.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Bas.

BAS: eh liat jadwal retreat blm?

GWEN: udah, kenapa?

BAS: lo dapet sesi khusus sendiri sama Pak Kane. dua jam pula

GWEN: iya, bahas Meridian

BAS: kayaknya lo emang jadi favorit bos deh sekarang

Gwen membalas dengan emoji tertawa, tidak menganggap kalimat itu lebih dari sekadar candaan biasa antar rekan kerja.

GWEN: ya kali. proyeknya emang lagi jadi prioritas aja, makanya dibahas khusus

BAS: terserah lo deh wkwk. tapi seriusan, kayaknya emang lo yang paling sering dipanggil sendiri sama dia. gue jadi curiga

GWEN: curiga apaan sih 😂 dia kan emang thorough soal kerjaan

BAS: iya sih, mungkin

Dia menutup obrolan itu, kembali fokus menyusun poin-poin presentasinya, tidak menyadari bahwa kalimat "kayaknya lo yang paling sering dipanggil sendiri sama dia" barusan menyentuh sesuatu yang, kalau saja dia mau berhenti sebentar dan melihatnya dari sudut yang berbeda, sebenarnya sudah cukup jelas terlihat sejak beberapa minggu terakhir.

Tapi malam itu, pikiran Gwen sepenuhnya terisi oleh persiapan kerja untuk esok hari—daftar poin yang harus dia sampaikan, data yang harus dia bawa, pertanyaan-pertanyaan strategis yang mungkin akan diajukan langsung ke arahnya. Dia tidur dengan perasaan bersemangat murni, jenis semangat yang datang dari kesempatan profesional baru, sama sekali tidak terpikirkan bahwa ada lapisan lain di balik kesempatan itu yang belum sepenuhnya dia lihat.

Di penthouse-nya, Madoc juga sedang menyiapkan bahan presentasi untuk sesi esok, tapi lebih banyak waktunya habis untuk hal lain—memastikan hotel tempat mereka menginap punya restoran dengan menu yang tidak terlalu pedas, mengecek ulang jadwal supaya sesi Meridian itu tidak bertabrakan dengan agenda lain yang bisa mengganggu waktu berduanya, dan sesekali berhenti untuk bertanya pada dirinya sendiri kenapa dia begitu peduli soal detail-detail kecil yang, kalau dipikir lagi, sebenarnya jauh melampaui tanggung jawabnya sebagai CEO sebuah perusahaan besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!