Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
.
Beberapa jam sebelumnya...
Nabila berjalan mondar-mandir di ruang tengah rumahnya. Sejak Raka pergi pagi tadi, perasaan wanita itu sama sekali tidak tenang. Bayangan wajah Raka ketika sedang marah terus berputar di kepala.
Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Raka tidak lagi seperti beberapa hari sebelumnya. Tatapan yang biasanya penuh kehangatan kini terlihat kosong. Apalagi ketika mengingat bahwa semalam yang disebut oleh Raka adalah nama Aisyah, wanita itu semakin merasa tidak tenang.
Nabila berhenti di tengah ruangan.
"Jangan-jangan..." Pikiran buruk tiba-tiba memenuhi kepalanya. "...Raka marah dan akan meninggalkanku." Wajah Nabila seketika berubah tegang.
“Dasar lebay! Cuma piring kotor doang. Cuma nggak ada sarapan doang. Beli kan bisa? Kayak orang miskin aja.” Nabila terus komat-kamit mengomel dengan suara geram yang tertahan.
"Tidak..." gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Raka tidak boleh meninggalkan aku."
Ia berjalan kembali menuju sofa, kemudian duduk dengan gelisah. "Aku belum mendapatkan apa-apa selain rumah ini," keluhnya pelan.
Rumah yang diberikan Raka memang besar dan mewah. Namun, bagi Nabila, itu baru permulaan. Dirinya masih menginginkan mobil baru, perhiasan mahal, pakaian bermerek, makan di restoran mewah, berlibur ke berbagai tempat wisata, menginap di hotel-hotel mewah, dan menikmati hidup tanpa harus memikirkan harga, dan semua yang selalu ia bayangkan ketika mendekati Raka.
Nabila menghembuskan napas kasar. "Aku ingin semuanya. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali."
Kedua tangannya mengepal di atas pangkuan. "Aku ingin menikmati hidup sampai puas. Aku tidak akan melepaskan dia begitu saja."
Nabila mengetuk-ngetuk dagu dengan ujung jarinya. Jika tidak ingin Raka pergi, ia harus melakukan sesuatu. Untuk sementara ini ia harus menjadi wanita yang baik, setidaknya dihadapan Raka. Ia tidak boleh terus menuntut, tidak boleh terlalu banyak meminta. Ya… hanya sementara saja, sampai ia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan.
Nabila mengingat apa yang menjadi penyebab pertengkaran mereka tadi pagi. Dan sedetik kemudian wanita itu mendengus kesal. "Dasar sial! Kenapa juga tiba-tiba dia jadi berubah seperti itu? Biasanya lihat piring kotor juga oke-oke saja."
Nabila kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seorang wanita tetangga yang selama beberapa hari terakhir ia panggil untuk membantu membersihkan rumah.
Hanya lima belas menit menunggu tetangga yang ia panggil pun datang. Nabila segera memerintahkan wanita itu untuk membersihkan seisi rumah. Lalu setelah rumah selesai dibersihkan, Nabila juga memerintahkan kepada wanita itu untuk membuat masakan rumahan.
“Begini beres, kan?” gumamnya sambil tertawa setelah wanita tetangga itu pergi. "Nanti tinggal bilang sama Mas Raka kalau aku mulai belajar memasak. Dia pasti senang."
Wanita itu tertawa terkekeh merasa dirinya telah menyelesaikan satu misi untuk menyelamatkan hidupnya. Baginya, tidak ada yang terlalu sulit untuk membuat Raka takluk di bawah kendalinya. Dan selama ia bisa mengambil hati Raka, selama itu pula kehidupannya akan terjamin.
*
Waktu telah menunjukkan pukul empat sore, itu artinya sebentar lagi waktunya Raka pulang. Nabila sudah bersiap menyambut kedatangan suaminya. Wanita itu mandi dengan bersih, memakai gaun seksi, dan menyemprotkan parfum yang selalu bisa membuat Raka mabuk kepayang.
Makanan yang tadi dibuat oleh wanita tetangga sudah ia hangatkan dan ditata rapi di atas meja. Hanya tinggal menunggu kedatangan Raka.
Merasa semuanya sudah sempurna, Nabila duduk di ruang tengah. Namun, seiring waktu yang terus berjalan, bahkan hingga jarum pendek berada di angka lima, Raka belum juga datang.
Nabila mengambil ponsel dan menelepon Raka, ingin bertanya kapan pria itu akan pulang. Namun panggilannya sama sekali tidak tersambung. Nabila menatap layar ponselnya dengan kening berkerut.
"Kenapa ponselnya tidak aktif?" Tiba-tiba wanita itu merasakan perasaan yang tidak enak. “Apa jangan-jangan Aisyah datang ke toko dan menggoda dia?”
"Kurang ajar!" Tanpa berpikir panjang, Nabila mengambil tas dan segera keluar dari rumah setelah memesan taksi. Dia harus segera menjemput Raka ke toko. Tidak mau Aisyah memonopoli suaminya.
Nabila memang sudah mengetahui lokasi toko Raka, karena di toko itulah ia mencoba mendekati dan menggoda Raka.
Tidak lama kemudian, taksi yang ditumpangi oleh Nabila tiba di depan toko. Wanita itu bergegas turun setelah membayar argo dan masuk ke dalam.
Beberapa karyawan yang sedang berjaga langsung menoleh. Mereka sudah tahu siapa Nabila.
"Mana Mas Raka?" tanya Nabila tanpa mengucap salam.
"Pak Raka tidak ada di toko, Bu. Beliau pergi sejak tadi siang,” jawab seorang karyawan yang berdiri paling dekat dengannya.
Nabila mengerutkan kening.."Pergi ke mana?"
Karyawan itu tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. "Saya kurang tahu. Tadi beliau pergi setelah makan siang."
"Pergi sendirian?" tanya Nabila memastikan.
Karyawan itu mengangguk. "Iya."
Nabila semakin gelisah. "Dia tidak bilang mau ke mana?"
Karyawan itu menggeleng. "Tidak, Bu."
Tanpa berpamitan, Nabila keluar dari toko dengan langkah cepat. Sesampai di depan ternyata taksi yang tadi membawanya sudah pergi. Tadi dia tidak menyuruh taksi itu untuk menunggu karena pikirnya dia akan pulang bersama dengan mobil Raka.
Dengan menghentakkan kaki kesal, wanita itu kembali memesan taksi. Ke mana Raka pergi? Pertanyaan itu terus menghantui kepalanya. Ia mencoba menghubungi pria itu lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Ponsel Raka tidak aktif.
Nabila berdiri di tepi jalan menunggu taksi datang dengan pikiran mengembara kemana-mana. Tiba-tiba sebuah pikiran buruk muncul di kepalanya.
"Jangan-jangan..." Nabila menelan ludah. "... Dia pergi ke rumah Aisyah."
Begitu kendaraan datang, Nabila masuk dan menyebutkan alamat rumah Aisyah.
Sepanjang perjalanan, wanita itu terus saja komat-kamit tidak jelas, membuat sopir taksi berkali-kali melirik melalui kaca spion.
“Stress,” gumam sopir itu dalam hati.
Beberapa menit kemudian taksi akhirnya berhenti di depan rumah Aisyah, dan amarah Nabila meluap melihat mobil yang sangat dikenalnya terparkir di halaman. Mobil Raka.
Nabila mengeraskan rahangnya. “Ternyata dia benar-benar ke sini…”
Setelah membayar ongkos taksi, ia segera turun dan berlari cepat menuju halaman rumah Aisyah. Tidak peduli apakah kedatangannya akan menimbulkan masalah.
Begitu sampai di teras, rahang wanita itu semakin mengeras ketika melihat Raka dan Aisyah sedang berbicara. Apalagi melihat pemandangan yang membuat darah Nabila seolah berhenti mengalir. Raka sedang berlutut di hadapan Aisyah.
Pria yang beberapa beberapa jam lalu marah-marah padanya hanya karena masalah sepele, kini berlutut di hadapan perempuan lain sambil menggenggam tangannya.
Nabila mengepalkan kedua tangannya menatap tajam ke arah mereka.
"Oh... ternyata kamu di sini, Mas?" teriaknya.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...