Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Tiga hari telah berlalu sejak makan siang keluarga yang berakhir dengan suasana canggung. Adeline menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar, bermain dengan boneka beruangnya dan menggambar di buku sketsa. Elena memperhatikan bahwa putrinya menjadi lebih pendiam dari biasanya. Gadis kecil itu jarang tertawa dan sering menatap kosong ke luar jendela dengan tatapan yang dalam.
Suatu pagi, Kevin datang berkunjung tanpa ditemani orang tuanya. Pemuda itu mengenakan kemeja rapi dan membawa sekotak cokelat untuk Adeline. Adrian yang saat itu sedang sarapan, menyambut keponakannya dengan ramah. "Kevin, ada perlu apa pagi-pagi begini?" tanyanya sambil menyeduh kopi.
Kevin tersenyum sopan. "Aku hanya ingin bermain dengan Adeline, Paman. Aku merasa kasihan karena dia terlihat sendirian akhir-akhir ini. Mungkin aku bisa mengajaknya bermain di halaman belakang."
Adeline yang duduk di meja makan langsung menegang. Tangannya yang memegang sendok berhenti bergerak. Gadis kecil itu menatap Kevin dengan waspada, matanya menyipit seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh orang lain di ruangan itu.
"Aku tidak mau bermain dengan Kevin," kata Adeline tiba-tiba, suaranya jelas dan tegas.
Kevin tertawa kecil, mencoba terdengar santai. "Ah, Adeline pasti masih malu. Sudah lama kita tidak bertemu, ya." Dia melangkah mendekati meja makan dan mengulurkan kotak cokelatnya. "Ini hadiah untukmu, Adeline. Cokelat favoritmu, kan?"
Adeline tidak mengambil cokelat itu. Dia malah menoleh ke arah ayahnya dan berkata dengan suara yang bergetar, "Ayah, jangan percaya Kevin. Dia tidak baik. Dia datang ke sini bukan untuk bermain denganku. Dia ingin mencari tahu tentang rahasia Ayah."
Suasana ruang makan mendadak hening. Elena menatap putrinya dengan cemas. Adrian mengerutkan kening dan menatap Kevin, lalu kembali menatap Adeline. "Sayang, apa maksudmu?"
Adeline menunjuk ke arah Kevin dengan jari mungilnya. "Aku dengar, Ayah. Di kepalanya, dia berpikir tentang dokumen Ayah. Dia ingin mencari sesuatu di kantor Ayah. Dia bilang, dia akan mengambil sesuatu yang akan membuat Ayah jatuh."
Kevin tersenyum, tetapi senyumnya terasa kaku. "Adeline, imajinasimu terlalu liar. Aku hanya ingin bermain denganmu seperti biasa." Dia menoleh pada Adrian dan mengangkat bahu dengan ekspresi tak bersalah. "Anak kecil memang suka bercerita aneh, Paman. Mungkin dia terlalu banyak menonton televisi."
Adrian terdiam. Dia menatap putrinya yang sedang menggenggam erat ujung gaunnya. Mata Adeline berkaca-kaca, tetapi tatapannya tetap tajam dan penuh keyakinan. Di sisi lain, Kevin berdiri dengan percaya diri, tersenyum manis seolah tidak ada yang salah.
"Adeline, Ayah pikir kamu terlalu banyak berimajinasi," kata Adrian akhirnya. Suaranya lembut, tetapi nada keraguan terdengar jelas. "Kevin adalah sepupumu. Dia tidak akan melakukan hal-hal buruk. Ayo, terima cokelatnya dan jangan membuat suasana menjadi canggung."
Adeline menarik napas dalam-dalam. Dia menatap ayahnya dengan tatapan yang membuat Adrian merasa tidak nyaman. Itu adalah tatapan seorang anak yang merasa dikhianati. "Ayah tidak percaya padaku," katanya pelan. "Ayah pikir Adeline berbohong."
"Tentu saja Ayah tidak berpikir kamu berbohong," jawab Adrian cepat. "Tapi Ayah pikir kamu mungkin salah dengar atau salah paham. Kamu masih kecil, Sayang. Kadang hal-hal yang kamu dengar atau lihat belum tentu seperti yang kamu pikirkan."
Adeline menundukkan kepalanya. Dia tidak menangis, tetapi Elena bisa melihat bagaimana tubuh kecil itu bergetar. Gadis kecil itu meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu turun dari kursinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia berjalan meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Elena ingin mengikuti putrinya, tetapi Adrian menggenggam tangannya. "Biarkan dia sendiri dulu," katanya pelan. "Kita tidak boleh selalu memanjakannya setiap kali dia mengucapkan hal-hal aneh. Dia harus belajar bahwa dunia tidak selalu seperti yang dia bayangkan."
Kevin segera memanfaatkan kesempatan itu. "Aku akan ke kamar mandi dulu, Paman," katanya sambil tersenyum. "Setelah itu aku akan mencoba membujuk Adeline untuk bermain lagi." Dia berjalan pergi dengan langkah santai, tetapi saat membelok di sudut koridor, langkahnya berubah menjadi lebih cepat dan lebih terarah. Dia tidak menuju ke kamar mandi, tetapi ke arah ruang kerja Adrian.
Di kamarnya, Adeline duduk di sudut tempat tidur sambil memeluk boneka beruangnya. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi pipi montoknya. Dia mendengar suara hati Kevin yang semakin keras, semakin dekat dengan ruang kerja ayahnya. Dia mendengar kebohongan yang Kevin rencanakan, bagaimana pemuda itu akan mengklaim bahwa dia tersesat, bagaimana dia akan mencari file-file penting.
"Ayah tidak percaya padaku," bisik Adeline pada boneka beruangnya. Suaranya tercekat. "Ayah bilang aku terlalu kecil. Ayah bilang aku salah dengar. Tapi aku tidak salah, Bear. Kevin jahat. Dia ingin menyakiti Ayah."
Dia menutup telinganya dengan kedua tangan, mencoba menghalangi suara-suara jahat yang terus memenuhi kepalanya. Tetapi suara Kevin terlalu keras. Adeline bisa mendengar setiap pikiran jahat, setiap rencana licik yang Kevin susun. Dia membayangkan pemuda itu membuka laci meja ayahnya, membaca dokumen-dokumen yang seharusnya rahasia.
Dengan tubuh gemetar, Adeline bangkit dari tempat tidurnya. Dia berlari ke luar kamar dan menuruni tangga sekencang mungkin. Dia berteriak, "Ayah! Ayah! Kevin di ruang kerja Ayah!"
Adrian yang sedang duduk di ruang tamu mendengar teriakan putrinya. Dia cepat berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya. Di sana, dia menemukan Kevin sedang berdiri di depan mejanya dengan ponsel di tangan, memotret beberapa dokumen.
"Kevin, apa yang kamu lakukan?" tanya Adrian dengan suara dingin.
Kevin tersentak. Ponselnya hampir terjatuh. Dia mencoba tersenyum, tetapi senyumnya gagal total. "Aku hanya mencari tisu, Paman. Tangan aku basah setelah cuci muka."
Adrian tidak mengatakan apapun. Dia menatap keponakannya dengan tatapan yang tajam dan menusuk. Saat itulah dia mengingat kata-kata Adeline, bagaimana putrinya memperingatkannya, bagaimana gadis kecil itu menangis karena tidak dipercaya.
"Keluar dari ruang kerjaku," kata Adrian pelan. "Dan jangan pernah kembali ke sini tanpa seizinku."
Kevin segera pergi dengan muka pucat. Begitu pemuda itu keluar dari rumah, Adrian berlari menaiki tangga menuju kamar Adeline. Dia menemukan putrinya duduk di lantai dengan air mata mengalir deras. Boneka beruangnya tergeletak di sampingnya.
"Ayah," isak Adeline. "Ayah tidak percaya padaku. Aku dengar Kevin jahat, tapi Ayah bilang aku terlalu kecil."
Adrian menyesali kata-katanya. Dia berlutut di depan putrinya dan memeluk gadis kecil itu erat. "Maafkan Ayah, Sayang. Ayah bodoh. Ayah seharusnya mendengarkanmu. Kamu benar, Kevin memang jahat."
Adeline terisak di pelukan ayahnya. Dia merasakan penyesalan ayahnya, merasakan cinta yang begitu besar tetapi juga rasa bersalah yang mendalam. "Kenapa Ayah tidak percaya pada Adeline?" tanyanya pelan. "Adeline selalu jujur pada Ayah. Adeline tidak pernah berbohong."
Adrian mengecup puncak kepala putrinya. "Ayah percaya padamu sekarang, Sayang. Dan Ayah berjanji, mulai sekarang Ayah akan selalu mendengarkanmu. Apapun yang kamu katakan, Ayah akan percaya." Dia mengusap air mata putrinya dengan lembut. "Kamu adalah gadis kecil paling berani yang pernah Ayah kenal. Kamu menyelamatkan Ayah hari ini."
Adeline menatap ayahnya dengan mata merah dan basah. "Aku sayang Ayah," katanya pelan. "Aku tidak mau kehilangan Ayah. Aku akan selalu melindungi Ayah."
Adrian tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia menggendong putrinya dan membawanya ke ruang tamu. Elena yang menunggu di bawah, langsung menghampiri dan memeluk mereka berdua. Keluarga kecil itu duduk bersama, saling berpelukan di tengah rumah besar yang penuh rahasia.
Untuk pertama kalinya, Adrian menyadari bahwa putrinya bukanlah anak kecil biasa. Adeline adalah pelindung yang tidak pernah dia minta tetapi sangat dia butuhkan. Dan mulai hari itu, dia berjanji untuk tidak pernah meragukan gadis kecilnya lagi.